
Semua mata menoleh ke arah Zein yang tiba-tiba meninggalkan ruangan prakteknya. Ia berlari ke poli kandungan yang lokasinya tidak terlalu jauh itu.
"Prof kenapa?" tanya suster yang ada di luar.
"Gak tau tuh, aneh banget. Tadi aku cuma info kalau dokter Intan pingsan. Secara beliau kan mantan konsulennya. Tapi Prof kayak kaget banget gitu. Terus langsung lari," jelas suster yang baru keluar dari ruangan Zein.
"Lha, udah kayak suaminya aja," ucap salah satu suster.
"Tau tuh," sahut yang lain.
Namun kemudian mereka langsung saling menatap. "Jangan bilang kalau Prof emang ...?" Mereka tidak melanjutkan ucapannya. Namun mereka yakin apa yang mereka pikirkan sama.
"Woah, kalau sampe bener, bisa heboh banget, sih. Secara kalian tau sendiri gimana galaknya Prof ke dokter Intan dulu, kan?"
"Daebak. Itu sih namanya ketula. Udah diomel-omelin, malah jadi istri," timpal yang lain.
"Duh, aku jadi penasaran banget, nih. Pingin tau kelanjutannya."
"Udah kayak baca novel aja!"
"Hehehe, abisnya seru."
"Ya udah, kalau emang iya, beritanya pasti langsung nyebar, kok."
Sementara itu, semua suster yang di poli obgyn dan pediatri pun bingung karena ruangan salah seorang dokter kandungan itu didatangi Zein, bahkan ada Muh yang juga menyusulnya.
Mereka dapat melihat ekspresi Zein sangat serius. Seperti orang yang hendak perang.
Brug!
Zein membuka pintunya dengan kasar. Membuat dokter kandungan di ruangan itu terkejut.
"Lho, Prof?" dokter itu bingung. Suster pun langsung menutup tirai agar Zein tidak dapat melihat perut Intan yang sedang di-USG oleh dokter.
Namun, tanpa berkata-kata Zein langsung berjalan mendekat ke arah Intan dan membuka tirainya dengan cepat.
Sreett!
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Zein, cemas. Ia langsung menggenggam tangan Intan dan mengusap kepalanya.
Deg!
Dokter dan suster yang ada di sana pun terkejut setengah mati. "H-hah?" Dokter itu tercekat.
"Saya suaminya. Bagaimana kondisi istri dan anak saya?" tanya Zein lagi.
"O-oohh ... alhamdulillah dokter Intan dan janin yang ada di kandungannya baik-baik saja. Mungkin beliau pingsan karena kelelahan," jawab dokter gugup. Ia menoleh ke arah suster dan menatapnya.
Suster pun langsung mengangkat kedua bahunya. Ia paham bahwa dokter itu sedang terkejut. Sama seperti dirinya.
Beruntung suster yang tadi membawa Intan dari IGD, mengantarkannya ke dokter kandungan wanita. Jika ia mengantar ke dokter pria, mungkin Zein akan protes.
"Huuh, syukurlah," gumam Zein. Ia memeluk Intan dan mengecup keningnya. "Sayang, kenapa bisa sampai seperti ini?" lirih Zein.
Seketika dokter itu merinding melihat Zein begitu romantis pada Intan.
Sementara itu, suster menelan saliva. Baru kali ini ia melihat Zein seromantis itu.
"Kenapa istri saya bisa kelelahan, Dok?" tanya Zein lagi. Ia menoleh ke arah dokter, sambil mengusap kepala Intan.
"Mungkin karena di ruang IGD sedang banyak pasien, Prof," jawab dokter itu.
Zein terbelalak. "Hah? Istri saya bekerja di ruang IGD?" tanyanya. Ia sangat shock saat mengetahui bahwa Intan praktek di ruangan IGD.
"I-iyah," sahut dokter itu. Ia dapat melihat kemarahan di wajah Zein.
"Zein!" ucap Muh yang baru saja tiba.
"Pah! Kenapa Intan ditempatkan di IGD?" tanya Zein langsung, saat papahnya muncul.
