Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
31. Jalan-jalan


__ADS_3

Sore hari, akhirnya Zein memutuskan untuk mengajak Intan jalan-jalan. Namun seperti biasa, ia mengajak Intan seolah tak mengajaknya.


Zein keluar dari kamar dan bicara pada Intan yang masih duduk di sofa luar. "Kamu mau ikut?" tanyanya.


Intan menoleh ke arah Zein. "Enggak, Prof. Makasih," sahutnya, singkat. Kemudian ia langsung memalingkan wajahnya kembali.


"Tapi saya mau kamu ikut," ucap Zein lagi. Padahal apa susahnya mengajak secara baik-baik. Ia malah bertanya Intan ingin ikut atau tidak seperti ketika ia mau mengantarnya pulang.


"Prof ini sebenarnya mau ngajak saya pergi atau mau menawarkan saya untuk ikut?" tanya Intan, kesal.


"Apa bedanya?" Zein balik bertanya.


"Ya jelas beda. Kalau ngajak itu berarti Prof memang pingin ngajak saya jalan-jalan. Sementara kalau menawarkan untuk ikut, itu artinya Prof pingin jalan-jalan sendiri, saya ikut atau tidak pun gak masalah," jawab Intan, ketus.


"Haduh, kamu ini ribet banget. Udah ikut aja!" ucap Zein. Kemudian ia menarik tangan Intan.


"Tapi, Prof!" keluh Intan.


"Udah, gak usah tapi-tapian!" sahut Zein, gemas.


"Itu pintu kamarnya gak ditutup?" tanya Intan lagi.


Zein pun menoleh ke arah pintu dan ternyata ia lupa menutup pintu kamar mereka. "Ck! Kamu kenapa gak bilang dari tadi, sih? Makanya gak usah kebanyakan protes. Bikin orang lupa aja." Zein malah menyalahkan Intan. Kemudian ia melepaskan tangan Intan dan berjalan ke arah pintu.


Ia sangat malu karena sudah melupakan pintu itu.


Intan pun langsung melakukan gerakan menendang angin karena terlalu kesal pada suaminya itu. 'Hiihh! Bisa-bisanya dia malah nyalahin aku. Udah bagus aku kasih tau,' batin Intan.


Tak lama kemudian Zein pun sudah kembali dan menggandeng tangan Intan lagi.


Intan langsung mengerutkan keningnya. "Apa harus seperti ini?" tanyanya.


"Apa?" Zein balik bertanya, tanpa dosa.


Intan pun mengangkat tangan mereka yang saling bertautan.


"Ya harus. Kalau tidak dipegangi, nanti kamu kabur," sahut Zein, kemudian ia kembali menghadap ke depan.


"Emangnya aku apaan pake kabur segala?" gumam Intan, pelan.


"Kamu itu istri yang suka membantah," sahut Zein. Ternyata ia mendengar gumaman Intan.


Intan pun langsung menutup mulutnya. 'Perasaan aku ngomong udah pelan. Ternyata pendengaran dia baik juga,' batinnya.

__ADS_1


Zein mengajak Intan berjalan di tepi pantai, menikmati semilir angin yang mengembus dan ombak yang membasahi kaki mereka.


"Kamu suka ke pantai?" tanya Zein. Kali ini nada bicaranya cukup lembut. Sebab ia ingin bermesraan dengan Intan di pantai itu.


"Biasa aja," sahut Intan, singkat.


Zein menoleh ke arah Intan. "Kamu kenapa, sih? Dari tadi jutek terus ngomongnya. Padahal saya berusaha untuk bersikap baik sama kamu," tanya Zein, heran. Ia tidak sadar akan kesalahannya.


Intan tidak menyangka bahwa pria itu bersikap seolah tak berdosa. "Enggak, kok. Mungkin itu perasaan Prof aja," jawab Intan sambil menahan kesal. Ekpresi kekesalan pun tak dapat ia tutupi dari wajahnya.


"Oya? Tapi kok mukanya kayak kesel gitu?" tanya Zein lagi.


Intan langsung menggelengkan kepala dan memalingkan wajahnya. "Terserah Anda mau bilang apa," ucapnya sambil menahan hidung yang kembang kempis karena kesal. Saat ini Intan sedang tidak ingin berdebat. Sehingga ia berusaha menghindar.


"Oke, kalau begitu saya mau minta sesuatu," ucap Zein.


"Kalau saya gak mau, gimana?" tanya Intan.


"Harus mau," sahut Zein.


"Kenapa sih Prof seneng banget maksa?" tanya Intan lagi sambil mengerungkan wajahnya.


