Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
33. Suami atau Raja


__ADS_3

"Wah ... sepertinya sebentar lagi Papah akan dapat cucu, nih," ledek Muh, sambil tersenyum.


Intan semakin tercengang. Ia tidak menyangka ternyata Muh sesantai itu. Ia pikir seorang pemilik rumah sakit akan menjaga wibawanya. Intan tidak tahu bahwa keluarga Zein memiliki hubungan yang hangat dan santai.


"Ya kan sesuai keinginan Papah. Sebagai anak yang baik, aku sih nurut aja. Yang penting udah usaha. Masalah hasilnya gimana nanti. Iya kan, Sayang?" ucap Zein sambil merangkul pinggang Intan dan menoleh ke arahnya. Sehingga bibir Zein begitu dekat dengan pipi Intan.


Ternyata ada sisi lain dari Zein yang tidak Intan ketahui. Ia pikir selama ini Zein adalah orang yang kaku dan selalu serius. Namun ternyata ia justru sangat santai saat sedang berbincang dengan papahnya.


Wajah Intan merona, ia hanya menjawabnya dengan anggukkan. 'Oh, jadi ini maksudnya harus mesra di depan orang tua?' batin Intan.


Ia kesal karena Intan pikir Zein sedang berakting. Padahal saat ini suaminya itu sedang memanfaatkan keadaaan.


"Ya udah kalau begitu. Silakan dilanjutkan! Semoga membuahkan hasil, ya," ucap Muh sambil mengusap bahu Intan.


Intan salah tingkah.


"Siap, Pah! Mumpung masih muda jadi bisa usaha terus. Papah tinggal bantu doa aja," sahut, Zein, sambil tersenyum bangga.


"Oh iya, tapi kamu juga jangan terlalu forsir Intan, Zein. Kasihan kalau Intan sampai kelelahan. Papah tahu kamu masih muda, tapi harus perhatikan kondisi istri kamu juga, ya! Jangan mau enaknya sendiri," ucap Muh. Kemudian ia berlalu.


Intan ternganga mendengar obrolan anak dan ayah yang seolah tak malu membahas hal sensitif itu. Kemudian ia menoleh ke arah Zein.


"Apa? Kamu mau usaha lagi?" goda Zein.


Intan langsung melepaskan tangan Zein dari pinggangnya. "Prof kenapa gak malu bahas hal itu sama Papah?" tanya Intan sambil berjalan ke arah sofa.


Zein kembali menutup pintu ruangannya dan menyusul Intan.


"Kenapa harus malu? Saya kan sudah dewasa. Gak masalah, dong?" sahut Zein, santai. Setelah itu ia berjalan ke arah lemari. Keluarga Zein memang terbuka. Sehingga sudah biasa membahas hal tabu sekali pun.


"Tapi kan saya gak nyaman dengernya, Prof," keluh Intan sambil memperhatikan Zein yang sedang berjalan.


Namun, saat di depan lemari, Zein langsung melepaskan bath robe dan melemparnya ke kursi begitu saja.


Intan pun memalingkan wajahnya. Ia malu melihat tubuh bagian belakang suaminya yang begitu menantang. Sebab, ketika sedang bercinta, Intan hampir tidak pernah melihat bagian itu.


Melihat reaksi Intan dari pantulan kaca yang ada di lemari buku, Zein pun tersenyum. Kemudian ia malah sengaja ingin menggodanya.


"Intan!" panggil, Zein.


"Iyah?" sahut Intan sambil menoleh. Ia pun terkejut karena Zein belum mengenakan pakaian. Lalu Intan memalingkan wajahnya lagi.


"Sini kamu!" panggil Zein lagi. Saat ini ia sedang memegang pakaian yang akan ia pakai.


Sebenarnya di lemari itu tidak banyak pakaian miliknya. Hanya ada beberapa untuk salinan jika pakaiannya kotor. Lemarinya pun hanya berukuran kecil.


"Ada apa, Prof?" tanya Intan lagi.


"Kalau dipanggil tuh langsung datang, bukan malah bertanya. Sini cepat!" pinta Zein.


Akhirnya Intan pun dengan terpaksa mendekat ke arah Zein sambil memalingkan wajahnya.


"Iyah?" ucap Intan saat sudah berdiri di dekat Zein.


Zein yang sedang memunggunginya pun balik badan. Kemudian ia menarik dagu Intan agar bisa menatapnya.


