
Deg!
Intan terperanjat saat melihat Zein muncul. Hantinya berdesir, bahagia karena ternyata Zein tidak meninggalkan rumah.
'Eh, kirain pergi,' batin Intan, sambil menahan senyuman.
"Ditanya kok gak jawab," ucap Zein sambil berlalu menuju lemari. Ia mengambil pakaian santai karena ingin stay di rumah.
"Ini baru mau tidur, Prof," sahut Intan.
Zein yang sedang mengambil pakaian pun menghentikan gerakannya. Kemudian ia menoleh ke arah Intan dan menaruh satu tangannya di pinggang. Satu lagi berpegangan pada lemari.
"Sampai kapan kamu mau manggil saya dengan sebutan seperti itu? Ini rumah, kamu istri saya dan saya bukan konsulenmu lagi. Apa kamu pikir panggilan seperti itu pantas untuk suami?" tanya Zein.
Sebenarnya sudah sejak lama ia risih dengan panggilan seperti itu. Namun baru kali ini ia protes.
"Terus saya harus manggil apa?" tanya, Intan. Ia bingung panggilan apa yang pantas untuk suaminya itu.
"Ya terserah. Sayang kek, atau apa gitu," ucap Zein sambil balik badan dan menahan senyuman. Rasanya ia akan sangat bahagia jika Intan memanggilnya dengan sebutan sayang.
Intan hampir saja terkekeh. Ia merasa usulan Zein itu sangat konyol. "Sayang? Ya kali aku manggil dia sayang. Mana mungkin? Meski dia udah bikin hati aku berdebar-debar, tapi tetep aja omongannya nyelekit. Gak pantes banget dipanggil sayang," gumam Intan, pelan.
Intan tidak habis pikir mengapa Zein mengusulkan panggilan tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu saya panggil 'Mas' aja, ya?" tanya Intan.
"Oke, itu lebih baik dari pada sebelumnya," jawab Zein. Meski ia sempat kecewa. Namun Zein cukup senang dari pada Inan memanggilnya dengan sebutan ‘Prof’. Kemudian ia berganti pakaian di hadapan Intan.
Saat Zein melepaskan pakaiannya, Intan memalingkan wajah.
"Kenapa? Kamu tergoda kalau melihat tubuh saya?" tanya Zein sambil memakai baju.
"Bukan begitu, Prof. Eh, Mas. Saya cuma gak nyaman aja," jawab Intan.
"Gak nyaman kenapa? Kan kamu udah sering lihat saya telanjang," tanya Zein lagi. Ia sengaja mengucapkan kalimat yang vulgar untuk menggoda istrinya itu.
Zein melemparkan pakaian kotornya ke keranjang. Setelah itu ia menghampiri Intan.
"Itu kan sikonnya beda," sahut Intan, kesal.
"Beda kenapa? Bukankah sama saja? Lihatnya kan sama-sama pakai mata. Kecuali yang satu lihatnya pakai gairah, lalu satu lagi pakai perasaan, baru beda," ucap Zein sambil duduk di samping Intan.
"Prof mau apa?" tanya Intan. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan karena ucapan Zein semakin menyebalkan.
"Mau meriksa kamu lagi," jawab Zein.
Intan mengerutkan keningnya. "Lho, kan tadi udah?" tanyanya.
"Saya ingin memastikan sesuatu. Sebab ada yang saya curigai," ucap Zein.
Intan pun panik. "Apa?" tanyanya. Ia khawatir Zein mengetahui alasan jantungnya berdebar.
"Kenapa panik? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari saya?" tanya Zein sambil tersenyum.
Intan menggeleng cepat. "Enggak," sahutnya sambil memalingkan wajah.
"Oke, kita buktikan sekarang!" ucap Zein. Ia kembali memasang stetoskop di telinganya. Kemudian memeriksa detak jantung Intan lagi.
"Intan!" panggil Zein saat ia sudah mengarahkan kepala stetoskop itu ke dada Intan.
Intan pun menoleh. Lalu Zein langsung menatapnya dengan tatapan tajam.
