
Merea semua saling memandang kala Zein melintas dengan kondisi rambutnya yang basah itu.
"Basah, Guys," gumam salah seorang suster.
"Kok bisa, sih?"
"Ya bisalah. Rumah sakit punya dia, kok."
"Iya, sih. Tapi apa gak takut kegap, ya?"
"Kalau kegap juga pasti yang masuk tanpa izin yang disalahin."
"Iya juga, ya. Tapi istrinya lagi sakit gitu. Kasihan, deh."
"Kasihan kenapa? Pasti istrinya seneng juga, lah. Masa ngelayanin suami sendiri dikasihanin? Emangnya dia disiksa?"
"Ya kan lagi sakit pasti lemas."
"Anggap aja itu mah booster. Apalagi kalau suaminya 'pinter', yang ada malah semangat, kali."
"Kira-kira Prof pinter gak, ya?"
"Hus! Gak usah ngebayangin!"
"Hehehe, ya gak bisa dapetin yang kayak gitu, minimal ngebayanginlah."
Mereka malah sibuk membahas Zein yang baru saja melintas. Seolah tidak memiliki pekerjaan. Padahal masih banyak laporan yang harus mereka kerjakan.
Tiba di ruangan VVIP, Zein bergegas masuk ke tempat pasien tersebut dirawat. "Bagaimana kondisinya?" tanya Zein, serius.
Suster pun menjelaskan kondisi pasien tersebut. Kemudian Zein langsung melakukan tindakan yang tepat untuk menangani pasien itu.
Sebenarnya perawat agak bingung karena pakaian Zein cukup santai dan rambutnya basah. Namun mereka tidak memiliki waktu untuk sekadar memikirkan hal seperti itu.
Zein selalu terlihat keren jika sedang melakukan tindakan. Ekspresinya yang serius dan tenang itu membuatnya begitu berkarisma.
Beberapa menit kemudian, Zein sudah selesai menangani pasien tersebut. Beruntung kini kondisinya sudah kembali stabil.
"Alhamdulillah sekarang kondisinya stabil. Tapi jangan sampai lengah! Pantau terus kondisi pasien! Jika ada sesuatu, langsung telepon saja! Saya ada di ruangan istri saya," ucap Zein. Kemudian ia pun berlalu.
"Baik, Prof!" sahut perawat.
"Ooh, pantesan. Aku lupa istrinya lagi dirawat di sini," gumam perawat sambil menatap kepergian Zein.
Zein sudah tiba di ruangan Intan.
Ceklek!
Mendengar suara pintu terbuka, Intan pun menoleh ke arahnya. "Udah selesai, Mas?" tanyanya.
"Udah, Sayang. Kamu mau makan apa?" Zein balik bertanya.
"Belum lapar, Mas," sahut Intan.
"Sayang, kamu kan harus makan. Ini sudah sore, lho. Masa gak mau makan terus, sih?" keluh Zein. Kemudian ia duduk di samping istrinya.
"Ya namanya belum lapar, Mas. Tadi aku makan lumayan banyak pas disuapi sama Mamah," jelas Intan.
Ia memang merasa kenyang karena sudah disuapi oleh mertuanya. Sehingga saat ini dirinya belum mau makan.
"Tapi nanti harus makan ya, Sayang!" pinta Zein.
"Iya, nanti kalau lapar aku pasti makan. Dari pada sibuk nyuruh aku makan, mendingan kamu yang makan, deh! Jangan sampai karena kamu ngurusin aku, terus malah Mas yang jadi sakit. Sebelum memperhatikan orang lain, perhatikan diri kamu sendiri, Mas!" nasihat Intan.
Zein tersenyum. "Kamu itu kan bukan orang lain, Sayang," ucapnya.
"Maaass!" Intan kesal karena Zein selalu bisa menjawab ucapannya.
"Hehehe, iya sayang, Iya ... sebentar lagi juga yang nganterin makanan datang. Kamu tenang aja, ya!" ucap Zein.
Ia memang selalu dilayani untuk urusan makan. Sehingga Zein tidak perlu repot memikirkan bagaimana makanannya.
"Mas bukannya ada jadwal untuk ke kantor pusat, ya?" tanya Intan.
Ia ingat suaminya harus mempersiapkan peluncuran buku barunya.
"Iya, Sayang. Tapi Mas tunda dulu. Itu masih bisa diurus nanti, kok," sahut Zein.
"Mas, aku gak mau jadi penghalang karir kamu, ya. Kemarin kamu harus terbang ke Timur untuk menjemput aku. Padahal sebenarnya Papah meminta kamu fokus mempelajari tentang management rumah sakit," ucap Intan.
