DIKEJAR KAWIN

DIKEJAR KAWIN
Musibah yang menimpa


__ADS_3

"Apa hanya ini yang kau minta dariku?" Azlan tersenyum masam, ia pikir Ayesha mencarinya karena merindukan suaminya. Tapi ternyata, Ayesha malah langsung membahas adik dan adik, hingga membuat Azlan menatap Ayesha penuh benci.


"Ya, Azlan. Hanya itu yang aku minta, karena adikku adalah harta yang paling berharga untukku,"


Azlan seakan menertawakan dirinya sendiri. Ia baru menyadari betapa tidak pentingnya, dirinya di hadapan Ayesha.


"Apa hanya itu yang selalu kau pikirkan, Ayesha?" Azlan masih saja tidak puas meyakinkan hatinya, ia masih mengharapkan jawaban Ayesha yang sedikit saja mengharapkan kehadirannya.


Ayesha mengangguk mengiyakan. "Tidak ada hal lain yang membuatku bahagia, Azlan."


"Bahkan suamimu sendiri?"


Deg


Mulut Ayesha seakan terkunci dibuatnya. Namun ia mencoba untuk tetap tenang karena sebenci apapun Azlan sekarang, itu tidak akan merubah rasa cinta Azlan sendiri, itulah yang di pikirkan Ayesha saat ini.


"Kau ngomong apa sih. Kita bukan membicarakan hal pribadi, jadi jangan berfikir hal lain!"


Azlan langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya tidaklah penting buat istrinya sendiri.


Azlan akan beranjak pergi karena hatinya terlalu sakit menghadapi Ayesha yang begitu egois. Namun, hal tak terduga membuat langkah kakinya terhenti.


"Azlan, aku butuh uang dan tolong aktifkan kembali biaya pengobatan adikku. Hanya kau harapanku saat ini,"


Azlan sekilas menatap Ayesha sebelum ia beranjak pergi namun Ayesha yang tidak tahu malu, terus mengikuti langkah Azlan sampai kesebuah Atm.


Setelah menarik uang tunai, Azlan langsung keluar dari ruangan itu. Ya, Azlan belum memberikan Ayesha Atm untuk ia pegang karena mengingat statusnya dengan Ayesha yang belum pasti dan sikap Ayesha yang sangat memuakkan membuat Azlan terlihat begitu perhitungan.


Saat akan keluar dengan membawa sejumlah uang yang Ayesha butuhkan. Mata Ayesha berbinar melihatnya. Ia sebelumnya tidak pernah memegang uang sebanyak itu, namun sekarang Azlan dengan suka rela akan memberikannya. Sungguh Ayesha begitu beruntung mendapatkan suami yang baik seperti Azlan.


"Ini yang kau mau kan?" Dengan mata memerah Azlan mengucapkan. Sedari tadi ia menahan sesak di dada. Hatinya terlalu sakit saat mencintai, malah tidak di anggap. Uang yang Azlan berikan itu tidaklah seberapa bagi Azlan, namun cara Ayesha yang salah dan membuatnya semakin sakit hati.

__ADS_1


"Azlan maafkan aku, uangnya aku ambil ya. Ini sangat mendesak sekali Azlan. Aku butuh uang, jadi aku pikir tidaklah salah aku memintanya darimu."


Azlan tersenyum masam mendengarnya, ia tidak menyangka hatinya begitu perih mendengar setiap ucapan Ayesha.


"Azlan, ada satu hal lagi yang akan aku pinta darimu!" Azlan yang akan melangkah pergi, langkahnya seketika terhenti. Ia menoleh dan menatap kearah Ayesha.


"Katakanlah! Karena aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu,"


Ayesha mengangguk. "Tolong untuk aktifkan kembali pengobatan adikku, sesuai perjanjian nikah kita."


Azlan benar-benar mengepalkan tangan mendengarnya. Ia sebisa mungkin untuk tidak terpancing amarah, karena ini tempat umum dan banyak orang-orang lalu lalang di hadapannya. Ia melakukan kontrak pernikahan dengan Ayesha, supaya Ayesha mau menikah dengannya. Azlan memiliki hati yang tulus, ia begitu tulus untuk menjadikan Ayesha sebagai istri. Tapi, mendengar penuturan Ayesha barusan. Ayesha seakan menganggapnya sebagai barang untuk di manfaatkan.


