
Zein dan Intan terkesiap. Kemudian Zein menoleh ke balik pohon.
"Eh, ada Mas Bian. Kirain gak ada orang," ucap Zein tanpa dosa. Hatinya senang karena secara tidak langsung telah menunjukkan kemesraan di depan Bian.
"Santai aja, Prof. Silakan dilanjut! Anggap aja gak ada orang," sahut Bian. Kemudian ia melirik ke arah Intan dan memalingkan wajahnya. Hatinya sangat panas dan bergejolak. Bahkan wajahnya merah padam.
"Oke kalau begitu. Kami permisi dulu," jawab Zein. Ia malah sengaja bersikap seolah tak merasa bersalah.
"Ayo, Sayang!" ucapnya. Kemudian Zein merangkul Intan.
"Iyah," sahut Intan, kikuk. Meski ia tidak memiliki perasaan pada Bian. Namun ia tak enak hati melihat Bian seperti itu. Seandainya ia tahu atas apa yang telah suaminya lakukan pada Bian pagi tadi, mungkin Intan akan lebih mengasihani pria berseragam loreng itu.
Mereka pun meninggalkan Bian begitu saja. Sementara Bian menatap kepergian mereka dengan tatapan nanar.
"Argh!" pekiknya sambil meninju pohon. "Aawww!" keluh Bian karena tangannya terasa sakit. Ia pun langsung mengibas-ngibaskan tangannya itu.
"Sial!" Bian sangat kesal karena tidak ada yang mendukungnya termasuk pohon.
Akhirnya ia memilih untuk kembali ke markas. "Aku tidak akan pernah duduk di pohon itu lagi," gumam Bian, kesal. Padahal itu adalah tempat favoritnya sejak ia tugas di sana.
Namun sayang, tempat itu kini justru menjadi tempat yang menyedihkan. Sehingga ia sangat benci dengan pohon tersebut.
Setibanya di markas, Bian langsung menyibukkan diri dengan berolahraga. Ia melakukan hal itu agar bisa melupakan Intan.
Akan tetapi, sampai keringatnya bercucuran pun bayangan Intan selalu ada di pikirannya. Apalagi suara yang ia dengar di rumah Intan tadi pagi, membuat hatinya terbakar api cemburu.
Anak buah Bian bingung mengapa komandannya olahraga sampai seperti itu.
"Komandan kenapa?" tanya salah seorang anak buah Bian pada temannya.
"Entahlah, sepertinya mood komandan hari ini kurang baik. Sejak pagi beliau terlihat murung," sahut temannya.
"Kasihan sekali. Kira-kira ada masalah apa, ya? Setahuku selama ini beliau tidak pernah seperti itu."
"Aku juga kurang tahu. Ya sudahlah, kita jaga-jaga saja. Aku hanya khawatir beliau pingsan. Sebab sudah sejak tadi Komandan tidak berhenti olahraga.
Saat ini hari sudah malam. Namun Bian masih terus berolahraga. Ia bahkan tidak tahu bahwa Intan sudah kembali ke Jakarta.
"Ndan, ini sudah malam. Apa Komandan tidak ingin beristirahat?" tanya anak buah Bian.
Bian tak menggubrisnya. Pikirannya sedang kosong, sehingga tak mendengar ucapan anak buahnya itu.
Hingga beberapa menit kemudian, kesadaran Bian mulai berkurang. Pandangannya pun gelap dan seketika ia tak sadarkan diri.
"Ndan!"
Anak buah Bian berlari ke arahnya dan berusaha menyelamatkan Bian.
"Panggil dokter!" ucap salah satu anak buahnya.
"Ya Tuhan, kenapa Komandan sampai seperti ini?" gumam anak buah Bian itu.
Kebetulan saat itu di Markas sedang tidak ada dokter. Sehingga mau tidak mau anak buah Bian pergi ke rumah dinas Ira untuk minta pertolongan.
Ia menggunakan motor dinas yang ada di sana.
Tuk, tuk, tuk!
"Selamat malam Bu dokter!" ucap orang itu setelah mengetuk pintunya.
