
"Bekal pengobat rindu," sahut Zein. Kemudian ia langsung menarik Intan dan mengungkungnya.
"Mas! Ini masih siang," keluh Intan. Namun ia tak menolak suaminya itu.
"Gak apa-apa, kan nanti kita pisah lama. Jadi bekalnya harus banyak," jawab Zein. Kemudian ia membungkam mulut Intan dan tak membiarkannya bicara lagi.
Zein yang terlalu antusias itu sampai lupa bahwa istrinya harus lapor ke kepala daerah setempat (seperti lurah).
Saat itu mereka bercinta dengan panas. Bahkan suara-suara meresahkan pun sampai terdengar ke luar. Beruntung di luar sana cukup sepi.
Tuk! Tuk! Tuk!
Intan dan Zein terperanjat. "Siapa?" tanya Intan pelan.
"Udah biarin aja! Kita selesaikan ini dulu," ucap Zein, kesal. Karena ia yang sudah hampir mencapai puncak itu langsung down.
"Ya udah, cepet, Mas!" jawab Intan. Ia pun berusaha membantu Zein agar segera melakukan pelepasan dengan memberikan rangsangan dan suara nakal, secara perlahan.
Akan tetapi, suara ketukan itu masih terus berbunyi, membuat Zein sulit berkonsentrasi. Sehingga ia pun sulit mencapai batas maksimal.
"Argh! Siapa, sih?" gumam Zein, kesal. Akhirnya ia menunda permainannya dulu.
Zein menggunakan pakaiannya dengan buru-buru, lalu membuka pintu rumah tersebut.
Huuh!
Zein mengatur napas sebelum membuka pintu.
Ceklek!
"Selamat siang!" sapa orang tersebut. "Lho, Prof Zein?" Orang itu bingung karena yang membuka pintunya adalah Zein. Ia mengenal Zein karena sebelumnya Zein pernah datang ke sana.
"Siang, Pak. Apa kabar?" tanya Zein, sambil mengulurkan tangannya. Meski kesal, ia berusaha bersikap baik pada orang itu.
"Kabar baik. Bagaimana Prof bisa ada di sini? Kalau tidak salah, rumah ini akan ditempati oleh dokter magang bernama ...." Orang itu lupa nama Intan.
"Intan," ucap Zein.
"Ah, ya betul itu. Intan," ucap orang tersbut.
"Saya suaminya," jawab Zein.
Orang itu tidak menyangka bahwa dokter yang akan magang di desanya adalah istri dari Prof Zein yang banyak berjasa untuk desa mereka.
"Benarkah? Wah, saya merasa terhormat sekali jika memang seperti itu."
Zein tersenyum. "Terima kasih, Pak. Saya titip istri saya. Tolong jangan sampai dia terluka atau apa pun. Jika ada sesuatu, tolong kabari saya," pinta Zein.
"Tentu! Saya pasti akan menjaga istri Prof dengan sepenuh hati. Warga sini tidak mungkin ada yang berani mengganggunya," ucap orang tersebut.
"Terima kasih, Pak. Mohon maaf kami belum sempat lapor karena baru saja sampai dan istri saya sedang beristirahat. Dia kelelahan karena ini pengalaman pertamanya terbang ke sini," jelas Zein. Ia yakin orang itu datang karena Intan belum lapor.
"Oh iya, tidak masalah. Maaf jika saya sudah mengganggu istirahat Prof dan istri."
"Tidak apa-apa, Pak. Oh iya, saya mau tanya. Apa di sini ada catering makanan halal?" tanya Zein. Ia tahu mayoritas penduduk di sana non muslim.
"Oh ada, Prof. Apa Prof mau pesan catering? Kebetulan yang memasaknya pun orang muslim," jawab pria itu.
"Syukurlah kalau begitu. Jika memang ada, saya ingin memesan untuk makan istri saya selama sebulan ke depan. Sebab istri saya pasti kerepotan jika harus memasak sendiri," ucap Zein.
"Wah, ternyata Prof sangat perhatian pada istrinya, ya," ucap orang itu.