"Lho, siapa yang menempatkannya di IGD?" Muh balik bertanya.
"Kan Papah yang mengurus semuanya. Masa Papah gak tau?" Zein kesal.
"Ya, memang Papah yang mengatur semuanya. Namun untuk penempatannya diurus oleh dokter kepala," sahut Muh.
Zein mengepalkan tangannya. Ia sudah siap untuk melabrak dokter kepala itu. Namun Zein masih berusaha menahan emosinya karena ia ingin menunggu Intan sampai siuman. Zein belum tenang jika istrinya belum sadarkan diri.
Dengan tangan gemetar karena emosi, Zein mengambil ponselnya. Kemudian ia mengirimkan pesan singkat pada team keamanan untuk meminta rekaman CCTV di ruang IGD sebelum istrinya itu pingsan.
__ADS_1
Ia ingin tahu apa sebenarnya yang menyebabkan Intan pingsan. Sebab ia yakin, istrinya tidak akan pingsan jika tidak mendapat banyak tekanan.
"Prof jangan terlalu khawatir! Dokter Intan baik-baik saja. Saat ini usia kandungannya sudah 6 minggu. Alhamdulillah janinnya sehat," jelas dokter. Saat itu ia sudah menyelesaikan USG-nya. Perut Intan pun sudah ditutup kembali.
Zein langsung mengusap perut Intan. "MasyaaAllah, semoga kalian berdua sehat selalu," gumam Zein. Lalu ia mengecup kembali kening Intan.
"Sayang, tolong bangun! Jangan bikin aku takut," bisik Zein sambil menempelkan keningnya di pelipis Intan.
Intan yang diperlakukan seperti itu, suster dan dokter yang ikut melting.
Perasaan Zein tidak karuan. Melihat intan kesakitan saat sedang haid saja ia tidak tega. Apalagi sampai pingsan seperti inii.
"Apa istri saya perlu perawatan khusus, Dok?" tanya Zein lagi.
"Sepertinya tidak, Prof. Selama dokter Intan masih mau makan dan minum, insyaaAllah aman," jawab dokter.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi ini kenapa lama sekali?" tanya Zein. Ia sudah tidak sabar ingin Intan segera siuman.
"Mas," lirih Intan sambil mengerutkan keningnya karena merasa pusing.
Zein langsung menoleh ke arah Intan. "Sayang, kamu kenapa, hem?" tanya Zein dengan begitu lembut.
"Aku gak apa-apa. Mas kok ada di sini? Bukannya lagi praktek?" tanya Intan.
"Kamu nih! Mana mungkin aku bisa praktek saat istriku sedang pingsan seperti ini. Kamu kenapa gak nolak waktu ditugaskan di IGD, Sayang?" Zein protes pada Intan.
"Aku kan cuma dokter magang, Mas. Mana berani nolak," jawab Intan, lemas.
"Ya Tuhan. Meskipun magang, tapi rumah sakit ini milik kamu, Sayang. Iya kan, Pah?" Zein meminta dukungan pada papahnya.
"Betul, Intan. Sebagian saham milik Zein sudah dipindah namakan atas nama kamu," jawab Muh.
Gluk!
Dokter dan suster yang ada di sana pun menelan saliva lagi. Mereka merinding melihat Intan begitu disayang oleh suami dan mertuanya.
"Ya ampun, Mas. Kenapa harus seperti itu, sih? Udahlah, gak usah dipermasalahkan, ya," jawab Intan.
"Gak bisa begitu, dong. Aku gak terima istriku diperlakukan seperti ini. Pokoknya dia harus mendapat sanksi!" sahut Zein, geram.
"Mas, mereka kan gak tau kalau aku lagi hamil. Lagian gak ada yang tau juga kalau kita udah nikah. Yang penting sekarang aku baik-baik aja," ucap Intan.
Zein menatap Intan dengan tatapan yang dalam. Ia heran karena istrinya itu terlalu baik. Padahal ia sudah siap ingin melabrak dokter tersebut.