"Siapa sih malam-malam begini?" keluh Ira. Namun sebagai tenaga medis, ia harus siap 24 jam. Akhirnya Ira pun turun dari tempat tidur dan membuka pintunya.
Ceklek!
"Ya?" tanya Ira.
"Dok, kami butuh bantuan. Komandan kami pingsan setelah berolah raga selama 4 jam," ucap anak buah Bian.
"HAH? 4 JAM?" pekik Ira. Ia tak membayangkan bisa ada orang yang berolahraga selama itu.
"Iya, tolong bantuannya!" pinta orang itu lagi.
"Di sana ada alat medis?" tanya Ira. Ia tahu orang itu adalah anggota tentara.
"Ada!" sahutnya.
"Ya sudah, ayo!" Ira pun segera ikut orang itu menuju ke markas menggunakan motor dinas tadi.
Sebenarnya ia merasa horor harus keluar rumah malam-malam begitu. Apalagi saat ini suasananya gelap gulita. Hanya ada cahaya dari lampu motor.
Namun ia harus membuang jauh rasa takut itu demi menyelamatkan orang lain. Sayangnya Ira belum tahu siapa orang yang akan ia selamatkan.
Beberapa saat kemudian Ira sudah tiba di markas. Ia pun langsung diantar menuju kamar Bian.
"Silakan, Bu dokter!" ucap anak buah Bian.
Ira pun masuk ke kamar itu, kemudian ia melihat Bian sedang tergeletak di atas tempat tidurnya.
'Heuh! Orang ini? Seandainya aku tahu dia yang sakit, aku ....' Ira tidak melanjutkan pikirannya. Sebab sebagai dokter ia sadar tidak boleh berpikiran seeperti itu. Ira harus membantu siapa pun yang membutuhkan bantuan.
Akhirnya ia pun memeriksa Bian. Ia duduk di samping Bian karena tidak diberi kursi oleh anak buah Bian.
Ira memasang tensimeter, kemudian menyentuh denyut nadinya. Setelah itu ia pun memeriksa detak jantung Bian menggunakan stetoskop.
"Apa di sini ada cairan infus?" tanya Ira.
"Ada, Dok. Tapi kami tidak paham. Apa bisa dokter sendiri yang mengambilnya? Nanti akan saya antar ke unit kesehatan," jawab anak buah Bian.
"Ya sudah. Dia dehidrasi, jadi harus diinfus untuk mengembalikan cairan tubuhnya," ujar Ira. Akhirnya ia pun mengambil alat infus sekaligus beberapa cairan. Tak lupa Ira mencatatnya di buku catatan yang ada di ruangan tersebut.
Setelah itu Ira pun kembali ke kamar Bian. Lalu memasang infusan tersebut pada tangan pria yang ia benci itu.
__ADS_1
Setelah jarumnya terpasang, Ira mengatur aliran air infusannya. Ia sengaja mengatur alirannya dengan cepat agar tubuh Bian segera terhidrasi kembali.
"Tolong cairannya diperhatikan! Jika sudah habis, segera diganti dengan yang baru! Besok pagi saya akan kembali untuk memeriksanya lagi," ucap Ira.
"Baik, Dok," sahut anak buah Bian.
Ira melirik ke arah Bian yang sedang lemah itu. 'Kalau aja aku gak ingat sumpah jabatanku. Aku gak akan sudi nolongin kamu,' batin Ira. Kemudian ia pun meninggalkan tempat itu dan pulang. Ia diantar lagi oleh anak buah Bian.
Sementara itu, dini hari Zein dan Intan baru saja mendarat di bandara Jakarta. Intan terlihat lelah karena baru saja melakukan penerbangan selama 5 jam lebih.
"Mas, aku capek banget," rengek Intan.
"Iya, Sayang. Habis ini kita langsung istirahat, ya!" sahut Zein. Ia merangkul Intan dan istrinya itu menyadarkan kepalanya pada bahu Zein. Sementara sebelah tangan Zein mendorong troli berisi koper mereka.
Mereka pun naik taksi yang ada di depan pintu keluar bandara.