"Baiklah, apa ada hal lain lagi?" Azlan masih tetap bersikap baik, ia akan menuruti semua kemauan Ayesha. Mungkin inilah arti mencintai sesungguhnya dan tidak ada yang lebih penting kecuali uang.


"Tidak ada! hanya itu saja," ujar Ayesha dengan senyuman yang begitu manis, namun hal itu membuat Azlan mual melihatnya.


Azlan melangkahkan kakinya menuju taman yang ada di depan rumah sakit. Ia perlu menenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum menemani Mamanya.


"Boleh aku duduk?" Seorang perempuan datang dari arah belakang. Sedari tadi dari kejauhan ia melihat Azlan berbicara dengan Ayesha sehingga membuat perempuan itu begitu penasaran dan menyusul Azlan di taman itu.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Azlan. Ia hanya diam tanpa senyuman di bibirnya. Bahkan perempuan cantik yang ada di sampingnya ia abaikan begitu saja. Hingga tiba-tiba ponsel yang ada di saku celana Azlan berdering, barulah ia tersadar.


"Assalamualaikum Tuan,"


"Waalaikumsalam. Ya, ada apa?


"Oma Freya jatuh di kamar mandi Tuan, sekarang ia sudah di larikan ke rumah sakit dan sekarang sedang di periksa oleh dokter,"


Azlan terkejut mendengarnya, saking paniknya Azlan tidak sadar jikalau benda pipih yang tadi ia letakkan ke telinga terjatuh begitu saja. Ia langsung berlari dengan hati yang tidak karuan, bahkan panggilan dari perempuan yang ada di belakangnya, Azlan abaikan begitu saja.


"Ver, bagaimana keadaan Oma?" Azlan terlihat sangat panik, degup jantungnya seakan tidak beraturan. Rasa takut kehilangan tiba-tiba menghampiri Azlan, jangan sampai Omanya juga seperti sang Papa itulah yang membuat Azlan semakin takut di buatnya.

__ADS_1


Very menoleh dan menatap cucu majikannya. "Belum tahu Tuan. Oma Freya masih di dalam dan dokter belum ada yang keluar,"


Azlan begitu gusar mendengarnya. Cobaan silih berganti menghampiri seakan Tuhan begitu menguji kesabarannya.


Azlan terduduk lemah di sebuah kursi panjang. Matanya sudah memerah menahan sesak, tidak ada tempat ia berkeluh kesah disini. Orang yang begitu ia sayangi pun, tidaklah mau menampung keluh kesahnya.


"Shitt, lama sekali!" Azlan menatap pintu ruangan tertutup itu dengan rasa panik. Ia mencoba berdiri dan berjalan mondar-mandir.


Azlan sangat berharap pintu ruangan itu segera terbuka, namun sudah setengah jam Azlan menunggu, dokter yang ada di dalam pun tidak jua kunjung keluar.


Panik, ya Azlan sangatlah panik. Ia benar-benar tidak bisa tenang saat ini.


Seorang dokter baru saja keluar dari ruangan itu. Azlan yang sedari tadi menunggu langsung menghampirinya. "Bagaimana keadaan Oma saya, Dok?"


"Kami sudah menangani Nyonya Freya sebisa kami. Namun, untuk lebih lanjutnya kita hanya bisa berdoa agar Nyonya Freya segera sadar."


"Tidak! ini tidak mungkin!" Azlan benar-benar tidak bisa menahan diri. Ia begitu tertekan dengan cobaan yang silih berganti menimpa keluarganya. Ingin ia mencoba tabah, namun seakan tubuhnya tidak bisa menerima beban yang begitu berat sehingga membuatnya seketika ambruk.


Very yang saat itu tepat berada di belakang Azlan langsung menangkap tubuh majikannya dan mengangkatnya. Azlan barulah tersadar setelah setengah jam kemudian.


"Ya Allah, Oma!" Azlan langsung bangun saat ia tersadar.


"Tuan beristirahatlah." Very berlari ke dalam saat mendengar suara Azlan.


"Tidak! mana bisa saya beristirahat. Saya harus melihat Oma, Ver!"


"Tidak Tuan, mohon mengertilah. Dokter menyarankan untuk Tuan beristirahat. Biar saya yang akan menjaga, Oma!"


Azlan mengangguk lemah karena tubuhnya terlihat tidaklah sehat. Ia tidak menyangka bisa ambruk saat itu.


"Pergilah, tolong kabari setelah itu!"

__ADS_1


__ADS_2