Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
69. Resepsi


__ADS_3

Melihat suaminya siuman, Intan pun sangat bahagia. "Mas! Maafin aku," ucap Intan sambil memeluk Zein.


Zein tersenyum. Ia senang karena Intan sudah tidak marah padanya. "Kamu gak perlu minta maaf, Sayang. Mas yang seharusnya minta maaf," sahut Zein.


"Tapi kan gara-gara aku, kamu jadi sakit kayak gini," ujar Intan.


"Udah, aku gak apa-apa. Ini cuma karena kurang kasih sayang sama belaian kamu aja," ucap Zein.


Intan langsung mengerungkan wajahnya. "Mas!" tegurnya. Ia tidak enak hati pada Muh dan Rani.


Sementara itu mertua Intan geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya. "Sepertinya kamu sudah sembuh," sindir Rani.


"Sembuh kalau dirawat istri sendiri, Mah," jawab Zein sambil tersenyum.


"Mass! Lagi sakit juga. Sempet-sempetnya bercanda, deh," keluh Intan.


"Tapi aku serius, Sayang," ucap Zein sambil menatap istrinya.


"Ya udah deh, mamah nyesel tadi udah panik. Sekarang mendingan kita pulang yuk, Pah!" ajak Rani. Ia tahu anaknya itu sedang butuh waktu berdua. Apalagi ia telah diabaikan oleh Intan seminggu lamanya.


"Ayo, Mah! Yang penting kamu baik-baik aja," sahut Muh. Ia pun malas berada di sana terlalu lama.


"Alhamdulillah," ucap Zein sambil tersenyum.


"Kamu nih!" Rani langsung menepuk kaki Zein. Ia kesal karena anaknya itu tidak punya malu.


Mereka pun pergi meninggalkan ruangan itu. Kini hanya tersisa Zein dan Intan.


Zein menggenggam tangan istrinya. "Sayang, aku kangen banget sama kamu," ucap Zein. Ia seperti sudah lama tidak bertemu dengan istrinya itu.


"Aku juga, Mas," jawab Intan. Kemudian ia memeluk kembali suaminya itu.


"Kalau kangen, kenapa kemarin kamu nyuekin aku terus?" tanya Zein, manja.


"Abisnya kamu tega jahatin aku. Aku kesel," sahut Intan, tidak kalah manja.


"Iya, aku minta maaf. Itu kesalahan terbesar aku. Tapi aku mohon, jangan nyuekin aku kayak gitu lagi, ya? Lebih baik kamu pukul atau hajar aku! Dari pada dicuekin begitu, sakit banget rasanya," lirih Zein.


Intan mengangguk. "Gak akan, Mas. Lihat kamu pingsan tadi aja, aku nyesel banget. Rasanya pingin mutar waktu dan gak akan nyuekin kamu lagi. Aku takut kamu kenapa-kenapa," ucap Intan.


Zein tersenyum. "Takut aku mati?" tanyanya.


"Hus! Kamu nih kok ngomongnya sembarangan, sih?" tegur Intan. Ia tidak ingin mendengar kalimat itu.


"Tapi bener, kan?" tanya Zein lagi.


"Iya. Tapi gak usah diomongin, lah!" Intan sebal karena Zein membahas hal itu.


Zein mendekap istrinya. "Ya udah, doain aja biar umur Mas panjang. Jadi kita bisa sama-sama terus," ucap Zein.


"Aamiin," sahut Intan.


"Kamu tau gak biar Mas panjang umur gimana caranya?" tanya Zein.


"Gimana?" Intan balik bertanya.


Zein pun membisikkan sesuatu pada istrinya itu.


"Maass! Kamu nih abis pingsan juga sempet-sempetnya bahas itu. Ya ampun!" Intan sebal karena suaminya itu sangat genit.


"Tapi emang begitu. Kan kalau dikasih jatah, aku jadi happy. Semakin aku happy, imun aku semakin meningkat. Makanya kalau kamu mau aku panjang umur. Sering-sering kasih jatah!" ucap Zein sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ah, itu mah bisa-bisaannya kamu aja!" ucap Intan sambil menekuk wajahnya.


"Tapi ini aku udah seminggu gak dikasih jatah, masa kamu tega, sih?" keluh Zein.

__ADS_1


"Ya udah iya. Nanti pulang dari rumah sakit aku kasih," jawab Intan.