"Kalau bukan saya, siapa lagi yang akan memperhatikan istri saya, Pak? Jangan sampai nanti malah ada orang lain yang menggantikan peran saya sebagai suami," jawab Zein.
"Betul itu. Prof memang panutan. Kalau begitu saya permisi dulu. Nanti akan saya hubungi orang cateringnya," jawab orang itu. Ia sangat menghargai Zein.
"Baik, Pak," jawab Zein.
Setelah orang itu pergi, Zein segera menutup dan mengunci pintunya kembali. Kemudian ia masuk ke kamar Intan lagi karena ingin melanjutkan permainan yang sempat tertunda tadi.
Namun, saat tiba di kamar, ternyata istrinya itu sudah terlelap. Ia pun hanya bisa gigit jari karena tidak tega membangunkan Intan.
"Ya udah, istirahat aja, deh," gumam Zein. Akhirnya ia pun berbaring di samping Intan sambil memeluk istrinya itu.
Malam hari ....
"Kamu mau makan apa?" tanya Zein.
"Gak tau, di sini kayaknya belum ada bahan makanan, ya? Aku jadi bingung mau makan apa. Terus nanti juga gimana, ya?" gumam Intan.
Di jalan tadi ia tidak melihat ada warung yang menjual makanan atau bahan makanan. Sehingga Intan bingung bagaimana cara ia mencari makan besok.
"Kamu tenang aja! Mas udah pesen catering buat kamu. Kalau cocok, nanti bisa dilanjut. Tapi mudah-mudahan gak perlu lanjut, sih," jawab Zein.
"Kenapa?" tanya Intan sambil mengerutkan keningnya.
"Karena Mas mau kamu segera pulang ke Jakarta," sahut Zein sambil menatap Intan.
Intan tersenyum, kemudian memeluk suaminya. "Makasih ya, Mas," ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Zein.
Zein membalas pelukan Intan. "Sebenarnya berat meninggalkan kamu sendirian di sini. Tapi mau bagaimana lagi. Pekerjaan Mas gak bisa ditinggal begitu aja. Kalau bisa, pasti Mas akan ikut pindah ke sini," ucap Zein sambil mengusap kepala Intan.
"Gak apa-apa, Mas. Mohon doanya aja. Aku percaya doa suami akan menyertaiku dan inysaaAllah akan dijabah oleh Allah," sahut Intan.
"Aamiin," ucap Zein sambil mengecup kening istrinya. Kemudian ia menghela napas kasar karena merasa sesak.
"Ya udah, kita makan, yuk!" ajak Zein.
"Makan apa?" tanya Intan, memelas.
"Mas udah bawa makanan kaleng. Ya ... dalam kondisi seperti ini mau tidak mau kita hanya bisa makan apa pun yang bisa dimakan. Selama itu halal, insyaaAllah sehat," jawab Zein.
__ADS_1
Ternyata ia membawa banyak makanan kaleng. Seperti rendang, cumi, udang, bahkan gudeg. Ia membawanya dalam jumlah banyak agar istrinya itu tidak kelaparan.
"MasyaaAllah," ucap Intan. Ia sampai tidak bisa berkata-kata melihat perhatian suaminya yang begitu besar itu.
Satu kaleng ini kayaknya cukup untuk kamu makan sehari," ucap Zein sambil membuka kalengnya.
"Tapi kan aku belum masak nasi, Mas," ucap Intan.
Sebelumnya ia sudah membawa beras dan rice cooker kecil. Sebab ia pikir lauknya bisa dibeli di sana.
Zein melirik ke arah rice cooker. Ternyata ia sudah memasak nasi sejak tadi.
Mata Intan pun berkaca-kaca. Lalu ia memeluk suaminya dari belakang. "Aku gak tau gimana jadinya aku kalau gak ada Mas, huhuhu," ucapnya penuh haru. Rasanya ia tak sanggup jauh dari suaminya itu.
Zein pun terdiam. Ia merasa sangat berdosa karena telah mengirim Intan ke tempat seperti itu. Ia mengusap tangan Intan yang melingkar di perutnya.
"Sabar, ya! Secepatnya Mas akan menjemput kamu kembali," ucap Zein.