Ditatap seperti itu oleh Zein, Intan pun tidak sanggup. Ia langsung memalingkan wajah karena merasa sesak.
Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya kala mendengar debaran jantung Intan semakin cepat saat mata mereka saling beradu pandang.
"Kenapa? Saya kan belum selesai natap kamu," tanya Zein.
"Apa hubungannya pemeriksaan jantung sama tatapan mata?" tanya Intan.
"Jelas ada," sahut Zein.
"Apa?" tanya Intan lagi.
"Nanti saya jelaskan. Tapi kamu harus natap saya dulu sampai saya mengizinkan kamu berpaling!" pinta Zein.
"Kalau saya gak mau?" tanya Intan.
"Saya akan membawa kamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan," ancam Zein. Ia yakin Intan tidak akan mau pergi ke rumah sakit.
"Ya udah, iya," sahut Intan. Akhirnya Intan pun menoleh dengan berat hati.
"Oke, jangan alihkan pandangan kamu sebelum saya selesai memeriksa!" pinta Zein sambil menatap Intan.
Intan mengangguk sambil menelan salivanya. 'Kenapa harus begini, sih?' batin Intan. Wajahnya terasa panas. Apalagi kala Zein mendekatkan wajahnya ke wajah Intan.
Deg-deg-deg-deg-deg-deg!
Debaran jantung Intan semakin cepat, bahkan ia merasa semakin sesak, seolah hampir meledak.
Sampai-sampai ia memejamkan mata saat wajah Zein hanya berjarak lima centi dari wajahnya.
"Kenapa? Sepertinya kamu tidak sanggup menatap mata saya?" tanya Zein sambil memundurkan wajahnya.
__ADS_1
"Enggak apa-apa," jawab Intan.
"Intan!" panggil Zein. Saat itu ia masih belum memindahkan stetoskopnya.
Intan pun membuka matanya. "Iyah?" sahut Intan.
"Sepertinya kamu sudah jatuh cinta pada suamimu ini. Benar, kan?" tanya Zein.
Deg!
Jantung Intan hampir melompat saat ditembak seperti itu oleh Zein.
"Mas jangan ngarang!" ucap Intan. Lalu ia langsung memutar tubuhnya, memunggungi Zein. Wajahnya merah padam karena malu.
"Saya gak ngarang. Tadi debaran kamu semakin cepat saat wajah saya mendekat. Kamu pun tidak sanggup menatap mata saya dalam waktu yang lama. Dan saat saya bertanya barusan, debaran kamu semakin cepat. Jadi saya yakin kalau kamu memang jatuh cinta pada saya," jelas Zein.
Ia sangat percaya diri saat mengatakan hal itu. Ia pun senang jika memang Intan mau mengaku.
Intan ternganga. Ia menyesal karena telah tergoda olehnya. Ia tidak habis pikir mengapa Zein sangat percaya diri.
"Saya kan sudah bilang, ini biasa terjadi jika sedang merasa tidak nyaman karena haid. Lagi pula kondisi wanita haid itu tidak bisa disamakan dengan orang normal. Jangankan tekanan darah atau debaran jantung, bahkan hormon pun bisa berubah," jelas Intan.
Ia sangat gengsi untuk mengakui perasaannya. Sebab, saat ini Zein pun masih belum menyatakan cinta padanya.
"Oya? Jadi wajah kamu merona pun karena sedang haid?" sindir Zein.
Saat ini Intan menyesal karena berharap Zein stay di rumah. Kini ia justru menginginkan Zein segera pergi dari pandangannya.
Melihat Intan kesal, Zein mengukung Intan sambil duduk. "Gak perlu gengsi. Bukan hal aneh jika istri jatuh cinta pada suaminya. Saya pun tidak akan keberatan," bisik Zein.
Intan meremas erat selimut yang menutupi tubuhnya. Ia kesal karena Zein malah mengatakan 'tidak keberatan' padahal seharusnya ia menyatakan cinta agar Intan lega.
Akhirnya ia memberanikan diri untuk menatap Zein.
"Maaf ya, cinta saya hanya untuk pria yang mencintai saya dengan tulus. Jadi Anda tidak perlu khawtair. Saya akan menjaga hati saya agar tidak tergoda oleh Anda!" ucap Intan sambil menatap Zein.
