Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
28. Malam Pertama


__ADS_3

Intan terkesiap saat mendengar jawaban suaminya itu. "Hah, lingerie?" tanyanya, gugup.


"Iya, saya tidak mau bersusah payah melepaskan pakaian kamu. Jadi lebih baik kamu pakai itu!" sahut Zein, santai. Padahal intinya Zein ingin melihat bagaimana seksinya Intan mengenakan pakaian tersebut.


"Tapi, Prof. Saya tidak pernah memakai benda ini. Lagi pula ini sangat memalukan," keluh Intan. Ia merasa Zein sangat keterlaluan karena sudah menyuruhnya menggunakan pakaian yang seperti jaring ikan tersebut.


"Oke kalau kamu tidak mau pakai itu. Kamu bisa pakai bath robe supaya lebih mudah. Atau bila perlu sekalian saja kamu tidak usah menggunakan pakaian," ucap Zein sambil berlalu masuk ke kamar mereka. Ia tak ingin mendengar bantahan Intan lagi.


Intan memicingkan matanya ke arah Zein. Ia semakin kesal karena sikap arogan suaminya itu.


"Seandainya dia bukan suami aku, pasti aku sudah lempar paper bag ini ke wajahnya. Dasar mesum!" gumam Intan sambil menggeretakkan giginya.


"Lebih baik kamu cepat ganti pakaian! Atau kamu mau saya melakukannya di situ?" ancam Zein.


Intan terperanjat. Ia tidak menyangka ternyata profesor itu sangat mesum. Akhirnya ia berdiri dan membawa paper bag itu ke kamar mandi. Sebab ia tidak mungkin membiarkan Zein melakukannya di luar ruangan seperti itu.


Ia bahkan melewati Zein yang sedang duduk di sofa begitu saja. Zein pun tersenyum melihat Intan kesal seperti itu. Ia senang karena Intan menuruti permintaannya meski harus diancam lebih dulu.


Di kamar mandi, Intan mengeluh karena ternyata lingerie yang Zein berikan sangatlah seksi. "Ya Tuhan, ini sih gak pantes disebut pakaian. Nerawang banget," keluh Intan saat melihat lingerie itu.


"Maunya orang itu apa, sih? Bisa-bisanya dia nyuruh aku pakai pakaian seperti ini?" gumam Intan sambil menatap kesal ke arah pintu.


Akhirnya ia pun mengenakan lingerie tersebut. Sebab, jika dirinya memilih bath robe, ia khawatir Zein akan menganggapnya ingin mempermudah suaminya itu.


"Kenapa dia lama sekali?" gumam Zein sambil melirik ke arah pintu kamar mandi. Ia tidak sabar ingin segera melihat Intan mengenakan pakaian seksi itu.


Zein sangat gelisah menanti istrinya. Ia tidak sadar bahwa saat ini Intan sedang gelisah dan malu keluar dari kamar mandi dalam kondisi seperti itu.


"Ya ampun, muka aku mau taruh di mana kalau keluar kamar mandi pakai ini?" gumam Intan sambil menatap bayangannya yang ada di cermin.


"Dahlah, bodo amat! Toh sekarang dia udah jadi suami aku dan memang berhak atas tubuhku. Oke, Intan. Buang rasa malu kamu! Kamu pasti bisa," ucap Intan berusaha menyemangati dirinya.


Meski begitu, sebelum keluar dari kamar mandi, Intan menggunakan parfume dan merias wajahnya lebih dulu. Ia tidak ingin Zein mencelanya jika ada yang kurang dari dirinya.


"Oke, lets fighting!" gumam Intan. Setelah itu ia pun memberanikan diri keluar dari kamar mandi.


Ceklek!


Zein langsung menoleh ke arah pintu saat pintu tersebut dibuka oleh Intan. 'Woow, amazing,' batin Zein. Tenggorokannya langsung terasa kering saat melihat penampilan Intan begitu seksi. Zein pun menaruh majalah yang sedang ia pegang. Kemudian beranjak dan berjalan ke arah Intan.


"Intan salah tingkah. Ia khawatir Zein akan langsung menerkamnya. Namun ternyata Zein hanya melintas dan masuk ke kamar mandi.


"Huuh!" Intan menghela napas saat Zein masuk ke kamar mandi.


