
Ayesha berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Ia akan mencari keberadaan adiknya terlebih dahulu sebelum menemui sang suami.
"Ini dia kamarnya." Ayesha tersenyum dan mencoba membuka knop pintu ruang inap adiknya. Ia yang akan berjalan masuk terhenti dengan tepukan punggung oleh tangan seseorang.
"Kau sedang apa disini, Ayesha?"
Ayesha menoleh dan menatap seseorang yang ada di belakangnya. Tentu ia terkejut dengan kondisi pria itu. Sebelum Ayesha meninggalkan rumah waktu itu, kondisi pria itu tidak kurus seperti ini. Rindu, tentu ada kerinduan yang membuncah di hati Ayesha. Karena sekejam-kejamnya Ayah Bahri ia juga yang telah berjasa merawat Ayesha sedari kecil.
Ya, yang menepuk punggung Ayesha adalah Ayah Bahri. Seseorang yang Ayesha panggil dengan sebutan Ayah namun dengan secara tiba-tiba malah mengusirnya dari rumah. Tentu para pembaca masih ingat dong bagaimana Ayesha terusir dari rumah waktu itu.
"Kau sedang apa disini Ayesha?" Ayah Bahri kembali bertanya karena Ayesha tidak kunjung menjawab.
Ayah Bahri sedikit mengintip untuk melihat orang yang akan ditemui Ayesha. Namun Ayesha kembali menarik knop pintu agar kembali tertutup. Ayesha tidak ingin keberadaan Ayuna diketahui oleh Ayah Bahri dan juga Kinanti, karena bisa saja kedua orang itu malah mencelakai adiknya nanti. Ya itulah yang ada di pikiran Ayesha saat ini.
"Bukan siapa-siapa, Pak." Ayesha berusaha melawan rasa gugupnya saat bertemu dengan Bahri.
Bahri tercengang, sungguh Bahri sama sekali tidak menyangka jikalau anak yang ia rawat sedari kecil malah memanggilnya dengan sebutan Pak bukan sebutan Ayah saat mereka masih tinggal bersama.
Ayesha berjalan meninggalkan ruangan itu dan akan kembali lagi kesana nanti, tentunya setelah Bahri pergi dari tempat itu. Namun baru beberapa langkah berjalan, tangannya di tarik oleh Bahri.
"Sebegitu marahnya kau sama Ayahmu, Nak?" Bahri tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Ia begitu merindukan Ayesha. Selama ini ia berusaha mencari keberadaan putrinya itu. Meskipun Kinanti melarangnya bahkan sempat memukuli Bahri ketika perempuan itu mengetahuinya.
__ADS_1
Ayesha tersenyum sinis dan melepaskan secara paksa tangannya. "Anda sudah pikun, Pak? Atau perlu saya ulangi kembali perkataan anda waktu itu?" Dengan suara bergetar Ayesha berucap, ia berusaha untuk tetap tenang dan tidak mengeluarkan air matanya. Tentu suatu hal yang selalu Ayesha ingat saat Bahri mengatakan Ayesha bukanlah putrinya dan Ayesha sudah tidak berguna lagi untuk lelaki itu manfaatkan. Ya, Ayesha tidak ingin terjebak dengan kepalsuan yang lelaki itu tunjukkan. Sudah cukup bagi Ayesha untuk mengetahui bagaimana kejamnya pria tua yang selalu Ayesha panggil dengan sebutan Ayah yang telah memanfaatkannya.
Bahri menelan salivanya, suaranya tercekat. Ia tidak menyangka Ayesha akan berkata seperti itu.
"Kalau tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Permisi, saya pergi dulu!" Ayesha berjalan meninggalkan Bahri yang masih mematung di tempat itu. Rasa keterkejutan Bahri akan sikap Ayesha membuat Bahri merasakan sesak di dadanya, memang Bahri mengakui akan kesalahannya yang telah mengusir Ayesha namun kali ini ia sungguh menyesal dan ingin mengulang kembali kebersamaan yang pernah ia jalani bersama Ayesha. Hidup bersama dengan adiknya membuat Bahri begitu tertekan berbeda dengan sikap Ayesha yang begitu lembut dan mau merawatnya saat ia sakit seperti saat ini.
