
Ayesha tersenyum cerah, lalu beranjak dari duduknya. "Anda mau kemana Nona?" Anita menarik pergelangan tangan Ayesha, ia tidak ingin disalahkan nantinya. Karena sebelumnya Alex sudah berpesan kepada Anita, jikalau Ayesha tidak boleh keluar sebelum Alex sendiri menjemputnya setelah ijab kabul nanti.
"Hei ... Kau mau di pecat! Saya merupakan keluarga dari Alex. Saya disini di perintahkan untuk menjemput Ayesha." Wanita suruhan Wilson itu menarik pergelangan tangan Ayesha keluar. Ia masih berbaik hati untuk tidak berbuat kasar agar tidak di curigai.
"Tidak bisa begitu Mbak!" Anita tetap tidak memperbolehkan Ayesha pergi dengan wanita itu. Anita sekuat tenaga menarik tangan Ayesha, ia yakin kalau wanita yang baru saja datang itu bukanlah keluarga Alex.
Sreet ...
"Saya tidak ingin bersikap kasar kepada anda, tapi apa boleh buat!" Rani mendorong tubuh penata rias yang bernama Anita tersebut karena sudah mengganggu dan memperlambat pekerjaannya. Lalu dengan segera menarik tangan Ayesha untuk ikut pergi dengannya.
"Kamu yakin kita bisa keluar dari sini?" Ayesha tentu mempertanyakan hal itu, lantaran ketatnya penjagaan orang-orang suruhan Alex. Meskipun beberapa orang yang berjaga di depan pintu sudah di lumpuhkan oleh Rani, bisa jadi di tempat lain penjagaannya lebih ketat lagi.
"Kamu tenang saja, jangan takut!" Rani tidak melepaskan pegangan tangannya, ia tetap menarik tangan Ayesha hingga menuju pintu lift.
"Hufft ... Hampir saja, kamu lihat tadi mereka mengejar kita. Jangan sampai pas kita turun nanti mereka malah menangkap kita."
Rani tidak menanggapi lagi ucapan Ayesha, ia terlihat fokus dengan usaha penyelamatan Ayesha dengan bantuan beberapa temannya yang sudah bersiaga dibawah.
Ayesha menjadi penasaran, siapa orang yang telah membantunya ini karena saat Ayesha menanyakannya, Rani malah tidak mau menjawab pertanyaan Ayesha. Ia hanya mengatakan jikalau apa yang sudah ia lakukan hanya sebatas pekerjaannya saja.
Akhirnya Ayesha bisa keluar dari hotel tersebut. Dengan pandangan lurus ke depan, Ayesha terlihat memikirkan sesuatu. Harus kemana langkah kakinya pergi setelah ini, melihat orang suruhan Alex yang sangat banyak tentu akan mudah Alex menemukannya.
Mobil berhenti tepat di depan Ayesha. Wanita yang tadi bersama Ayesha terlihat menurunkan kaca mobilnya. "Masuk, Mbak. Cepatan!"
Ayesha mengangguk dan langsung melangkah masuk kedalam mobil. Ayesha melihat kearah belakang seseorang tengah mengejar mereka.
"Ayo cepatan, Mbak!" Ayesha begitu takut jikalau nantinya bakal ketangkap kembali. Tentu bakal sia-sia usaha yang telah mereka lakukan tadi.
Rani mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Setiap mobil berhasil di selipnya hingga membuat Ayesha ketakutan luar biasa akan aksi yang dilakukan Rani. Selain jago beladiri, ternyata wanita yang di samping Ayesha juga seorang pembalap handal.
"Kita mau kemana, Mbak?" Tentu Ayesha menanyakan hal itu karena mobil yang Ayesha tumpangi memasuki kawasan perumahan elit.
__ADS_1
"Saya akan mengantarkanmu ke rumahmu."
"Hah ...?" Ayesha terperangah dengan ucapan wanita itu.
"Mbak salah, ini bukan jalan ke rumahku lah Mbak!" Tentu Ayesha menyanggahnya, karena ia memang tidak tinggal di kawasan elit seperti ini.
Mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah yang cukup besar, rumah itu terlihat sangat cantik dan begitu megah. Ayesha terkagum-kagum dengan bentuk tekstur rumah tersebut.
"Keluar ...!"
Ayesha dikejutkan dengan suara Rani yang cukup keras. Padahal Ayesha sedang berkhayal jikalau rumah yang ada dihadapannya adalah kepunyaannya.
Dengan perasaan dongkol Ayesha melangkah keluar. Ia berjalan mengikuti Rani, hingga sampai di depan pintu masuk.