"Enggak, Pah. Tadi aku cuma pusing aja lihat orang banyak karena ada banyak pasien kecelakaan bus. Jadi pusing," jawab Intan.
"Astaga!" Zein semakin geram. Ia tahu betul bagaimana kondisi yang Intan alami. Sebab dirinya pernah mengalami ada banyak pasien kecelakaan saat ia berjaga di IGD dulu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Zein saat Intan tiba-tiba duduk.
"Mau praktek lagi, Mas. Masa aku mau rebahan di sini terus?" sahut Intan.
"Kamu jangan praktek dulu! Hari ini dan besok kamu harus istirahat!" pinta Zein.
"Aku gak apa-apa, Mas," jawab Intan. Ia tidak enak hati jika harus bolos di hari pertama.
"Kalau kamu ngeyel, aku larang kamu praktek dan kamu harus stay di rumah! Tersrah mau pilih yang mana," ancam Zein.
"Mas!" keluh Intan, manja.
"Benar apa kata suami kamu, Tan. Lebih baik kamu istirahat di rumah!"
Jika mertuanya yang bicara, Intan tidak berani membantah. "Baik, Pah," jawabnya.
"Lebih baik sekarang kamu tunggu di ruanganku dulu! Aku masih ada kerjaan yang belum selesai," ucap Zein.
Intan mengangguk.
"Kamu kuat jalan, gak? Atau mau aku gendong?" tawar Zein saat melihat Intan menurunkan kakinya.
"Kuat, Mas. Aku gak apa-apa," ucap Intan, gemas.
"Ya udah, sini aku tuntun!" Zein pun merangkul Intan.
"Tapi, Mas?" Intan menatap Zein dengan tatapan nanar.
"Gak ada tapi-tapian. Aku udah kasih kamu kesempatan satu kali dan ternyata kamu malah dapat bahaya seperti ini. Jadi mulai sekarang gak ada yang perlu ditutupi! Aku gak mau ada orang lain yang menyusahkan istriku lagi," skak Zein.
Kini ia sudah tidak ingin mengikuti rencana Intan. Baginya keselamatan Intan dan bayinya adalah hal utama.
__ADS_1
Intan menghela napas kasar. Sementara dokter dan suster yang ada di sana hanya tercenung menjadi penonton dengan perasaan campur aduk.
"Dok, terima kasih banyak, ya. Maaf jadi merepotkan," ucap Intan.
"Oh, tidak merepotkan sama sekali, Dok. Semoga dokter Intan dan bayinya sehat selalu, ya. Selamat juga untuk Prof Zein. Sebentar lagi akan menjadi ayah. Jujur saya tidak menyangka sama sekali," ucap dokter itu.
"Terima kasih, Dok," sahut Zein, datar. Ia sedang fokus ke kondisi Intan. Sehingga tidak bisa banyak menanggapi dokter itu.
"Mungkin kedepannya kami akan lebih sering merepotkan dokter. Mohon kerja samanya ya, Dok," ucap Muh sebelum pamit.
"Dengan senang hati, Prof. Saya justru sangat bahagia jika bisa mendapat kepercayaan untuk mendampingi Dokter Intan sampai melahirkan nanti."
"Terima kasih," ucap Muh. Akhirnya mereka pun meninggalkan ruangan itu.
Saat pintu ruangan tersebut terbuka, semua mata tertuju pada mereka. Seluruh suster yang ada di sana pun semakin heran melihat Intan keluar sambil dirangkul oleh Zein.
"Siang, Prof!" sapa mereka saat Zein melintas.
Zein hanya menjawabnya dengan angukkan. Sebab ia sedang tidak ingin bicara pada siapa pun.
"Eh, aku gak salah lihat, kan?" tanya salah satu suster saat Zein dan Intan sudah keluar dari area tersebut.
"Sejak kapan Prof suka merangkul orang lain? Apalagi ini wanita."
"Gak mungkin kan Prof melakukan hal itu karena beliau mantan konsulennya?"