"Kamu tidur aja! Nanti kalau udah sampai rumah, Mas bangunin," ucap Zein.
"Iya, Mas," sahut Intan. Ia pun memejamkan matanya.
Sebenarnya tadi Intan tidur di pesawat. Namun entah mengapa ia merasa tubuhnya sangat lelah.
Zein mengusap kepala Intan, saat ini ia sedang bersyukur karena bisa membawa istrinya pulang kembali ke Jakarta.
Setibanya di rumah, Intan masih terlelap di bahu Zein. Akhirnya Zein pun menggendongnya. Ia tidak tega membangunkan istrinya itu.
"Pak, tolong kopernya diturunkan, ya!" pinta Zein. Sebelum menggendong Intan, Zein sudah membuka pintu rumahnya lebih dulu.
"Baik, Mas!" sahut sopir taksi.
Zein pun menggendong Intan masuk rumah. Kemudian ia langsung membawanya ke kamar.
"Welcome home, Sayang," bisik Zein saat Intan memasuki rumah itu. Lalu ia menurunkannya di tempat tidur.
Setelah itu Zein kembali ke luar untuk membayar taksi dan membawa masuk koper mereka.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Zein.
"Sama-sama, Mas," sahut sopir taksi.
Zein pun masuk kembali ke rumahnya dengan membawa koper mereka.
Setelah mengunci pintu, Zein masuk ke kamar dan membersihkan tubuhnya. Kemudian ia menyusul Intan, berbaring di sampingnya.
"Have a good sleep, Honey. Aku sangat bahagia akhirnya tempat tidur ini tidak kosong lagi," ucap Zein. Lalu Zein memeluk Intan dan memejamkan mata.
Ternyata selama Intan tidak ada di sana, Zein merasa sangat kesepian. Ia susah tidur karena tidak ada Intan yang biasa ia peluk.
Namun, saat baru memejamkan mata, Zein merasa mual. Awalnya ia berusaha menahan rasa mual itu, tetapi Zein tidak kuat. Ia pun langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
"Huwek! Huwek!" Zein muntah-muntah di kamar mandi.
Intan yang sedang terlelap pun bangun karena mendengar suara berisik Zein. "Mas Zein kenapa?" gumam Intan. Lalu ia turun dari tempat tidur dan menyusul suaminya.
Zein menggelengkan kepala. "Aku gak tau, rasanya mual sekali," sahutnya.
Wajah Zein terlihat pucat. Hal itu membuat Intan khawatir padanya.
Intan pun memijat tengkuk suaminya itu agar Zein merasa lebih lega. Tak lupa Intan mengusap punggung Zein.
"Mas tunggu sebentar, ya!" ucap Intan. Kemudian ia meninggalkan Zein dan mengambil minyak gosok. Lalu membaluri perut, dada dan punggung suaminya itu dengan minyak gosok.
"Gimana, masih mual?" tanya Intan.
"Sedikit," sahut Zein sambil mencuci mulutnya dengan air. Setelah itu ia berjalan ke tempat tidur sambil memegangi perutnya.
"Ya udah Mas istirahat aja! Ini pasti karena Mas kelelahan bolak balik jemput aku," ucap Intan sambil menuntun suaminya itu berjalan ke arah tempat tidur.
Zein pun merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Periksa dulu ya, Mas!" ucap Intan. Kemudian ia mengambil alat medis miliknya, lalu memeriksa Zein dengan seksama.
Zein yang sedang mual itu pun hanya pasrah. Jika biasanya ia yang selalu sibuk memeriksa pasien. Kini justru dirinya yang menjadi pasien istrinya sendiri.
"Alhamdulillah semuanya normal. Ini aku kasih obat mual aja biar mualnya berkurang. Habis itu Mas istirahat dulu, nanti pagi baru sarapan, ya?" ucap Intan.
Zein hanya mengangguk sambil memejamkan mata. Seumur-umur baru kali ini Zein merasakan hal seperti itu. Apalagi ini sudah hampir subuh, harusnya ia bisa tidur dengan nyaman karena sudah mengantuk.