Hati Zein terasa begitu sakit saat mendengar ucapan Intan seperti itu. Padahal sebenarnya mudah saja, ia hanya perlu menyatakan cinta lebih dulu. Namun Zein yang awalnya ingin mengakui perasaannya itu justru mengurungkan niatnya karena ucapan Intan barusan.
Padahal seandainya barusan Intan mengaku, Zein pun akan mengungkapkan perasaannya.
"Oke, kita lihat sampai kapan kamu akan bertahan dengan perasaanmu itu," ucap Zein. Kemudian ia bangkit dan meninggalkan kamar itu.
Brug!
Zein sedikit membanting pintu karena kecewa pada Intan. Sementara Intan langsung menitikan air mata karena kecewa pada suaminya itu.
Hal sepele menjadi rumit hanya karena ego yang tinggi. Padahal, jika salah satu dari mereka ada yang mau menurunkan egonya, pasti saat ini hubungan mereka sudah jauh lebih baik.
"Argh!" pekik Zein, sambil mengusap kasar wajahnya. Ia kesal pada keadaan.
Setelah menghubungi rumah sakit, Zein searching tentang makanan yang cocok untuk desminore. "Aku coba masak ini aja, deh," gumamnya. Meski kesal, ia berniat memasak makanan untuk istrinya.
Zein sibuk memasak soup ayam untuk istrinya. Sebelumnya ia sudah searching masakan yang cocok untuk wanita yang sedang haid. Dan Zein memutuskan memasak soup ayam yang ditambah sedikit jahe agar dapat menghangatkan dan memberi rasa nyaman.
Meski mulutnya pedas, tetapi Zein sangat serius ketika sedang memasak makanan untuk istrinya itu. Ia bahkan memilih kualitas bahan terbaik yang ada di kulkasnya.
"Done! Semoga dia suka," gumam Zein setelah mem-plating soup tersebut. Awalnya ia ingin menghiasnya. Namun Zein mengurungkan niatnya itu. Ia tidak ingin Intan mengira bahwa dirinya sengaja ingin berbuat romantis.
Selesai memasak, Zein mengecek Intan ke kamar. Ia sengaja tidak membawa soupnya dulu karena khawatir Intan sedang tidur.
Ceklek!
Zein membuka pintu perlahan karena tidak ingin mengganggu istirahat Intan. Namun, saat melihat Intan sedang terlelap, Zein menghampiri istrinya itu dan duduk di sampingnya.
Zein memandangi wajah Intan, kemudian menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah cantik itu.
"Kenapa kamu harus berbohong? Padahal aku yakin kamu memang sudah jatuh cinta padaku. Apa kamu terlalu gengsi untuk mengakuinya?" gumam Zein sambil mengelus pipi Intan.
Ia tidak sadar bahwa gengsinya pun melebihi Intan. Seharusnya ia menyatakan cinta lebih dulu. Namun sayang Zein malah tidak sadar akan hal itu.
"Maaf jika aku sering menyakiti hatimu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sebenarnya aku hanya ingin menunjukkan perhatian. Namun sepertinya terkadang caraku yang salah," ucap Zein.
Ternyata ia sadar bahwa selama ini dirinya sering menyakiti Intan. Namun sayangnya jika sedang berbicara, Zein sering kali lepas kendali sehingga begitu mudah mengucapkan kalimat yang menyakiti hati Intan.
Zein yang sedang menatap Intan pun mendekatkan bibirnya ke wajah istrinya tersebut. Lalu ia mendaratkan bibirnya itu di kening Intan.
Cup!
"Love you," bisik Zein.
Deg!
Bak disambar petir di siang bolong. Jantung Intan hampir terlepas, tubuhnya meremang. Ternyata ia tidak tidur. Saat mendengar suara pintu terbuka tadi, Intan langsung pura-pura tidur. Sehingga ia dapat mendengar semua ucapan suaminya.
Setelah itu Zein mengusap pipi Intan dan beranjak, meninggalkan kamar tersebut.