Kemudian ia berjalan ke arah jendela yang sudah ditutup oleh Zein. Sebab ia tidak ingin Zein berpikiran negatif jika dirinya menunggu Zein di tempat tidur.


"Lebih baik aku diam di sini," gumam Intan sambil berdiri menghadap jendela. Entah apa yang sedang ia pandangi. Pastinya saat ini Intan sedang gelisah karena sebentar lagi Zein akan mengambil haknya sebagai suami.

__ADS_1


"Huuh! Tenang, Intan. Kenapa sih aku gelisah banget? Padahal kan dia udah sah jadi suami aku. So, dia berhak dong atas tubuhku?" gumam Intan. Ia masih berusaha menenangkan hatinya.


Namun ketika mendengar suara pintu kamar mendi terbuka, hati Intan pun kembali gelisah. Ia bahkan tak berani menoleh.


'Ya ampun, kenapa horor banget, sih?' batin Intan. Jantungnya berdebar cepat kala Zein mendekat ke arahnya. Langkahnya terdengar seperti langkah hantu.


Deg!


Intan mengejat kala Zein memeluknya dari belakang. Kemudian ia mematung, bingung ingin melakukan apa.


"Jangan terlalu tegang! Saya bukan penjahat," bisik Zein. Setelah itu ia mengecup leher istrinya. Kala itu ia hanya mengenakan bath robe.


Seketika tubuh Intan meremang. Baru kali ini ada pria yang menyentuhnya seintens itu. Apalagi ketika Zein memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan.


"Tenang saja! Saya bukan pria egois. Jadi saya pastikan malam ini kamu tidak akan kecewa," ucap Zein lagi. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Intan. Akan tetapi Intan malah refleks mundur.


Zein yang pantang menyerah itu langsung menarik tengkuk Intan dan melahap bibirnya dengan cepat. Hingga Intan terbelalak, lalu berusaha melepaskannya. Akan tetapi Zein malah mendekapnya, seolah tak rela menyudahi pagutan tersebut.


Lidahnya memaksa masuk dan menjelajah semakin dalam, hingga akhirnya Intan pun terpejam, menikmati permainan suaminya tersebut. Apalagi Zein melakukannya dengan lembut, sehingga Intan masih bisa menikmatinya.


Setelah cukup puas, Zein melepaskan tautannya. Lalu ia menatap Intan dan mengusap bibirnya yang basah tersebut.


"Tubuhmu sudah menjadi milik saya. Jadi kamu harus ikhlas melakukannya," ucap Zein. Kemudian ia menarik tali kimono satin yang Intan kenakan. Lalu ia menurukan bagian yang menutupi bahu Intan dan membiarkan kimono itu jatuh.


Setelah itu Zein mengecup bahu Intan dan memeluknya. Kemudian, tangannya menarik tali lingerie yang berada di punggung Intan.


Set!


"Jangan dihalangi!" ucap Zein, lembut. Sambil menahan tangan Intan yang hendak menutupi bagian dadanya.


Intan pun memalingkan wajah karena merasa malu. Sementara Zein memandangi tubuhnya dengan penuh nafsu. Apalagi ketika melihat dua benda yang begitu menantang. Membuat tangan Zein gatal ingin meremasnya.


Puas memandangi tubuh itu, Zein pun kembali memeluk Intan. Lalu ia mengeksplorasi leher istrinya, kemudian tangannya menangkup dua benda yang sangat menantang tadi.


Intan terperanjat kala Zein melakukan hal itu. Ia sangat risih, tetapi ia merasakan ada sensasi yang tak biasa kala Zein memainkan pucuknya. Apalagi saat ini lehernya sedang dijelajah oleh lidah Zein, membuat Intan menggeliat karena tak tahan akan sensasinya.


Mendengar napas Intan mulai tak beraturan, Zein pun kembali melahap bibir istrinya itu. Kemudian ia berputar, lalu maju perlahan. Sehingga Intan mundur dan semakin mendekat ke tempat tidur.


Intan menelan saliva kala sudah tidak bisa mundur lagi. Dorongan tubuh Zein itu membuatnya mau tidak mau duduk secara perlahan. Hingga akhirnya tubuh Intan rebah dan dikungkung oleh suaminya itu.