Intan pun mengambilkan obat untuk suaminya dan membantunya minum obat tersebut.
"Diminum dulu, Mas!" pinta Intan.
"Terima kasih, Sayang," sahut Zein. Ia pun meminumnya dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Kamu juga istirahat, ya!" pinta Zein.
"Iya, Mas," sahut Intan. Ia masih mengantuk dan ingin tidur lagi.
Di tempat lain, Ira yang merasa memiliki pasien itu bangun lebih awal. Kemudian ia pergi ke markas untuk mengontrol kondisi Bian.
Tiba di pos, penjaga mengizinkannya masuk karena masih ingat bahwa semalam Ira datang ke sana untuk mengobati Bian.
"Terima kasih, Pak," ucap Ira. Setelah itu ia pun masuk menuju kamar Bian.
"Pagi, Dok!" sapa anak buah Bian yang kebetulan baru saja keluar dari kamar Bian.
"Pagi! Bagaimana kondisinya? Apa sudah membaik?" tanya Intan.
"Sudah, Dok. Tapi sekarang komandan masih tidur," jawab anak buah Bian.
"Oh, syukurlah kalau begitu," sahut Ira. Ia senang jika memang Bian sedang tidur. Ira pun masuk untuk memeriksa kondisinya.
__ADS_1
"Permisi," ucap Ira secara perlahan.
Setelah itu Ira kembali duduk di tempatnya yang kemarin sebab para anak buah Bian tidak peka untuk memberikannya kursi.
Ira sengaja tidak membangunkan Bian. Ia tak ingin bertemu dengan Bian dalam kondisi pria itu sedang sadar. Sebab sampai saat ini Ira masih ingat betapa ketusnya Bian kala itu. Sehingga beginya lebih baik tidak berkomunikasi langsung dengan pria itu.
Ira memasang stetoskop di telinganya. Kemudian ia mengarahkan kepala stetoskop tersebut ke dada Bian.
Greb!
Ira sangat terkejut karena tangannya langsung digenggam oleh Bian. "Mau apa kamu?" tanya pria yang sedang terbaring itu.
"Astaga! Lepas!" ucap Ira, kesal. Ia malas menjawab pertanyaan Bian.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Siapa yang mengizinkan kamu masuk?" tanya Bian lagi.
Baginya orang seperti Ira tidak pantas masuk ke kamarnya. Sebab kamar itu sangat privacy untuknya.
Ira ternganga. Bukannya mendapat ucapan terima kasih, ia malah diintrogasi seperti itu. Tentu saja Ira sangat kesal.
"Saya datang ke sini untuk merawat orang gila yang olah raga sampai 4 jam di malam hari. Jadi saya harap kamu jangan menghalangi tugas saya!" sindir Ira. Ia kesal karena Bian tidak tahu terima kasih.
"Kamu menyindir saya?" tanya Bian, kesal.
"Terserah kamu mau mikir apa. Saya tidak ada kewajiban untuk menjelaskan," sahut Ira. Ia pun tak kalah kesal dari Bian.
"Lebih baik kamu keluar dari sini!" pinta Bian sambil melempar tangan Ira.
"Lho, saya belum selesai memeriksa kamu," ucap Ira.
"Keluar!" bentak Bian. Semakin lama bertemu dengan Ira, semakin Bian merasa kesal. Sebab melihat Ira mengingatkannya akan kejadian pagi itu.
"Oh, oke! Saya sudah berusaha untuk menyelesaikan tugas saya sebagai dokter. Tapi berhubung kamu yang menolak, jangan salahkan saya jika saya tidak mau untuk melanjutkannya lagi. Silakan kamu lepas sendiri alat infusnya! Semoga lekas sembuh," ucap Ira, kesal.
Ia pun langsung berdiri dan meninggalkan kamar itu.
Brug!
Ira membanting pintu karena saking emosinya.
"Dasar orang aneh. Beneran gila kali itu orang. Dari kemarin ketus dan marah-marah gak jelas. Emangnya apa salah aku? Kenal juga enggak." Ira menggerutu sambil meninggalkan kamar Bian.