Menyadari Zein sudah keluar, Intan pun membuka matanya. "Apa aku gak salah denger?" gumam Intan sambil menoleh ke arah pintu. "Oksigen, aku butuh oksigen," ucap Intan sambil menghirup napas dalam-dalam. kejadian barusan membuat Intan merasa sesak.
"Jadi, selama ini ...?" Intan masih tidak percaya bahwa ternyata Zein mencintainya. Bahkan air mata Intan sampai mengalir karena terharu atas pengakuan Zein barusan. Meski Zein tidak mengakuinya secara terang-terangan, tetapi Intan cukup bahagia.
"Huhuhu, jahat banget. Kenapa harus nyakitin aku kalau emang cinta?" lirih Intan, pelan. Hatinya bertalun-talun, tak menyangka bisa dicintai oleh profesor galak yang selama ini ia takuti.
"Pantesan sejak pertama nikah, dia langsung pingin malam pertama. Munafik sekali, bilangnya bisa melakukan itu tanpa cinta, tapi ternyata ...." Intan sangat geram. Rasanya ia ingin protes pada Zein. Namun Intan berusaha pura-pura tidak tahu karena ia ingin Zein menyatakan cintanya dengan benar.
__ADS_1
Intan mengusap air matanya. Lalu ia tersenyum. "Oke, kita lihat, sampai di mana kamu akan bertahan," gumam Intan sambil mengulum senyuman.
Ia sudah merencanakan sesuatu agar Zein bisa mengakui cintanya.
Intan memeluk guling sambil senyum-senyum. Ia sudah tidak sabar ingin segera melancarkan aksinya. "Liat aja, kamu bakalan nyesel karena udah jutek sama aku!" gumam Intan sambil menatap foto pernikahan mereka yang dipajang di dinding kamar itu.
"Eh, tunggu deh! Kok aku baru sadar ya, di foto itu dia kelihatan santai banget. Kayak emang lagi nikah sama orang yang dicintai," ucap Intan.
Intan yakin jika Zein tidak mencintainya, seharusnya pose Zein tidak seberti itu. Di foto, ia terlihat sedang memeluk Intan dengan begitu nyaman. Bahkan matanya pun berbinar, seolah menunjukkan kebahagiaan. Berbeda dengan Intan yang kaku karena tidak nyaman dipeluk oleh Zein untuk pertama kalinya.
"Aku jadi semakin yakin, dia mempercepat pernikahannya karena emang udah punya perasaan sama aku. Pantes aja selama ini sikapnya aneh. Jutek tapi perhatian. Aku jadi bingung harus seneng atau kesel," ucap Intan lagi.
"Hem ... untuk permulaan, enaknya aku ngapain, ya?" gumam Intan. Ia akan menyusun strategi untuk menguji Zein. Intan pun tersenyum saat mengingat dirinya sedang haid.
"Hihihi, aku siksa aja dia. Dia kan paling mudah tergoda," gumam Intan sambil tersenyum.
Ia tahu betul suaminya itu begitu mudah tergoda. Tadi saja saat ia baru keluar dari kamar mandi langsung diserang seperti itu.
Intan jadi senyum-senyum sendiri membayangkan betapa nafsunya Zein pada Intan. Bahkan saat malam pertama saja Zein sampai mengulanginya beberapa kali.
Sejak menikah, mereka tidak pernah melewatkan malam tanpa bercinta. Sebab Zein selalu meminta jatah pada Intan.
"Aha!" Intan begitu bersemangat kala mendapatkan sebuah ide. Akhirnya ia pun turun dari tempat tidur dan melancarkan aksinya.
Setelah minum obat dan beristirahat sebentar, rasa sakit di perut Intan sudah berkurang. Apalagi saat ini ia sedang happy, sehingga Intan bisa beraktifitas seperti biasa lagi.
"Maaf ya, ini demi kebaikan rumah tangga kita," gumam Intan sambil melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan segitiga pengaman karena sedang haid.
Setelah itu Intan berjalan ke kamar mandi dan berteriak. "Aawww!" pekik Intan sekencang mungkin.
