Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
62. Rambut Basah


__ADS_3

"Oh iya. Baik, Prof," jawab para suster. Mereka sedikit gugup karena sedang terkesima dengan sikap Zein.


Zein pun langsung berlalu meninggalkan tempat itu.


"Ya Tuhan, di mana ya nyari suami yangkayak gitu? Perhatiannya itu, lho. So sweet banget," ucap salah seorang suster.


"Kalau pun ada, dia belum tentu mau sama kamu," ledek yang lain.


"Iih, kamu mah ngerusak mimpi orang lain aja, deh!"


"Hehehe, lagian Prof itu terlalu perfect. Mimpinya jangan ketinggian."


Sementara itu Zein pun bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Padahal harusnya hari ini ia ada janji dengan asistennya di kantor ikatan dokter untuk membahas rencana peluncuran buku barunya. Namun Zein terpaksa mengurungkan niatnya itu. Sebab ia tidak ingin meninggalkan Intan terlalu lama.


Selesai peraktek, Zein pun bergegas pergi ke ruangan Intan kembali. Ia bahkan langsung pergi tanpa mengatakan apa pun pada suster.


"Hem ... yang istrinya lagi sakit, tegang banget mukanya," gumam suster.


"Sore, Prof!" sapa salah satu dokter yang berpapasan dengan Zein.


"Sore," sahut Zein, singkat. Ia bahkan tidak menoleh.


Semua orang yang melihat Zein akan melintas pun langsung menyingkir. Sebab mereka yakin Zein akan marah jika ada yang menghalangi jalannya.


Ceklek!


Zein masuk ke kamar istrinya. "Sayang, kamu udah makan, belum?" tanyanya.


Rani dan Intan langsung menoleh. "Udah, Mas. Kamu udah selesai prakteknya?" Intan balik bertanya.


"Udah, Sayang. Tadi makan apa?" tanya Zein lagi. Ia duduk di samping Intan.


"Makan bubur, Zein. Kalau lagi lemas begitu jangan makan yang kasar dulu. Takut lambungnya gak kuat," ujar Rani. Padahal anaknya itu dokter. Namun Rani menjelaskan seolah Zein tidak paham.


"Syukurlah. Aku cuma khawatir kamu belum mau makan," ucap Zein.


"Enggak kok, Mas. Aku juga gak mau pingsan lagi. Bagaimana pun aku gak boleh egois. Ada janin yang harus aku perhatikan kesehatannya," jawab Intan.


"Alhamdulillah, aku senang dengarnya," jawab Zein sambil mengusap kepala Intan.


"Kalau begitu Mamah pulang dulu, ya. Nanti malam insyaaAllah Mamah balik lagi ke sini," ucap Rani.


"Gak usah repot-repot, Mah. Biar aku aja yang jagain Intan. Mamah pasti capek kan kalau harus bolak-balik ke sini?" ucap Zein.


"Enggak capek, sih. Emang kamu bisa nemenin Intan sendirian di sini?" tanya Rani. Ia tidak yakin Zein mampu menjaga istrinya sendirian. Sebab ia tahu betul kebanyakan lelaki akan tidur pulas di malam hari dan sulit dibangunkan.


"Bisalah, Mah. Masa ngejagain istri sendiri gak bisa?" sahut Zein, yakin.


"Kamu kan belum bawa baju ganti," ucap Rani.


"Di ruang kerjaku ada, kok. Mamah tenang aja!" ucap Zein. Jangankan bajunya, baju Intan saja ada di sana. Sehingga Zein tidak memusingkan hal itu lagi.


"Ooh, ya udah deh kalau begitu. Tapi nanti kalau ada apa-apa, tolong hubungi Mamah, ya!" pinta Rani.


"Siap, Mah!" sahut Zein.


Akhirnya Rani pun pamit dan meninggalka ruangan itu.


Setelah Rani pergi, Zein tersenyum sambil melirik ke arah Intan.


"Apa senyum-senyum?" tanya Intan dengan tatapan curiga.


"Suaminya senyum kok malah diketusin begitu, sih?" Zein balik bertanya.


"Ya abis senyumannya aneh banget. Pasti ada sesuatu, kan?" tuduh Intan.


"Jangan suudzon! Aku itu senyum karena seneng sekarang kamu udah lebih seger dari sebelumnya. Sama suami kok nethink aja?" Zein melepaskan jas yang ia pakai dan menaruhnya.


Setelah itu ia melepaskan kancing-kancing bajunya.


"Nah, itu mau ngapain?" tanya Intan sambil menunjuk ke arah Zein.


Zein melihat ke arah yang Intan tunjuk. "Ini? Mau mandi, Sayang. Sekarang kan udah sore. Aku juga belum shalat ashar. Kenapa? Kamu mau mandi bareng?" goda Zein.


