
"Kau darimana saja, Ayesha?" Oma Freya langsung menanyakan hal itu saat Ayesha baru saja sampai di dekatnya.
"Maafkan aku Oma. Tadi..." Ayesha menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia terlihat kebingungan dalam mencari alasan. Tentu hal itu juga tidak luput dari pandangan Oma Freya sehingga membuat Ayesha ketakutan karena pastinya Oma Freya akan marah kalau sampai ia ketahuan berbohong.
Oma Freya menatap Ayesha dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya. Hal yang wajar sekali Oma Freya emosi karena terhitung sudah hampir satu jam Ayesha menghilang.
Ayesha yang di tatap seperti itu hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam. Ia terlihat ketakutan saat pandangan Oma Freya terlihat tidak bersahabat seperti sebelumnya.
"Oma maafkan aku!" Tangan Ayesha terulur, ia mencoba memegang tangan Oma Freya yang sudah mulai keriput untuk meminta maaf.
Oma Freya tidak menanggapi. Ia mencoba berdiri dari duduknya dan meninggalkan Ayesha. Terserah Ayesha mau ikut dengannya atau tidak. Kalau ia Ayesha tulus mencintai Azlan, pasti tidak akan ada drama Ayesha kabur atau ketinggalan seperti tadi.
Ayesha menatap nanar kepergian Oma Freya. "Apa iya Oma Freya sekecewa itu denganku?" Ayesha hanya bisa menanyakan itu kepada dirinya sendiri. Karena kesalahan itu berasal dari dirinya, andai saja ia bisa bersabar dan menunggu esok untuk menemui adiknya tentu tidak akan seperti ini.
Very menjadi kesal sendiri melihat tingkah Ayesha, bisa-bisanya wanita itu masih duduk disana tanpa menyusul Oma Freya yang telah menjauh.
"Ckck... Aku jadi curiga, apa iya kau istrinya Tuan Azlan?" Tentu itulah yang dipikirkan Very sedari tadi karena Ayesha sepertinya tidak ada niatan untuk menjenguk Tuan mudanya.
"Apa maksudmu?" Ayesha menoleh kearah Very yang berada di sampingnya. Ia tidak terima dengan ucapan Very. Tentu ia adalah istri sah dari Azlan, meskipun hanya berstatus nikah siri.
Very mencebikkan bibirnya. "Tidak ada buktinya karena yang ku lihat seperti itu. Kau sama sekali tidak merasakan kesedihan, bahkan tidak ada niatan untuk menjenguknya."
Kata-kata itu sepertinya pantas untuk Ayesha terima. Ayesha sedikit tersentil hatinya, bukannya ia sebagai istri harusnya mengutamakan suaminya? Namun ia malah mengabaikan suaminya begitu saja dan pergi tanpa pamit sedikitpun.
Ayesha mengikuti langkah Very yang akan beranjak pergi. Ayesha yakin, Very pasti akan ke ruangan inap Azlan maka dari itu Ayesha perlu mengikutinya.
Very sudah berada di depan pintu lift dan sedang menunggu pintu lift terbuka. Saat pintu lift terbuka, ia langsung masuk begitu saja dan menekan tombol untuk menuju lantai atas.
__ADS_1
Ayesha yang jauh tertinggal dibelakang berlari sekuat tenaga saat melihat pintu lift yang akan tertutup. Very menyunggingkan senyum melihat Ayesha yang tengah berlari. Very tidak ada niatan untuk membantu menahan pintu yang akan tertutup. Ia ingin melihat sejauh mana pengorbanan Ayesha untuk menemui suaminya.
"Tunggu...!" Ayesha mencoba menahan pintu dengan kedua tangannya.
"Saya pikir, kau tidak akan ikut!" Ujar Very saat melihat Ayesha sudah berada di hadapannya.
Ayesha menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Dadanya terasa sesak saat berlari tadi. "Kau jahat sekali, apa salahnya kau tungguin aku!"
"Buat apa nungguin...?"
"Ish ngeselin...! Baru juga sopir, belagunya minta ampun!" Ayesha tidak lagi berbicara begitupun dengan Very.
Akhirnya pintu lift kembali terbuka. Ayesha yang tidak tahu dimana ruangan rawat inap suaminya hanya bisa mengikuti kemana langkah Very, untuk bertanya pun seakan enggan Ayesha lakukan karena satu hal yang Ayesha ketahui sopir pribadi Oma Freya sangat menyebalkan.
