
Jantung Intan terasa seperti hampir meledak saat Zein mengatakan bahwa ia adalah istrinya. Meski Zein menyebalkan. Namun sebagai seorang gadis, disebut istri oleh pria, membuat Intan sangat nervous.
Intan memalingkan wajah karena khawatir Zein melihat wajahnya merona dan hidungnya kembang kempis karena hampir kehabisan oksigen. ‘Kenapa dia harus ngomong begitu, sih? Kan aku jadi malu,’ batin Intan.
Zein tersenyum kala melirik ke arah Intan. Ia sangat puas telah mengusili Intan seperti itu. Zein memang sengaja mengatakan bahwa Intan adalah istrinya. Ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi gadis itu. Ternyata sangat menyenangkan melihat Intan malu.
"Sudah cukup. Itu saja," ucap Zein pada pelayan.
Akhirnya pelayan pun pergi dan menyiapkan pesanan mereka.
Ehem!
Zein berdehem. "Apa kamu punya permintaan khusus untuk pernikahan nanti?" tembak Zein. Ia seperti bom yang siap meledak kapan saja. Ucapannya selalu membuat Intan terkejut.
Intan terkesiap. "Maaf, memangnya Om dan Tante (orang tua Zein) setuju jika menikah dalam waktu dekat?" tanya Intan. Sampai saat ini, napas Intan masih terasa sesak.
"Mereka justru senang jika pernikahannya dipercepat," sahut Zein sambil menatap Intan. Padahal ia sendiri belum mengatakan keinginannya itu pada orang tuanya.
Ditatap seperti itu, Intan pun langsung mengalihkan pandangannya. "Tapi kan kuliah saya belum selesai, Prof," ucap Intan.
"Kamu hampir selesai koas. Setelah itu ujian dan magang. Apa susahnya?" tanya Zein, santai.
'Apa susahnya dia bilang? Oh iya aku lupa, dia kan profesor, ya iyalah gak susah. Sementara aku? Kuliah S1 aja rasanya hampir semaput,' batin Intan sambil meremas celananya karena terlalu kesal pada Zein.
"Memangnya Prof tidak keberatan jika setelah menikah saya harus magang ke luar kota? Kan kita sama-sama tahu, magang kedokteran itu bisa dikirim ke mana saja," tanya Intan.
Ia tidak tahu, justru karena hal itu Zein ingin segera mengikatnya sebelum Intan pergi magang. Sebab, sebelumnya ia sudah terlanjur meminta pihak terkait untuk mengirim Intan ke perbatasan yang cukup jauh.
Zein sendiri tidak mungkin membatalkannya karena terlalu gengsi. Sementara permintaannya disetujui karena ia cukup mempunyai power.
__ADS_1
"Tidak masalah. Saya sudah biasa hidup mandiri. Ada atau tanpa ada kamu, sama saja," jawab Zein, santai. Sambil bersandar pada kursi. Ia bahkan memutar-mutar ponsel yang sedang ia pegang.
Intan menelan saliva. "Kalau begitu untuk apa Anda menikah? Kan sudah biasa mandiri? Sepertinya Anda sudah tidak butuh pendamping lagi," tanya Intan, nekat. Ia kesal atas jawaban Zein barusan.
‘Sialan! Ngapain mau buru-buru nikah kalau emang biasa mandiri. Dasar bajingan!’ Intan mengumpat dalam hatinya.
"Kan kamu tau, saya menikahi kamu karena permintaan orang tua," sahut Zein lagi. Ia tidak pernah kehabisan jawaban. Meski sebenarnya itu hanya omong kosong.
Intan sulit berkata-kata menghadapi pria egois seperti Zein. Rasanya ia ingin menyiram air ke wajah pria itu. Namun Intan tetap berusaha menahan diri agar tidak semakin terpancing emosinya.
"Oke, kalau begitu saya cuma mau minta satu hal," ucapnya, yakin.
"Apa?" Zein bertanya lagi..
"Saya hanya ingin pernikahan sederhana tanpa resepsi dan tidak perlu mengundang orang banyak. Bila perlu pernikahan ini dirahasiakan." Intan mengatakan hal itu sambil menahan napas. Sebab ia merasa sangat tertekan dengan tatapan Zein.
