Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
55. Dokter Sombong


__ADS_3

Setelah mendapat tugas, akhirnya Intan pun pegi ke IGD untuk memulai kerjanya.


Beruntung sebelumnya ia pernah bertugas di sana. Sehingga Intan tidak terlalu bingung ketika praktek di sana lagi.


"Pagi dokter Intan," sapa salah seorang perawat yang sudah mengenal Intan.


"Pagi, Sus," sahut Intan. Ia senang karena disambut dengan baik saat tiba di sana.


"Duh, seneng banget deh kalau dokter Intan praktek di sini," ucap suster.


"Suster bisa aja. Gimana pagi ini, banyak pasien gak?" tanya Intan.


"Lumayan, Dok. Tapi semua udah ditanganin, kok. Tinggal observasi aja. Ini laporannya," sahut suster.


"Oh, kamu yang kerja di sini?" tanya salah seorang dokter yang berjaga di IGD.


"Iya, Dok," sahut Intan sambil tersenyum.


"Duh, repot deh kalau gantian sama dokter magang. Nanti kalau ada apa-apa aku juga yang kena," gumam dokter itu. Ia terlihat kurang menyukai Intan.


"Maaf, Dok. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak merepotkan dokter," jawab Intan.


"Harus itu! Tolong lebih teliti, ya! Saya gak mau nanti ada laporan salah diagnosa atau apa. Pokoknya jangan sampai merepotkan tugas dokter yang lain!" ucap dokter wanita yang merasa senior itu. Padahal ia sendiri baru lima tahun bekerja di sana.


"Baik, Dok," jawab Intan. Ia tidak sakit hati atau sedih saat diperlakukan seperti itu. Intan justru senang karena di hari pertamanya bekerja ia sudah mendapatkan dua nama.


"Ya udah kalau begitu saya pulang dulu," ucap dokter yang bekerja shift malam itu.


"Sus, tolong diperhatikan, ya! Jangan sampai ada yang salah!"


"Baik, Dok."


Dokter itu pun pergi meninggalkan ruang IGD.


"Yang sabar ya, Dok. Dia emang begitu. Maklumlah, namanya juga jomblo, hehe," ucap suster.


"Hus! Jangan gossip," ucap Intan sambil tersenyum.


"Hehehe, abisnya aneh banget, orang baru datang bukan disambut malah begitu reaksinya," ucap suster. Ia sebal karena dokter tadi merasa senior.


"Ya udah, yang penting kita kerja aja yang bener," ucap Intan.


Sementara itu, Zein sedang sibuk di poli. Sejak tadi ia memeriksa pasien sambil menghirup minyak gosok karena rasa mualnya muncul kembali.


"Apa Prof sedang sakit?" tanya suster yang mendampingi Zein. Awalnya suster sempat bingung saat Zein tiba-tiba datang. Sebab ia ingat betul Zein memintanya untuk mengosongkan jadwal selama seminggu.


"Tidak apa-apa. Pasiennya masih banyak, gak?" Zein balik bertanya.


"Lumayan, Prof. Masih sekitar 12 orang lagi," jawab suster.


"Oke, setelah itu tolong jangan terima pasien lagi! Saya mau istirahat," ucap Zein.


"Baik, Prof."


Akhirnya ia pun menutup pendaftaran pasien yang hendak konsultasi dengan Zein.


Selesai praktek, Zein langsung mengirim pesan pada Intan agar istirahat di ruangan pribadinya.


Zein: Sayang, Mas tunggu di ruangan, ya. Kita makan bareng.


Pesan terkirim.


Setelah mengirim pesan, Zein memasukkan ponselnya ke saku. Kemudian ia kembali lanjut menuju ruangannya.


Zein tidak tahu Intan sedang sibuk karena di IGD sedang banyak pasien. Sehingga Intan tidak sempat melihat pesan dari Zein.

__ADS_1


Setibanya di ruangan, Zein melepaskan jasnya, kemudian ia mengecek ponselnya lagi.


