
"Ayuna!" Ayesha menarik pergelangan tangan Ayuna yang akan beranjak pergi.
"Apa sih Kak? kenapa kakak larang aku?" Ayuna menatap sang kakak dengan tatapan penuh selidik. Ia sama sekali tidak mengerti akan sikap sang kakak yang terlalu cuek saat melihat suaminya bersama dengan wanita lain.
"Bukan begitu Dek. Memang kau mau ngapain menemuinnya?" jawabnya yang tidak akan membiarkan Ayuna menemui Azlan.
Ayuna tertawa mendengarnya. "Ngapain? Kakak tidak salah menanyakan hal itu denganku? apa kakak tidak merasakan sakit sedikitpun?"
"Kau semakin ngaur saja, Dek. Lebih baik kita segera kembali pulang. Pasti kau sudah kangen rumah kan?"
Ayuna dengan segera menggeleng. "Tidak! aku tidak akan pulang sebelum menemuinya,"
"Ayuna!" Ayesha memanggil kembali adiknya yang akan melangkah untuk menemui Azlan. Ia tentu tidak akan membiarkan Ayuna bertindak seperti itu.
"Kita pulang sekarang, Dek!" Ayesha kembali menarik pergelangan tangan Ayuna agar menjauh dari sana. Namun Ayuna dengan segera melepaskan cengkraman tangan Ayesha, ia tidak peduli jikalau Ayesha bakal marah setelah ini.
"Jangan melarangku, Kak! Kalau kakak tidak bisa bertindak, biar aku sendiri yang akan turun tangan!" Ayuna terlihat kesal melihat sikap kakaknya sendiri.
"Kau bicara apa sih, Dek? kau semakin ngaur saja!"
"Tidak perlu menyembunyikan semuanya denganku, Kak. Karena tanpa Kakak beritahu, aku sudah mengetahuinya,"
Ayesha tertawa sumbang. "Kau semakin aneh saja, Dek. Apa yang sudah kau ketahui tentang kakak?"
"Ya, aku memang aneh. Tapi, setidaknya aku tidak akan mengorbankan hidupku demi orang lain!"
__ADS_1
Skakmat karena itulah yang di perbuat Ayesha. Ia bahkan mengabaikan suaminya begitu saja demi menyelamatkan nyawa sang adik. Namun ucapan Ayuna barusan seakan menyentil hatinya bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini adalah salah.
Ayesha terlihat salah tingkah dan sedikit gugup. "Kau semakin aneh saja, Dek," Ayesha mencoba mengalihkan pembicaraan mereka, ia dengan sengaja mencubit pipi sang adik meskipun Ayuna tidak menyukai hal itu.
"Terserah kau saja, Kak! yang jelas, aku tidak suka kakak melarangku!"
"Ayuna, tolong dengerin kakak. Kau gak bisa mengganggu kencan mereka begitu saja!"
Ayuna tentu kesal sendiri mendengarnya. "Lalu kau harus diam saja saat suamimu sendiri di dekati wanita lain!"
Degh
Ayesha tentu terkejut mendengarnya. Ternyata adiknya mengetahui tentang pernikahannya itu.
"Kakak tidak perlu tahu itu! yang jelas aku mengetahui semuanya. Aku sedih melihat kakak seperti ini, aku lebih baik tidak ada daripada kakak mengabaikan kebahagian kakak. Kakak sudah banyak menderita dan berkorban selama ini, kenapa kakak tidak egois sedikit saja dan mengabaikan aku yang sudah banyak membuat kakak tersakiti,"
"Tidak! bagi kakak kau adalah segalanya Dek, mana mungkin Kakak akan tega melihatmu menderita dan kesakitan seperti itu,"
"Sekarang, aku sudah mengetahui semuanya. Alangkah baiknya, kakak menemui suami kakak daripada kakak sendiri yang akan menyesal nantinya!"
"Kakak tidak siap, Dek. Biarlah ia mencari kebahagiannya sendiri. Selama ini, ia sudah banyak menderita karena ulah kakak,"
"Ish, kau bicara apa sih kak? pokoknya, kau harus menemuinya sekarang juga," ujar Ayuna dengan segera menarik Ayesha kehadapan Azlan.
"Ayesha, kenapa kau kesini?" Azlan menatap kearah Ayesha dan juga Ayuna, ia mengernyit saat melihat adiknya Ayesha sudah terlihat sehat seperti semula. "Bukannya, itu adikmu?" Ayesha lantas langsung menganggukkan kepalanya sendiri.
__ADS_1
Dinda sedari tadi hanya sebatas menyimak obrolan mereka berdua. Ia lantas berdehem, dan ingin Azlan juga memperhatikan dirinya.
Azlan menoleh dan menatap kearah Dinda. "Dia siapa?" Tanpa Azlan duga, Dinda malah menanyakan istrinya sendiri.
Azlan terlihat gugup dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia juga bingung menjawabnya, karena Azlan sendiri juga tidak tahu hubungannya dengan Ayesha seperti apa?
"Ya sudah, kalau kau tidak ingin menjawabnya." Dinda melihat jam yang ada di tangannya. "Sepertinya aku harus pergi. Semoga lain kali kita bisa makan siang berdua lagi." Dinda hendak pergi setelahnya namun langkahnya tiba-tiba terhenti karena mendengar ucapan seseorang yang tadi datang bersama dengan Ayesha.
"Kau tidak bisa mengajak suami kakakku lagi!"
Dinda dan Azlan serentak menoleh kearah Ayuna.
"Apa maksud kamu?" Dinda malah meladeni ucapan Ayuna itu, padahal ia masih ada shift setelah ini. Namun karena masih penasaran, ia mencoba untuk mengundur waktu.
Azlan mengusap wajahnya kasar. Ia tidak suka keadaan yang seperti ini, sangat memalukan. Ditambah suara adiknya Ayesha yang cukup keras membuat beberapa pengunjung menoleh kearah mereka.
"Kau sudah mendengarnya bukan? Dia itu suami kakakku, jadi jangan coba-coba untuk menjadi duri dalam rumah tangga mereka berdua!"
Dinda tersenyum mendengarnya. "Kamu tenang saja, aku tidak akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga mereka tapi..., jikalau kakakmu sendiri yang membuangnya, aku pun tidak masalah menjadikannya pendamping hidupku. Siapa yang bisa menolak kharisma dari Virzel Azlan Syamil,"
"Kau tenang saja, kakakku tentu tidak akan menyia-nyiakan suaminya begitu saja. Karena mereka saling mencintai dan sebentar lagi juga akan ada bayi dalam perut kakakku. Jadi, tolong menjauhlah dan jangan pernah temui suami kakakku,"
Dinda tetap tersenyum menjawabnya. "Baiklah, akan aku tunggu kabar baiknya. Bang Azlan, aku pamit dulu ya, sampai jumpa lagi!" Dinda berlalu pergi dengan hati kecewa. Dari dulu Dinda sudah menaruh hati dengan seniornya itu. Namun saat ia bertemu setelah dewasa, Azlan malah sudah memiliki istri seperti yang telah ia dengar tadi.
Azlan masih terdiam dengan menatap kearah keduanya. Lalu setelahnya ia beranjak pergi, tanpa berkata apapun. Ayuna dan Ayesha saling pandang lalu dengan segera Ayuna mendorong kakaknya untuk segera menyusul Azlan.
__ADS_1