
Intan bingung harus kesal atau senang. Satu sisi sikap Zein terlihat begitu manis. Namun di sisi lain ucapannya masih saja menyebalkan.
"Terima kasih," ucap Intan dengan suara parau. Sebenarnya ia sangat canggung melihat Zein hanya menggunakan handuk seperti itu. Apalagi di tubuhnya masih ada bulir-bulir air yang belum kering. Membuat tubuh pria itu terlihat begitu seksi.
Setelah itu Intan berusaha mengambil mangkuk bubur yang ada di mejanya dengan tangan yang masih gemetar.
Zein pun menepis tangan itu, kemudian ia mengambil mangkuk yang ada di meja lalu menyuapi Intan. "Udah gak usah sok kuat!" ucap Zein, sambil menyodorkan satu sendok bubur ke mulut Intan.
Intan tidak langsung menyuapnya, ia menatap Zein lebih dulu. Seraya bertanya-tanya mengapa pagi ini pria itu begitu baik padanya.
"Sudah jangan berpikir macam-macam! Saya hanya bertanggung jawab karena kamu seperti ini akibat ulah saya," ucap Zein. Ia tahu apa yang ada di pikiran Intan.
Akhirnya Intan yang sudah merasa lapar pun menyuap bubur itu dan mengunyahnya.
"Apa tidak sebaiknya Prof menggunakan pakaian lebih dulu?" tanya Intan sambil menatap ke arah jendela.
Zein menunduk dan melihat kondisi tubuhnya. Sebelah ujung bibirnya pun terangkat. "Kenapa? Kamu tergoda?" tanyanya, dengan penuh percaya diri.
Intan menggelengkan kepala dengan cepat. "Bukan begitu, Prof. Saya hanya tidak nyaman karena belum terbiasa," ucap Intan. Ia tidak habis pikir mengapa Zein sangat percaya diri seperti itu.
"Kalau begitu mulai sekarang kamu harus mulai terbiasa. Sebab kamu akan melihatnya setiap hari," ucap Zein, santai. Ia malah sengaja ingin menggoda Intan karena reaksi Intan gugup seperti itu.
Intan menelan saliva. 'Dia tuh aneh banget, sih?' batin Intan. Ia tidak habis pikir mengapa Zein bisa bersikap seolah mereka ini suami istri yang menikah karena cinta. Padahal ia ingat betul Zein selalu mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai Intan.
"Sepertinya tidur kamu cukup nyenyak semalam, sampai mendengkur seperti itu," ucap Zein sambil menyendok buburnya kembali. Ia berusaha memecah keheningan di kamar mereka pagi itu.
Deg!
"Heuh?" Intan tidak merasa pernah mendengkur.
"It's oke. Saya tidak akan komplain karena mungkin semalam kamu kelelahan," ucap Zein. Ia sengaja ingin meledek Intan.
'Masa iya aku mendengkur? Perasaan selama ini aku gak pernah ngorok, deh,' batin Intan. Ia tak ingin mempercayai Zein. Namun ia tetap tidak enak hati dan takut ucapan Zein itu benar.
Zein mengulum senyuman. Ia merasa lucu karena Intan percaya akan ucapannya. Apalagi saat ini wajah Intan terlihat begitu serius. Padahal dirinya hanya bercanda.
"Tapi ternyata kamu pinter juga ya goyangnya," ucap Zein lagi.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Sontak saja Intan tersedak. Wajahnya langsung merah padam karena malu. Dalam kondisi sadar, ia tidak mungkin melakukan hal itu. Akan tetapi semalam ia sangat terhanyut oleh permainan Zein. Sehingga Intan begitu asik bergoyang di atas tubuh suaminya seolah tak memiliki rasa malu.
"Pelan-pelan makannya!" ucap Zein sambil memberikan gelas berisi air mineral. Lagi-lagi ia tersenyum melihat sikap Intan yang seperti itu. Padahal ia tahu Intan tersedak karena pertanyaannya.
"Tolong jangan bahas hal itu, Prof!" pinta intan, sopan. Ia tidak sanggup mendengar pembahasan mengenai apa yang mereka lakukan semalam. Mengingatnya saja malu.