Akhirnya malam itu Zein pun mengambil apa yang telah menjadi haknya. Sementara Intan tidak bisa menolak. Ia hanya bisa pasrah dan ternyata tubuhnya justru menikmati apa yang Zein lakukan padanya. Sebab, Zein melakukannya dengan lembut, sehingga Intan merasa seperti dicintai.


Keesokan harinya, mereka bangun kesiangan. Sebab semalaman Zein menggempur Intan sampai ia melakukan pelepasan beberapa kali.


Saat membuka matanya, Zein tersenyum karena melihat Intan masih tertidur pulas. Ia merasa bangga karena semalam Intan sampai minta ampun padanya.


"Sepertinya kamu sangat puas," ucap Zein sambil mengusap kepala Intan. Setelah itu ia mengecup kening Intan dan turun dari tempat tidur.

__ADS_1


Zein pun langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang rileks itu.


"Argh! Segar sekali," gumam Zein saat air shower mengalir dari kepalanya.


Sementara itu, Intan baru saja membuka matanya. Ia merasa masih sangat lemas. Tubuhnya pun seolah tak bertulang.


“Ke mana, dia?” gumam Intan saat tak melihat suaminya. Entah mengapa saat membuka mata, Intan langsung memikirkan Zein. Sebab ia ingat betul betapa gagah suaminya semalam.


Wajah Intan pun merona kala mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Bahkan Intan malu kala ingat dirinya terhanyut dalam permainan Zein.


Intan menutup wajahnya dengan selimut. “Kenapa aku malah begitu, sih?” gumam Intan, kesal pada dirinya sendiri. Sebab semalam ia menuruti permintaan Zein yang menyuruhnya untuk bergoyang di atas tubuh Zein.


Saat menikmati pergulatan mereka semalam, akal sehat Intan seolah tak berjalan, tertutup oleh hawa nafsu. Sehingga ia hanya mengikuti arahan Zein agar mendapatkan kenikmatan. Sebab ia ketagihan setelah melakukan pelepasan pertama kali.


Ketika pelepasan pertama, Intan cukup pasif dan ia hanya pasrah atas apa yang dilakukan oleh suaminya.


“Gimana caranya aku berhadapan sama dia? Malu banget, ini,” gumam Intan. Ia belum siap untuk berhadapan dengan Zein.


Beberapa saat kemudian, Zein sudah selesai mandi dan ia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk sebatas pinggang.


"Sudah bangun," sapa Zein saat melihat Intan sudah membuka matanya.


Intan bingung hendak menjawab apa. Ia tidak tahu hendak menjawab apa karena pikirannya sedang berkelana. Berusaha mengingat apa saja kelakuan bodoh yang ia lakukan semalam.


"Sepertinya kamu kelelahan. Lebih baik sarapan dulu baru mandi! Dari pada kamu pingsan, nanti," ucap Zein.


Setelah itu ia mengambil nampan berisi makanan yang terletak di meja yang ada di teras kamar mereka. Sebab sebelumnya ia sudah memesan pada pihak hotel untuk mengirimkan sarapan mereka dan menaruhnya di sana.


Ia pun menaruh nampan di meja makan dan mengambil satu mangkuk bubur lalu membawanya ke dekat Intan. "Apa kamu bisa makan sendiri?" tanya Zein.


Ia ingat betul semalam Intan kelelahan bahkan tubuhnya sampai gemetar. Sehingga ia khawatir istrinya itu tidak bisa makan sendiri.


"B-bisa, Prof," jawab Intan.


"Oke." Zein pun menaruh bubur itu di atas nakas yang ada di samping Intan.


Kemudian Intan mengambil bath robe dan menggunakannya. Lalu ia mengambil gelas berisi air dan Zein dapat melihat bahwa tangan Intan masih gemetar.


Zein menyeringai, kemudian ia duduk di samping Intan.


"Kamu itu jangan terlalu sombong. Masih gemetar begitu saja bilang bisa makan sendiri," ucap Zein. Kemudian ia mengambil gelas yang ada di tangan Intan dan membantu istrinya itu minum.


***


Yuhuu, detail MP-nya gak aku post di sini, ya. Kalau ada yang minat, silakan DM ke IG @justmommy2020. Kalau gak minat, ya gak masalah. Ini buat yang mau aja. Dilarang protes, hehe.


Oke, happy rading, Guys!

__ADS_1


See u,


JM.


__ADS_2