Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
24. Playing Victim


__ADS_3

Zein yang sudah terlanjur ge'er itu berbelok ke arah Intan berada. Ia ingin pura-pura lewat sana agar disapa oleh Intan.


Zein pun berjalan dengan penuh percaya diri dan keinginannya terkabul, saat ia melintasi Intan mereka semua yang ada di sana menyapa Zein.


“Eh, ada Prof!” bisik salah seorang dokter.


"Pagi, Prof," ucap Intan dan yang lainnya.


Setelah itu Intan langsung memalingkan wajah karena ia malu mengingat kejadian kemarin sore di mobil.


"Pagi," sahut Zein, pura-pura cool sambil berlalu.


Namun ia tidak puas hanya seperti itu. Ia berharap Intan menghampirinya dan basa-basi padanya.


Akan tetapi, ternyata Intan malah asyik melanjutkan perbincangannya dengan yang lain.


'Kok dia malah ngobrol? Emang mau ngapain dia ke sini kalau bukan ketemu aku? Apa dia malu nyapa aku duluan?" batin Zein yang over PD itu.


Zein yang kecewa pun akhirnya terus berlalu menuju ruangannya.


"Eh, kok tumben sih Prof lewat sini?" tanya salah seorang dokter yang sudah hafal alur yang biasa dilalui oleh Zein.


"Mungkin ada perlu kali di sana. Ini kan rumah sakit dia bebas dia mau ke mana juga," sahut yang lain.


"Ya iya, sih. Tapi aneh aja dia kan biasanya enggak pernah lewat sini. Pasti lurus di sana, kan?"


“Bener juga, sih. Apalagi dia orangnya males basa-basi atau ketemu orang, kan? Pasti lewat jalur yang sepi. Aku aja kalau ketemu beliau suka deg-degan,” ucap salah satu suster.


“Deg-degan kenapa? Karena dia ganteng?” ledek dokter.


“Hehehe, ya ganteng, sih. Tapi canggung juga, hehe,” sahut suster.


“Bilang aja kamu naksir!” ledek yang lain.


“Ya wajarlah kalau naksir, namanya juga wanita normal. Lihat cowok ganteng dan pinter kayak Prof mah, meleleh jugahati eneng, Bang, hihihi.”


“Meleleh apanya? Kebakaran yang ada. Dia kan hawanya panas,” sahut Intan. Ia tidak suka melihat Zein dipuji seperti itu. Sebab ia tahu betul bagaimana galaknya Zein.


“Duh, apalagi kalau panas. Jadi bikin penasaran. Hot gitu lho,” sahut suster.

__ADS_1


Intan geleng-geleng kepala melihat kelakuan suster itu. Namun ia tersenyum getir karena ternyata pria itu sebentar lagi akan jadi miliknya.


Akhirnya mereka pun melanjutkan perbincangan tanpa menghiraukan Zein lagi.


Tiba di ruangannya, Zein langsung melamun memikirkan Intan.


"Kalau emang dia mau nemuin aku, ngapain sih pakai acara belok ke sana segala? Harusnya langsung aja ke ruangan aku," gumam Zein kesal.


Ia masih yakin bahwa Intan datang ke rumah sakit untuk menemuinya. Apalagi setelah kejadian kemarin sore di mobil, Zein yakin Intan selalu terbayang-bayang akan dirinya. Sebab hal itu pula yang ia rasakan saat ini.


Akhirnya selama praktek di poli, Zein terus menoleh ke arah pintu dan berharap ada Intan masuk ke sana. Namun sayangnya sampai poli selesai pun Intan masih belum muncul.


"Ke mana dia? Kenapa dia enggak datang ke ruangan aku? Apa dia terlalu gengsi untuk menemui aku lebih dulu?" gumam Zein.


Zein yang penasaran pun pergi ke kantin untuk memastikan apakah Intan ada di sana atau tidak. Sebab saat itu sudah jam makan siang.


Tiba di kantin, kening Zein mengerut. Ia kesal karena melihat Intan sedang berbincang dengan Bian.


"Kenapa dia malah berbincang dengan pria brengsek itu?" gumam Zein sambil mengepalkan tangannya. Ia menganggap Bian berengsek karena selalu mengganggu Intan.