"Tadi kan kamu begitu bersemangat melepas pakaian saya. Jadi sekarang saya minta kamu pakaikan lagi," ucap Zein. Lalu ia memberikan pakaian itu pada Intan.


Zein sengaja ingin mengusili Intan yang masih canggung itu.


Deg!


Intan tak habis pikir mengapa suaminya bisa segila itu.


"Tapi, Prof. Anda kan bisa memakainya sendiri," ucap Intan.


"Atau kamu memang sengaja ingin melihat tubuh saya seperti ini? Makanya gak mau memakaikan pakaian di tubuh saya," tuduh Zein.


Ia paling bisa memprovokasi Intan sehingga istrinya itu mau menuruti kemauannya meski dengan terpaksa.


"Enggak!" sahut Intan, kesal sambil mengambil pakaian itu.


Intan pun menaruhnya di atas meja, kemudian ia mulai dari pakaian yang paling dalam.

__ADS_1


'Ini suami apa raja, sih? Bisa-bisanya dia nyuruh aku kayak gini?' batin Intan. Ia tidak nyaman saat menyentuh pakaian dalam milik Zein.


Setelah itu, Intan berjongkok di hadapan Zein sambil melebarkan bagian pinggang pakaian dalam tersebut.


Zein pun tersenyum, lalu ia mengangkat kakinya satu per satu dan Intan memasukan celana itu ke kaki Zein.


Intan menelan saliva saat menariknya ke atas, ia pun tidak menoleh kala celana itu sudah tiba di bagian pusat.


"Masa begitu sih makeinnya? Kalau begitu gak nyaman. Bisa kejepit," ucap Zein saat Intan tidak membenarkan senjatanya yang terjepit oleh ujung celana tersebut.


"Saya gak tau, Prof. Memang harusnya bagaimana?" tanya Intan. Ia belum melihat ada kepala yang muncul di tepi celana.


"Ya kamu lihat sendiri. Udah masuk semua apa belum?" sahut Zein. Ia memang sengaja ingin Intan melihatnya.


Intan terlihat ragu.


"Ayolah, Tan! Kamu tuh jangan sok alim. Kamu kan sudah menikmati seluruh tubuh saya. Hanya melihat atau menyentuhnya seperti itu tentu bukan hal aneh," ucap Zein, gemas.


"Ini kan dalam kondisi normal, Prof. Jadi saya malu," ucap Intan, sedikit memohon.


"Memangnya kalau sedang bercinta itu tidak normal?" tanya Zein.


"Bukan begitu, Prof ...." Intan pun bingung bagaimana cara menjelaskannya.


"Udahlah, kamu itu emang suka membantah! Nih lihat!" ucap Zein, ketus. Ia memaksa Intan untuk melihat senjatanya.


Akhirnya Intan pun terpaksa menoleh ke arah sana. Lalu Zein membenarkan posisinya.


"Tolong kamu ingat! Posisinya seperti ini. Jadi suatu saat jika saya minta pakaikan lagi, kamu tidak lupa," ucap Zein sambil memainkan senjatanya.


Ia tahu betul Intan mudah tergoda jika melihat senjatanya itu. Sebab ia dapat merasakan ketika Intan sedang melahapnya, ia terlihat begitu menikmati dan menyukainya.


Dugaannya tepat. "Sepertinya kamu mau lagi, ya?" tanya Zein saat melihat Intan menggigit bibirnya sendiri.


"Iya," sahut Intan tanpa sadar. "Eh, enggak, Prof!" ralatnya dengan cepat.


"Hahaha, Intan ... Intan! Kamu itu munafik. Kalau suka bilang aja suka! Kalau mau juga bilang, nanti saya kasih. Muka udah mupeng gitu masih bilang enggak," ejek Zein. Ia tidak sadar bahwa dirinya jauh lebih munafik dari Intan.


Intan tak dapat berkata-kata. Ucapan Zein barusan memang benar. Melihat kepala merah itu membuatnya ingin melahapnya lagi. Apalagi tadi saat ia sedang menikmati, Zein langsung menariknya karena sudah tidak tahan.


Kali ini Intan memakaikan Zein kemeja. Saat ia baru mengancingi bagian atasnya, Zein kembali bertanya.


"Kamu lebih suka botak atau berambut?" tanya Zein.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


Intan tersedak air liurnya sendiri. Wajahnya sampai merah. Menurut Intan, pertanyaan Zein sangat tidak lazim.