"Kenapa? Bukankah semalam kamu sangat menikmatinya? Bahkan tubuh saya sampai kamu banjiri. Apa salahnya dibahas?" tanya Zein, santai. Kemudian ia menyuapkan buburnya lagi ke mulut Intan.
Intan yang sudah kesal itu menolak suapan Zein. Ia merasa Zein sengaja ingin mempermalukannya.
"Lebih baik makan ini dari pada nanti kamu sakit. Saya juga yang repot," ucap Zein.
Mendengar ucapan sarkas suaminya itu, akhirnya Intan pun menyuap buburnya lagi. Ia tidak ingin nanti Zein akan menceramahinya jika sampai dirinya jatuh sakit.
"Saya hanya ingin mengatakan bahwa apa yang saya ucapkan terbukti," ucap Zein.
Intan menoleh ke arah Zein, seolah menanti kelanjutan ucapan Zein.
"Untuk melakukan hal itu tidak butuh cinta. Buktinya semalam kamu bisa melakukannya. Bahkan terlihat sangat menikmati sekali," ucap Zein lagi. Ia sangat senang membahas permainan mereka semalam.
Intan menelan salivanya. 'Ni orang beneran psikopat kayaknya,' batin Intan.
"Mulai sekarang kamu harus siap kapan pun saya mau!" ucap Zein sambil menatap Intan. Ternyata ucapannya tadi hanyalah modus untuk membuka omongannya yang satu ini.
"Kenapa sih Anda sangat jahat pada saya?" tanya Intan. Ia sudah sangat kesal pada suaminya itu. Sehingga memberanikan diri untuk protes.
Zein mengerutkan keningnya. "Jahat?" tanyanya.
Intan menganggukkan kepala. "Ya, saya tahu Anda menikahi saya hanya untuk dijadikan sebagai pelengkap hidup Anda. Tapi apa harus seperti ini?" tanya Intan lagi. Ia kesal dan merasa dipermainkan oleh Zein.
__ADS_1
"Maksudnya?" Zein masih tidak paham. Ia tidak merasa mempermainkan Intan.
"Saya lebih merasa seperti boneka yang bisa dimainkan kapan saja dan diabaikan ketika Anda tidak butuh," ucap Intan sambil memalingkan wajah.
Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. "Memangnya kamu mau seperti apa? Kalau saya jahat, sudah pasti saya akan mencari kepuasan sendiri. Tapi buktinya semalam, bahkan kamu yang melakukan pelepasan lebih banyak dari saya. Justru harusnya saya yang menagih hutang kamu agar imbang," ucap Zein, tanpa dosa.
Intan ternganga. "Maaf, ini sangat tidak lucu," ucap Intan, ketus.
"Memangnya siapa yang sedang berkomedi? Saya hanya mengatakan fakta. Apa kamu lupa bagaimana semalam kamu menikmatinya?" tanya Zein lagi. Ia sangat senang mengulang kalimat itu.
Sebenarnya Zein ingin menunjukkan pada Intan bahwa dirinya mampu memberikan kepuasan bagi Intan.
"Prof! Tolong jangan dibahas!" keluh Intan lagi. Matanya berkaca-kaca.
Melihat Intan berkaca-kaca, akhirnya Zein pun diam. "Ya sudah, habiskan dulu buburnya!" ucap Zein. Ia tidak ingin melihat Intan menangis.
Zein pun menyuapi Intan sampai buburnya sisa setengah. "Udah kenyang," ucap Intan. Kemudian ia minum lalu langsung turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
"Sudah bergulat semalaman, masih saja canggung seperti itu," gumam Zein sambil geleng-geleng kepala. Ia tidak sadar bahwa sikapnya lah yang membuat Intan canggung terhadapnya.
Ia pikir setelah pergulatan semalam, hubungan mereka bisa lebih mencair. Layaknya suami istri. Sayangnya ia tidak tahu bagaimana cara menjadi suami yang baik. Selama ini ia terlalu sibuk bekerja, sehingga tidak pernah mencari referensi tentang hal itu.
Sekalinya mencari referensi pun hanya tentang malam pertama. Ia tahu harus melakukan dengan lembut agar istri bisa menikmatinya. Sehingga hal itulah yang ia lakukan semalam.