Intan megangguk. "Aku akan menunggu Mas," sahutnya. Ia pun melepaskan pelukannya dan mengambil nasi untuk mereka makan berdua.
"Nasinya satu piring aja!" ucap Zein.
"Kenapa?" tanya Intan.
"Makan sepiring berdua, biar lebih romantis," sahut Zein sambil berlalu membuang sampah kaleng.
Intan tersenyum. Sebab suaminya tidak berani menatapnya saat mengatakan hal seperti itu. Bahkan sikapnya pun terlihat salah tingkah. 'Dasar gengsian,' batin Intan. Namun kali ini ia tidak kesal karena sudah tahu betapa besar cinta suaminya itu.
Akhirnya mereka pun makan sepiring berdua di ruang tamu. Sebab rumah itu tidak memiliki ruang makan.
"Sini, biar Mas yang suapin!" ucap Zein.
Hati Intan berdesir kala mendengar ucapan suaminya itu. Ia pun tak menolak dan langsung memberikan piring nasinya pada Zein.
"Aaa!" ucap Zein sambil menyuapi Intan menggunakan tangannya langsung.
Intan pun melahap makanan itu. Namun ia menitikan air mata kala mengunyahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Zein.
Wajah Intan terlihat merah karena berusaha menahan tangisnya. "Duh, aku kenapa cengeng banget, ya? Kayaknya nanti aku bakal kangen momen kayak gini," ucap Intan sambil mengusap air matanya.
Zein yang awalnya hendak menyuap nasi pun mengurungkan niatnya. Ia memindahkan piring itu ke tangan kanan, lalu memeluk Intan dengan tangan kirinya.
"Mas janji akan rutin menghubungi kamu," ucap Zein.
"Tapi apa di sini ada signal?" tanya Intan sambil menoleh ke arah Zein.
"Mas udah beli ponsel satelit dan kartu khusus yang bisa dipakai di pedalaman atau hutan. Biasanya ini digunakan oleh peneliti atau petualang," jawab Zein.
"Mas!" keluh Intan. Ia kesal karena Zein terlalu baik padanya sehingga ia semakin cinta pada suaminya itu.
"Kenapa?" tanya Zein.
"Emangnya kenapa?" tanya Zein lagi. Ia bingung mengapa Intan tak ingin dirinya baik pada istrinya itu.
"Kalau Mas terlalu baik kayak gitu. Aku makin gak bisa jauh dari Mas," ucap Intan, manja. Bibirnya sampai bergetar karena menahan tangisannya.
Zein menatap Intan dengan tatapan nanar. Hatinya sangat perih melihat istrinya seperti itu. Ia memejamkan mata agar tidak menangis dan mengatur napasnya.
Zein tidak dapat mengatakan apa pun. Ia hanya mengungkapkan perasaannya dengan mengecup kening Intan.
"Lanjut makannya, ya. Takut keburu malam nanti lampu emergency-nya mati," ucap Zein. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan agar suasananya tidak semakin penuh haru.
Zein pun menyuap makanan, lalu kembali menyuapi Intan.
Selama menikah, baru kali ini Intan merasakan suapan dari tangan Zein langsung. Rasanya jauh lebih nikmat dan menyentuh hati.
Apalagi ketika ia sadar bahwa Zein tidak merasa jijik sedikit pun meski tangannya terkena lidah dan mulut Intan langsung.
"Gimana, kamu suka gak makanannya?" tanya Zein.
"Suka, Mas," jawab Intan dengan mulut penuh.
"Alhamdulillah, nanti kalau mau makan tinggal dihangatkan saja. Kalau kamu gak sempat menghangatkannya di kompor, kamu bisa masukkan ini ke dalam rice cooker," ujar Zein.
Intan mengangguk. "Iyah," sahutnya.
Saat makannya hampir habis, Zein menawarkan Intan untuk nambah. "Mau nambah lagi apa udah kenyang?" tanya Zein.
Intan tersenyum malu. "Kayaknya nambah, deh. Hehe," sahutnya.
"Ya udah, tunggu sebentar!" Zein beranjak dan mengambil nasi serta lauknya lagi di dapur. Kemudian ia kembali duduk di samping Intan.