Very menghentikan langkahnya secara mendadak, ia membalikkan tubuhnya dengan menatap Ayesha yang tepat berada di belakangnya. "Kenapa kau mengikutiku?"
"Untuk menjenguk orang lain saja, kau sempatkan untuk mencari tahu ruangannya. Tapi... Bagaimana dengan suamimu sendiri?"
"Aku..." Ayesha bingung sendiri, ia merasa serba salah dimata sopir pribadi Oma Freya.
"Kalau kau tidak bisa mencintai suamimu, tidak usah hidup dalam kepura-puraan." Very bisa melihat keterpaksaan Ayesha, ia sangat yakin Ayesha bukanlah wanita yang baik-baik yang pantas di cintai oleh lelaki sebaik Azlan.
Ayesha terkejut, ternyata Very bukan seperti yang Ayesha kira. Profesinya sebagai sopir tidak serta merta membuatnya diam, ternyata Very sangat lancang dalam berucap.
Melihat Ayesha terdiam, Very sedikit hiba. Ia akan memberitahukan dimana Azlan di rawat.
"Kau bisa masuk keruangan itu!" Very menunjuk ruangan yang ada dihadapannya lalu melangkah pergi darisana. Ia akan menunggu Oma Freya di parkiran saja.
__ADS_1
Ayesha menatap nanar kepergian Very. Ia akan membuktikan kepada lelaki itu, kalau pikiran lelaki itu salah. "Aku tidak seburuk itu." ujar Ayesha di dalam hati.
Ayesha menatap pintu yang ditunjuk Very tadi. "Bismillah." Ujar Ayesha, ia mencoba memberanikan dirinya saat melihat pintu yang ia buka perlahan terbuka. Disana ia langsung melihat keberadaan Oma Freya. Ayesha melangkah masuk, meski rasa takut kian menghantui.
Perlahan mata Ayesha tertuju kearah suaminya. Wajah Azlan terlihat pucat sekali dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Hati Ayesha terenyuh melihatnya, ia lalu mendekat dan mencium tangan Azlan secara takzim.
"Assalamualaikum suamiku," ujar Ayesha berbisik tepat ditelinga Azlan. "Maafkan aku yang terlambat mengetahuinya," ujar Ayesha kembali.
Oma Freya beranjak dari duduknya. Ia akan memberikan kesempatan untuk Ayesha berbicara dengan Azlan. Barangkali dengan kehadiran Ayesha cucunya akan segera sadar.
"Oma keluar sebentar ya. Mau keruangan Mamanya Azlan." Oma Freya menepuk punggung belakang Ayesha dengan pelan. "Oma titip Azlan ya," ujar Oma Freya lagi sebelum melangkah pergi meninggalkan Ayesha.
Ayesha mengangguk mengiyakan. "Terimakasih Oma masih mau mengijinkan aku untuk bertemu dengan suamiku!"
Oma Freya tersenyum mendengarnya. "Tidak ada gunanya Oma melarangmu menemui Azlan. Kecuali, kau sendiri yang terpaksa menemui cucuku."
Degh
Hati Ayesha benar-benar sakit mendengarnya. Sudah dua kali ucapan itu keluar dari dua orang yang berbeda. "Apa iya aku sejahat itu?" Ayesha hanya bisa berucap di dalam hati. Ia hanya bisa mengusap dada saat perkataan itu terucap dari mulut Oma Freya sendiri.
Setelah pintu kembali tertutup. Ayesha kembali menatap sang suami yang terbaring lemah dengan mata tertutup.
"Ternyata kau lelaki yang sangat lemah." Ujar Ayesha seperti melimpahkan kekesalannya terhadap sang suami. Entah perkataan itu bisa di dengar Azlan ataupun tidak, Ayesha merasa tidak peduli.
Ayesha mengambil tangan Azlan yang terpasang infus. "Kau tahu, tangan kau ini tidak cukup kuat untuk membimbingku mencapai kebahagian." Ujar Ayesha kembali.
"Kau bisa dengar sendiri. Belum apa-apa saja, aku seperti tidak diterima di keluargamu. Ayo, mana pembelaanmu. Kenapa kau hanya diam saja!"
__ADS_1
"Atau... Mari kita bercerai saja, kalau kau tidak mau bangun! Biar aku bisa menikah lagi." Ayesha dengan sengaja membisikkan hal itu kepada Azlan, ia ingin melihat bagaimana reaksi Azlan hingga sesuatu terjadi dan membuat Ayesha tersenyum melihatnya.