"Atau jangan-jangan suaminya dokter Intan itu Prof?"
Mereka semua terbelalak sekaligus merinding.
"Kalau sampe bener mereka nikah, ini sih kayak di drama. Benci jadi cinta. Kalian inget kan gossipnya kalau Prof itu galak banget sama dokter Intan?"
"Itu dia. Makanya aku kaget banget tadi lihat Prof masuk ke sana dengan tampang khawatir gitu.
"Ya udah kita jangan nebak-nebak dulu! Tunggu klarifikasinya aja. Jangan sampai nanti kesalahan karena nyebarin berita hoax tentang pemilik rumah sakit ini. Kecuali kalau kalian udah bosan kerja di sini," ucap salah seorang suster.
Akhirnya mereka pun tidak ada yang berani membahasnya di grup.
Sapanjang jalan menuju ke ruangan Zein, mereka jadi pusat perhatian. Begitu banyak staf rumah sakit yang bertanya-tanya mengapa Intan berjalan sambil dirangkul oleh Zein. Bahkan Muh pun mendampinginya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di depan ruangan Zein.
"Kamu jangan lama-lama ya, Zein! Kasihan itu Intan. Dia butuh istirahat," ucap Muh. Janin yang dikandung Intan adalah cucu pertamanya. Sehingga ia sangat peduli dengan kandungan menantunya itu.
"Baik, Pah," jawab Zein. Kemudian mereka pun masuk ke ruangan Zein. Sedangkan Muh lanjut menuju ruangannya.
"Sayang, kamu istirahat di sini dulu, ya!" ucap Zein.
"Iya, Mas. Aku udah gak apa-apa, kok," sahut Intan.
"Ya udah, tunggu sebentar!" ucap Zein. Ia mengantar Intan ke sofa. Kemudian Zein menuju ke meja kerjanya.
Di sana ia menghubungi bagian poli untuk memberi kabar bahwa hari ini dirinya tidak bisa lanjut praktek. Zein pun sudah meminta dokter lain untuk menggantikannya sementara.
Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan bagi seluruh staf. Namun mereka masih pensaran karena belum mendapat jawaban pastinya.
Setelah menghubungi stafnya, Zein pun membuka rekaman CCTV yang dikirimkan oleh team keamanan tadi.
Ia memutar rekaman tersebut sambil memasang handsfree agar Intan tidak mengetahuinya.
Staf keamanan itu mengirim video rekaman sejak pagi. Sehingga durasinya cukup panjang.
Zein mempercepat video dan menonton bagian yang ada Intannya saja. Bahkan video dokter sombong yang pagi tadi pun tak luput dari pantauannya.
"Sombong!" gumam Zein sambil menyunggingkan sebelah ujung bibirnya.
Zein mulai geram saat melihat dokter kepala memarahi Intan ketika Intan baru selesai istirahat. "Dia harus tahu siapa istriku!" gumam Zein, pelan.
Intan penasaran sebenarnya apa yang sedang Zein lakukan. Namun ia tidak ingin mengganggu pekerjaan suaminya. Sehingga Intan hanya duduk di sofa.
Tangan Zein mengepal. Ia darahnya mendidih kala melihat Intan dimarahi saat sedang sibuk merawat pasien. "Kurang ajar!" Zein menggeram sambil mengepalkan tangannya, erat.
Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Zein pun langsung berdiri dan hendak menuju ke ruangan dokter. Ruangan tersebut adalah tempat para dokter yang tidak memiliki ruangan pribadi. Sehingga cukup banyak orang di sana.
Apalagi saat ini hari sudah hampir sore. Sebentar lagi waktunya ganti shift.
"Mau ke mana, Mas?" tanya Intan, heran.
"Aku mau ketemu orang dulu sebentar, ya. Kamu tunggu di sini aja!" sahut Zein. Ia berusaha menyembunyikan emosinya.
__ADS_1
"Ooh, oke," sahut Intan, tanpa curiga.
Zein pun meninggalkan ruangannya. Lalu menuju ke ruangan tersebut dengan emosi yang siap meledak.