"Sebentar ya, nasinya masih panas," ucap Zein. Lalu ia mengambil sedikit nasi untuk Intan, dan mengaduk-aduk dengan tangannya sambil kepanasan. Hal itu ia lakukan agar uap nasinya berkurang.
Setelah merasa cukup hangat, Zein mulai menyuapi Intan lagi. Namun, sebelumnya ia menempelkan nasi itu ke bibirnya untuk mengecek suhunya. Sebab ia tahu suhu di tangan dan di bibir berbeda.
"Nah, udah adem," ucap Zein. Lalu ia menyodorkan suapan itu ke Intan.
Baru kali ini ia melihat Intan makan banyak dan lahap seperti itu. "Nanti kalau udah di Jakarta, kayaknya Mas harus nyuapin kamu setiap hari, deh," ucap Zein.
"Kenapa?" tanya Intan.
"Biar cepet gemuk. Soalnya kamu lahap banget kalau disuapin kayak gini," ledek Zein.
"Iiih, enak aja! Aku gak mau gemuk," rengek Intan sambil mencubit paha Zein.
"Kenapa? Kan enak gemuk. Banyak yang bisa dipegang," ucap Zein sambil tersenyum.
"Maass!" Intan sebal karena suaminya itu sudah mulai mesum.
__ADS_1
"Inget, kamu masih punya hutang!" ucap Zein.
Intan mengerutkan keningnya. "Hutang apa?" tanya Intan.
"Tadi, kan Mas belum selesai kamu udah tidur. Jadi malam ini kita begadang!" jawab Zein.
"Hem ... jadi ternyata suamiku ini baik karena ada maunya? Pantesan sampe nyuapin begini. Ternyata ...," ledek Intan sambil memicingkan matanya.
"Terserah kamu mau bilang apa. Yang penting malam ini kamu gak boleh tidur cepat!" sahut Zein.
"Tapi kan nanti malam lampunya mati, Mas," keluh Intan.
"Ya gak apa-apa. Anggap aja sensasi baru. Main di tempat gelap gulita," jawab Zein.
"Iiiih, dasar!" Intan langsung menjebik.
Keesokan harinya, mereka bangun lebih awal. Meski semalam habis bergadang, tetapi mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak karena itu merupakan tempat baru.
Selesai shalat subuh, mereka duduk santai di ruang tamu sambil melihat ke luar. Saat itu suasananya masih agak kebiruan karena matahari belum terbit.
"Ternyata di sini dingin juga ya, Mas," ucap Intan sambil bersandar di rangkulan suaminya.
"Iya, namanya juga dataran tinggi," sahut Zein.
"Mas dulu pernah ke sini?" tanya Intan lagi.
"Pernah. Mas pernah tinggal sebulan di sini. Makanya Mas tahu apa yang kamu butuhkan," sahut Zein lagi.
"Hem ... pantesan bawaannya banyak banget. Kayak orang mau pindahan, hehe."
"Ya kan semua barang yang Mas bawa bermanfaat buat kamu," jawab Zein.
Intan tersenyum. "Iya, bermanfaat banget. Gak kebayang itu bagasinya kena charge berapa," sahut Intan.
"Itu gak penting. Yang penting kamu nyaman dan kebutuhanmu terpenuhi," sahut Zein.
Intan yang bahagia itu mengusel kepalanya di ketiak Zein.
Saat matahari sudah mulai terbit. Mereka membagi tugas untuk membersihkan rumah.
Kala itu Zein sedang menyapu bagian dalam. Sementara Intan menyapu bagian luar.
Saat Intan sedang di luar, ia mendengar suara gemuruh dari kejauhan. "Apaan, tuh?" gumamnya sambil melongok.
Tak lama kemudian, munculah sekelompok tentara yang sedang lari pagi sambil menyanyikan yel-yel.
Namun, saat melewati Intan, mereka mengubah lagunya.
"Nona manis siapa yang punya, nona manis siapa yang punya, nona manis siapa yang punya, yang punya kita semua," nyanyi mereka, sambil menoleh ke arah Intan yang sedang sibuk menyapu tanpa mempedulikan mereka.