"Kirain!" sahut Intan malu-malu. Ia pun memalingkan wajahnya.


"Kirain apa?" tanya Zein sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Intan.


"Udah, deh! Sana, katanya mau mandi!" usir Intan sambil mendorong tubuh suaminya.


"Sabar, dong! Mas kan belum ngambil pakaian. Tunggu sebentar lagi diambilin sama perawat," ucap Zein.


Intan langsung mengerutkan keningnya. "Suster?" tanyanya. Ia risih jika ada wanita yang mengambilkan pakaian untuk Zein.


"Bukan! Perawat laki-laki. Dia udah biasa aku suruh-suruh, kok. Kamu tenang aja! Suamimu ini tau batasan, Sayang," sahut Zein sambil menatap Intan dengan tatapan genit.


"Ooh, kirain," ucap Intan sambil memalingkan wajahnya dan menahan senyuman. Ia senang karena Zein mampu menjaga sikap.


"Kayaknya kamu cinta banget sama aku, ya?" tanya Zein.


Intan mengerutkan keningnya. "Kok nanyanya gitu? Emangnya kamu gak cinta sama aku?" Intan kesal karena Zein mulai narsis.


"Ya ... cinta. Tapi aku seneng aja kalau kamu cemburu. Itu artinya kamu emang cinta sama aku," ucap Zein sambil mencubit dagu Intan.


"Dih! Gak usah cemburu juga cinta mah cinta aja, Mas. Tapi entah kenapa kamu tuh nyebelin banget!" cibir Intan.


"Masa? Kamu gak tau aja. Aku ini suami impian para wanita, lho," ucap Zein, bangga.


Ternyata ia sempat mendengar gossip tentang dirinya yang menjadi idaman para wanita di rumah sakit itu.


Intan langsung menjebik. "Iiih, pede banget, kamu?" Ia illfeel melihat Zein kepedean.


"Bukan pede, Sayang. Tapi itu fakta. Makanya kamu itu harus bersyukur bisa punya suami kayak aku," ucap Zein sambil menaik turunkan alisnya.


"Ya bersyukur, sih. Tapi mereka gak tau aja kalau kamu itu sering bikin aku kesel dan sakit hati. Seandainya mereka tau. Pasti mereka nyesel udah bilang begitu," sahut Intan, sebal.

__ADS_1


"Oya? Emang sekarang kamu masih sakit hati sama Mas?" tanya Zein sambil mendekatkan wajahnya lagi ke Intan.


"Enggak, sih. Hehehe," jawab Intan.


"Nah, terus? Apa yang bikin kamu kesel?" tanya Zein lagi.


Intan pun terlihat berpikir. "Hem ... ya kayak gini, nih. Entah kenapa aku juga bingung. Pokoknya kesel aja sama kamu!" ucap Intan, ketus.


"Dasar aneh! Masa sama suami sendiri kesel. Padahal suaminya gak salah apa-apa juga," ucap Zein yakin. Ia tidak sadar bahwa dirinya masih memiliki kesalahan yang belum diungkapkan pada Intan.


Saat mereka sedang berbincang, perawat yang tadi disebutkan oleh Zein pun datang.


"Permisi!" ucap perawat itu.


"Masuk!" sahut Zein.


Perawat pun masuk dan memberikan paper bag berisi pakaian pada Zein.


"Oke, terima kasih," ucap Zein sambil mengambil paper bag itu.


"Sama-sama, Prof. Kalau begitu saya permisi dulu," jawab perawat itu. Ia pun pamit.


"Sayang, Mas mau mandi dulu, ya," ucap Zein.


"Iyah."


Zein masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi ia langsung melaksanakan shalat kemudian mendekati istrinya lagi.


"Sayang, kamu lapar, gak?" tanya Zein.


"Enggak, Mas. Kan tadi udah makan," sahut Intan.


"Hem ... padahal aku lapar," ucap Zein memelas.


"Ya udah makan aja kalau lapar, mah!" ucap Intan.


"Masalahnya aku lapar pingin makan kamu, hehehe," jawab Zein sambil tersenyum nakal. Kemudian ia duduk di tempat tidur menghadap ke arah Intan.


"Mulai, deh. Istrinya lagi dirawat juga masih bisa mikir ke sana, sih? Heran."


"Emang kenapa sih, Sayang? Kamu nih protes terus. Lagian sekarang juga kamu udah seger, kok."


Zein seolah tidak peduli dengan protesan istrinya. Ia tetap mendekatkan wajahnya ke wajah Intan. Hingga akhirnya Intan pun pasrah.


Zein mencumbu istrinya dengan begitu mesra. Sampai mereka tidak sadar ada dokter dan suster yang masuk ke ruangan itu.


