
Intan terperanjat saat Zein menariknya. Ia pun mematung kaku, tak berani menoleh ke arah Zein. 'Duh, ketauan dong?' batinnya. Ia sudah tidak bisa mengelak lagi jika memang Zein mendengar semua ucapannya.
Sebab Intan ingat betul bagaimana dirinya mendengar ucapan Zein saat sedang pura-pura tidur.
"Aku cinta kamu, Intan. Jangan tinggalkan aku," gumam Zein, pelan. Kemudian ia menelusupkan wajahnya di tengkuk Intan.
Jantung Intan berdebar hebat. Ia tak menyangka Zein akan mengatakan hal itu dalam waktu dekat. "Mas," panggilnya. Ia bahkan terharu setelah mendengar ucapan itu.
Namun, setelah beberapa detik, Zein tidak menjawab panggilan Intan. Intan pun mencurigai sesuatu. "Mas!" panggil Intan lagi. Nada suaranya mulai berubah.
Zein pun masih tidak menjawabnya.
Akhirnya Intan memberanikan diri untuk menoleh. "Cih! Pantesan aja berani ngomong begitu. Ternyata cuma ngigau. Dasar lemah!" cibir Intan, kesal.
Ia pun langsung melepaskan tangan Zein yang melingkar di perutnya. Kemudian membanting tangan itu.
Intan sangat kecewa karena harapannya sirna. Ia pun segera membersihkan tubuhnya. Kemudian Intan menyusul Zein tidur. Sebab dirinya sudah lelah setelah melayani suaminya selama beberapa jam.
"Good night, Suami galak," gumam Intan. Lalu ia langsung balik badan dan memunggungi Zein.
Zein yang sudah terbiasa tidur berdua dengan Intan itu selalu refleks memeluk istrinya meski ia sedang terlelap. Seperti tadi, ia merangkul pinggang Intan, lalu menariknya agar mendekat dan langsung mendekapnya.
Ia seolah tidak betah jika tidak memeluk Intan. Setiap malam, mereka memang selalu tidur dalam posisi seperti itu. Seandainya Intan balik badan pun Zein akan menaruh tangannya di bawah leher Intan.
"Hem ... gak cinta gak cinta, tapi maunya mepet terus. Dasar munafik. Percuma pendidikan tinggi tapi gak tau cara bahagiain istri," gumam Intan sambil menatap tangan Zein yang melingkar di perutnya.
Padahal Zein sendiri sudah lama tidak mengatakan bahwa dirinya tak mencintai Intan. Ia justru merasa sudah mengungkapkan perasaannya melalui perbuatan.
Intan pun terlelap dalam pelukan suaminya. Meski kesal, ia sudah mulai terbiasa dan nyaman tidur dalam pelukan hangat suaminya itu.
Apalagi Intan yang tidak terbiasa tidur menggunakan AC, membuatnya kedinginan jika tidak dipeluk.
Pagi hari, Zein bangun lebih awal. Saat membuka mata, ia melihat Intan masih terlelap di pelukannya.
"Good morning, Sunshine," gumam Zein sambil menatap Intan. Setelah itu ia mengecup keningnya.
Zein menarik tangannya yang ada di bawah tengkuk Intan secara perlahan. Seolah tidak ingin mengganggu tidur istrinya itu. Sebab, ia sadar Intan pasti kelelahan setelah perbuatannya semalam.
Zein langsung minum air mineral, lalu pergi ke kamar mandi. Pagi ini tubuhnya terasa begitu segar sebab sudah mendapat vitamin booster darinya.
Kala itu hari masih gelap, Zein pun memutar kran air hangat karena udara masih dingin. Ia memejamkan mata dan membiarkan air itu mengalir di tubuhnya. Lalu ia pun berniat mandi besar dan melakukan urutannya.
"Ahh, segar sekali," gumam Zein saat punggungnya tersiram guyuran air hangat dari shower dengan cukup kencang.
Selesai mandi, Zein segera melaksanakan shalat subuh. Ia mengenakan baju koko serta sarung dan peci berwarna hitam.
Jika Zein mengenakan pakaian seperti itu, Intan sangat menyukainya. Sebab, Zein terlihat begitu tampan jika memakai peci hitam. Keningnya yang terekspose sempurna, membuat wajah tampannya pun terpampang nyata, tanpa penghalang.
Namun sayang, saat ini Intan masih terlelap. Dari wajahnya saja sudah terlihat bahwa ia sangat kelelahan.
