Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
17. Profesor Iblis


__ADS_3

Intan tercengang saat melihat Zein sedang asik makan bersama ibunya.


"Mau ke mana, Tan? Kamu kan belum sarapan. Sini sarapan dulu! Nak Zein aja baru sarapan lho, ini," ucap ibu Intan.


Sementara itu Zein pura-pura sibuk makan dan tak menghiraukan Intan.


Akhirnya Intan pun menghampiri mereka dan duduk di hadapan Zein.


"Pantas saja kamu suka sakit. Ternyata kamu sering melewatkan sarapan?" gumam Zein. Ia begitu menikmati makanan yang dimasak oleh Intan dan ibunya. Namun sebagian besar makanan itu diolah oleh Intan.


Intan tidak menjawab ucapan Zein, ia langsung melahap makanan miliknya karena tidak mungkin berdebat dengan profesornya itu.


"Masakan Ibu enak sekali," puji Zein.


"Ini Intan yang masak," sahut Fatma, santai.


Deg!


Zein hampir saja tersedak. Ia tak menyangka wanita yang selama ini selalu ia marahi ternyata pandai memasak. 'Serius ini dia yang masak? Ternyata enak juga makanannya,' batin Zein.


Intan menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. Ia bangga karena telah dipuji oleh Zein meski secara tidak langsung.


"Masakan kamu enak," ucap Zein. Ia malu karena sudah terlanjur mengatakannya.


"Terima kasih, Prof," sahut Intan. Ia tidak mau terlalu ge’er.


"Gimana, cocok gak sama masakan Intan?" tanya Fatma.


Zein hanya membalasnya dengan anggukkan.


"Alhamdulillah ... Ibu jadi tenang. Kalau kalian udah nikah nanti kan Zein gak akan kelaparan, hehe," ucap Fatma.


Uhuk! Uhuk!


Intan dan Zein tersedak mendengarnya. Meski sudah berencana akan menikah dalam waktu dekat. Namun jika mendengarnya dari orang lain, rasanya mereka masih sangat canggung.


"Kalian ini kompak sekali? Belum menikah tapi sudah sehati," puji Fatma.


Mereka yang sedang minum pun semakin salah tingkah.


'Ibu apa-apaan, sih? Siapa juga yang sehati sama dia? Males banget,' batin Intan, kesal.


'Kenapa aku jadi gerah gini, ya?' batin Zein.


Akhirnya mereka makan dalam kondisi salah tingkah.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sudah selsai makan dan mereka pun pamit pada Fatma.


"Bu, aku berangkat dulu, ya. Ibu hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari aku!" ucap Intan, kemudian ia bersalaman dengan Fatma.


"Iya, Tan. Kamu juga hati-hati di jalan, ya!" sahut Fatma.


"Saya juga pamit, Bu. Terima kasih atas sarapannya. Assalamu alaikum," ucap Zein.


"Waalaikum salam ...."


Zein dan Intan menuju ke mobil tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Saat tiba di dalam mobil, kali ini Intan tidak melupakan seatbelt-nya. Ia sudah trauma dengan kejadian kemarin. Rasanya jantung Intan hampir meledak saat wajah mereka berhadapan. Apalagi parfum Zein sangat harum. Membuat Intan selalu terbayang-bayang oleh aromanya.


Setelah Intan memasang seatbelt, Zein melajukan kendaraannya. "Hari ini kita operasi lagi, ya!" ajak Zein. Sepertinya ia hendak mengulangi modus kemarin.


"Baik, Prof," sahut Intan, singkat. Ia bingung bagaimana cara berkomunikasi dengan Zein. Sehingga Intan hanya bisa menjawabnya secara singkat.


Zein mengetuk-ngetuk jarinya ke stir. Ia ingin berbincang dengan Intan. Namun Zein bingung hendak membahas apa. 'Kenapa dia hanya jawab seperti itu? Ini kan bukan rumah sakit. Memangnya aku atasannya?' batin Zein.


Ia malah kesal sendiri. Padahal jika memang tidak nyaman dengan kondisi seperti itu, seharusnya ia bisa menyampaikannya pada Intan.


Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit.


"Terima kasih, Prof," ucap Intan. Ia buru-buru hendak turun saat Zein baru menginjak rem mobilnya. Namun sayang, ternyata kunci pintu mobil itu belum terbuka.


"Euh ... kan katanya mau ada operasi, Prof. Saya mau siap-siap," jawab Intan, gugup.


