DIKEJAR KAWIN

DIKEJAR KAWIN
Dia lagi?


__ADS_3

"Dimana ponselku?" gumamnya tengah berfikir. Azlan mencoba meraba saku celana yang sedang ia pakai, namun tetap saja tidak menemukannya.


"Shitt! dimana aku menjatuhkannya?" Azlan mencoba bangun dari brankar yang ia tempati. Ia tidak bisa tenang, jikalau seperti ini keadaannya. Niat hati ingin memastikan keadaan Oma meskipun hanya dengan melalui sambungan telpon. Namun saat di raba saku celana yang sedang Azlan pakai, tetap saja Azlan tidak menemukan benda pipih itu.


Perlahan tangan Azlan tergerak untuk melepaskan selang inpus yang berada di pergelangan tangannya. Setelah inpus itu terlepas dengan sempurna, barulah datang seorang dokter keruangan itu.


"Hei, kau harus beristirahat!" Dinda mencoba menghalangi langkah Azlan yang akan beranjak pergi.


"Maaf, kau tidak ada hak untuk melarangku!" Setelah mengatakan itu, Azlan langsung berjalan keluar. Ia mesti mengetahui keadaan Oma Freya terlebih dahulu.


Dinda menelan salivanya berat. Ia sama sekali tidak bisa melarang Azlan untuk pergi. Namun, seperti yang Dinda lihat keadaan Azlan sepertinya tidaklah baik-baik saja.


Dari saku jas putih yang ia pakai, Dinda mengeluarkan ponsel Azlan yang tadi sempat terjatuh. "Ya, aku harus memberikannya langsung."


~


"Bagaimana keadaan Omaku, Ver?" Azlan sudah berada di depan UGD dimana Very tengah bersandar dengan wajah tertunduk.


Very langsung menoleh karena mendengar suara berat Azlan. Namun Very terlihat diam saat Azlan bertanya, bahkan dari wajah Very bisa Azlan tebak kalau keadaan Oma Freya tidaklah baik-baik saja.


Azlan membuka pintu ruangan itu dengan hati cemas. Tiba-tiba pikiran buruk tengah mengacaukan pikirannya.


"Oma!" Azlan berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Oma Freya yang belum jua kunjung membuka mata.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Oma?" Azlan bertanya seakan Oma Freya langsung menjawab ucapannya. Padahal sudah jelas, Oma Freya belum juga sadarkan diri setelah terjatuh tadi.


"Oma, sadarlah Oma! Kasihan Mama, kalau sampai tahu Oma tidak sadarkan diri seperti ini. Setidaknya bertahanlah untuk Mamaku, Oma. Ku mohon!"


Very datang menghampiri Azlan yang tengah duduk melamun sedari tadi. Bahkan Azlan sudah melewatkan makan siangnya begitu saja. Azlan seakan tidak ingin beranjak darisana. Untungnya, kamar inap yang di tempati Oma Freya bersebelahan ruangannya dengan Mama Vira. Sehingga dapat memudahkan Azlan maupun Very untuk mengecek kondisi Mama Vira juga.


"Tuan, sebaiknya Tuan makan dulu!"

__ADS_1


Azlan menoleh lalu dengan perlahan menggeleng lemah. "Bagaimana bisa aku memakan makanan itu, sedangkan Oma Freya saja belum juga makan."


"Maaf sebelumnya kalau saya ikut campur." Dengan wajah menunduk Very berucap. "Tuan, sebaiknya Tuan makanlah sedikit. Ini demi kebaikan Tuan juga. Kalau Tuan tidak makan, bagaimana Tuan bisa menjaga Oma dan Mama Vira di rumah sakit ini. Jadi, setidaknya makanlah demi mereka berdua,"


"Ish, ternyata kau sudah mulai banyak bicara!" Azlan mengambil makanan yang diberikan Very tersebut dan perlahan membukanya. Meskipun Azlan sama sekali tidak berselera untuk memakan makanan itu, namun ia membenarkan ucapan Very barusan.


"Ya, aku harus memaksakan untuk memakannya, agar makanan itu masuk kedalam tubuhku," batin Azlan berucap meskipun ia melakukan hal itu dengan sangat terpaksa.


Perlahan Azlan menyendokkan makanan itu ke mulutnya, namun baru tiga suapan ia langsung menutupnya kembali.


"Kenapa tidak di habiskan, Tuan? kan jadi mubazir. Ingat, saya membelinya sudah capek-capek dan pakai uang saya sendiri!"


Azlan sedikit kesal mendengarnya. "Jadi kau tidak ikhlas memberikannya padaku?"


"Ikhlas kalau uangnya di ganti Tuan."


Azlan sangat kesal mendengarnya dan Azlan langsung mengambil dompet yang ada di saku celananya, lalu menarik beberapa lembar uang berwarna merah dan menyodorkannya kepada Very.


