DIKEJAR KAWIN

DIKEJAR KAWIN
Berdua denganmu


__ADS_3

Azlan melirik Ayesha yang tengah menahan kesal. Ia lalu mencabut tali impus yang masih terpasang di pergelangan tangannya tanpa sepengetahuan Ayesha. Meski merasakan perih di tubuhnya, Azlan berusaha berdiri dan mendekati Ayesha yang tengah duduk membelakanginya.


Brak


"Ah...." Teriaknya dengan menahan sakit di sebelah kakinya. Ternyata kaki sebelah kanan Azlan masih sedikit cidera. Namun lelaki itu malah melupakan hal itu tanpa memikirkan rasa sakit di kakinya.


Ayesha terkejut dan menoleh ke bawah. Ternyata suaminya malah tersungkur ke lantai.


"Ya Allah, kamu mau ngapain sih?" Meskipun sedikit kesal dengan suaminya, Ayesha tetap membantu Azlan berdiri. Ayesha perlahan membawa tubuh suaminya menuju ranjang lalu membaringkannya.


"Kalau kau perlu apa-apa beritahu aku saja!"


"Hem." Azlan hanya menjawabnya dengan deheman untuk menetralkan jantungnya yang berdetak kencang saat berdekatan dengan istrinya. Ternyata berdekatan dengan Ayesha tidak membuat penyakit yang di deritanya kambuh melainkan jantungnya yang berdetak semakin kencang.


"Sepertinya aku akan berkonsultasi dengan dokter Marco mengenai hal ini." Ujar Azlan di dalam hati. Ia lantas memegang dadanya sambil memperhatikan Ayesha dari jarak dekat.


"Kenapa? Apa kau butuh sesuatu?" ujar Ayesha yang juga tengah menatap Azlan. Azlan yang di tatap secara intens oleh Ayesha membuang muka, ia tidak ingin terlalu di perhatikan seperti itu oleh Ayesha.

__ADS_1


Ayesha mengangkat kedua bahunya. "Ya sudah Kalau kau tidak ingin di bantu." Ayesha berjalan mengambil tas yang ia letakkan di atas meja. Ia lalu berjalan kearah pintu keluar tanpa berkata apapun dengan sang suami.


Azlan memperhatikan setiap gerak-gerik Ayesha dari mulai ia mengambil tas sampai Ayesha menuju pintu keluar dan akan membuka knop pintu.


"Kau mau kemana, Ayesha?" Azlan barulah bersuara saat pintu yang di tarik Ayesha tengah terbuka separuh.


Ayesha menoleh ke belakang. "Hem... aku mau ke..." Ayesha menggaruk kepalanya yang tidaklah gatal, sepertinya ia melupakan sesuatu hal bahwa saat ini ia sedang bersama dengan sang suami. Harusnya ia mesti meminta izin Azlan terlebih dahulu jikalau mau pergi menjenguk sang adik meskipun rumah sakit yang mereka tempati sama.


"Kemana?" Azlan menjadi penasaran kemana istrinya akan pergi. Ia lantas berusaha untuk memposisikan tubuhnya agar bisa duduk.


"Aku mau meminta izin, bolehkah?" Ayesha berjalan mendekati Azlan. Ia mengambil tangan Azlan dan memohon agar diizinkan.


"Apa kau akan mengizinkanku? aku mau menemui adikku sebentar saja." Ayesha mengerjabkan matanya, ia berusaha meminta izin kepada Azlan dengan bertingkah seimut mungkin agar Azlan mau mengizinkannya.


"Eits... kau mau ngapain?" Azlan menahan wajah Ayesha yang hampir saja menyentuh bibirnya. Hati Azlan menjerit menginginkan, namun rasa trauma itu masih belum bisa ia lupakan begitu saja.


"Ish... kau malah mengacaukannya!" Ayesha sedikit kesal, padahal hampir sedikit lagi ia bisa menaklukkan Azlan.

__ADS_1


"Memang kau mau ngapain?" Azlan masih berpura-pura tidak mengerti padahal ia tahu apa yang akan dilakukan Ayesha. Sebagai lelaki normal ia juga menginginkan hal yang sama.


"Ish... sudahlah lupakan." Ayesha berbalik membelakangi Azlan. "Aku mau pergi sebentar ya!" Ujar Ayesha yang akan melangkah pergi namun langkah kaki Ayesha tertahan karena Azlan malah menarik tangan Ayesha dan membuat Ayesha jatuh kepelukannya.


"Kau tidak akan kemana-mana. Kau cukup disini menemaniku!" Ucapan Azlan penuh dengan penekanan, ia tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja.


Lama Ayesha terdiam atas perlakuan Azlan kepadanya. Entah kenapa jantung Ayesha berdetak kencang atas perlakuan manis Azlan barusan. Ayesha seakan terlena akan ketampanan suaminya, baru kali ini Ayesha menatap wajah Azlan sedekat itu.


"Kau sangat cantik istriku." pujian itu begitu tulus Azlan ucapkan karena istrinya itu memang sangat cantik dimatanya. Cinta pada pandangan pertama membuat Azlan begitu mencintai Ayesha. Dari awal ia sudah bertekad akan menjadikan Ayesha sebagai istrinya, sampai kapanpun ia akan mempertahankan istrinya itu meskipun seluruh dunia menolaknya.


Wajah Ayesha merona merah mendengar pujian suaminya perlahan wajah keduanya semakin dekat.


Cup


Hanya sebuah kecupan namun bisa menimbulkan getaran cinta di hati keduanya.


Kedua sejoli itu seakan hanyut akan pikiran masing-masing. Jikalau Azlan tengah memikirkan bagaimana caranya bisa memiliki Ayesha seutuhnya tanpa ada rasa takut yang di timbulnya dalam dirinya namun berbeda dengan pemikiran Ayesha yang seakan hanyut akan manisnya kecupan bibir sang suami yang begitu mempesona di matanya.

__ADS_1


"Oh maaf." Azlan menyingkirkan tubuh Ayesha yang tadi ia dekap. Hampir saja ia ceroboh dengan melakukan hal itu. Tidak mungkin rasanya ia melakukan hal itu di rumah sakit, meskipun seperti yang Azlan tahu itu bukanlah hal yang pertama bagi Ayesha. Namun berbeda dengan Azlan, ini merupakan pengalaman pertama bagi Azlan sendiri dan sebisa mungkin Azlan akan membuat Ayesha nyaman dan dengan suka rela menyerahkan diri kepada suaminya. Tentu Azlan tidak ingin Ayesha terpaksa melakukan hal itu dengannya.


__ADS_2