
"Kak, aku sudah sehat. Aku ingin pulang ke rumah kak." Ayuna merengek meminta pulang sekarang juga, ia tidak betah terlalu lama berada di rumah sakit.
Ayesha tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Baiklah, Dek. Tapi... kita harus menunggu Dokter datang dulu untuk memastikan keadaan kamu."
Ayuna berdecak kesal. "Buat apa sih kak? aku sudah sembuh jadi tidak perlu di periksa lagi. Aku bosan berada disini dan ini lagi, aku tidak mau di tusuk dengan jarum lagi. Tanganku sakit kak, harusnya kakak mengerti itu dong,"
Ayesha dengan penuh rasa sabar mengusap punggung tangan adiknya. "Sabar ya, Dek. Sebentar lagi Dokter akan datang kesini. Setelah semua selesai, kamu juga akan di perbolehkan pulang,"
"Ish mengesalkan," kesal Ayuna dengan kembali berbaring, ia membelakangi Ayesha saking kesalnya.
Ayesha hanya bisa tersenyum saat melihat Ayuna merajuk. Ayesha sama sekali tidak marah, karena memang itulah sikap adiknya.
"Kak!" Panggil Ayuna kembali, ia mencolek tangan Ayesha yang tertumpu di brankar.
"Ya, ada apa Ayuna?"
Ayuna langsung memposisikan tubuhnya untuk duduk dan memeluk tubuh sang kakak dengan penuh rasa sayang. "Maafkan Ayuna yang sudah membuatmu terbebani selama ini kak,"
Ayesha tentu tersenyum mendengarnya. "Tidak Ayuna! Kakak sama sekali tidak merasa terbebani,"
"Terimakasih sudah mau menjaga dan merawatku, kak!" Ayuna berucap penuh haru, ia tidak menyangka sang kakak begitu tulus menyayangi tanpa Ayuna tahu kalau kebahagian sang kakak ia pertaruhkan.
"Hei... kau bicara apa sih, Dek? Tidak ada seorang kakak yang merasa terbebani oleh adiknya sendiri. Malahan kakak sangat bahagia, melihat adik kakak sudah kembali sembuh seperti ini,"
Ayuna dengan segera mengusap air mata yang menetes di pipi. "Terimakasih, Kak."
Hari ini, Ayuna sudah di perbolehkan untuk pulang setelah dilakukan pemeriksaan oleh Dokter tadi. Ayesha tentu bahagia mendengarnya, karena melihat sang adik sudah sembuh dan tampak lebih ceria dari sebelumnya. Namun senyum itu kembali redup dari bibirnya, ada satu hal yang membuat Ayesha tengah berfikir, bagaimana hidupnya kedepannya nanti? Ia sekarang sudah memiliki suami, apa mungkin Ayesha akan membawa sang adik untuk tinggal di rumah Azlan? sedangkan Azlan sendiri masih tinggal di rumah orang tuanya.
Ayesha mengusap pelipisnya. "Bagaimana ini? aku harus membawa Ayuna pulang kemana?"
__ADS_1
Ayuna menarik tangan sang kakak. "Kak, ayo!" Ayuna begitu bersemangat untuk pulang ke rumah. Namun tidak untuk Ayesha, ia begitu pusing memikirkan tempat tinggal yang akan di tempati Ayuna nantinya.
"Oh iya." Ayesha dengan terpaksa mengiyakan dan mengikuti langkah adiknya yang berjalan lebih dulu.
"Kak, aku lapar." Ayuna memegang perutnya yang terasa lapar, wajahnya penuh harap. Ayuna berharap kakaknya memiliki uang untuk memenuhi keinginannya.
Ayesha lantas tersenyum dan mengangguk mengiyakan karena uang yang diberikan Azlan kemaren masih utuh dan belum Ayesha pakai sama sekali.
Wajah Ayuna berbinar dan langsung menarik tangan kakaknya kembali. "Kita ke kantin saja ya, kak,"
Ayuna dan Ayesha sudah berada di kantin rumah sakit. Tempat itu terlihat masih sepi pengunjung sehingga Ayesha dan Ayuna dengan mudah untuk mencari tempat duduk.