"Sekarang kamu malah mau menunda peluncuran buku juga. Aku gak mau jadi benalu dalam hidup kamu, Mas. Lebih baik jalani semuanya sesuai rencana. Aku masih bisa sendiri, kok. Aku yakin para perawat di sini pun pasti membantuku," lanjutnya, gemas.
Zein menatap istrinya dengan tatapan nanar. Ia benci jika diusir oleh Intan. Apa apun alasannya. Sebab dirinya selalu ingin dekat dengan istrinya itu.
"Kamu itu lagi sakit, jangan banyak protes!" ucap Zein, sebal. Kemudian ia berlalu ke sofa dan duduk di sana. Zein tidak ingin berdebat dengan Intan.
"Hem ... mulai, deh. Ngambek. Dasar bapak ngidam!" gumam Intan. Ia pun gemas melihat sikap Zein yang mudah merajuk itu.
Tidak hanya Intan yang sedang hamil. Suaminya pun jadi lebih sensitif semenjak istrinya itu mengandung.
Intan geleng-geleng kepala saat melihat Zein duduk sambil menekuk wajahnya.
"Duh, kok tiba-tiba perutku pingin diusap-usap, ya?" gumam Intan sambil mengusap perutnya. Matanya melirik ke arah Zein. Berharap suaminya itu mendengar ucapannya. Ia yakin Zein yang sedang merajuk akan luluh jika mendengar ucapannya itu.
Tebakkannya pun benar. Zein langsung menoleh ke arah Intan. Kemudian ia beranjak dan mendekat padanya. "Kamu mau diusap-usap?" tanyanya.
Intan tertawa dalam hati. Ia senang karena berhasil menaklukan suaminya. Ia pun mengangguk manja. "Iya, kayaknya kalau diusapin enak, deh," ucapnya.
"Ya udah, sini biar Mas usap-usap!" ucap Zein. Kemudian pria itu duduk dan mengusap perut istrinya. Tak lupa Zein pun mengajak anaknya itu berbincang.
__ADS_1
"Hai, Baby ... Ayah yakin kamu akan jadi anak yang hebat. Tolong kerja samanya ya, Sayang. Kamu harus mau makan biar ibumu bisa sehat selalu," bisik Zein sambil mengusap perut Intan.
Intan mengerutkan keningnya. "Mas!" panggilnya.
"Iya, Sayang?" Zein seolah lupa bahwa tadi ia sempat kesal pada Intan.
"Mas maunya dipanggil Ayah-Ibu?" tanya Intan.
Zein pun mengangguk. "Yap!" sahutnya.
"Kenapa? Bukannya waktu itu kamu pingin panggilan yang lain?" tanya Intan lagi.
Zein menggelengkan kepala. "Aku sudah yakin ingin panggilan Ayah-Ibu. Kita ini kan orang Indonesia. Jadi harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar," ucap Zein.
Intan mengulum senyuman. "Emangnya panggilan yang lain gak benar?" ledeknya.
"Bukan begitu. Tapi menurutku Ayah dan Ibu itu memiliki makna tersendiri. Entah, aku pun tidak bisa menjelaskannya. Mungkin karena lebih formal."
"Dasar Profesor! Semuanya harus sesuai kaidah," ucap Intan.
"Ya iya, dong. Sebagai Profesor, aku harus memberi contoh yang baik dan benar," sahut Zein, bangga.
Tak lama kemudian makanan untuk Zein datang.
Tuk, tuk, tuk!
"Masuk!" sahut Zein.
Ceklek!
"Permisi, Prof. Ini makanannya mau taruh di mana?" tanya staf yang mengirimkan makanan.
"Oh, itu simpan di sana aja!" sahut Zein, sambil menunjuk meja makan.
"Baik, Prof!" sahut staf itu. Ia pun langsung membawanya ke meja makan dan menatanya di sana.
Setelah itu ia pamit, meninggalkan ruangan tersebut.
"Ya udah kamu makan, sana!" ucap Intan.
"Kamu juga, ya? Mas suapin pake tangan. Mau?" tawar Zein.
Intan mengangguk sambil tersenyum. Ia memang paling senang jika disuapi menggunakan tangan langsung.
Saat mereka berdua sedang makan, dokter yang tadi hendak memeriksa Intan pun datang kembali.
Tuk, tuk, tuk!
"Masuk!"
"Permisi!" ucap dokter itu, hati-hati.
"Silakan masuk, Dok!" ucap Zein saat melihat ada dokter dan suster di ambang pintu.
Tanpa ragu Zein tetap menyuapi istrinya. "A dulu sebelum diperiksa!" ucap Zein sambil menyodorkan suapan pada Intan.
