DIKEJAR KAWIN

DIKEJAR KAWIN
Penyesalan


__ADS_3

Sudah dua hari semenjak hari itu. Namun Azlan tampak berdiam diri di dalam kamarnya. Wajahnya terlihat pucat karena kurangnya asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya dan jangan lupakan matanya yang juga ada lingkaran hitamnya karena sudah dua malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Azlan tampak sibuk di dunianya sendiri bahkan penyesalan itu tampak jelas di matanya. Ia seakan hidup dalam sebuah bayang-bayang penyesalan yang setiap hari menyalahkan dirinya sendiri. Seperti saat sendiri seperti ini, ia menyalahkan dirinya yang tidak bisa mengontrol hatinya hanya demi wanita yang tidak bisa mencintainya. Azlan tersenyum masam mengingat kebodohan yang sudah ia lakukan, harusnya ia menjaga orang tuanya saat itu di rumah sakit bukan pergi begitu saja dan menikahi wanita yang tidak menganggapnya ada sama sekali.


Tok


Tok


Tok


Seseorang datang mengetuk pintu kamarnya Azlan. Azlan yang saat itu tengah berada di balkon seketika menoleh.


"Assalamualaikum... Oma boleh masuk, Nak?" Ternyata Oma Freya lah yang datang menemui Azlan.


"Waalaikumsalam." Hanya jawaban itu saja yang keluar dari mulut Azlan. Meski sedikit kesal dengan sang cucu, Freya tetap masuk ke dalam. Ia lantas berjalan mendekati Azlan yang sedang berada di balkon.


"Kenapa makanannya tidak juga di makan, Nak?" Freya menatap Azlan dengan perasaan penuh hiba. Bagaimana tidak? saat cucunya terpuruk seperti ini, Ayesha malah menolak untuk menemani suaminya. Ayesha bahkan dengan terang-terangan mengatakan, jikalau ia tidak bisa meninggalkan rumah sakit itu sebelum memastikan keadaan adiknya benar-benar sembuh.


Sebelumnya, Freya sangat berharap banyak terhadap Ayesha. Freya berharap Ayesha bisa memberikan secelah kebahagian untuk sang cucu. Azlan yang tidak banyak bicara dan bergaul dengan teman sebayanya malah memilih dekat dengan wanita yang salah. Bahkan, Freya tetap menerima wanita itu meskipun dari segi apapun Ayesha tidak sebanding dengan sang cucu.


"Azlan tidak lapar, Oma."


"Makanlah, walau hanya sedikit Nak. Oma ikut sedih jika melihat kamu yang seperti ini terus-terusan." Freya mengusap air matanya yang meleleh di pipi. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk membujuk cucunya agar mau makan. Ia juga cukup kehilangan seperti apa yang di rasakan oleh Azlan, namun secara logika Freya masih tetap berfikir jikalau ia menuruti hatinya tentunya ia tidak akan bisa merawat cucu dan menantunya yang juga sangat membutuhkan kehadirannya.

__ADS_1


Freya mengubah posisi duduknya. Ia lantas menatap sang cucu yang berada di dekatnya.


Di tengah kesibukan Oma Freya mengurus menantu. Ia juga selalu menyempatkan waktunya untuk memberikan sedikit perhatian kepada Azlan. Meskipun terkadang Azlan hanya banyak diam dan tidak banyak bicara, itu tidak Freya permasalahkan yang terpenting Azlan bisa bangkit dan tidak merasakan kesedihannya lagi, itu sudah lebih cukup baginya.


"Nak, ayo makanlah walau hanya sedikit!" Lagi-lagi Freya membujuk Azlan agar mau memakan makanannya. Freya sudah mengambil makanan yang tadi Bibi letakkan diatas meja, ia lalu menyodorkan makanan itu kedepan Azlan agar Azlan mau memakan makanannya.


Azlan lantas menggeleng lemah, ia seperti kehilangan harapan setelah kepergian sang Papa. Ditambah Ayesha yang tidak begitu peduli dengannya. Azlan tahu dimana istrinya saat ini, namun Azlan mencoba untuk tidak memperdulikan wanita itu lagi. Disaat ia lemah dan butuh perhatiannya, wanita itu seakan tidak peduli dengan duka yang ia rasakan. Apa kehadiran suaminya tidak lebih penting baginya sehingga ia lebih memilih merawat adiknya. Azlan tersenyum masam jikalau mengingat hal itu. Azlan yang memiliki segalanya merasa terabaikan oleh satu wanita macam Ayesha.