Selesai shalat, Zein duduk di samping Intan. Lalu ia memijat-mijat kaki istrinya sambil bershalawat. Memang seperti itulah cara Zein membangunkan Intan jika istrinya itu belum bangun. Perlakuan lembut tersebut membuat Intan semakin jatuh hati padanya.
Mendapat sentuhan lembut dan mendengar suara suaminya, Intan pun membuka mata.
"Eh, Mas," ucapnya. 'Duh, gantengnya suamiku,' batin Intan saat melihat Zein masih mengenakan peci dan koko.
"Udah mau jam setengah enam. Lebih baik kamu mandi, terus shalat," ucap Zein.
Intan pun mengangguk. "Iyah," jawabnya.
Zein beranjak dan meninggalkan kamar.
Intan memperhatikannya sambil tersenyum. "Gimana aku gak melting kalau diperlakukan kayak gitu? Sayang aja masih belum mau ngaku," ucap Intan sambil mengulum senyuman.
Ia pun turun dari tempat tidur dan bergegas mandi agar tidak tertinggal shalat subuh.
Sementara itu, Zein yang sudah puas mendapat service dari istrinya semalam, sedang mencuci piring dan lanjut membuat sarapan untuk mereka berdua.
"Bikin nasi goreng aja, deh. Kan dia pasti lapar setelah olah raga semalam," gumam Zein. Ia pun membuatkan nasi goreng untuk mereka.
Saat Intan keluar dari kamar mandi, ia mengendus aroma harum yang membuat perutnya terasa lapar. "Hem ... harum banget. Si jutek lagi masak apa, ya?" gumam Intan. Ia yakin aroma itu berasal dari masakan suaminya.
Intan pun segera shalat, lalu menghampiri suaminya yang sedang ada di dapur.
"Hem ... harum banget. Lagi masak apa, Mas?" tanya Intan. Lalu ia berdiri di samping Zein.
"Nasi goreng," jawab Zein sambil serius memasak.
__ADS_1
"Kelihatannya enak banget, deh," ucap Intan.
"Tentu. Memangnya pernah masakan saya gak enak?" tanya Zein.
Mata Intan langsung mendelik. "Mulai deh, kumat juteknya," ucap Intan. Akhirnya ia pun memilih pergi ke meja makan dan menunggu Zein di sana.
Zein menoleh ke arah Intan. "Jutek? Perasaan aku biasa aja. Masa begitu dibilang jutek?" gumam Zein, pelan.
Mungkin memang sudah pembawaannya seperti itu. Sehingga Zein tidak merasa jika sedang bersikap ketus atau jutek.
"Ini sarapannya, Nyonya," canda, Zein. Meski begitu, gaya bicaranya tetap kaku.
"Terima kasih, Tuan," sahut Intan. Lalu ia mengambil sendok dan garpu. Kemudian menyuapnya.
Intan sudah tidak heran jika Zein melayaninya. Setiap habis bercinta, Zein memang seperti itu. Apalagi jika Intan bangun kesiangan. Ia seolah ingin mengucapkan terima kasih dengan cara membuat masakan atau mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh Intan.
"Mas sejak kapan bisa masak?" tanya Intan sambil menikmati nasi goreng buatan suaminya.
"Sejak kuliah di luar negeri," sahut Zein. Ia pun makan dengan lahap karena memang sudah lapar.
"Oh, di sana hidup mandiri, ya?" tanya Intan lagi.
"Iya, memang di sana kebanyakan hidup mandiri. Orangnya pun rajin-rajin serta produktif," jelas Zein.
"Berarti gak ada yang malas, dong?"
"Kalau malas gak bisa makan dan bertahan hidup. Biasanya para mahasiswa di sana cari kerja part time untuk tambahan uang jajan mereka. Bagi yang sudah berkeluarga pun jarang yang mau bayar ART karena biayanya cukup mahal. Jadi mereka selalu bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan rumah," jelas Zein.
"Seru juga, ya. Pantesan Mas udah gak canggung ngerjain semua kerjaan rumah," ucap Intan.
"Iyalah, masa gitu aja gak bisa. Jadi orang itu gak boleh manja. Kalau manja dan malas, gimana mau sukses?" sahut Zein.
"Dulu Mas tinggal sama siapa?" tanya Intan lagi.
"Saya tinggal sendiri karena tidak nyaman jika tinggal dengan orang lain," jawab Zein.