Intan pun melahapnya. Ia tidak mungkin berdebat di hadapan orang lain.
Seketika dokter dan suster pun saling melirik. Lagi-lagi mereka melihat pemandangan yang tidak biasa.
"MasyaaAllah ... ternyata Prof sangat perhatian pada istrinya, ya?" ucap dokter itu.
"Harus dong, Dok! Kalau bukan saya, siapa lagi? Saya tidak mau Intan mencari perhatian dari pria lain dengan alasan kurang diperhatikan oleh suaminya sendiri," jawab Zein.
Dokter dan suster pun jadi salah tingkah mendengarnya.
'Duh, kenapa jadi aku yang melting, sih?' batin dokter.
'Ya ampun, jadi makin pingin punya suami kayak Prof,' batin suster itu.
"Jadi mau diperiksa sekarang atau tunggu selesai makan?" tanya dokter. Ia tidak ingin mengganggu mereka.
"Nanti saja kalau sudah selesai makan!" jawab Zein. Ia pun tidak ingin makannya Intan terganggu.
"Sekarang aja, Mas! Dokter juga kan banyak urusan. Masa harus nunda cuma gara-gara nunggu aku makan?" timpal Intan. Seandainya ia tahu tadi mereka sudah datang, mungkin Intan akan lebih tidak enak hati.
"Oh, ya sudah kalau begitu," sahut Zein.
Hal itu membuat dokter dan Suster merasa bahwa Zein penurut. Padahal ia hanya menuruti sesuatu yang memang masuk akal. Zein pun tegas jika memang ada hal yang menurutnya kurang baik.
"Permisi!" ucap dokter. Ia memeriksa Intan dibantu oleh suster.
Sementara Intan diperiksa, Zein tetap menyuapi istrinya. Ia tak peduli meski ada orang di sana. Baginya yang terpenting Intan makan.
"Mas, haus," ucap Intan.
"Tunggu sebentar!" sahut Zein. Ia menaruh piring yang ada di tangannya, kemudian mengambilkan minuman. Lalu menyodorkannya ke Intan.
"Minum yang banyak biar gak dehidrasi ya, Sayang!" ucap Zein dengan begitu lembut.
Seketika dokter dan suster pun merasa seperti obat nyamuk. Rasanya mereka ingin segera keluar dari tempat itu.
"Alhamdulillah semuanya oke. Kalau tidak ada keluhan lagi mungkin sore ini atau besok pagi dokter Intan bisa segera pulang dari rumah sakit," ucap dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih, Dok," jawab Intan.
"Iya, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu."
Dokter dan suster itu pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Intan sudah sehat kembali. Ia pun mulai beraktifitas dan sudah mau makan seperti biasa. Namun dengan catatan, makannya harus disuapi oleh Zein.
Sehingga mau tidak mau Intan harus ikut ke mana pun suaminya itu pergi.
"Sayang, persiapan pernikahan kalian sudah 50%. Siang ini kalian harus fitting gaun. Bisa, kan?" tanya Rani melalui sambungan telepon.
Saat ini Intan sedang bekerja di bangsal VVIP. "InsyaaAllah bisa, Mah. Nanti aku coba tanya Mas Zein, semoga dia gak sibuk," jawab Intan.
"Oke, kalau begitu nanti Mamah tunggu di butiknya, ya."
"Iya, Mah. Kita ketemuan di sana aja! Kalau Mas Zein gak bisa, nanti biar aku pergi sendiri," sahut Intan.
"Jangan pergi sendiri. Kalau Zein gak bisa, biar Mamah yang jemput. Kamu kabari aja, ya!" ujar Rani.
"Iya, Mah."
Setelah pamitan, Rani pun memutus sambungan teleponnya.
"Sus, saya tinggal sebentar, boleh?" tanya Intan pada suster yang sedang berjaga. Kebetulan Intan baru saja selesai memeriksa pasien yang dirawat di sana.
"Silakan, Dok!" jawab suster.
Intan pun pergi menuju poli. Sebab ia yakin saat ini suaminya sedang praktek di sana.
Melihat kehadiran Intan di poli, para perawat pun senang. "Pagi, Dok!" sapa perawat yang pernah bekerja dengan Intan.
"Pagi, Sus. Prof ada?" tanya Intan.
"Ada, Dok. Silakan masuk!" Suster pun membukakan pintu ruangan Zein. Kebetulan di dalam sedang tidak ada pasien.
"Terima kasih ya, Sus," ucap Intan. Lalu ia masuk ke ruangan suaminya itu.