Zein yang sudah terlanjur gelap mata pun menghampiri mereka.


Bian menoleh ke arah Zein. Ia heran mengapa Zein mengganggu mereka.


Intan yang bingung karena Zein tidak permisi lebih dulu pun menoleh ke kanan kiri lalu menunjuk dirinya. "Saya?" tanyanya.


Zein semakin kesal. Ia langsung menggenggam tangan Intan dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Sakit, Prof," ucap intan karena genggaman Zein terlalu kuat.


Zein yang merasa tidak ada tempat yang aman untuk berbincang pun membawa Intan ke ruangan pribadinya. Hingga Intan bingung mengapa Zein membawanya sampai sejauh itu.


Ceklek!


Ia membuka pintu dan menarik Intan masuk.


Brug!


Zein membanting pintu saat mereka sudah ada di dalam ruangannya. Intan sampai terperanjat dan bingung mengapa Zein seperti itu.

__ADS_1


"Kamu sengaja ingin mempermalukan saya?" tanya Zein tanpa basa-basi.


Alis Intan berkedut. "Maksudnya apa?" Intan balik bertanya. Ia benar-benar tidak paham apa yang dimaksud oleh Zein.


"Kamu kan calon istri saya, kenapa kamu malah berduaan dengan pria lain di kantin seperti itu? Apa kata orang nanti?" tanya Zein, kesal.


Sebenarnya ia cemburu melihat Intan dan Bian. Namun Zein malah marah pada Intan karena tidak dapat mengungkapkan kecemburuannya.


Intan mengerutkan keningnya. "Orang siapa, Prof? Kan tidak ada orang yang tahu mengenai pernikahan kita. Jadi saya rasa Anda tidak perlu merasa dipermalukan seperti itu," sahut Intan.


Zein tercekat. Memang alasannya cukup klise karena pernikahan mereka tidak diumumkan. Tentu saja hal itu membuat Zein semakin kesal.


"Oh! Jadi itu alasannya kamu ingin merahasiakan pernikahan kita? Agar kamu bisa bebas bertemu dengan pria manapun yang kamu suka, begitu?" tuduh Zein.


Intan sangat ingin marah, ia kesal atas tuduhan Zein. Namun ia yang sudah terlanjur dituduh pun malah mengiyakan ucapan profesornya itu agar Zein semakin kesal.


"Iya. Lagi pula Prof sendiri kan yang bilang bahwa Prof menikahi saya hanya untuk melengkapi hidup Anda. Secara tidak langsung saya hanya sebagai boneka di kehidupan Anda," jawab Intan.


"Jadi, tidak ada salahnya kan jika saya ingin bebas bertemu dengan pria lain?" lanjut Intan. Ia sengaja menantang Zein dan ingin tahu seberapa jauh Zein akan marah. Syukur-syukur Zein akan membatalkan pernikahan mereka.


Tentu saja darah Zein mendidih. Ia tidak terima atas jawaban Intan. Selama ini Intan selalu patuh dan takut padanya. Sehingga Zien pikir ia akan mudah diancam dan diatur. Namun dugaannya salah. Saat ini Intan justru berani menjawab ucapannya.


"Apa kamu mau jadi wanita murahan yang senang bertemu dengan pria lain sementara kamu sudah punya suami?" tuduh Zein lagi.


Semakin ia kesal, semakin pedas pula ucapannya. Namun Zein tidak sadar akan hal itu.


"Saya bingung kenapa Prof seolah serius pernikahan ini? Padahal sejak awal Anda bilang tidak peduli akan pernikahan ini. Sehingga mau menikahi saya meskipun tidak cinta. Tapi kenapa sikap Prof justru menunjukkan yang sebaliknya?" tanya Intan.


Zein terkesiap mendengar ucapan Intan barusan. ‘Berani sekali dia bicara seperti itu?’ batinnya. Ia tak menyangka Intan akan melawannya seperti itu.


"Jika memang Prof cinta pada saya, katakanlah! Tapi jika tidak, tolong jangan atur hidup saya!" ucap Intan sambil menatap Zein.


***


Terima kasih bagi yang masih setia menunggu dengan sabar.


See u,


JM.

__ADS_1


__ADS_2