
"Bagaimana kondisi Mamaku, Dok?"
Dokter yang Azlan ketahui namanya melalui name tag di jas putih nya itu, lantas tersenyum ramah. "Alhamdulillah kondisi Buk Vira sudah ada sedikit kemajuan. Mudah-mudahan, Ibuk Viranya lekas sembuh ya, Mas," ujar Dokter Dinda menjelaskan.
"Syukurlah, Dok,"
"Ma, Mama harus semangat ya Ma buat sembuh lagi," Azlan mencium tangan Mama Vira dengan penuh rasa sayang hal itupun tidak luput dari tatapan Dinda sendiri. Dinda masih belum beranjak dari ruangan itu, ia masih mencuri dengar obrolan dua orang yang ada di hadapannya saat ini.
Dinda tengah berpikir sesuatu, ia rasa-rasanya pernah melihat Azlan. Namun Dinda tidak tahu lebih pastinya dimana ia bertemu sebelumnya.
"Kenapa, Dok?"
Azlan menyipitkan sebelah matanya saat melihat Dokter Dinda yang belum beranjak pergi. Tentu Azlan sendiri bertanya-tanya, padahal Dokter tersebut tidak ada keperluan apapun lagi di ruangan itu karena Dinda sendiri telah selesai memeriksa Mama Vira.
"Oh tidak. Maaf saya hanya mencoba mengingat sesuatu, sepertinya kita pernah ketemu sebelumnya,"
Kening Azlan mengkerut, ia malahan tidak mengingatnya sama sekali bahkan pertemuannya dengan Dokter Dinda pun adalah pertemuan pertamanya menurut Azlan sendiri.
"Mungkin kau salah orang, Dok." Azlan tentu tersenyum mendengarnya, ia sedikit menduga bahwa pertanyaan Dinda barusan adalah sekedar basa-basi agar bisa berkenalan dengannya.
"Cih... semua perempuan sama saja." Azlan membatin, ia tidak akan terpengaruh lagi untuk lebih dekat dengan namanya perempuan sudah cukup ia tersakiti dan diabaikan. Ia ingin hidup tenang dengan hanya memikirkan Mama dan Omanya saja.
Dinda tetap membalasnya dengan sebuah senyuman. "Maaf... kalau begitu saya permisi dulu." Dinda lantas langsung beranjak pergi, ia tahu Azlan seperti tidak nyaman dengannya.
Setelah kepergian Dinda barusan. Vira lantas menatap anaknya yang terlihat sangat dingin apabila berhubungan dengan seorang perempuan, padahal yang Vira lihat tadi, Dokter Dinda sepertinya sangat tertarik dengan putranya itu.
"Azlan, boleh Mama bertanya sesuatu?" Azlan langsung menoleh dan menatap sang Mama yang tengah memperhatikannya sedari tadi.
__ADS_1
"Mama mau nanya apa, Ma?"
Vira sejenak berdehem. Ia lalu mencoba untuk duduk dan menyandarkan punggungnya ke bantal yang sudah ia posisikan sejajar dengan punggungnya.
"Apa anak Mama sudah ada pilihan yang cocok untuk di jadikan istri?" Vira dengan sangat hati-hati bertanya hal itu. Tanpa Vira ketahui, kalau Azlan sendiri sudah memiliki istri saat ini.
Azlan mengerjabkan matanya, ia lantas menggaruk kepalanya yang tidaklah gatal. Ia terlalu pusing untuk menjawabnya sekarang, karena hubungannya dengan Ayesha entah dibilang seperti apa. Karena Ayesha sendiri sudah beberapa hari menghilang dari pandangan Azlan.
"Kenapa, Nak? Mama juga butuh menantu untuk menjadi teman Mama di rumah. Barangkali putra Mama sudah ada calon pendamping, biar Mama bisa lebih sehat lagi karena ada teman saat di rumah nanti."
Mama Vira terlihat antusias menunggu jawaban dari Azlan. Karena sungguh, Vira sangat menginginkan putranya berbahagia dan terlepas dari penyakit yang tengah Azlan derita.
"Mama ngomong apa sih. Lebih baik Mama istirahat biar cepat sembuh." Azlan mencoba mengalihkan pembicaraan, karena tidak ingin Mamanya terlalu berharap.