Dokter dan suster itu pun tercekat. "Kayaknya kita salah waktu," gumam dokter itu, pelan.


Kemudian perlahan mereka mundur dan menutup pintu itu dengan hati-hati. Mereka khawatir jika Zein mengetahuinya, maka mereka yang akan dimarahi oleh Zein.


"Waduh ... pantesan tadi udah diketuk masih gak ada yang jawab. Ternyata lagi ...," ucap dokter sambil mengelus dadanya.


"Tapi ternyata Prof agresif juga ya, Dok," timpal suster. Ia pun masih shock melihat kejadian itu. Bahkan wajahnya sampai merona karena malu.


"Tapi kan ini rumah sakit, Dok. Apalagi tadi tangannya ...." Ternyata tadi mereka pun sempat melihat tangan Zein sedang menelusup ke dalam baju Intan.


"Hus! Udah jangan dibayangin!" ucap dokter. Kemudian ia pun berlalu menjauh dari ruangan itu.


Mereka seperti orang ling-lung untuk beberapa saat. Sebab mereka sama sekali tidak pernah menyangka akan menemukan hal seperti itu. Apalagi pelakunya adalah Zein. Profesor yang terkenal galak dan dingin.


"Kenapa, sih?" tanya para suster yang sejak tadi memperhatikan mereka.


"Horor!" sahut suster tadi. Saat ini mereka sudah selesai memeriksa pasien.


"Horor gimana? Ada penampakan?"


"Ini lebih dari penampakan. Pokoknya sesuatu yang gak patut dilihat."


Para suster pun semakin penasaran. "Apa, sih?" tanya mereka lagi.


Akhirnya suster tadi memeragakannya dengan tangan. "Hem!" ucapnya.


Mereka semua pun langsung ternganga. Hanya dengan gerakan tangan itu saja mereka sudah paham apa yang dimaksud oleh temannya.


"Wiihhh, ternyata Prof ...," ucap mereka.


Mereka pikir orang seperti Zein tidak akan begitu. Namun ternyata pendapat mereka salah.


"Gimana rasanya dimesrain sama orang galak kayak Prof, ya?"


"Aku sih bakalan bangga. Soalnya doi kan dingin begitu, ya. Hangat cuma sama istrinya doang. Ya ampun, so sweet banget gak, sih?" ucap suster sambil membayangkan.


"Beruntung banget dokter Intan bisa dapetin Prof, ya?"


"Prof juga beruntung, kali. Gitu-gitu dokter Intan pinter dan cantik. Apalagi sekarang udah berhijab. Makin ehem aja deh itu Prof sama istrinya."


Mereka asik berbincang sementara yang di dalam ruangan itu sedang asik memadu kasih.


"Untung aja gak ada yang masuk!" ucap Intan, kesal. Mereka baru saja selesai bercinta.


"Astaga! Aku lupa ngunci pintu, Sayang," sahut Zein. Kemudian ia langsung berlari ke arah pintu dan mengeceknya. Ternyata dugaannya benar. Pintunya belum dikunci.


Akhirnya Zein pun langsung mengunci pintu tersebut.


Ctek!


"Lha, ngapain dikunci, Mas? Kan udah selesai," ucap Intan, heran.


"Ya kan aku belum pakai celana, Sayang. Kamu juga," ucap Zein. Tadi ia melakukan permainan short time. Sehingga hanya melepaskan pakaian bagian bawah saja. Namun tubuh Intan sudah ditutupi oleh selimut.


"Oh, iya," ucap Intan.


"Lagian Mas nih udah tau di rumah sakit juga. Bisa-bisanya begitu!" Intan kesal karena ia khawatir ada orang yang melihat.


"Hehehe, abisnya kamu gemesin banget, sih. Kamu juga gak nolak, lagi," ledek Zein.

__ADS_1


Intan langsung memalingkan wajah. "Ya kan gak boleh nolak, nanti dosa," ucapnya sambil mengulum senyuman. Hidungnya kembang kempis karena malu.


Zein pun tersenyum. "Bilang aja kamu juga mau," bisiknya.


"Udah sana mandi lagi!" usir Intan. Ia tidak habis pikir suaminya melakukan hal itu, padahal baru selesai mandi.


"Siap!" sahut Zein. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk mandi lagi.


"Ck! Terus aku gimana mandinya? Tangan lagi diinfus begini," keluh Intan. Ia sebal karena saat ini kondisinya sulit untuk mandi.


Ketika Zein selesai mandi, ia menghampiri Intan lagi. "Sayang, kamu mau mandi sekarang?" tanyanya.


"Gimana mandinya, ini ribet banget!" ucap Intan, kesal.