Intan manggut-manggut. "Pas lagi kuliah, Mas punya pacar?" tanya Intan lagi.
Zein menghentikan makannya, kemudian ia menoleh ke arah Intan. "Punya," jawabnya, jujur, sambil menatap mata istrinya itu.
Intan sedikit kecewa mendengar jawaban Zein. Ia yang tidak bisa akting pun tak dapat menutupi rasa kekecewaannya. Apalagi dirinya belum pernah memiliki mantan pacar.
"Enggak, kok. Lagian aku gak punya hak buat cemburu," sahut Intan. Lalu ia melanjutkan makannya dengan kesal.
"Kenapa enggak? Kamu kan istri saya, jadi berhak untuk cemburu," jawab Zein, santai.
Intan pun langsung salah tingkah saat diberikan izin cemburu oleh suaminya itu. Hatinya berdebar-debar tak karuan. Hal sekecil itu saja sudah membuat Intan merasa dianggap oleh suaminya itu.
"Tapi kamu harus tahu, masa lalu itu tidak bisa diubah. Jika saya punya mantan pacar, bukan berarti saya mengkhianati kamu. Sebab dulu kita belum saling kenal. Jadi rasanya masa lalu itu tidak perlu dicemburui," jelas Zein.
"Lagian siapa yang cemburu? Tadi kan aku udah bilang gak cemburu," sahut Intan, kesal. Namun ia salah tingkah karena nyatanya Intan memang cemburu. Ia penasaran seperti apa mantan kekasih Zein.
"Tapi wajah kamu mengatakan sebaliknya. Kenapa? Kamu gak rela suamimu ini pernah dekat dengan wanita lain?" tanya Zein.
"Biasa aja!" sahut Intan, ketus. Hidungnya kembang kempis karena malu.
"Oh, biasa aja. Oke, kita lihat. Apa kamu cemburu jika nanti saya dekat dengan wanita lain," tantang Zein.
Intan langsung menoleh ke arah Zein. "Itu kan beda konsep, Mas. Kamu sendiri yang bilang kalau mantan itu masa lalu. Sementara, jika kamu berniat melakukannya di masa depan, artinya Mas selingkuh, dong." Intan protes.
Zein tersenyum. "Belum apa-apa aja udah marah. Kayak gitu masih mau ngelak kalau kamu cemburu?" tanya Zein. Tampangnya sangat meledek.
Akhirnya Intan terdiam. Ia kesal karena tebakkan Zein memang benar.
"Kamu tenang aja! Saya bukan tipe pria seperti itu. Lagi pula saya sibuk kerja, mana sempat untuk selingkuh," ucap Zein. Kemudian ia minum air mineral yang ada di hadapannya.
Seketika wajah cemberut Intan pun hilang. Ia lega setelah mendengar penjelasan suaminya barusan. Secara tidak langsung Zein berjanji padanya bahwa ia tidak akan selingkuh.
"Kalau mau senyum mah senyum aja! Gak usah ditahan," ucap Zein saat melihat Intan menahan senyuman. Kemudian ia beranjak dari meja dan mengangkat piringnya untuk menaruh piring itu di sink (bak cuci piring).
Saat Zein meninggalkan tempat itu, Intan pun melepaskan senyumannya. 'Kenapa dia jadi so sweet gitu, sih? Kan aku jadi pingin salto,' batin Intan, bahagia.
Beberapa saat kemudian, Intan sudah selesai makan dan cuci piring. Zein menghampirinya lalu mengatakan, "Habis ini kamu siap-siap, ya! Kita ke rumah Mamah," ucap Zein.
Tadi orang tuanya menghubungi dan meminta mereka untuk datang ke rumah Muh. Kebetulan hari ini Zein libur, jadi bisa pergi ke sana.
"Iya, Mas," sahut Intan. Ia pun bergegas menyelesaikan cuci piringnya. Kemudian berganti pakaian.
__ADS_1
Saat itu Zein sudah rapi, sehingga Intan memilih pakaian yang warnanya senada dengan pakaian Zein.
Ketika Intan sudah rapi, ia pun menghampiri Zein yang sedang memanaskan mesin mobil di luar.
"Udah siap?" tanya Zein saat Intan keluar rumah.
"Udah, Mas," sahut Intan.
"Ini kebetulan atau apa, ya? Warnanya bisa matching begini. Apa ini yang dinamakan jodoh?" goda Zein.