Seseorang membukakan pintu rumah dan mempersilahkan Ayesha masuk. Rani yang saat itu datang bersama Ayesha mengangguk dan menyuruh Ayesha untuk masuk.
"Sepertinya pekerjaan saya telah selesai, Mbak. Saya permisi dulu!"
"Tidak apa-apa Mbak. Mertua Mbak baik kok orangnya."
"Apa maksudnya, Mbak?" Ayesha tentu terkejut dengan ucapan wanita itu. Entah mertua yang mana yang di maksudnya. Kalaupun orang tua Azlan itu tidaklah mungkin karena pernikahan mereka yang di rahasiakan.
Rani membalasnya dengan senyuman dan berlalu pergi. Ayesha hanya bisa menatap kepergiaannya.
Ayesha berusaha untuk tetap tenang, meskipun rasa gugup tetap menghantui dirinya sendiri. Ayesha meremas jari tangannya karena merasa takut luar biasa.
Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki seseorang datang menghampiri. Ayesha yakin, langkah kaki yang ia dengar tersebut merupakan pemilik rumah ini. Ayesha hanya bisa tertunduk, ia tidak berani menatap kedepan meskipun orang itu tengah memperhatikan Ayesha.
"Duduklah ...!"
Ayesha mengangguk dan duduk saat dipersilahkan.
__ADS_1
Ayesha meremas jari tangannya. Ia sama sekali tidak mengenal wanita yang ada di hadapannya. Kalaupun mertua yang Rani maksud tadi, harusnya yang berdiri di hadapan Ayesha sekarang adalah Mama Azlan. Namun ini bukanlah Mama dari Azlan. Ya, Ayesha masih mengingat bagaimana wajah Mama Azlan tersebut, saat Azlan dan orang tuanya datang melamar.
"Siapa namamu, Nak?"
Ayesha mengangkat wajahnya saat wanita paruh baya yang ada di hadapannya menanyakan perihal namanya.
"Sa ... ya Ayesha, Buk." Dengan takut-takut Ayesha mencoba menjawabnya.
Wanita paruh baya itu pun tersenyum. "Jangan panggil saya, Buk. Panggil saja dengan sebutan, Oma!"
Ayesha semakin tidak mengerti, kenapa wanita yang di panggil oma tersebut mencoba untuk akrab dengannya. Padahal Ayesha sendiri sama sekali tidak mengenalnya.
"Ba ... ik, Buk. Eh, Oma maksudnya." Ujar Ayesha dengan terbata-bata.
Freya tersenyum saat Ayesha mencoba memanggilnya dengan sebutan, Oma. Freya lantas berdiri dan berjalan mendekati Ayesha. "Kamu jangan takut dengan Oma, Nak. Saya ini, Oma nya Azlan."
Ayesha terkejut dan menatap kearah Oma Freya. Tentu Ayesha penasaran perihal Omanya Azlan yang sudah mengetahui tentang pernikahan mereka.
"Saya tahu semuanya."
"Oma tahu pernikahan kami?" Ayesha menanyakan tentang pernikahannya dengan Azlan. Pasalnya Azlan ingin merahasiakan pernikahan mereka, namun yang Ayesha dengar malah berbeda. Oma Azlan sendiri malah mengetahuinya.
Freya mengangguk mengiyakan. "Kenapa kalian merahasiakannya? Oma sangat kecewa dengan kalian." Freya merubah mimik wajahnya menjadi lesu untuk menarik perhatian Ayesha. Freya ingin Ayesha mengatakan jujur tentang pernikahan dadakan mereka.
Ayesha ikut merasakan sedih, karena ia pun tidak ingin menikah secara dadakan seperti ini. Tapi apa boleh buat, pernikahan sudah terjadi. Meskipun Azlan menganggap pernikahannya hanya sebatas pernikahan kontrak, tapi Ayesha cukup bahagia dinikahi oleh lelaki baik-baik seperti Azlan. Walau sampai detik ini, Ayesha belum melihat kembali wajah suaminya.
"Maafkan kami, Oma." Tangan Ayesha terulur untuk mengusap punggung tangan Freya, entah Ayesha dapat keberanian darimana sehingga ia terlihat akrab dengan Omanya Azlan.
"Oma tidak apa-apa, mungkin dengan cara itulah kalian berjodoh. Tapi ..." Freya tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Ia menatap kearah Ayesha, Freya ingin mencari tahu apakah Ayesha sudah mengetahui tentang kecelakaan yang menimpa Azlan.
"Tapi apa, Oma?" Ayesha terlihat kebingungan saat Oma Freya meneteskan air mata. Ayesha sama sekali tidak mengerti tentang apa yang sudah terjadi.
__ADS_1