Zein pun menaruh mangkuk di meja, kemudian ia berjalan ke lemari untuk mengambil pakaiannya.
Namun, ketika hendak mengambil pakaian, Zein mendengar Intan sedang menangis di kamar mandi.
Zein mengerutkan keningnya. "Lho, dia kenapa nangis?" tanyanya, tanpa dosa.
Zein tidak sadar bahwa Intan menangis karena sikapnya yang tidak jelas. Ia hanya bisa bertanya-tanya sambil mengambil pakaian di lemari. Namun Zein tidak tega mendengar Intan menangis seperti itu.
"Kenapa dia lama sekali di dalam kamar mandi?" gumam Zein, sambil sesekali melirik ke arah kamar mandi.
Ia sangat penasaran mengapa Intan menangis.
"Pagi-pagi udah drama aja, sih. Kayak orang abis diperkosa, pake nangis segala," ucap Zein, sebal. Ia sebal karena tangisan Intan membuatnya gelisah dan merasa bersalah.
Zein yang sudah mengenakan pakaian itu pun duduk di meja makan dan menikmati sarapannya sendirian. Sebab tadi ia hanya menyuapi Intan dan belum sarapan.
Setengah jam kemudian Intan keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bath robe. Sebab tadi ia lupa membawa pakaian ke kamar mandi.
Ceklek!
Zein lega karena Intan sudah keluar dari kamar mandi. Ia pun melirik ke arahnya tanpa menoleh.
'Syukurlah dia sudah keluar,' batin Zein. Sebenarnya sejak tadi ia khawatir terjadi sesuatu terhadap Intan.
Intan pun kembali masuk ke kamar mandi untuk menggunakan pakaian. Ia tidak menoleh ke arah Zein sama sekali karena masih kesal pada suaminya itu.
Sebenarnya saat ini Intan sangat lelah. Rasanya ia hanya ingin berbaring di tempat tidur.
Namun ia sadar dirinya tidak mungkin rebahan di hadapan Zein. Sehingga Intan memilih untuk duduk di teras sambil memandangi pantai.
Setelah menggunakan pakaian, Intan keluar dari kamar mandi dan langsung berjalan ke arah teras tanpa menyapa Zein.
'Dia kenapa, sih?' batin Zein. Ia merasa tidak dianggap oleh Intan.
Zein yang sudah selesai sarapan pun beranjak dari duduknya. Kemudian ia membuntuti Intan dan ikut duduk di sofa bed yang berbentuk bundar dan memiliki sandaran itu.
"Kamu kenapa?" tanya Zein tanpa menoleh. Ia pura-pura menatap ombak.
"Bukan urusan Prof," sahut Intan. Ia terlihat kesal.
"Bagaimana mungkin bukan urusan saya? Saya kan suami kamu. Jadi saya berhak tahu apa yang terjadi pada diri kamu," ucap Zein, sedikit kesal.
Intan menoleh ke arah Zein. "Suami macam apa? Suami yang suka mengeksploitasi istrinya?" skak Intan.
Zein tercekat. "Kamu ini kenapa, sih? Bersikap seolah-olah menjadi korban. Padahal semalam kamu juga kan keenakan. Apa perlu saya buktikan bahwa kamu suka apa yang saya lakukan?" tanya Zein sambil menatap tajam Intan.
__ADS_1
Ia kesal karena Intan mencibirnya seperti itu.
Intan memilih diam. Ia sedang tidak ada tenaga untuk berdebat.
"Saya lelah, mau istirahat," ucap Intan. Kemudian ia menyandarkan punggungnya dan menggunakan kaca mata. Lalu memejamkan matanya.
Zein mengepalkan tangannya. Ia paling tidak suka jika Intan sudah kurang ajar seperti itu. Ia hanya ingin Intan patuh padanya.
'Sial! Kenapa dia makin berani padaku?' batin Zein.
Ditinggal tidur seperti itu, Zein pun mati gaya. Momen bulan madu yang seharusnya romantis pun hanya ada keheningan.