Intan hanya tersenyum malu saat digoda seperti itu oleh suaminya. Sikap Zein akhir-akhir ini cukup baik padanya. Sehingga Intan lupa dengan misinya yang ingin menggoda Zein.
"Ya udah, ayo!" ajak Zein. Mereka pun masuk ke mobil dan pergi ke rumah orang tua Zein.
"Mau beli apa buat Mamah, Mas?" tanya Intan. Ia tidak enak hati jika datang dengan tangan kosong.
"Beli buah aja. Mamah lebih suka buah dari pada yang lain," jawab Zein.
"Oh, ya udah," sahut Intan.
Mereka pun pergi ke toko buah dan memilih buah kesukaan mertua Intan tersebut.
"Mamah sukanya buah apa, ya?" tanya Intan.
"Mamah itu lebih suka buah import. Seperti cerry, delima, jeruk santang, dan lainnya," jawab Zein.
"Kenapa begitu?" tanya Intan.
"Nanti kamu bisa coba sendiri buahnya. Biar tau kenapa Mamah suka," sahut Zein.
Ketika mereka berada di counter jeruk santang, Zein mengambil satu buah dan mengupasnya. "Coba ini!" ucapnya sambil menyodorkan buah itu ke mulut Intan.
Disodorkan buah seperti itu, Intan pun kikuk. Ia hendak mengambilnya, tetapi Zein menarik tangannya. "Langsung hap aja! Tanganmu kotor," ucap Zein. Tadi Intan sudah memegang beberapa buah, jadi Zein anggap tangan Intan kotor.
Akhirnya Intan pun langsung melahap buah yang disuapi oleh suaminya itu.
"Emmm ...," gumam Intan.
"Kenapa?" tanya Zein.
"Jeruknya manis banget. Padahal kecil dan kulitnya agak hijau. Kirain asem," sahut Intan sambil mengunyah jeruk berukuran mini itu.
"Iya, manis. Kayak kamu," gumam Zein pelan sambil mengambil pelastik khusus buah yang ada di sana.
Intan langsung balik badan dan tersenyum lebar. Namun ia terkejut karena Zein yang ada di belakangnya itu menoleh ke hadapannya.
"Kalau mau senyum gak usah sembunyi," ucap Zein sambil menatap Intan. Kemudian ia lanjut mengambil jeruk tersebut.
'Aaaaaa, malu banget,' batin Intan. Ia langsung pergi ke counter lain karena tidak sanggup berhadapan dengan Zein.
"Ya ampun ... kenapa sih dia ngeledekin aku terus? Kenapa juga dia bisa tau kalau tadi itu aku lagi senyum. Malu malu maluuuu," keluh Intan saat posisinya sudah jauh dari Zein.
"Apa bener dia bisa baca pikiran, ya? Dari dulu, sebelum nikah, dia itu sering banget muncul tiba-tiba. Terus kalau ngomong kayak tau apa yang ada di pikiran aku. Hiks."
Intan hanya pura-pura memilih buah tanpa sadar buah apa yang sedang ia pegang.
"Lagi milih apa?" tanya Zein yang ternyata sudah ada di sampingnya.
Intan pun terperanjat. "I-ini, lagi milih nanas," jawabnya, karena matanya melihat nanas yang ada di seberang.
"Oh, baru tau kalau nanas bulat," ledek Zein. Ternyata yang sedang Intan pegang itu apel.
'Mampus!' batin Intan. Namun kali ini ia berusaha menutupi rasa malunya.
"Enggak, bukan yang ini, tapi yang itu!" ucap Intan sambil menunjuk nanas yang tadi ia lihat.
Zein pun menoleh ke arah yang Intan tunjuk. "Oh, kamu hebat, ya. Milih buah dari jarak jauh. Apa kamu punya indra ke enam?" sindir Zein.
Intan tak dapat berkata-kata. Ia sebal karena selalu dibuat malu oleh sikapnya sendiri.
Belum sempat Intan mengendalikan rasa malunya, ia kembali dibuat terkejut karena ada dokter yang menyapa Zein.
"Pagi, Prof. Tumben belanja sendiri?" sapa dokter wanita itu.
Bola mata Intan hampir melompat. Ia yang sedang memunggungi wanita itu pun langsung bergerak perlahan tanpa menoleh.
"Eh, iya," sahut Zein, kikuk.
__ADS_1
"Dokter Intan, ya?" tanya dokter itu. Ternyata ia mengenali Intan meski dari belakang.