
Sudah satu bulan sejak hari itu. Hari-hari yang Ayesha lalui terasa hampa. Ia masih ingat betul bagaimana Azlan mengucapkan kata cerai kepadanya. Dadanya seakan terasa sesak seketika air mata jatuh di pipi Ayesha ketika ia mengingat itu.
Menyesal, tentu ia menyesali semuanya. Ia berharap bisa kembali bersama dengan Azlan. Karena cinta di hatinya sudah mulai tumbuh, semenjak perceraiannya itu.
"Azlan, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal dengan sikapku selama ini denganmu. Harusnya, aku lebih mementingkan dirimu saat itu," Ayesha mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. Tidak bisa di pungkiri, ia begitu merindukan Azlan saat ini.
"Kak, jangan lupa masak dan cuciin baju aku ya!" teriak Ayuna dari arah belakang. "Bukan melamun terus. Jadi manusia ada guna dikit kenapa sih, bukan hanya cuma numpang saja!"
Ayesha yang sedang melamun dibuat terkejut dengan teriakan Ayuna. Ia hanya mengelus dada saat adiknya sudah dalam mode marah karena mengingat Ayesha hanya menumpang makan di kontrakan yang di tempati adiknya itu.
Ayesha menghela nafas kasar sembari mengangguk mengiyakan.
"Kak, kalau aku ngomong itu tolong di jawab. Ingat, kakak disini hanya numpang dengan aku. Jadi, tidak usah malas-malasan seperti itu!"
"Baiklah Dek. Nanti akan kakak kerjakan," jawab Ayesha seadanya. Tidak bisa Ayesha pungkiri, ia sedih mendengar teriakan di sertai bentakan yang Ayuna lakukan. Padahal Ayesha tidak bisa dikatakan menumpang di kontrakan itu, karena mengingat dengan uang Azlan lah ia bisa membayar sewanya.
"Itukan bagus kalau dijawab," jawabnya dengan berlalu pergi.
__ADS_1
Ayuna berjalan menuju motornya yang sudah terparkir di depan. Motor itu, Ayuna beli dari uang Azlan yang ia rebut dari tangan Ayesha.
"Ternyata ada untungnya juga Kak Ayesha memiliki suami tajir, walau hanya sebentar tapi setidaknya uang yang di kasih suaminya cukup banyak!" gumam Ayuna dengan sedikit bangga, karena ia bisa memanfaatkan kakaknya yang sangat bodoh itu.
"Emang dasar, kakakku saja yang bodoh!" Ujarnya dengan tertawa mengejek. Ayuna tidak peduli dengan kehidupan sang Kakak lagi, setidaknya uang yang di berikan Azlan sudah seutuhnya ia ambil semua tanpa menyisakan Ayesha sedikitpun.
Sedangkan ditempat lain, Azlan tengah dipusingkan dengan permintaan sang Mama. Mama Vira mendesak Azlan untuk segera menikah.
"Azlan, kapan lagi Nak? Setidaknya kalian bisa bertunangan terlebih dahulu!"
Azlan tersenyum kecut. Bagaimana mungkin ia semudah itu bertunangan, sedangkan ia baru saja bercerai dengan Ayesha.
"Ma, sudahlah. Aku tidak ingin berdebat lagi,"
"Mama harus menunggu kapan lagi Azlan? Bukannya kalian sudah saling mengenal, lalu apalagi yang membuat kamu tidak yakin?"
Azlan hanya bisa diam dan tidak lagi berdebat. Memang betul, hubungannya dengan Dokter Dinda saat ini di bilang dekat. Namun, untuk memulai kejenjang yang lebih serius belum bisa ia lakukan. Azlan hanya mencintai mantan istrinya, meskipun Ayesha sudah membuat luka menganga dihatinya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu Ma!" pamit Azlan menghindari ucapan sang Mama selanjutnya.
"Hais... anak itu, selalu saja begitu. Tidakkah ia tahu, Mamanya begitu kesepian di rumah ini,"
Azlan mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan. Ucapan Mama Vira seakan membebani pikiran Azlan. Ia ingin sekali menikah, namun untuk mencintai wanita lain seakan tidak bisa ia lakukan.
Mobil Azlan berbelok menuju swalayan. Setelah lelah berputar-putar tanpa tahu arah tujuan.
Setelah memparkirkan mobilnya, Azlan seketika turun. Azlan melangkahkan kakinya memasuki pintu swalayan, ada sesuatu yang ia butuhkan saat ini. Untuk menghindari permintaan Mama Vira, Azlan berniat tinggal di apartemen saja maka dari itu ia perlu mengisi kulkas yang ada di apartemennya itu untuk beberapa hari kedepan.
Langkah kaki Azlan terarah ke rak paling pojok. Hanya berbatas satu rak saja posisi Azlan dengan Ayuna saat ini. Sayup-sayup Azlan mendengar suara yang berasal dari seseorang yang sepertinya Azlan kenali. Karena merasa penasaran, Azlan pun mendekatkan telinganya kesana.
"Usulan tante bagus juga. Buat apa aku memberikan tempat tinggal untuknya, sedangkan ia saja tidak ada gunanya untuk kita lagi,"
Azlan penasaran, dengan siapa Ayuna berbicara saat ini. Hingga langkah kakinya mencoba mendekat, ia ingin melihat wanita yang sedang bersama dengan Ayuna.
Seketika mata Azlan melebar. Peluh seketika membasahi wajah tampannya. Wanita yang ia coba hindari ternyata berada di tempat yang sama.
__ADS_1
"Tidak, aku harus bisa melawannya. Aku sudah cukup besar untuk bisa melawan wanita itu. Dulu aku memang lemah saat ia memukuliku tanpa ampun!"