Setelah itu mereka pun kembali mengganti lagunya.
"Terpesona ... aku terpesona, memandang memandang wajahmu yang manis ...."
Sontak Zein yang ada di dalam itu langsung menoleh. Kemudian ia yang sedang memegang sapu itu bergegas menghampiri Intan keluar.
"Mulai hari ini kamu jangan nyapu bagian luar! Kalau mau nyapu, nanti aja agak siang," ucap Zein sambil mengambil sapu yang dipegang oleh Intan.
"Lho, kenapa?" tanya Intan tanpa dosa. Ia sendiri tidak ge'er karena tak merasa digoda. Sebab, setelah melongok tadi Intan fokus pada sapunya lagi. Intan pikir lagu itu memang lagu yang biasa dinyanyikan oleh para tentara itu.
"Gak apa-apa. Di luar banyak nyamuk," jawab Zein. Ia senang karena Intan tidak paham akan keresahannya.
"Ooh, ya udah," sahut Intan. Kemudian ia pun masuk ke dalam rumah.
'Huuh! Kenapa mereka harus lari lewat sini, sih? Memangnya tidak ada jalan lain?' keluh Zein sambil berdecak kesal. Ia kesal karena rombongan itu melewati rumah dinas istrinya. Padahal mereka sudah biasa lewat sana.
Keesokan harinya, Zein sudah harus kembali ke Jakarta. Ia sengaja pulang sore agar bisa melepas rindu lebih lama dengan istrinya itu.
"Kamu hati-hati di sini, ya! Ponselnya stand by terus! Pokoknya kamu harus rajin ngabarin Mas," pinta Zein saat ia hendak pamit pada Intan.
Intan pun mengangguk. "Iya, Mas. Mas hati-hati di jalan, ya! Jangan nakal. Nanti kabarin aku kalau udah sampe sana," balas Intan.
"Pasti," sahut Zein. Kemudian ia mengecup seluruh wajah Intan dan mencumbu istrinya itu. Setelah itu, mereka pun berpelukan.
"Mas janji akan menjemputmu dalam waktu dekat. Yang sabar, ya!" pinta Zein sambil mengusap kepala Intan.
"Iya, Mas," jawab Intan dengan mata berkaca-kaca.
Zein pun menarik kopernya menuju pintu. Awalnya Intan ingin mengantar Zein ke lapangan penerbangan. Namun Zein melarangnya. Sebab ia khawatir jika Intan harus kembali ke rumah itu sendirian.
Dengan berat hati, Zein menarik handle pintu. Namun ia menghentikan gerakkannya, lalu menoleh ke arah Intan dan kembali memeluknya.
"Mas akan sangat merindukanmu," bisik Zein sambil mendekap istrinya.
"Aku juga, Mas," jawab Intan. Kebaikan Zein telah menutup semua keburukan yang pernah ia lakukan terhadap Intan. Sehingga Intan lupa bahwa dulu suaminya adalah Profesor galak yang paling ia benci.
"Jaga diri baik-baik. Jangan nakal dan jangan dekat-dekat dengan pria mana pun, oke?" pinta Zein sambil menangkup kedua pipi Intan.
Intan mengangguk. Hatinya bertalun-talun karena ia pikir Zein akan mengungkapkan cintanya. Namun ternyata ia salah. Zein langsung pamit dan benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.
'Dasar kamu, Intan! Apa sih yang kamu harapkan? Kurang baik apa dia sampai kamu masih mengharapkan kalimat itu?' batin Intan. Kesal pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian Zein sudah berada di dalam helikopter yang akan membawanya ke kota.
"Sudah siap? Kita akan take off," ucap pilot.
"Oke!" sahut Zein.
Saat helikopter itu sedang bermanuver untuk terbang, Zein melihat sosok yang tidak asing. Baru saja turun dari pesawat.
Sosok pria gagah yang paling ia benci.
__ADS_1
Zein pun terbelalak. "Kenapa si berengsek itu ada di sini?" tanyanya. Ia panik kala melihat Bian baru saja tiba di tempat tersebut.