Akhirnya Zein memilih tidur di samping Intan. Sebab sebenarnya ia pun masih lemas sisa semalam.
Waktu berlalu, hari semakin terik dan kondisi di teras cukup panas.
Zein terbangun karena kegerahan. "Panas sekali," gumamnya. Kemudian ia pun memilih turun dan hendak pindah ke dalam.
Namun, ketika Zein ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, ia menoleh ke arah Intan. Zein pun tak tega meninggalkan Intan sendirian dalam kondisi kepanasan. Akhirnya ia memutuskan untuk menggendong Intan dan memindahkannya ke tempat tidur.
"Merepotkan saja," gumam Zein sambil mengangkat Intan.
Namun, ketika Intan sudah berada di gendongannya, bibir istrinya itu terlihat begitu seksi. Apalagi saat pandangannya beralih ke arah dada. Ternyata benda yang semalam sempat ia mainkan itu menyembul dan membuat tubuh Zein menegang.
Zein menelan saliva. 'Kenapa dia seksi sekali? Apa dia sengaja ingin menggodaku?' batin Zein. Seketika ia merasa kehausan.
Zein pun merebahkan Intan di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.
Saat ia hendak beranjak, dan menarik tangannya yang ada di bawah tubuh Intan, tiba-tiba Intan berbalik ke arahnya dan memeluk Zein tanpa sadar.
'Astaga! Kenapa dia malah begini, sih?' batin Zein. Meski mengeluh, tetapi Zein malah ikut merebahkan tubuhnya di samping Intan.
Jantung Zein berdebar kala berada di posisi seperti itu. Sebab kejadian semalam membuatnya selalu menginginkan tubuh Intan.
'Sepertinya kamu memang sengaja ingin menggodaku,' gumam Zein dalam hati.
Napas Zein mulai tersenggal. Apalagi ketika Intan menelusupkan wajahnya ke leher Zein. Sontak saja celana Zein pun terasa semakin menyempit.
'Kamu benar-benar!' gumam Zein, kesal. Akhirnya ia yang tak tahan itu langsung mencumbu Intan dan melancarkan aksinya kembali.
Saat Zein sedang berusaha melepaskan pakaian Intan, tiba-tiba istrinya itu terbangun. Ia sangat terkejut melihat Zein sudah berada di atas tubuhnya.
"Prof! Mau apa?" tanya Intan, panik.
"Kamu sudah menggoda saya. Jadi sekarang kamu harus bertanggung jawab!" ucap Zein. Kemudian ia menarik pakaian Intan hingga terlepas dan langsung menyergapnya.
Siang itu pun mereka kembali bergulat dengan peluh yang bercucuran karena kondisi di luar cukup panas.
Sebelumnya Zein sudah menutup jendela serta tirainya, sehingga ia bisa leluasa mengeksplorasi bungalow tersebut.
Intan yang baru bangun itu pun hanya bisa pasrah. Ia tak bisa menolak kenikmatan yang diberikan oleh suaminya tersebut. Jika sudah seperti itu, Intan seolah terhipnotis, sehingga ia mau melakukan apa pun yang Zein minta. Termasuk berdiri memunggunginya, sedikit membungkuk dan berpegangan pada meja TV.
Siang itu Zein seolah ingin menghabisi semua 'makanan' yang ada. Ia sangat bersemangat menikmati setiap inci dari tubuh istrinya itu.
"Ampun, Prof," lirih Intan saat ia sudah hampir kehabisan tenaga.
Mendengar suara Intan, Zein pun tidak tega padanya. Akhirnya ia segera menyelesaikan permainannya itu.
"Ayo mandi!" ajak Zein saat sudah selesai.
Intan pun terkesiap. Ia malu jika harus mandi bersama dengan Zein. Ia menggelengkan kepalanya. "Prof duluan saja," ucapnya. Kemudian Intan berjalan ke arah tempat tidur.
"Waktu dzuhur sudah hampir habis. Jika mandinya gantian, nanti keburu ashar," ucap Zein sambil menarik tangan Intan dan mengajaknya masuk ke kamar mandi.
***
Hai, ini momen bulan madu pengantin baru, ya. Maaf kalau agak menjurus.
See u,
__ADS_1
JM.