DIKEJAR KAWIN

DIKEJAR KAWIN
Episode 62


__ADS_3

Azlan meninggalkan keduanya di parkiran rumah sakit itu, ia tidak peduli dengan tatapan Ayesha yang seakan menusuk menatapnya. Saat itu, Ayesha akan masuk kedalam mobilnya, dengan tega Azlan lantas langsung menguncinya lalu beranjak pergi.


"Aaa.... kenapa aku sebodoh ini karena cinta?" teriaknya dengan penuh emosi, Azlan memukul stir mobilnya saat itu, untuk menumpahkan kekesalannya. Untung saja jalanan yang ia tempuh sangat sepi sehingga mobil yang ia kendarai dengan sedikit ugal-ugalan tidak membuat orang lain celaka.


"Tidak seharusnya aku mencintainya sedalam itu, padahal kenyataannya dia adalah bagian dari keluarga Kinanti. Ya, aku masih mengingat nama wanita itu, wanita yang sudah merusakku!"


Azlan lantas tidak langsung pulang ke rumah. Ia perlu menenangkan pikirannya terlebih dahulu, masalah yang tengah menimpanya sungguh cukup rumit. Azlan sangat mencintai Ayesha, bahkan ia telah banyak berkorban untuk orang yang ia cintai itu. Namun melihat kenyataan yang ada, akan sulit bagi Azlan untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Ayesha. Ditambah sikap Ayesha yang selalu memprioritaskan adiknya dibanding dengan Azlan sendiri.


Disinilah Azlan saat ini, dengan langkah gontai ia berjalan ketepian pantai.


"Tidak! aku tidak bisa menerimanya. Ini begitu sulit untukku. Aaa... ternyata dunia sekejam ini untukku lalui!" Azlan berteriak sekencang-kencangnya di sebuah pantai yang cukup sepi pengunjung sehingga membuatnya bebas berteriak untuk melepaskan kekesalan yang ada di dalam pikirannya.


Hari pun sudah beranjak sore, Azlan lantas beranjak dari sana dan kembali kekediamannya. Pikirannya sedikit tenang setelah ia melepaskan kekesalannya tadi.


Tidak berselang lama mobil Azlan telah memasuki pekarangan rumah kekediaman orang tuanya. "Pak, ini kuncinya tolong masukin ke garasi!"


Azlan lantas berjalan masuk tanpa memperhatikan Ayesha dan adiknya yang tengah duduk santai di sofa ruang tengah. Saat akan melangkahkan kaki menuju kamar atas, sayup-sayup ia mendengar suara cekikikan seseorang. Azlan lantas menghentikan langkahnya, karena ia memang tidak mengetahui kepulangan Ayesha ke rumah ini.

__ADS_1


Dengan langkah pelan ia berjalan menuju asal suara. Seketika Azlan pun terkejut dengan kedua orang itu, entah dapat izin darimana sehingga Ayesha dengan mudah masuk ke rumahnya bersama dengan adiknya itu.


"Kau? kenapa kau berada disini?"


Ayesha lantas menoleh dan berjalan menghampiri sang suami. "Kau sudah pulang sayang?" Ayesha tampak bersikap manis dihadapan Azlan saat ini. Ayesha perlahan memeluk lengan tangan sang suami dan berjalan menuju sebuah sofa yang tadi Ayesha duduki.


"Kenapa kalian berdua berada disini?" Azlan masih saja menanyakan hal itu, ia tidak bisa menampung mereka berdua, karena akan sulit bagi Azlan untuk menerima kenyataan yang nyata di hadapannya.


"Sayang, tentunya aku berada disini. Kan kau tahu sendiri jawabannya, aku ini adalah istrimu dan kemana pun kau pergi, aku akan selalu berada disana!"


Ayesha mengerjabkan matanya. Ya, memang itu semua ide adiknya sendiri yang telah mencoba menghasutnya. Tadinya, Ayesha berniat akan melepaskan hubungannya dengan Azlan. Namun, adiknya langsung melarangnya dengan alasan Azlan sangat mencintai kakaknya itu.


"Kau bicara apa sih, sayang? Tidak usah aneh-aneh deh." Ayesha mencoba menghindari tatapan Azlan yang seakan menguliti dirinya.


Azlan tersenyum sinis dan langsung berdiri dari tempatnya. "Silahkan kau pergi dari rumahku ini, karena disini bukanlah tempat penampungan yang bisa menampung hidup kalian berdua,"


Sontak Ayesha langsung melotot mendengar ucapan Azlan yang sungguh sudah keterlaluan mengusirnya dan juga adiknya. "Kau bicara apa sih? mana mungkin kau bisa mengusir kami begitu saja!"

__ADS_1


"Kata siapa? kata siapa aku tidak bisa mengusir kalian berdua dari sini? jangan kira kau bisa seenaknya berada disini dan menjadi ratu di rumah orang tuaku!"


"Dan ini lagi, kalian berdua memang tidak waras dengan seenaknya mengotori rumahku dengan sampah makanan yang berserakan seperti ini, kalian benar-benar menjijikkan!"


Ayesha yang tidak terima malah berkacak pinggang mendengarnya. "Kau kenapa sih sayang? datang-datang malah marah-marah seperti itu. Aku ini istri kamu, tolong kamu ingat itu!"


"Hahaha... istri? ternyata aku sudah mempunyai istri, tapi kenapa dia tidak ada saat aku membutuhkannya,"


"Azlan, kau harusnya tahu sendiri kalau aku tidak bisa meninggalkan adikku kala itu. Tapi, karena berhubung ia sudah sembuh apa salahnya aku membawanya kesini biar kita hidup seperti keluarga yang sesungguhnya,"


Azlan menyeringai. "Jangan mimpi! sekarang, kalian berdua angkat kaki dari rumahku. Jangan harap kalian bisa tinggal disini dengan seenak hati kalian,"


Ayesha dengan segera mengambil tangan Azlan yang akan mengusir mereka berdua. "Azlan, ingat kau ini suamiku. Jadi, tolong jangan usir kami dari rumah ini. Mau kemana lagi kami akan pergi, Azlan!"


Azlan seakan tidak peduli mendengarnya. Hatinya seakan menjadi batu meskipun Ayesha menangis di hadapannya.


"Pak, tolong usir mereka berdua!"

__ADS_1


__ADS_2