
Tok ...
Tok ...
"Ayesha bangun!"
Pintu kamar Ayesha pun terbuka, Ayesha mengucek matanya untuk menatap perempuan yang saat ini ada di hadapannya.
"Tante ... kapan Tante datang?" tanya Ayesha sedikit berbasa-basi. Ayesha cukup terkejut dengan kedatangan Tante Kinanti karena sudah sekian tahun Kinanti tidak berkunjung ke rumahnya.
Kinanti merasa jengah dengan ucapan yang di lontarkan Ayesha. "Gak usah banyak tanya! Sekarang buatin saya sarapan!" perintah Kinanti.
Ayesha hanya meringis mendengar perintah Kinanti seolah ia adalah tuan rumahnya. "Jadi anak jangan pemalas, sudah jam delapan masih saja tidur!" ujarnya lagi.
Kinanti sedikit mengintip ke atas tempat tidur Ayesha. "Kamar berserakan ... pantas saja kamu di tinggal nikah, sudah jorok jelek lagi."
Ayesha mendongak, menatap Kinanti dengan pandangan tidak suka.
"Apa maksud tante menghina saya seperti itu! Padahal saya tidak pernah menyinggung tante, bahkan tante masuk ke rumah ini tanpa sepengetahuan saya."
Ayesha kesal mendengar hinaan yang di lontarkan Kinanti. "Sekarang silahkan tante keluar dari kamar saya. Saya tidak butuh orang seperti tante berada di rumah saya."
"Ayesha ... Ayah tidak pernah mengajari kamu berprilaku lancang seperti itu! Dia tante kamu, adik kandung Ayah. Jadi tolong kamu hargai dia!" Bahri datang saat mendengar suara Ayesha yang begitu lantang mengusir adiknya.
"Ayah ... Ayesha tidak akan bersikap seperti itu, kalau bukan dia yang memulainya." Ayesha menunjuk Kinanti, sungguh Ayesha kesal dengan ucapan sang Ayah yang menyalahkannya tanpa tahu kesalahan adiknya sendiri.
__ADS_1
"Mas hiks ... padahal saya jauh-jauh datang kesini untuk bertemu dengan Ayesha dan Mas Bahri. Akan tetapi Ayesha malah bersikap seperti itu dan malah mengusir saya!" Kinanti berucap seolah-olah Ayesha yang salah.
"Sudahlah Kinan, tidak usah di dengarkan ucapan Ayesha. Sekarang saya mau keluar ada keperluan penting, kamu tidak usah sungkan untuk meminta tolong kepada Ayesha." Kinan tersenyum, ia berhasil menghasut sang kakak.
Sepeninggal Bahri, Kinanti tertawa puas karena lagi-lagi Ayesha yang di salahkan.
"Tidak usah bangga di bela Ayah ... Karena saya tidak akan mau di suruh oleh tante." Ayesha berbalik dan akan menutup pintu kamarnya. Namun naasnya, Kinanti malah menjambak rambutnya dengan cukup kencang.
"Ayesha ... saya suruh kamu membuatkan saya sarapan. Bukan malah tidur lagi!"
"Sorry tante, saya tidak bisa. Saya capek dan perlu beristirahat." Ayesha melengos masuk ke dalam kamar.
"Jangan membantah Ayesha, saya tidak suka di bantah seperti itu."
Kinanti lagi-lagi menjambak rambut panjang Ayesha dengan cukup keras. "Berani melawan saya kamu!" Ayesha meringis kesakitan dengan berusaha melepaskan rambutnya yang di tarik secara kasar. Namun Kinanti semakin menariknya dengan secara brutal sehingga membuat Ayesha hanya bisa menangis.
"Ampun tante ..."
"Makanya jangan coba-coba melawan saya! Akan saya bunuh Ayuna, kalau sampai kamu berani melawan saya."
"Jangan tante ..." Ayesha hanya bisa menangis dan mengangguk patuh demi adiknya yang di rawat oleh tantenya sendiri.
"Sekarang kerjakan apa yang saya suruh!" Kinanti barulah melepaskan jambakan nya setelah Ayesha mengiyakan keinginannya.
Selang waktu tiga puluh menit. Ayesha telah selesai dengan hasil masakannya. Ayesha mengambil piring dan menaruh nasi goreng buatannya ke dalam piring.
__ADS_1
"Ini tante, saya permisi mau ke kamar kembali." Ayesha meletakkan piring yang berisi nasi goreng di hadapan Kinanti.
" Kamu pikir, bisa beristirahat di hari libur seperti ini. Tidak Ayesha ... saya sudah menyiapkan pekerjaan penting untuk mengisi hari libur kamu dan tentunya sangat menyenangkan bukan?" Kinanti tertawa puas karena sudah berhasil membuat Ayesha bertekuk lutut di hadapannya.
Ayesha mendongak dan menatap ke arah Kinanti yang tertawa. Untuk melawan pun seakan percuma, ia hanya bisa tertunduk lesu tanpa membantah.
Kinanti telah selesai dengan sarapannya. Ayesha sendiri masih berdiri di samping Kinanti, karena wanita itu tidak membiarkan Ayesha kembali ke kamarnya.
Kinanti tersenyum dan dengan sengaja menyenggol piring di hadapannya, sehingga membuat piring itu terjatuh.
"Ups ... memang sengaja." Kinanti tertawa setelah melihat piring yang tadinya utuh sekarang menjadi pecah.
"Malah diam ... bersihin bodoh!" Kinanti berucap dengan suara yang melengking.
Ayesha menunduk, untuk mengambil pecahan piring tersebut. Namun dengan sengaja, Kinanti malah menginjak tangannya sehingga membuat Ayesha meringis kesakitan dengan telapak tangan Ayesha mengeluarkan darah.
Untung saja, ponsel Kinanti berbunyi sehingga tangan Ayesha bisa terbebas.
"Ya, apa kamu sudah menemukannya?" Kinanti berucap pelan dengan orang di seberang sana. Namun samar-samar Ayesha tetap mendengar suara ucapan wanita itu.
Terdengar suara helaan nafas Kinanti naik turun. "Bodoh ... mencari identitasnya saja tidak bisa!"
Kinanti semakin kesal dengan orang suruhannya yang sama sekali tidak berguna. Percuma ia mengeluarkan uang sebesar itu, demi mencari anak lelaki yang berseragam SMP yang dulunya memikat hatinya. Apalagi setelah sekian lama tidak bertemu pasti anak lelaki itu sudah besar saat ini.
Kinanti kehilangan jejak, saat tiba-tiba anak kecil itu di kabarkan pindah ke luar negeri.
__ADS_1