Zein menggelengkan kepalanya. "Aku maunya sekarang," ucapnya.


"Mas!"


Zein tidak menjawab ucapan Intan. Ia hanya memasang tampang memelas. Hingga akhirnya Intan pun mengalah dan memberikan apa yang suaminya inginkan.


***


Beberapa minggu kemudian.


"Mas, ini undangannya gak ada yang kelewat, kan?" tanya Intan, saat hendak turun dari mobil.


Pernikahannya tinggal seminggu lagi. Sehingga Intan dan Zein sudah harus menyebarkan undangan.


"InsyaaAllah aman, Sayang. Semalam kan sudah kita cek ulang," jawab Zein.


"Ya udah. Ini punya kamu, yang ini punyaku," ucap Intan, sambil memberikan paper bag yang berisi undangan untuk rekan Zein.


"Oke," sahut Zein. Kemudian mereka pun turun dari mobil.


"Pagi, Prof!" sapa staf yang berpapasan dengan mereka.


"Mas, aku mau ke ruang IGD dulu, ya? Biar gak bolak balik," ucap Intan sambil menunjukkan paper bag-nya.


"Oke. Hati-hati ya, Sayang!" sahut Zein.


Intan pun mengangguk, kemudian mereka berpisah dan Intan menuju ke ruangan IGD yang berada di samping lobby tersebut.


"Assalamu alaikum," ucap Intan pada suster yang sedang berjaga.


"Waalaikum salam. Eh, dokter Intan. Tumben pagi-pagi udah ke sini?" tanya suster itu.


"Iya, mau ngasih ini," ucap Intan sambil memberikan undangan pada suster tersebut.


"Pagi," jawab dokter itu, kikuk. Sampai saat ini ia masih malu dan merasa bersalah pada Intan. Sehingga sikapnya sangat canggung setiap kali bertemu Intan.


Ia memang tidak mendapat hukuman dari Zein ataupun Muh. Sebab, mereka tidak memiliki alasan kuat untuk menghukumnya. Namun, kenyataan bahwa Intan adalah istri Zein sudah cukup menjadi hukuman baginya.


Ia menyesal karena telah bersikap tidak baik pada Intan.


"Ini undangan buat dokter. Jangan lupa datang, ya," ucap Intan sambil memberikan undangan tersebut pada dokter itu.


"Oh iya, terima kasih, Dok," sahut dokter tersebut sambil menerima undangan dari Intan. Kali ini sikapnya jauh lebih menghormati Intan.


"Ya udah aku tinggal dulu. Ini titip buat yang lain, ya. Selamat bekerja," ucap Intan. Ia menitipkan beberapa undangan untuk dokter dan suster yang bekerja di IGD. Kemudian Intan pun pergi.


Hari ini mereka semua heboh karena menerima undangan dari Zein dan Intan. Meski telah mengetahui bahwa Zein dan Intan sudah manikah, tetapi momen resepsi pernikahan pemilik rumah sakit, tentu membuat mereka antusias.


Mereka pun kompak dan janjian dengan rekan terdekat untuk datang bersama. Bahkan beberapa dari mereka ada yang mengajak keliuarga untuk menghadiri undangan tersebut.


Seminggu kemudian ....


Hari ini merupakan hari penyelengaraan resepsi pernikahan Intan dan Zein. Rani sudah menyiapkan pesta yang mewah dan megah di sebuah ballroom hotel bintang lima.


Acara sengaja dilangsungkan di malam hari agar suasananya lebih elegant.


"Wah, menantu mamah cantik sekali," ucap Rani.


"Alhamdulillah, terima kasih, Mah," jawab Intan. Saat ini ia baru saja selesai di dandani di sebuah kamar hotel.


"Mbak Fatma dulu ngidam apa, sih? Bisa punya anak secantik Intan?" tanya Rani pada besannya.


"Mbak kan tau sendiri. Aku dulu waktu hamil Mbak yang nemenin, deh," sahut Fatma.

__ADS_1


"Oh iya, aku lupa. Hehehe."


"Gimana ini acaranya udah siap, ya?" tanya Rani. Ia sudah tidak sabar ingin acaranya segera dimulai. Sebab para tamu pun sudah memadati venue.


Tak lama kemudian team WO pun datang ke kamar untuk menjemput pengantin. Sebab sebentar lagi acara akan segera dimulai.