"Kok gak dibalas?" gumam Zein. Ia heran karena Intan tidak langsung membalas pesannya.


Bahkan sampai makan siangnya datang pun Intan masih belum membaca pesan dari Zein.


"Dia ke mana, sih? Apa sesibuk itu?" gumam Zein.


Sementara itu Intan yang sedang sibuk pun mulai merasa lapar. Namun ia tidak mungkin meninggalkan pasien begitu saja karena harus profesional.


"Duh, lapar banget," keluh Intan.


"Dok, ini gimana ...?" tanya salah seorang suster.


Intan pun jadi sibuk mondar mandir. Hingga akhirnya setengah jam kemudian ia baru bisa beristirahat.


"Aku mau makan dulu, ya. Lapar banget," ucap Intan.


"Iya, Dok," jawab staf IGD.


Intan pun membuka ponselnya, kemudian mengecek pesan dari Zein.


"Duh, dia udah nungguin. Semoga gak marah," gumam Intan. Ia lupa bahwa suaminya sudah tidak pernah marah lagi padanya.


Ia pun berjalan cepat menuju ruangan Zein.


Tuk, tuk, tuk!


Intan mengetuk pintu saat tiba di ruangan itu.


"Masuk!" sahut Zein.


Ceklek!


"Kamu itu dari mana aja, sih? Kamu lupa kalau lagi hamil? Jangan sampai telat makan begitu, Sayang. Nanti kalau pingsan gimana?" tegur Zein dengan lembut.


"Iya, Mas, maaf. Aku lapar banget. Mau makan dulu, ya," ucap Intan. Ia bahkan sudah gemetar karena kelaparan.


Akhirnya Zein membiarkan Intan makan. Ia tak berani menanyakan apa pun karena khawatir istrinya tersedak.


"Pelan-pelan makannya, Sayang!" ucap Zein sambil mengusap punggung Intan.


Intan hanya mengangguk. Ia pun makan dengan cepat karena ia harus segera kembali ke ruangan IGD. Intan ingat betul apa kata dokter yang sombong itu. Sehingga Intan tidak ingin dianggap tidak profesional olehnya.


"Mas udah makan?" tanya Intan.


"Udah, nunggu kamu lama banget. Jadi Mas makan duluan," sahut Zein.


"Iya gak apa-apa. Next time kalau udah lapar gak usah nunggu aku. Makan duluan aja," jawab Intan sambil menangkup sebelah pipi Zein.


Zein mengecup tangan istrinya itu. "Hari pertama praktek, capek ya?" tanya Zein.


Ia ingat betul, dulu dirinya pun merasakan hal yang sama dengan Intan. Namun, meski lelah, ia sangat antusias karena itu pengalaman pertamanya terjun langsung praktek tanpa didampingi lagi.


"Iya, Mas. Tapi aku seneng, kok. Jadi bisa kayak dokter beneran, hehe," jawab Intan.


"Kamu kan sekarang emang udah jadi dokter, Sayang. Gimana, sih," ucap Zein sambil mengusap kepala istrinya.


Zein terlalu senang melihat Intan makan dengan lahap. Sehingga ia lupa menanyakan di mana Intan praktek.


"Mas, aku gak bisa lama-lama. Masih banyak yang harus aku kerjain biar nanti bisa pulang tepat waktu. Gak apa-apa, kan?" tanya Intan.


"Iya, itu makanannya dihabisin dulu! Tapi kamu jangan terlalu capek, ya! Nanti aku gak izinin kamu praktek lagi kalau tenaganya terlalu diforsir!" ancam Zein.


"Iya, Mas. Mas tenang aja. Aku gak sendirian, kok. Ada suster yang siap buat support aku," jawab Intan.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu," ucap Zein. Sebelumnya Zein bahkan sudah selesai shalat dzuhur. Sehingga saat ini ia bisa bersantai.


"Coba sini aku lihat kaki kamu!" ucap Zein.


"Kenapa, Mas?" tanya Intan.