Zein yang sedang duduk di ruang tengah pun terkejut. Ia langsung berlari ke kamar untuk mengecek istrinya.
Sebelumnya Zein memang tidak menutup rapat pintu kamarnya, sehingga suara Intan bisa terdengar.
Ia bingung karena Intan tidak ada di tempat tidur. Akhirnya Zein mencari Intan ke kamar mandi.
"Astaga, kamu kenapa?" tanya Zein. Ia terkejut melihat posisi Intan sudah terduduk di lantai dengan pose yang sangat menggoda.
"Kepeleset, Mas," jawab Intan, sambil meringis.
Zein pun mendekat ke arah istrinya itu.
"Kamu kenapa tidak memakai baju?" tanya Zein. Ia kesal karena kondisi Intan saat ini sangat menggoda.
"Tadi aku mau mandi, soalnya gerah banget. Tapi malah kepeleset," jelas Intan dengan tampang memelas.
"Gerah? Memangnya AC tidak nyala?" tanya Zein. Ia ingat betul tadi sudah menyalakan AC di kamarnya itu.
"Entahlah, yang pasti aku kegerahan dan pingin mandi," jawab Intan.
"Ada-ada saja!" gumam Zein. Kemudian ia berjongkok di hadapan Intan dan menggendongnya.
Zein tidak berani menoleh ke arah Intan karena takut tergoda. Jika Intan sedang tidak berhalangan, mungkin tak masalah bagi Zein. Namun ia ingat saat ini istrinya sedang tidak bisa 'dijamah'.
Apalagi saat ini Intan sedang pura-pura menutupi dadanya. Tekanan tangannya itu malah membuat dadanya semakin menyembul dan terlihat begitu seksi.
Meski berusaha tidak menoleh. Namun bayangannya masih terlihat. Hingga membuat mata Zein refleks melirik ke arah tersebut.
Zein pun langsung menelan saliva. 'Sial! Apa dia sengaja menggodaku?' batinnya, kesal.
Intan tersenyum sambil memalingkan wajah saat melihat tenggorokkan Zein bergerak.
"Mas haus?" tanya Intan sambil menatap Zein.
"Tidak," sahut Zein, singkat.
"Ooh, kirain haus. Soalnya Mas kayak habis nelan air liur," ucap Intan jujur.
Deg!
Wajah dan telinga Zein langsung merah padam. Ia malu karena ketahuan.
"Jangan sok tau, kamu!" ucapnya, kesal.
Rasanya Intan ingin tergelak saat melihat suaminya malu seperti itu. Namun ia masih tetap bertahan dengan aktingnya.
"Aww!" lirih Intan saat Zein menurunkannya di tempat tidur.
Zein langsung menoleh ke arah Intan. "Kenapa?" tanyanya. Namun matanya gagal fokus karena teralihkan oleh dada Intan yang memang sengaja ditekan itu.
"Sshh, ini bokong aku sakit. Kayaknya harus dipijit karena tadi sempat terbentur lantai," jawab Intan, manja.
Zein terkesiap. "Kalau begitu kita ke rumah sakit aja biar langsung diperiksa!" ajak Zein. Saat ini ia sedang tidak ingin melihat atau menyentuh tubuh Intan yang satu itu. Sebab itu adalah bagian favoritnya. Sehingga ia akan tersiksa jika hanya menyentuhnya saja.
"Gak usah, deh. Aku malu kalau ke rumah sakit," jawab Intan.
"Malu kenapa?" tanya Zein sambil mengerutkan keningnya.
"Ya malulah. Namanya juga diperiksa bokongnya. Jangankan sama dokter laki-laki, sama dokter perempuan aja aku malu kalau bokongku dilihat," ucap Intan.
Ia sengaja menyebut dokter laki-laki. Sebab, Intan yakin Zein tidak akan rela jika bokong Intan diperiksa atau dilihat oleh laki-laki lain. Meski dia adalah dokter.
"Terus gimana?" tanya Zein. Saat ini otaknya sedang buntu karena godaan Intan.
__ADS_1
"Bisa tolong pijitin gak, Mas?" pinta Intan, malu-malu.