Zein tersenyum. "Sini biar Mas mandiin!" ucapnya. Kemudian ia mengatur aliran infusan Intan. Lalu menggendong istrinya.


"Kamu dorong tiang infusannya, ya!" ucap Zein.


Mereka pun menuju ke kamar mandi.


"Lain kali kalau istrinya lagi sakit tuh gak usah aneh-aneh dong, Mas!" tegur Intan saat Zein sedang memandikannya.


"Masa begitu aneh, Sayang?" tanya Zein.


"Ya anehlah. Tempatnya gak lazim, kok. Udah gitu, istri lagi sakit masih aja dihajar."


"Ya kan biar cepet sembuh, Sayang. Aku aja kalau lagi sakit, dikasih imun begitu bisa langsung sembuh," jawab Zein.


Intan memicingkan matanya. "Ya kamu sih emang doyan!" skak Intan.


"Emangnya kamu gak doyan?" ledek Zein.


"Serah!" ucap Intan, kesal.


Zein pun hanya tersenyum. Ia seolah tak peduli meski istrinya protes. Baginya yang terpenting ia bisa mendapat jatah.


Selesai memandikan Intan. Ia menggendongnya lagi dan memakaikan pakaian. Kemudian ia pun duduk lalu berbincang dengan istrinya itu.


"Gimana, sekarang udah lebih seger, belum?" tanya Zein. Ia mengusap-usap rambut Intan dengan handuk agar kering. Zein lupa bahwa rambutnya sendiri masih basah.


"Alhamdulillah udah, Mas," sahut Intan sambil tersenyum.


"Bener kan aku bilang. Kayak gitu tuh bikin cepet sembuh," ucap Zein, nakal.


"Yee! Aku segernya dari sebelum begitu, kok," sahut Intan, sebal.


"Masa? Tadi kayaknya masih lemas, deh."


"Kamu tuh jangan kardi deh, Mas!"


"Apa tuh kardi?"


"Karepe dhewe!" skak Intan.


Zein terkekeh. "Itu sih karde, bukan kardi!"


"Ya orang sana bilangnya kardi, kok."


"Orang mana? Paling bisa-bisaannya kamu aja!"


"Nah, kan. Bener emang suamiku tuh kardi! Nyebelin."


"Yang penting sayang, kan," goda Zein.


Intan memalingkan wajahnya, kesal.


"Sayang, kira-kira anak kita nanti laki-laki atau perempuan, ya?" tanya Zein. Berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Mas maunya apa?" Intan malah balik bertanya.


"Mas sih apa aja. Tapi kalau bisa sih laki-laki," jawab Zein.


"Dih! Katanya apa aja, tapi kalau bisa laki-laki. Itu gimana ceritanya, sih?" Intan kesal karena jawaban suaminya itu tidak jelas.


"Ya begitulah ceritanya," jawab Zein dengan tampang meledek.


"Kalau ternyata perempuan, gimana?" tanya Intan lagi.


"Ya gak masalah, sih. Yang penting sehat dan selamat. Sempurna tanpa kekurangan apa pun."


"Emang kenapa Mas pingin anak laki-laki?"


"Supaya bisa menjaga adik-adik serta ibunya, Sayang. Jadi kalau aku lagi gak ada, dia bisa jagain kamu," jelas Zein.


"Kalaupun anaknya perempuan, nanti akan aku didik agar bisa mandiri dan mengayomi adik-adiknya. Jadi kamu jangan khawatir ya, Mas!" ucap Intan.


"Iya, Sayang. Aku percaya, kok. Kamu kan wanita tangguh yang mandiri. Jadi nanti anakku pun bisa jadi anak yang hebat seperti ibunya," ujar Zein sambil mengusap kepala Intan.


Saat sedang berbincang, ponsel Zein berdering. Ia pun langsung menjawabnya.


"Ya halo!" ucap Zein.


"Halo, Prof. Pasien VVIP no 507 kritis," ucap suster, panik.


Pasien tersebut adalah pasien dengan penyakit jantung. Sehingga harus Zein yang memeriksanya langsung. Oleh karena itu suster pun nekat menghubungi ponsel Zein.


"Oke, saya ke sana segera!" jawab Zein. Kemudian ia langsung memutus sambungan teleponnya.


"Sayang, ada pasien kritis. Mas tinggal dulu, gak apa-apa, ya?" ucap Zein. Pamit pada istrinya.


"Iya, Mas. Hati-hati!" sahut Intan.


Zein pun meninggalkan ruangan itu dengan pakaian santai dan kondisi rambut masih basah.


Saat pintu ruangan Intan terbuka, para suster menoleh ke arah pintu tersebut. Mereka pun tercenung kala melihat rambut Zein basah.

__ADS_1


__ADS_2