Zein menarik kaki Intan perlahan. Sehingga Intan sedikit memutar tubuhnya menghadap ke arah Zein.


"Katanya kalau wanita hamil itu rawan bengkak kakinya. Aku cuma mau mastiin aja," ucap Zein sambil melepaskan sepatu Intan.


"Aku kan hamilnya masih kecil, Mas. Bengkak itu biasanya kalau udah besar," jawab Intan.


"Tapi kamu pasti pegel kan? Lain kali tolong jangan pakai sepatu kayak gini, ya! Pakai sepatu flat aja!" pinta Zein, sambil memijat kaki Intan secara perlahan.


"Iya, Sayang," sahut Intan. Ia pun memang merasa pegal karena sibuk mondar mandir.


"Gimana, enak, gak?" tanya Zein.


Intan mengangguk sambil tersenyum. "Enak, Mas," sahutnya.


Intan bersyukur meski hari ini ia cukup lelah bekerja. Namun ada suami yang selalu siaga untuknya.


Selesai makan, ia shalat dzuhur. Kemudian pamit pada Zein.


"Mas, aku pamit, ya," ucap Intan.


"Iya, Sayang. Semangat kerjanya! Nanti sore aku tunggu di sini lagi, ya! Kita pulang bareng," ucap Zein.


"Iya, Mas," jawab Intan.


Ia pun meninggalkan ruangan tersebut.


Di IGD, ada dokter kepala yang sedang mampir karena ingin melihat kinderja Intan.


"Lho, mana dokter magangnya?" tanya dokter tersebut.


"Dokter Intan sedang makan siang, Dok," jawab suster.


"Ini kan sudah bukan jam istirahat. Masa belum kembali? Pasien bisa terbengkalai kalau dia makan se lama ini," ucap dokter itu, kesal. Sepertinya ia memang ingin mencari bahan untuk memarahi Intan.


"Maaf, Dok. Tapi tadi pas jam istirahat sedang banyak pasien. Jadi dokter Intan baru sempat istirahat," ucap suster lagi.


Saat dokter itu sedang marah-marah, Intan pun muncul.


"Nah, ini dia orangnya. Kamu pikir rumah sakit ini punya bapakmu? Seenaknya istirahat sampe jam segini?" Dokter itu langsung memarahi Intan.


Intan yang baru datang pun bingung. 'Emang iya,' batin Intan. Rumah sakit itu memang milih papah mertuanya.


"Saya baru selesai makan siang dan shalat, Dok. Ada apa, ya?" sahut Intan. Ia masih terlihat tenang.


"Enak banget kamu jawab sesantai itu. Apa kamu tidak merasa bersalah karena sudah keluar di jam kerja?" tanya dokter.


"Tidak. Saya kan baru keluar sekitar 20 menit yang lalu. Tadi saya sibuk karena banyak pasien. Makannya baru istirahat," jawab Intan.


"Berani sekali kamu jawab saya?" Dokter itu emosi karena Intan tidak takut padanya.


"Kenapa saya harus takut kalau tidak salah? Toh saya di sini bekerja bukan untuk Anda. Yang penting semua pekerjaan saya beres. Saya istirahat kapan, saya rasa hal itu tidak perlu dipermasalahkan," jawab Intan lagi.


Dokter itu sudah membuka mulutnya karena ingin bicara. Namun Intan menyelaknya lagi.


"Lagi pula bekerja di dunia medis itu harus fleksible. Kita gak bisa makan tepat waktu. Ada waktu, baru bisa makan. Kan pasien gak mungkin nunggu kita buat istirahat dulu," lanjut Intan.


"Kamu!" Dokter itu tercekat karena Intan melawannya. Sementara suster tersenyum melihat Intan seperti itu. Mereka senang karena ada yang bisa melawan dokter kepala yang sok berkuasa itu.


"Awas kamu, ya! Kamu akan menyesal karena telah berani melawan saya!" ancam dokter itu.

__ADS_1


__ADS_2