"Karena saya suami kamu. Jadi kamu harus patuh sama saya," sahut Zein sambil mencubit hidung Intan.


"Saya kan gak bilang mau nyuruh kamu. Saya cuma mau minta sesuatu." Zein menatap Intan. Ia pun kesal karena Intan selalu membantahnya.


"Apa?" tanyanya, ketus.


"Kita harus bersikap mesra di hadapan orang tua kita!" ucap Zein, serius.


Intan langsung tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Apa bedanya sama nyuruh?"


"Ya beda, dong. Kalau ini saya minta, bukan nyuruh."


"Tapi ucapan Prof barusan itu mengharuskan saya. Artinya Prof nyuruh Saya." Intan semakin berani melawan Zein.


"Kamu tuh kenapa sih seneng banget ngebantah?" tanya Zein, kesal.


"Karena Prof sendiri tidak bisa memperlakukan saya dengan baik ...."


Zain yang sedang kesal pada Intan pun langsung menarik tengkuk dan pinggang Intan. Kemudian ia membungkam mulut istrinya itu dengan bibir.


Intan panik karena saat itu posisi mereka sedang ada di pantai. Ia pun berusaha mendorong Zein karena tidak ingin dianggap melakukan perbuatan asusila di tempat umum.

__ADS_1


"Prof!" Intan protes.


"Mulai saat ini, kita harus bersikap mesra di hadapan orang tua kita agar mereka yakin bahwa hubungan kita baik-baik saja," ucap Zein setelah melepaskan tautan bibir mereka. Ia pun mengusap bibir Intan yang basah akibat ulahnya itu.


"Satu lagi! Saya tidak akan segan untuk mencium kamu seperti barusan meski di tempat umum jika kamu terus membantah saya. Paham!" ancam Zein. Kemudian ia langsung melepaskan tangannya yang sedang memegangi tubuh Intan.


Akhirnya Intan hanya bisa mengeram kesal karena sikap Zein yang arogan itu.


Saat Intan masih kesal, Zein kembali menggandeng tangan istrinya itu. “Apa sih susahnya menjalani hubungan dengan baik tanpa harus berdebat?” tanya Zein.


“Susah karena Anda itu otoriter. Seandainya Anda bisa lebih menghargai saya, pasti saya pun akan kooperatif,” jawab Intan.


Zein menoleh ke arah Intan. “Oh, jadi kamu mau dihargai? Sepertinya kamu sudah sangat mendalami peranmu sebagai istri, ya?” tanya Zein. Maksudnya bukan peran akting.


Namun Intan yang salah paham itu mengira bahwa yang Zein maksud adalah akting. “Ya susah emang kalau dari awalnya udah nganggap pernikahan ini cuma sandiwara. Herannya menuntut kewajiban segala macam. Aneh,” gumam Intan.


Zein meoleh ke arah Intan dan menatapnya. Ia yang sangat kesal itu sulit berkata-kata. Hingga akhirnya Zein menjitak kening Intan.


Pletak!


“Aww! Sakit, Prof,” keluh Intan.


“Biarin! Biar juteknya ilang,” ucap Zein, gemas.


“Prof bilang saya jutek terus. Tapi Anda gak sadar kalau dari dulu Prof lebih jutek dan galak sama saya.” Intan protes.


“Tapi sekarang kan saya udah gak jutek lagi,” sahut Zein.


Intan ternganga. Ia tak menyangka ternyata Zein tidak sadar. Ia menatap Zein sambil menggigit bibir bawahnya.


“Kenapa? Pingin saya gigit?” goda Zein.


“Dasar Profesor Muhammad Zein Muammar. Mesum!” cibir Intan. Kemudian ia melepaskan tangan Zein dan berlari menuju bungalow mereka.


“Wah … berani sekali dia mencibir aku,” gumam Zein. Kemudian ia mengejar Intan.


Langkah Zein jauh lebih panjang dari Intan. Sehingga ia tidak kesulitan untuk mengejar istrinya itu.


“Mau ke mana, kamu? Apa kamu memang ingin main kejar-kejaran?” tanya Zein sambil memeluk Intan dari belakang.


“Lepas! Aku benci sama Prof!” ucap Intan, kesal.


“Oya? Kalau begitu, mari kita lihat! Sampai kapan kebencian itu akan bertahan. Saya yakin, suatu saat nanti, benci itu akan berubah menjadi cinta,” bisik Zein. Kemudian ia menggendong Intan dan membawanya kembali ke bungalow.

__ADS_1


__ADS_2