"Kak cepatlah! kita duduk disini saja,"
Ayesha sama sekali tidak menghiraukan panggilan itu. Langkahnya terhenti saat melihat dari kejauhan punggung belakang Azlan. Ayesha sangat yakin, itu adalah suaminya sendiri karena melihat postur tubuh dan gerak-gerik suaminya dari arah belakang.
Ayesha meremas jari-jari tangannya, saking ia kesalnya. Entah ini yang namanya cemburu, Ayesha pun juga tidak tahu. Karena yang jelas, ia begitu kesal melihatnya.
"Wanita itu sangat cantik dan ...." Ayesha tidak lagi melanjutkan ucapannya saat melihat jas putih yang di pakai wanita itu. Ia menjadi insecure sendiri, keduanya tampak cocok dan sangat serasi di bandingkan dengan dirinya yang hanya seorang pengamen jalanan.
"Tidak! Azlan tidak akan pernah selingkuh dan tidak akan pernah tertarik dengan wanita itu." Ayesha mencoba meyakinkan hatinya disaat hatinya tengah kacau.
Ya, yang dilihat Ayesha sangat benar adanya. Azlan saat itu hendak mencari makan siang malah bertemu dengan Dokter Dinda.
Dinda yang notabennya sangat menyukai Azlan lantas tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ia akan mengambil kesempatan untuk lebih dekat dengan lelaki yang super dingin itu.
"Kau sangat menarik perhatianku," gumam Dokter Dinda. Ia tersenyum bahagia saat Tuhan mempertemukannya kembali dengan lelaki yang sudah mengambil hatinya semenjak pertemuan pertamanya waktu itu.
"Kau, kenapa kau malah duduk disini?"
__ADS_1
"Terserah aku dong. Ingat ini tempat umum, jadi terserah aku mau duduk dimanapun yang aku suka,"
Azlan sangat kesal mendengarnya dan hendak beranjak dari sana. "Kau mau kemana? jangan pergi dulu, temani aku makan," ujar Dokter Dinda dengan menarik tangan Azlan untuk kembali duduk.
Azlan menurut, ia lantas duduk kembali. Ia menatap tangannya yang tadi di tarik wanita yang ada di hadapannya. Seketika pikirannya menjadi kacau dan penuh dengan tanda tanya. "Kenapa dengan tubuhku? kenapa aku sama sekali tidak merasakan apapun. Bahkan tubuhku sama sekali tidak bereaksi saat di sentuh wanita itu,"
"Kenapa kau menatapku seperti itu? aku tahu, aku cantik,"
Azlan sama sekali tidak menanggapinya. Ia lantas membuang muka saat ketahuan melirik wanita itu.
Kembali ke Ayesha.
"Siapa lelaki itu? kenapa kakak terlihat kesal melihatnya?" gumam Ayuna, ia memperhatikan arah pandang kakaknya yang masih saja tertuju kepada kedua orang itu. Bahkan makanan yang sudah di pesan, tidak kakaknya makan sama sekali.
"Kak!"
Ayesha menoleh dan menatap kearah adiknya. "Siapa yang kakak lihat? dan kenapa makanannya sama sekali tidak kakak cicipi?"
"Tidak, Dek. Ini kakak juga mau memakannya," ujarnya yang terlihat gugup. Namun matanya tetap saja memperhatikan dua orang itu.
Ayuna kesal, ia lantas berdiri dan hendak menghampiri dua orang yang mengganggu pikiran kakaknya itu.
"Kau mau kemana, Dek?" Ayesha memegang tangan adiknya yang hendak melangkah pergi.
"Kakak tunggu disini. Aku akan menemui orang itu dulu,"
Ayesha terkejut mendengarnya. "Hei, kau mau apa Dek?" Ayesha kembali menarik tangan Ayuna untuk kembali duduk.
"Kak, lepasin tanganku! aku mau membuat perhitungan dengan mereka berdua!"
__ADS_1
Degh
Ayesha terkejut mendengarnya. Ia menatap adiknya dengan perasaan tidak menentu. "Apa adikku tahu tentang hubunganku dengan Azlan?" pikir Ayesha.