Mendengar suara istrinya, Zein langsung menoleh. Senyumannya mengembang kala melihat Intan ada di ambang pintu.
"Wah ... ada angin apa nih tiba-tiba istri datang ke sini?" ucap Zein. Ia senang melihat Intan datang ke ruangannya.
Sebab, semenjak pernikahannya diumumkan, Intan belum pernah datang ke ruangan praktek Zein.
"Emang gak boleh aku datang ke sini?" tanya Intan, sambil mendekat ke kursi suaminya.
"Ya boleh dong, Sayang. Malah aku seneng banget. Kalau bisa sering-seringlah datang ke sini! Biar aku semangat kerjanya," sahut Zein.
Intan senyum-senyum sambil melihat-lihat ruangan itu.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Zein sambil mengerutkan keningnya.
"Gak apa-apa, aku lagi inget sesuatu aja, hehe," jawab Intan.
"Ingat apa?" tanya Zein lagi. Matanya memicing ke arah Intan karena khawatir sesuatu yang diingat oleh Intan memalukan.
Intan menggelengkan kepala. "Ada, deh," ucapnya, sambil merangkul Zein.
"Hem ... kamu pingin lihat aku marah, ya?" ancam Zein. Ia sebal karena Intan sudah membuatnya penasaran.
"Emang kamu masih mau marahin aku?" tantang Intan.
"Masih! Tapi marahnya pakai cara lain," jawab Zein sambil menaik turunkan alisnya.
"Huuu! Itu sih kesukaan kamu!"
"Udah cepetan cerita! Kamu ingat apa?" Zein sudah tidak sabar ingin segera mendengar cerita istrinya itu.
"Ya udah iya aku cerita. Aku ingat dulu aku sering banget dimarahin dan dibentak di ruangan ini. Sama kamu," ucap Intan sambil mencubit hidung Zein.
"Hem ... masa yang diinget yang itu aja?" tanya Zein, sebal. Namun ia sadar memang tidak ada kenangan manis di ruangan itu.
"Emang apa lagi yang bisa aku ingat selain itu, Mas? Emang selama aku di sini kan selalu dimarahin sama kamu."
"Ya apa, kek. Misalnya ilmu yang kamu dapat dari aku, gitu!"
"Hehehe, ya kalau ilmu sih alhamdulillah dan terima kasih. Oh iya, aku ada ingat kejadian lucu yang gak akan pernah aku lupain," ucap Intan antusias.
"Apa, tuh?" tanya Zein.
Intan tersenyum penuh misteri. Ia malu untuk mengatakannya. Hal itu pun berhasil membuat Zein penasaran setengah mati.
"Ayolah, Sayang! Kamu jangan bikin aku kesal!" pinta Zein, manja.
"Kamu inget gak kejadian yang kaki aku terkilir?" bisik Intan.
Zein langsung memicingkan matanya ke arah Intan. "Hemmm ... yang kamu nendang senjata aku?" Ia pun ingat akan hal itu.
Intan menganggukkan kepala sambil mengulum senyuman.
"Gimana rasanya, Mas?" tanya Intan sambil tersenyum.
"Ya sakit, lah! Kamu nih sembarangan banget. Makanya aku nikahin kamu biar bisa tanggung jawab sekaligus kasih hukuman ke kamu karena udah nendang senjata paling berharga aku. Untung gak kenapa-kenapa!" ucap Zein, kesal.
Ia sangat emosi jika mengingat hal itu. Sebab Zein khawatir itu akan memperngaruhi masa depannya.
"Oooh, jadi Mas sengaja nikahin aku karena itu? Terus Mas juga sengaja gak pernah ngasih aku ampun karena balas dendam?" tanya Intan, sebal.
"Salah satunya itu. Tapi lebihnya sih karena cinta," ucap Zein sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Yakin? Tapi kok aku lebih merasa dendamnya lebih banyak, ya? Soalnya kamu kalau udah begitu suka lupa diri. Mana semangat banget, pula," ujar Intan sambil menekuk wajahnya.
"Ya semangatlah. Namanya juga punya istri seksi kayak kamu. Apalagi ditambah cinta. Jadi semangatnya double," jawab Zein sambil menarik Intan ke pangkuannya.
"Mas, nanti ada orang!" ucap Intan sambil berusaha berontak.
__ADS_1
"Gak akan ada yang berani masuk. Apalagi mereka tahu istriku ada di sini," sahut Zein sambil memeluk Intan.
"Oh iya, aku jadi ingat sesuatu. Kenapa waktu itu kamu malah ngelus sambil niupin senjata aku? Kamu sengaja, ya?" tanya Zein, sambil menatap istrinya dan tersenyum nakal.