Brug!
Anak buah Bian bingung melihat Ira membanting pintu. "Bagaimana, Dok?" tanyanya.
"Tanya aja sendiri sama orangnya!" bentak Ira. Kemudian ia berlalu.
"Lha, aku nanya baik-baik malah dibentak? Aneh banget," gumam anak buah Bian. Kemudian ia pun masuk ke ruangan Bian.
"Permisi, Ndan!" ucap orang itu.
Bian menoleh. "Kenapa kamu membiarkan dia masuk ke kamar saya?" tanya Bian.
"Dia kan dokter, Ndan. Semalam Komandan pingsan, jadi kami memanggil dokter karena khawatir Komandan kenapa-kenapa. Komandan sempat dehidrasi dan diberi infusan olehhnya. Buktinya sekarang sudah segar lagi, kan?" jelas orang itu.
Bian menoleh ke arah tangannya. Ternyata benar infusannya belum dilepas. 'Sial!' batin Bian.
Ia yang kesal itu akhirnya langsung melepas perekat jarum, lalu mencabut jarumnya begitu saja. Hingga akhirnya darah Bian mengucur.
"Waduh, Ndan!" Anak buah Bian panik. Ia khawatir Bian kehabisan darah karena saat itu cukup banyak darah yang mengalir. Sebab Bian menarik infusan tanpa menghentikan aliran cairannya lebih dulu.
"Minta kasa!" pinta Bian sambil menekan tangannya yang berdarah itu.
"Tapi di sini tidak ada kasa, Ndan," jawab anak buah Bian.
"Ya kamu cari! Masa harus saya yang nyari?" bentak Bian.
"Siap, laksanakan!" sahut anak buah Bian sambil memberi hormat padanya. Kemudian ia pun langsung meninggalkan kamar itu untuk mencari kasa di ruang unit kesehatan.
***
Intan sudah memasak sayur bening untuk suaminya. Tak lupa ia pun memasak ayam goreng mentega agar suaminya itu bisa sarapan.
Selesai masak, Intan mengecek Zein di kamarnya. "Udah bangun, Mas?" tanya Intan saat melihat Zein sudah duduk di tempat tidur.
"Alhamdulillah sudah, Sayang. Mas mau mandi dulu," jawab Zein. Tadi saat subuh Zein sempat bangun dan tidur lagi. Sehingga saat ini ia bangun lebih siang. Sekitar jam 8.
"Mas udah gak mual?" tanya Intan lagi.
"Enggak, Sayang. Mungkin obat yang kamu kasih cocok buat Mas. Jadi mualnya ilang. Terima kasih, ya," sahut Zein.
"Ya udah kalau begitu. Abis itu kita sarapan ya, Mas!" ajak Intan.
"Iya, Sayang. Mas mau mandi dulu, ya," ucap Zein.
"Oke."
Zien pun turun dan berjalan ke kamar mandi. Sementara itu, Intan menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Beberapa menit kemudian terdengar suara Zein muntah-muntah lagi.
Huwek! Huwek!
Intan langsung menoleh. Ia bingung mengapa suaminya bsia muntah lagi. "Lho, tadi katanya udah gak mual?" gumam Intan. Ia pun kembali menghampiri Zein.
"Mas, kenapa?" panggil Intan dari luar kamar mandi.
"Gak tau, ini sabun mandinya bau banget. Ini sabun yang mana, sih? Apa udah expierd, ya?" tanya Zein. Ia segera membilas tubuhnya dan memakai bath robe. Kemudian ia keluar dari kamar mandi sambil menggigil.
"Itu kan sabun yang biasa kita pakai, Mas. Gak mungkin expierd. Orang masih baru, kok. Terus ini kenapa lagi?" tanya Intan, heran.
__ADS_1
"Gak tau, badanku rasanya dingin banget. Mau selimutan aja," sahut Zein sambil menggigil. Kemudian ia berjalan ke tempat tidur dan menarik selimut.
"Lha, perasaan tadi sebelum masuk ke kamar mandi baik-baik aja, deh," gumam Intan, pelan.