Acara seperti itu memang harus dilakukan sesuai jadwalnya. Sebab banyaknya tamu undangan dan rundown yang harus dilakukan membuat acara tersebut harus berjalan efektif. Apalagi pelaksanaannya di malam hari.


Sehingga waktu mereka terbatas dan tidak bisa bersantai lagi.


"Sayang, ayo!" ajak Zein saat baru saja tiba di kamar Intan.


Intan pun tersenyum melihat suaminya begitu tampan. Kemudian mereka berjalan menuju ballroom tempat acara akan dilangsungkan.


Intan mengenakan gaun yang mengembang di bagian pinggang ke bawah. Sehingga perutnya tidak terlihat terlalu menonjol.


Bukan bermaksud untuk menutupinya. Namun mereka hanya ingin Intan tampil sempurna. Layaknya pengantin baru.


Tiba di depan ballroom, mereka semua berbaris dan bersiap memasuki ruangan yang sangat luas itu.


Para team WO terlihat sibuk mengatur acara. Mereka berkomunikasi menggunakan handie talkie (HT). sementara para tamu sudah berbaris di samping karpet merah dan bersiap menyambut pasangan yang fenomenal itu.


Di pintu masuk, sudah berdiri seorang pria yang memegang saxophone serta wanita yang memegang biola untuk mengiringi mereka hingga ke pelaminan.


"Oke, ready!" ucap salah satu team WO.


"Lanjut!" sahut yang lain.


Dua orang menarik pintu yang berukuran jumbo itu agar bisa terbuka. Sehingga para tamu dapat melihat pengantin yang sejak tadi berdiri di balik pintu.


Musik pengiring pun langsung terdengar. Lampu-lampu temaram menghiasi dekorasi malam itu.


Zein dan Intan pun melangkah dengan begitu elegant. Layaknya pangeran dan permaisuri. Mereka melewati pergola yang memiliki lantai transparant dengan hiasan bunga dan lampu di dalamnya.


Kemudian mereka pun melewati karpet merah yang ditaburi oleh kelopak bunga mawar putih.


Seluruh kamera tertuju pada mereka. Sehingga senyuman mereka terus mengembang. Meski ada sedikit rasa canggung dan grogi.


Tentu saja hati Intan berdebar-debar. Sebab saat ini ia menjadi pusat perhatian begitu banyak orang.


Pesta malam itu pun berlangsung dengan sangat meriah. Seluruh tamu terlihat puas dengan jamuannya. Kerabat terdekat pun asik menikmati musik yang ada.


Setelah acara selesai, Zein dan Intan pun menuju kamar mereka untuk beristirahat.


"Berarti sekarang kita bulan madu lagi dong, Sayang?" tanya Zein sambil berjalan menuju kamar.


"Kamu mah setiap hari juga bulan madu!" sahut Intan.


"Tapi kan kali ini beda. Ya udah jangan honeymoon deh, tapi baby moon," ucap Zein lagi.


Mereka pun terus berbincang sampai masuk ke kamar dan mengulangi pengalaman setelah menikah waktu itu.


Zein dan Intan yang awalnya keberatan saat dijodohkan. Kini justru hidup bahagia, layaknya pasangan yang saling mencintai.


-Tamat-


Terima kasih kalian sudah setia baca sampai bab ini. Terima kasih juga atas support kalian selama ini. Maaf atas segala kekurangan. Tolong ambil sisi positifnya aja, yang jeleknya jangan ditiru.


Sekadar info, buku ini sudah dicetak dan bisa dipesan langsung melalui marketplace orange dan hijau. Kalian bisa cari dengan Judul yang sama "Novel Dinikahi Profesor Galak" atau pesan langsung via DM di IG @justmommy2020.


Namun, karena jumlah bab-nya terlalu banyak maka di buku cetak lebih fokus ke hidden chapter dan extra chapter (prequel & sequel) yang belum pernah kalian baca sebelumnya. Seperti momen Intan lahiran dan pertemuan pertama mereka.


Jadi kalian gak akan merasa rugi ketika membeli versi cetaknya karena isinya berbeda. Kalaupun ada yang sama, mungkin hanya konflik utamanya saja. Namun tidak akan terlalu banyak.


Sekian dan terima kasih,

__ADS_1


See u,


JM.


__ADS_2