"Kenapa hanya satu lembar Tuan?"


Azlan tertawa mendengarnya. "Itu sudah lebih dari cukup harganya daripada makanan yang kau beli."


"Tapi, tadi kau mau mengeluarkan uangnya semua padaku."


"Ini ambillah, tadi aku hanya sekedar bercanda."


Dengan senyuman merekah, Very mengambil uang itu. "Terimakasih Tuan. Ini benar-benar rezeki anak soleh, sering-seringlah seperti ini Tuan. Agar duit saya semakin banyak."


Azlan tidak menghiraukan lagi ucapan yang di lontarkan Very. Ia tentunya sangat ikhlas memberikan itu kepada Very, karena Very sudah sangat banyak membantu keluarganya. Terlepas dari ucapan Very barusan, itu tidaklah menjadi beban pikiran buat Azlan karena Very memang sebelumnya sering bercanda dengannya walau terkadang Azlan tidak banyak meladeninya.


Azlan mencoba menatap sang Oma yang masih terlelap dengan mata tertutup rapat. Entah sudah berapa jam berlalu, namun Oma Freya tidak juga menunjukkan tanda-tanda ia akan sadar.

__ADS_1


Seorang Dokter yang di temani seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu. Ia lantas tersenyum saat pertama kali masuk kedalam. Bagaimana tidak tersenyum? Seseorang yang sedari tadi ia cari sedang berada di ruangan itu. Namun itu semua harus ia tahan dulu, ia perlu memeriksa keadaan Oma Freya terlebih dahulu ketimbang berbicara dengan Azlan.


"Selamat sore. Maaf, saya merupakan Dokter yang bertugas untuk memeriksa keadaan Nyonya Freya. Kebetulan sekali saya Dokter yang bertugasnya sekarang!"


"Ya, silahkan." Azlan mencoba beranjak dari tempat duduknya. Dari kejauhan ia hanya melihat bagaimana Dokter itu memeriksa keadaan sang Oma.


Saat memeriksa keadaan Oma Freya, Dinda sedikit tidak berkonsentrasi karena melihat tatapan Azlan yang mengarah kepadanya. Meskipun lelaki itu sama sekali tidak pernah menampakkan senyum di hadapannya, akan tetapi hal itu cukup membuat Dokter cantik itu ketar-ketir dibuatnya.


Saat Dokter Dinda telah selesai melakukan pemeriksaan. Azlan langsung mendekati Dokter Dinda, ia akan menanyakannya secara langsung mengenai kondisi Oma Freya saat ini.


"Bagaimana keadaan Oma saya, Dok?"


Dokter Dinda lantas tersenyum mendengar suara berat Azlan. Ini benar-benar merupakan rezeki untuk Dinda sendiri, saat ia diberikan tugas untuk memeriksa Oma Freya oleh atasannya sendiri.


"Alhamdulillah detak jantungnya sudah mulai normal dan semoga saja Nyonya Freya menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Mudah-mudahan ya, Pak dan semoga saja doa kita terkabulkan oleh Allah SWT,"


"Aamin ya Allah. Tolong bantu Omaku, karena berapapun yang kau mau akan aku kabulkan,"


"Baiklah semoga Nyonya Freya lekas sembuh ya."


Dinda hendak melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu, di susul dengan perawat yang sudah banyak membantunya. Namun baru beberapa langkah Dokter Dinda berjalan, sesuatu yang tadi sempat di jatuhkan Azlan di taman seakan mendorong Dokter Dinda untuk kembali menemui Azlan.


"Maaf saya mengganggu, saya hanya ingin memberikanmu ini." Dinda langsung saja mengeluarkan ponsel yang merupakan milik Azlan yang ia temui di taman tadi pagi.


"Itukan ponselku. Kenapa ponselku berada denganmu sekarang?" Azlan langsung merebutnya dari tangan Dinda tanpa mengucapkan terimakasih sama sekali.


"Dimana kau mencuri ponselku?" Azlan langsung saja menuduh Dokter cantik yang berkulit putih itu begitu saja.


"Aku sama sekali tidak mencurinya, karena ponsel itu memanglah ku dapatkan saat kau menjatuhkannya tadi. Jadi, kau janganlah berfikir macam-macam. Kalau aku mencuri ponsel itu, tidak mungkin aku memberikannya lagi kepadamu."


Azlan dalam hati mengiyakan ucapan Dokter itu. Namun egonya cukup mengalahkannya hari ini. "Aku sama sekali tidak percaya jikalau Dokter cantik seperti kamu malah seorang pencuri."

__ADS_1


Dengan wajah terangkat Dinda berucap. "Kau benar-benar tidak tahu caranya untuk berterimakasih. Ya sudah, yang penting saya sudah memberikannya ke tanganmu,"


__ADS_2