Ehem!
"Kenapa? Apa kamu malu menikah dengan saya?" tanyanya sambil memalingkan wajah. Sebenarnya ia sedang menahan kesal.
"Bukan begitu, Prof. Tapi perjalanan karier saya masih sangat panjang. Apalagi jika saya nanti harus bekerja di rumah sakit milik keluarga Prof, saya tidak ingin orang lain sungkan hanya karena saya menikah dengan Prof Zein," ucap Intan.
Ia tidak ingin menyebut dirinya sebagai istri Zein. Sebab, mendengar hal itu saja sudah membuat hatinya berdesir.
Zein bergeming. Tentu hal ini sangat berat baginya. Sebab, ia sudah merencanakan pernikahan dengan pesta yang megah dan akan mengundang seluruh rekan sesama dokter dan kerabat pentingnya.
"Kamu tahu kan saya anak pertama? Apa kamu yakin orang tua saya setuju dengan persyaratan kamu ini? Saya rasa mereka pasti menginginkan pesta pernikahan yang mewah," ucap Zein.
"Mengenai resepsi bisa dilakukan kapan saja, kan? Mungkin nanti jika saya sudah siap. Itu pun kalau pernikahannya masih berlanjut," ucap Intan, pelan.
__ADS_1
Zein mengerutkan keningnya. "Maksud kamu apa? Apa kamu pikir pernikahan adalah sebuah permainan yang bisa dimulai dan diakhiri kapan saja?" tanya Zein. Ia kesal mendengar ucapan Intan barusan.
"Tentu tidak, Prof. Tapi saya tidak yakin jika pernikahan pasangan yang tidak pernah saling mencintai bahkan bisa dikatakan membenci, akan berlangsung lama. Bukan begitu?" sahut Intan dengan begitu berani.
'Sialan, dia sudah berani menjawabku,' batin Zein. Ia kesal karena Intan bisa membuatnya kehabisan kata-kata.
Namun akhirnya Zein tidak menjelaskan pada Intan bahwa dirinya tidak berniat untuk pisah. Sebab, ia khawatir jika mengatakan hal itu, maka Intan akan mundur.
“Jadi kamu membenci saya?” tanya Zein. Ia fokus dengan kata-kata itu.
Intan menggelengkan kepalanya. “Bukankah sebaliknya? Selama ini setahu saya justru Prof yang membenci saya,” sahut Intan.
Zein mengangkat dagunya. Ia sedikit lega karena ternyata bukan Intan yang membencinya. Masalah Intan menganggap bahwa dirinya membenci Intan, ia tidak peduli.
"Baiklah jika itu yang kamu mau. Nanti kita bicarakan pada orang tua kita. Tapi kamu harus mengatur jadwal karena pernikahan kita akan dilangsungkan awal bulan depan," pinta Zein.
Uhuk! Uhuk!
Intan tersedak air liurnya sendiri. Sebelumnya ia memang sudah mendengar bahwa Zein mengatakan hal itu pada Dimas di kantin tadi. Namun ia tidak menyangka bahwa apa yang ia katakan memang serius.
"Apa itu tidak terlalu cepat, Prof?" tanya Intan. Wajahnya sampai merah padam karena tidak ada air untuk menetralkan tenggorokkannya.
Zein mengangkat kedua bahunya. "Atau kamu mau minggu depan sebelum kamu ujian?" tanya Zein. Namun pertanyaan itu terdengar seperti ancaman.
Intan menggelengkan kepalanya cepat. "J-jangan, Prof," ucapnya, gugup. Satu bulan saja sudah terlalu cepat baginya. Apalagi satu minggu. Rasanya ia hampir pingsan mendengarnya.
Jantungnya berdebar cepat membayangkan Zein akan menikahinya sebentar lagi. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah menikah nanti. Yang pasti dalam bayangan Intan hanya ada Zein yang dingin dan galak.
"Oke, kalau begitu minggu depan saya dan keluarga akan datang ke rumah kamu untuk melamar," ucap Zein, tegas.
__ADS_1