Bukannya membantu Intan yang tersedak, Zein malah semakin menggodanya. "Saya sendiri sangat senang dengan yang botak seperti tadi. Terima kasih ya kamu telah berusaha untuk menyenangkan hati saya," ucapnya sambil tersenyum.


Ia mengatakan hal seperti itu karena saat bercinta tadi Zein melihat ada sesuatu yang berbeda dari milik istrinya.


Wajah Intan yang masih merah itu langsung mengerung. "Prof!" bentaknnya tanpa sadar. Ia sangat malu karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya mencukur habis bagian tersebut.


"Kenapa? Memang iya, kan? Tapi kamu tau dari mana sih kalau saya suka yang botak?" tanya Zein sambil tersenyum. Ia sangat percaya diri bahwa Intan melakukan hal itu demi menyenangkan Zein.


"Saya harap Prof jangan keterlaluan, ya! Saya gak suka bahas hal itu!" ucap Intan. Kemudian ia langsung balik badan dan hendak meninggalkan Zein.


Zein pun langsung merangkul perut Intan dan menariknya mundur. Lalu ia memeluk istrinya itu dari belakang. "Kamu gak suka bahas, jadi lebih suka melakukannya langsung, ya?" bisik Zein, nakal.


Intan berusaha berontak. Ia sedang kesal sekaligus malu. "Lepas!" ucap Intan.


"Kamu mau ke mana?" tanya Zein lagi. Nada suaranya seperti penjahat yang sedang menyandra tawanan.


"Pulang!" sahut Intan, ketus.


Zein mengarahkan Intan ke cermin. "Apa kamu yakin mau pulang dalam kondisi seperti ini?" tanya Zein. Saat itu kondisi Intan sangat kusut. Rambut berantakan, baju lecek dan bernoda. Ia yakin Intan akan malu keluar dalam kondisi seperti itu.


Saat melihat penampilannya, Intan pun sangat shock. "Berarti waktu ada Papah tadi penampilan saya seperti ini?" tanya Intan seolah tak percaya.


Zein yang sedang memeluk Intan dari belakang itu pun mengangguk sambil tersenyum. "Ya, kamu berhasil meyakinkan Papah bahwa hubungan kita sangat baik," ledek Zein.


Intan langsung menutup wajahnya. Kemudian ia berjongkok kala Zein melepaskan pelukannya. "Aaaaa, maluuuu!" keluh Intan.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Kita kan sudah menikah," sahut Zein santai sambil mengancingi kemejanya.


Intan malas menjawab ucapan Zein. Ia sedang bingung harus berbuat apa. Saat ini napasnya menggebu karena kesal, dia seperti itu akibat ulah Zein. Namun suaminya seolah tak mau bertanggung jawab atas penampilannya.


"Lebih baik kamu mandi dulu, sana!" ucap Zein, santai.


"Saya gak bawa baju!" sahut Intan, ketus.


Zein kembali membuka lemarinya. Kemudian mengambil pakaian bersih Intan yang tergantung di lemari tersebut.


"Kamu bisa pakai ini!" ucap Zein sambil memberikan baju itu pada Intan.


Intan pun langsung berdiri. "Kok bisa ada pakaian saya di sini?" tanya Intan, seolah tak percaya pakaiannya ada di sana.


"Kenapa gak bisa? Kamu kan istri saya," sahut Zein santai sambil mengambil celananya yang Intan taruh di meja.


"Maksud saya, gak mungkin baju ini jalan sendiri ke sini, kan?" Intan masih penasaran.


"Bukankah saya sudah mengatakan? Saya ini pria yang bertanggung jawab. Jadi sebelum melakukan sesuatu, saya pasti sudah memikirkan segala aspeknya. Termasuk pakaian kamu," sahut Zein. Lalu ia mengenakan celananya.


Intan mencerna kata-kata Zein. "Jadi maksudnya Prof yang bawa pakaian saya ke sini?" tanyanya, heran.


"He'em," sahut Zein. Ia masih bersikap santai.


Intan ternganga. "Berarti Prof memang sudah niat untuk melakukan hal itu?" tanya Intan lagi. Ia tak habis pikir mengapa Zein bisa merencanakan hal seperti itu.


Zein mengembuskan napas. "Saya ini pria yang sudah menikah. Jadi ketika saya menginginkannya, saya bisa melakukannya kapan pun dan di mana pun. Makanya saya antisipasi untuk hal seperti itu. Paham?" ucapnya. Kemudian ia berlalu duduk di kursi kerjanya.