"Yang memimpin operasi itu kan saya. Lalu kenapa kamu yang repot? Tugasmu kan hanya mendampingi saya," ucap Zein tanpa menoleh ke arah Intan. Ia malah mengecek ponselnya dengan santai.


"Tapi, Prof ...." Belum sempat Intan melanjutkan ucapannya, Zein langsung mengulurkan tangannya, seraya meminta Intan untuk tutup mulut karena ia ingin menelepon.


"Ya, Halo!" ucap Zein pada seseorang di seberang telepon.


'Hah? Ngapain aku dikunciin di sini kalau dia mau teleponan? Beneran sakit jiwa kali, ya?' batin Intan, kesal.


Ia tidak habis pikir mengapa Zein tak langsung membukakan kuci pintu mobil agar Intan bisa turun.


Belum sempat Intan mengendalikan kekesalannya, Zein langsunng meraih tangan Intan dan membuat gadis itu semakin ketar-ketir tak karuan.


'Eh, mau ngapain?' batin Intan. Jantungnya bertalun-talun kala tangan Intan dipegang oleh tangan Zein yang dingin itu.


Intan pikir tangan Sang Profesor dingin karena kena AC.


Zein memerhatikan jari Intan dan ternyata ia tidak dapat menebak ukurannya. Kemudian ia melepaskan tangan itu begitu saja.

__ADS_1


Intan pun semakin kesal dibuatnya.


"Nanti sore kamu ikut saya lagi!" ucap Zein setelah menutup sambungan teleponnya. Kemudian ia membuka kunci pintu mobil.


"Heuh? Ke mana, Prof?" tanya Intan.


Zein tidak menjawabnya, ia langsung turun dari mobil itu dan menutup kembali pintunya.


Brug!


Intan yang terperanjat pun buru-buru turun. "Ya Allah ... mimpi apa aku bakalan nikah sama orang kayak gitu?" gumam Intan, pelan.


Intan pun mengejar Zein. "Prof, tapi bagaimana dengan motor saya? Kan sudah dua hari ditinggal di sini," tanya Intan.


"Nanti biar sopir rumah sakit yang antar," jawab Zein, santai tanpa menghentikan langkahnya. Ia bahkan tak menoleh ke arah Intan.


"Tapi memangnya untuk apa saya harus ikut Prof?" tanya Intan lagi sambil berlari kecil demi mengimbangi langkah Zein.


"Beli cincin nikah!" jawab Zein, singkat.


Deg!


Intan langsung menghentikan langkahnya. Kemudian ia menoleh ke sekeliling. Khawatir ada orang lain yang mendengar ucapan Zein.


Sadar Intan sudah tidak membuntutinya, Zein pun menoleh dan tersenyum. "Baru gitu aja udah shock," gumam Zein, pelan. Kemudian ia melanjutkan langkahnya.


"Ya Tuhan ... gak bisa apa dia tuh gak bikin aku jantungan?" gumam Intan, kesal. Akhirnya ia pun melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


Intan pun terburu-buru karena jika terlambat ia akan dimarahi oleh Zein lagi.


"Nanti dia bilang, kenapa jadi saya yang nunggu kamu? Memangnya kamu siapa? Gitu, deh," gumam Intan sambil menjebik.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah berkumpul di ruang operasi. Beruntung kali ini Intan tidak terlambat.


Setelah membaca doa, Zein pun memulai operasinya. Intan masih berada di posisinya yang kemarin. Sebab Zein beralasan karena Intan beberapa hari lagi akan selesai koas. Sehingga yang lain memakluminya.


Huuh!


Zein menghela napas panjang saat hendak memulainya. Namun, keberadaan Intan di sampingnya itu membuat Zein tidak konsen. Ia bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala. Ia merasa bodoh karena tidak bisa profesional.


Tubuhnya terasa panas dan meremang saat berada di dekat Intan. Jantungnya pun berdebar. Sehingga ia yakin tidak akan bisa melanjutkan operasi jika Intan masih berada di sampingnya.


Akhirnya Zein yang hendak membedah pasien pun mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Intan.


"Lebih baik kamu keluar sekarang!" ucap Zein, datar.

__ADS_1


Intan ternganga. Ia tidak menyangka Zein mengatakan hal seperti itu. "Apa?" tanyanya, tidak percaya.


"KELUAR SEKARANG JUGA!" bentak Zein.


__ADS_2