"Mama butuh menantu untuk menemani Mama Azlan. Kamu tahu sendiri, Mama sangat kesepian setelah Papa pergi meninggalkan kita."
Vira mengusap kasar air matanya. "Bagaimana Mama tidak sedih, Nak? dulu Mama dan Papa sangat berharap bisa melihat putra Mama bahagia dan memiliki seorang istri yang baik serta cucu yang sangat lucu. Tapi sayangnya, saat Papa menutup mata keinginan Papa belum juga terwujud."
"Ma!"
"Jangan bilang kau masih ingin sendiri, Azlan! Mama juga butuh cucu. Sampai kapan lagi Mama menunggu itu? Bahkan Papa sudah tiada, jangan sampai Mama juga akan tiada barulah kamu mengabulkan permintaan kami ini!"
Mulut Azlan seakan terkunci rasanya, bukan Azlan tidak ingin mengatakan tentang statusnya yang sudah memiliki istri tapi... melihat sikap Ayesha seperti itu, tentu Azlan tengah berfikir ulang untuk mengatakan statusnya dengan Ayesha kepada Mamanya semdiri. Bahkan entah dimana Ayesha saat ini, Azlan seakan tidak peduli lagi tentang perempuan yang sudah terlalu mengecewakan hatinya itu.
"Tidak, Ma. Hanya saja belum ada yang cocok untuk Azlan jadikan istri." Azlan sedikit berbohong karena memang statusnya yang sudah menjadi suami orang, malah terlihat seperti lelaki lajang.
"Baiklah. Sebaiknya Mama saja yang akan mencarikan satu untukmu, karena Mama sudah ada calonnya sendiri."
__ADS_1
Azlan tentu terkejut mendengar begitu antusiasnya sang Mama saat ini. Bahkan Mama Vira terlihat semakin ceria saat mengatakan itu.
"Mama ngomong apa sih. Jangan aneh-aneh deh Ma. Mana mungkin Mama bisa memaksa Azlan begitu saja. Azlan masih ingin be..." Azlan hendak mengatakan ingin bebas, namun secara tiba-tiba ia malah begitu merindukan kehadiran Ayesha untuk berada di sampingnya.
"Be apa Azlan?"
"Tidak ada apa-apa, Mama. Sepertinya Azlan melupakan sesuatu, Azlan keluar dulu Ma." Azlan sedikit beralasan dan lantas pergi, ia tidak ingin di tanya lebih banyak lagi oleh sang Mama.
Azlan melangkahkan kakinya keluar, sepertinya ia akan ke kantin terlebih dahulu untuk memesan secangkir kopi. Namun disaat ia akan berbelok, Ayesha dari kejauhan berlari menghampiri Azlan.
Azlan mematung melihatnya, setelah berhari-hari istrinya itu tidak datang menemuinya sekarang malah tiba-tiba muncul begitu saja.
"Akhirnya, aku bisa menemuimu juga."
"Ya, ada apa?" Azlan mencoba untuk tidak peduli karena bisa Azlan tebak, Ayesha datang saat ia butuh saja.
"Kita bisa bicara disana!" Azlan menunjuk kantin yang tidak jauh dari tempat ia berada dan melangkahkan kakinya dengan di susul Ayesha di belakangnya.
Setelah menemukan tempat duduk yang kosong, Azlan duduk saling berhadapan dengan Ayesha. Namun keduanya sama-sama terdiam, baik Ayesha maupun Azlan tidak jua kunjung bicara. Hingga pesanan yang sudah Azlan pun datang.
"Kau mau bicara apa? katakanlah. Aku tidak banyak waktu untuk berbicara banyak denganmu, karena Mamaku tidak bisa di tinggal lama-lama!"
Glek
Ucapan Azlan barusan membuat Ayesha sadar kalau hubungannya dengan Azlan semakin renggang. Namun apa boleh buat, Ayesha tetap menebalkan mukanya saat berhadapan dengan Azlan.
"Azlan, seperti perjanjian kita. Kau akan menanggung biaya pengobatan adikku. Sekarang, aku meminta hakku yang sudah kau janjikan."
__ADS_1