Baginya bukan hal aneh jika ia ingin melakukan hal itu di ruangan kerjanya seindiri. Apalagi rumah sakit tersebut adalah miliknya.


Intan menyunggingkan sebelah ujung bibirnya sedikit sambil ternganga. Ia tak percaya ternyata pikiran Zein sekotor itu. Padahal jika mereka menikah karena cinta, mungkin Intan tak akan berpikiran begitu.


"Kamu mau mandi atau mau mengulang yang tadi?" goda Zein.


Intan terkesiap. "Mandi!" jawabnya, cepat. Ia pun bergegas masuk ke kamar mandi.


Zein terkekeh melihat tingkah istrinya itu. "Apa sih yang ada di pikirannya? Udah nikah tapi sikapnya masih canggung begitu," gumam Zein. Lagi-lagi ia tidak sadar bahwa sikapnya sendiri yang membuat Intan seperti itu.


Ini kali pertama Intan masuk ke kamar mandi ruang kerja Zein. Ia tidak menyangka ternyata selain menyiapkan pakaian, Zein pun menyiapkan sabun dan perlengkapan mandi yang biasa ia pakai.


Intan menoleh ke arah pintu. 'Sebenarnya dia ini kenapa, sih? Mulutnya jahat banget, tapi sikapnya malah bikin aku meleleh kayak gini,' batin Intan.


Ia sangat galau menghadapi kondisi seperti itu. Sebab antara sikap dan ucapan Zein sangat tidak singkron. Bahkan tadi Zein memeluknya seperti suami yang sangat mencintai istrinya. Namun ucapannya tetap membuat hati Intan kesal.


"Apa dia punya kepribadian ganda, ya? Hiih, kalau bener kayak gitu, serem banget," gumam Intan sambil merinding. Ia tidak tahu, masalah Zein hanya di ego. Seandainya ia bisa menurunkan gengsinya sedikit saja, pasti hubungan mereka akan semakin membaik.


Akhirnya Intan pun mandi. Tubuhnya terasa begitu segar kala air shower mengalir dari kepala hingga ke ujung kaki. Sebab sejak tadi ia merasa lengket karena sempat berkeringat saat sedang bergulat dengan suaminya itu.


Selesai mandi, Intan mengenakan pakaiannya di dalam kamar mandi. Ia tidak ingin dianggap menggoda Zein jika mengenakan pakaian di hadapan suaminya itu.


"Yah, kenapa gak ada hair dryer, sih?" gumam Intan. Ia tidak mungkin keluar dari ruangan Zein dalam kondisi rambut yang basah seperti itu.


Akhirnya Intan pun keluar dari kamar mandi dan memberanikan diri untuk bertanya pada Zein.


"Permisi, Prof. Apa di sini ada hairdyer?" tanya Intan hati-hati.


Zein yang sedang serius bekerja pun menoleh ke arah Intan. "Hem ... ini kan bukan hotel," sahut Zein.


“Saya hanya bertanya. Barangkali ada," ucap Intan, kesal.


Melihat rambut Intan basah, Zein pun merebut handuk kecil yang ada di tangan istrinya itu.


"Lho, kenapa, Prof?" tanya Intan, bingung.


Zien tidak menjawab pertanyaan Intan. Kemudian ia berjalan ke sofa lalu duduk di sana. "Sini kamu!" ucapnya pada Intan.


Intan pun hanya menurut atas permintaan Zein. "Iyah?" tanyanya.


"Duduk!" pinta Zein sambil menepuk bagian sofa yang ia duduki. Tepat di sebelahnya.


Intan pun duduk dengan ragu. Setelah itu Zein memutar tubuh Intan agar memunggunginya. Lalu ia mengeringkan rambut Intan dengan handuk.


Lagi-lagi ia membuat hati Intan meleleh. Bagaimana tidak? Sikap Zein yang mau mengeringkan rambut istrinya itu benar-benar seperti suami yang sangat perhatian pada istrinya.

__ADS_1


Namun, ketika hati Intan sedang berbunga-bunga, tiba-tiba Zein menyeletuk. "Ternyata punya istri itu merepotkan, ya?" gumam Zein sambil mengeringkan rambut Intan. Padahal Intan tidak pernah memintanya melakukan hal seperti itu.


__ADS_2