"Maafkan Ayah Ayesha!" Bahri hanya bisa berucap pelan saat melihat Ayesha telah pergi meninggalkan tempat itu. "Ayah akui telah menyakiti hatimu tapi apakah bisa waktu diulang kembali? Ayah terlalu bodoh karena telah mempercayai Kinanti." Ucap Bahri dengan penuh penyesalan.
~
Di tempat yang sama, Oma Freya dipusingkan dengan hilangnya Ayesha secara tiba-tiba. Oma Freya terduduk di kursi tunggu, ia terlalu lelah untuk berjalan.
"Bagaimana Ver? Apakah sudah ketemu Ayesha nya?" Sopir pribadi Oma Freya datang menemui Freya. Freya sebelumnya telah meminta bantuan Very untuk mencari keberadaan Ayesha. Diumur Oma Freya yang tidaklah muda lagi, tentu Freya tidak kuat berjalan terlalu jauh untuk mencari keberadaan Ayesha di rumah sakit yang lumayan besar ini.
"Belum ada kabarnya Oma. Tadi Very sudah meminta bantuan pihak rumah sakit untuk mencaritahu lewat cctv. Kemungkinan Nona Ayesha masih di rumah sakit ini, Oma!"
"Ya, mudah-mudahan seperti itu. Oma hanya takut Ayesha di culik kembali."
"Sabar ya, Oma. Sebentar lagi Ayesha pasti akan ketemu." Ujar Very, ia kembali disibukkan dengan ponselnya untuk melihat pesan masuk dari pihak rumah sakit yang bekerja mengawasi cctv.
"Oma tunggu disini saja ya, Oma. Very akan kembali membawa Ayesha. Very sudah menemukan keberadaan Ayesha, jadi Oma tidak perlu cemas lagi."
__ADS_1
Freya mengngguk mengiyakan, ia terlalu lelah untuk bergerak kesana kemari. Lebih baik Freya menunggu disini daripada mengikuti Very.
Setelah mendapat persetujuan dari Oma Freya. Very setengah berlari. Ia akan menghampiri Ayesha di tempat tersebut. Namun, saat Very akan sampai disana dan akan memanggil Ayesha, seseorang lelaki tua malah datang lebih dulu menemuinya.
Very mengurungkan niatnya, ia akan mengawasi Ayesha dari kejauhan. Very membiarkan Ayesha dan orang itu untuk berbicara, mungkin ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan mereka berdua.
Very mengambil ponsel di saku celananya. Deretan pesan masuk datang dari kekasihnya. Ya, sopir pribadi Oma Freya masih muda dan umurnya lebih kecil daripada Azlan.
Perlakuan Freya yang sangat luar biasa baiknya kepada Very. Bahkan Freya tidak ingin Very memanggilnya dengan sebutan Nyonya seperti pembantu lainnya. Padahal Very hanyalah seorang sopir akan tetapi kasih sayang Freya seakan membuat Very memiliki keluarga sendiri. Maka dari itu Very selalu menjaga Freya kemanapun Freya pergi dan akan secepatnya membantu Oma Freya saat mengalami kesulitan seperti ini.
Very menoleh saat seseorang yang menemui Ayesha ternyata merupakan Ayah Ayesha sendiri. Namun yang membuat Very bingung, sikap Ayesha yang sama sekali tidak sopan kepada orang tuanya.
Veri menyipitkan matanya, sikap Ayesha sungguh diluar dugaan. "Kenapa ia bersikap seperti itu dengan Ayahnya sendiri?" Tentu Very seakan tidak terima jikalau nantinya Ayesha juga bersikap seperti itu dengan majikannya nanti.
"Ckckck... Ini tidak bisa dibiarkan!" Very berniat akan mencari tahunya nanti.
Saat Ayesha berjalan dan semakin mendekati Very. Very berusaha untuk tetap tenang agar Ayesha tidak berfikir lain.
"Eh Nona, kebetulan sekali bertemu disini. Oma Freya sedang menunggu Nona disana, dari tadi Oma mencari keberadaan Nona." Ujar Very memberitahukan.
Ayesha mengangguk dan berjalan meninggalkan Very. "Ish... Sombong sekali, baru juga jadi menantu Oma Freya sudah bersikap seperti itu!"
__ADS_1