Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
10. Selalu ada Dia


__ADS_3

Intan langsung menoleh ke belakang. "Eh, Prof," ucapnya, salah tingkah. Ia malu karena tadi sedang menggumam.


'Tadi aku ngomong apa, ya?' batin Intan. Ia mengingat-ingat apa yang telah ia ucapkan. Khawatir dirinya sudah menjelekkan Zein lagi.


"Kalau capek, lebih baik kamu pulang!" ucap Zein tanpa menoleh.


Intan melirik sekilas. Ia merasa ucapan Zein itu sarkas. Sehingga Intan merasa sedang disindir. Padahal Zein serius memperhatikannya.


"Enggak kok, Prof. Ini cuma pegel biasa aja. Kurang olah raga," sahut Intan, kikuk.


"Oya? Kalau begitu kamu harus rajin olah raga. Jangan malas!" sahut Zein. Lagi-lagi perhatian yang Zein berikan membuat Intan salah paham.


Intan ternganga. Ia tak habis pikir Zien menyebut dirinya malas. Padahal Intan tidak sempat olah raga karena Zein yang selalu membuatnya sibuk di rumah sakit.


'Kalau bukan karena dia yang forsir juga aku gak akan penyakitan kayak gini,' gumam Intan dalam hati.


Intan yang kesal itu pun memilih diam. Sebab ia tidak mungkin melawan konsulennya itu.


"Apa perlu saya temani berolah raga?" tanya Zein sambil menoleh ke arah Intan. Ia akan sangat senang jika Intan mengiyakan pertanyaannya barusan.


Intan merasa hal itu seperti ancaman. "Oh, gak perlu, Prof. Saya bisa sendiri," sahutnya, gugup.


Baginya lebih baik lari marathon lima kilo meter dari pada harus olah raga ditemani oleh Zein. Yang ada ia akan olah raga jantung terus.


"Bagus. Kalau begitu lebih baik sekarang kamu makan siang! Tiga puluh menit lagi saya tunggu di ruang operasi," ucap Zein, kemudian ia berlalu.


Sebenarnya ia sedikit kecewa karena Intan menolak. Namun Zein tidak menunjukkan kekecewaannya.


Intan pun terbelalak. "Kenapa dia harus nemuin aku, sih? Aku lho baru napas sebentar. Kan dia tau tadi aku lagi pegel. Terus kenapa sekarang aku malah disuruh ikut operasi?" Intan mendumal saat pria itu telah menghilang dari pandangannya.


Akhirnya Intan yang hendak pergi ke roof top pun mengurungkan niatnya. Ia berbelok ke kantin karena mau tidak mau harus makan. Sebab, biasanya operasi bisa berjalan lebih dari 3 jam.


"Semoga ini operasi ringan," gumam Intan. Ia berharap operasinya tidak akan lama. Sebab Intan sedang butuh istirahat.


Kondisinya yang baru saja pulih membuat Intan jadi lebih mudah lelah. Entah mengapa Zein yang sempat perhatian padanya itu malah mengajak Intan operasi.


"Semangat, Intan! Tinggal beberapa hari lagi kamu bisa bebas dari monster itu," gumam Intan, menyemangati dirinya.


Ia lupa bahwa selanjutnya ia justru akan hidup bersama dengan Zein.

__ADS_1


Saat tiba di kantin, Intan bertemu dengan salah satu dokter muda yang cukup tampan. Namanya Dimas. Dia merupakan salah satu sahabat Zein. Namun sikapnya jauh berbeda dengan Zein.


"Siang, Dok," sapa Intan, sopan. Saat itu ia sedang mencari meja sambil membawa nampan berisi makanan yang telah ia pesan.


"Siang," sahut Dimas. Kemudian ia menoleh ke sekeliling.


"Duduk di sini aja!" ucapnya saat melihat meja lain penuh.


"Boleh, Dok?" tanya Intan lagi. Ia sungkan duduk dengan seniornya. Apalagi Dimas adalah laki-laki.


"Why not? Ini kan tempat umum. Lagi pula meja lain penuh. Kamu mau duduk di mana lagi kalau bukan di sini?" sahut Dimas, santai.


Intan pun senang karena akhirnya bisa mendapat tempat duduk. Padahal tadi ia hanya ingin menyapa Dimas sebagai seniornya.