"Untuk apa aku hidup lagi, Oma?" Akhirnya ucapan itu terlontar juga dari mulut Azlan. Ia sudah begitu lelah menghadapi kenyataan yang ada. Orang tua yang selalu ada untuk menyemangati hidupnya sekarang malah pergi secepat itu. Ya, Azlan sangat dekat dengan sang Papa di bandingkan dengan Mamanya sendiri karena itulah ia merasa begitu kehilangan .


"Kau tidak boleh seperti itu, Azlan! ingat, masih ada Mama dan Oma yang selalu ada untukmu."


Azlan menoleh dan menatap sang Oma yang sudah berurai air mata. Ingin rasanya Azlan memeluk tubuh wanita tua yang ia panggil Oma itu namun sayangnya rasa takut itu belum bisa ia lupakan dalam hidupnya.


Azlan lantas berjalan meninggalkan Oma Freya dengan tergesa-gesa. Saat Azlan berada di ambang pintu keluar barulah Freya menyadarinya. "Kau mau kemana, Nak?"


Azlan berbalik, ia menatap Oma Freya yang juga sedang menatap kearahnya. "Aku mau menemui Mama. Aku harus tahu, bagaimana keadaan Mamaku Oma!" Ada perasaan menyesal dalam diri Azlan saat ini. Karena setelah mengetahui kepergian sang Papa malah ia melupakan keberadaan Mamanya di rumah ini.


"Dengarkan Oma dulu, Nak!" Freya tentu menghalangi kepergian cucunya karena Freya belum memberitahukan keadaan Vira yang sebenarnya kepada Azlan.


"Kenapa Oma? aku mau melihat keadaan Mamaku di bawah!" Azlan lantas tidak menghiraukan ucapan Freya. Ia membuka pintu kamar dan dengan segera melangkah menuju tangga.


"Ma.... Mama dimana, Ma?" Azlan memanggil Mamanya saat sudah berada di lantai bawah, ia berjalan cepat menuju kamar sang Mama.

__ADS_1


Azlan mengetuk pintu kamar orang tuanya beberapa kali. Namun sama sekali ia tidak mendengar sahutan dari Mamanya.


"Ma... Mama ada di dalam kan Ma? Azlan masuk ya, Ma!" Azlan lantas mendorong pintu itu sehingga terbuka sempurna. matanya melirik keseluruhan namun tidak sama sekali ia dapati Mamanya berada di dalam sana.


"Ma... Mama dimana, Ma?" Azlan seakan putus asa saat tidak menemukan Mama Vira. Ia terduduk lesu, bayangan berita duka lainnya kembali menghantui pikiran Azlan.


"Tidak! Aku yakin Mamaku masih sehat dan sekarang lagi jalan-jalan untuk menenangkan pikirannya." Azlan tentu memberikan asumsi lain, agar bisa menghibur hatinya sendiri.


Tidak selang berapa menit, Freya datang menemui cucunya dengan raut wajah sedih. "Nak, kita harus ke rumah sakit sekarang juga!"


"Buat apa aku kesana lagi, Oma?" Azlan sama sekali tidak menghiraukan ucapan Freya. Ia lantas berjalan kembali ke kamarnya.


"Kau yakin tidak mau tahu tentang bagaimana keadaan Mamamu disana, Azlan?"


Azlan yang akan melangkah menuju anak tangga, seakan langkahnya terhenti. Ia seketika menoleh dan langsung menghampiri Freya yang sudah berlalu pergi.


"Oma, apa maksud ucapan Oma barusan. Mamaku kenapa, Oma? Kenapa Mamaku berada di rumah sakit? sejak kapan Oma, Mamaku berada di sana?"


Freya sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Azlan, ia tetap melangkah pergi menuju mobil yang sudah ada sang sopir pribadi Oma Freya di dalamnya.


"Oma, aku ikut ya!" Tanpa mendengar jawaban dari Oma Freya, Azlan tetap masuk ke dalam mobil yang sama. Ia begitu penasaran dengan keadaan Mama Vira saat ini dan Azlan sangat berharap bukanlah Mamanya yang berada di rumah sakit itu.


"Ya Tuhan, tolong berikan kesehatan untuk Mamaku," gumam Azlan setelah ia duduk dan memasang seat belt ke tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2