"Terima kasih, Dok," sahut Intan. Akhirnya ia pun duduk satu meja dengan Dimas. Namun Intan tidak duduk di hadapan Dimas, karena terlalu sungkan.


'Ternyata dokter Dimas gak kayak sahabatnya, ya. Dia jauh lebih ramah,' batin Intan.


"Kamu sebentar lagi selesai koas, ya?" tanya Dimas. Ia memang orang yang supel dan tidak sombong. Sehingga mau berbincang dengan juniornya.


"Iya, Dok," sahut Intan sambil tersenyum. Ia sangat sungkan bicara dengan Dimas. Sebab sebelumnya mereka memang belum pernah berbincang.


"Wah, siap-siap buat Internship, tuh. Semoga kamu dapetnya gak jauh-jauh, ya," ucap Dimas.


"Tapi kamu udah siap ikut UKDI (ujian kompetensi dokter Indonesia)?" tanya Dimas lagi. Ia memang tidak betah jika hanya diam, sehingga bisa berbincang dengan siapa saja.


"InysaaAllah siap, Dok," sahut Intan. Ia semakin nyaman karena Dimas begitu ramah.


"Syukurlah, biar bisa cepet ngantongin STR (surat tanda registrasi), hehe." Dimas tahu betul benda itu merupakan sesuatu yang sangat diincar oleh para dokter muda.


"Aamiin ...."


Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba Zein muncul sambil membawa nampan berisi makanan. "Lagi gak sibuk, Dim?" tanyanya. Ia bertanya pada Dimas. Namun matanya melirik ke arah Intan.


Kehadirannya sudah seperti jin yang begitu tiba-tiba. Bahkan Zein duduk di samping Dimas dan di hadapan Intan.


Seketika Intan langsung tidak berselera makan. 'Kenapa dia selalu ada di mana-mana, sih?' batin Intan. Padahal Zein baru duduk. Namun Intan sudah kesal padanya.


"Hei, Prof. Tumben makan siang di kantin? Lagi gak sibuk, kah?" ledek Dimas. Padahal jika sedang berdua, Dimas memanggil nama Zein langsung.

__ADS_1


"Lo aja yang terlalu sibuk jadi gak pernah lihat gue makan di kantin," sahut Zein.


Ia memang sengaja makan di kantin karena tadi saat dirinya sedang lewat, tidak sengaja melihat Intan sedang duduk bersama Dimas.


Padahal biasanya Zein selalu minta makanannya diantar ke ruangannya.


"Intan, gimana kamu koas sama Prof paling keren ini? Pasti seneng, kan?" ledek Dimas. Ia tahu betul Zein terkenal galak di kalangan dokter muda.


Intan terkesiap.


"Senenglah, siapa sih yang gak seneng dapet ilmu dari gue," timpal Zein dengan penuh percaya diri.


'Iya sih ilmunya dapet. Tapi lebih dapet keselnya,' batin Intan.


"Emang hari ini lo gak ada jadwal operasi?" tanya Dimas lagi. Ia tahu bahwa Zein hampir setiap hari melakukan operasi.


"Ya ada. Ini setengah jam lagi mau operasi," sahut Zein, santai.


Intan pun merasa tersindir karena dirinya belum bersiap.


"Hebat emang Profesor kita satu ini. Mau operasi aja masih bisa santai kayak gini," puji Dimas sambil merangkul bahu Zein.


"Ya emangnya harus gimana? Semedi?" tanya Zein.


"Biasanya sih gitu. Paling gak lurusin badan dulu, biar gak pegel. Kan kalau operasinya lama juga itu leher bisa kaku," sahut Dimas.


"Gampang, nanti tinggal minta pijitin sama calon istri," sahut Zein sambil melirik ke arah Intan.


Intan menelan salivanya. Ia pun tak berani menoleh ke arah Zein. 'Maksudnya apa, sih?' batin Intan. Bukannya ge'er. Namun ia cukup sadar bahwa wanita yang dijodohkan dengan Zein adalah dirinya.


"Wih, udah punya calon istri aja. Kapan rencana nikahnya?" tanya Dimas. Ia tidak menyangka ternyata Zein diam-diam akan menikah.


"InsyaaAllah bulan depan," jawab Zein sambil menatap Intan.


***


Wah, gimana reaksi Intan, ya? Shock apa pingsan? Wkwkwk.


Follow IG: @justmommy2020, yuk! Biar gak ketinggalan info.

__ADS_1


See u,


JM.


__ADS_2