Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
35. Debaran Jantung


__ADS_3

Zein yang tanpa dosa itu langsung melajukan mobilnya kembali. Ia seolah tak peduli meski Intan sedang kebingungan akan sikapnya.


'Seumur hidup, baru kali ini ada cowok yang perhatian sama aku. Tapi kenapa harus dia orangnya? Aku bingung harus seneng atau sedih. Sebab pria yang perhatian padaku justru pria yang paling menyebalkan,' batin Intan.


Zein bingung mengapa Intan tercenung sejak ia masuk mobil tadi. Ia melirik ke arah Intan lalu ke arah sun visor. 'Pantesan, tisunya abis,' batin Zein. Ia yakin Intan tidak berani untuk meminta tisu padanya. Sampai darah yang ada di kakinya hampir mengering seperti itu.


Setiap haid, Intan memang selalu begitu. Seperti orang yang pendarahan. Tak jarang darah yang keluar berbentuk gumpalan karena terlalu banyak.


"Kalau kamu butuh tisu, ambil aja di dashboard!" ucap Zein tanpa basa-basi. Ia tak menyangka haid Intan akan sebanyak itu. Sehingga tadi Zein langsung mengajaknya pulang. Alih-alih membelikan pembalut di apotek rumah sakit lebih dulu.


Intan pun terkesiap. "Oh, iya Prof," sahutnya. Ia pun langsung membuka dashboard dan mengambil tisu yang ada di sana. Setelah itu ia membersihkan bagian yang terlihat.


"Prof, maaf. Ini joknya pasti kotor. Saya janji akan berusaha membersihkannya," ucap Intan. Ia khawatir Zein marah karena mobilnya dikotori.


"Sudahlah, kamu jangan mikirin yang lain dulu! Lebih baik kita pulang terus bersihkan tubuhmu! Masalah mobil biar saya yang urus!" sahut Zein.


"Tapi, Prof. Ini darahnya banyak banget, saya gak enak kalau Prof yang membersihkan darah saya," ucap Intan, canggung.


Rasanya sangat risih jika sampai Zein yang membersihkannya sendiri. Ia pun tidak mungkin membiarkan orang lain melakukan hal itu.


"Kamu kan tau saya setiap hari bergelut dengan darah. Jadi bukan hal aneh lagi. Sudahlah, masalah sepele tidak perlu dibesarkan!" sahut Zein. Sebenarnya ia tidak ingin terlihat sedang memberikan perhatian. Sehingga Zein bicara seperti itu.


"Baik, Prof!" sahut Intan. Ia tidak berani membantah lagi meski dirinya masih belum rela jika Zein yang membersihkan nodanya. 'Kalau bukan darahku, apa dia mau membersihkannya juga?' batin Intan.


Entah mengapa meski Zein ketus padanya, ia seolah tidak peduli. Sebab Intan dapat merasakan perhatian Zein yang begitu besar. Sehingga sikap galak suaminya itu seolah tak terlihat.


Tiba di rumah, Zein memarkir mobilnya di halaman rumah. "Kamu langsung masuk aja! Bersihin badan dan ganti baju," ucap Zein sambil mematikan mesin mobil.


"Iya, Prof," sahut Intan. Mau tidak mau ia pun turun.


Saat hendak menutup pintu mobil, Intan terkejut melihat begitu banyak darah di jok dan lantai mobil Zein karena tadi dirinya banyak bergerak saat sedang mencari tisu.


"Ya ampun, ini banyak banget, biar saya aja yang bersihin ya, Prof. Tunggu sebentar, saya ganti baju dulu," ucap Intan. Ia pun langsung berlari masuk ke rumah.


Saat masuk ke mobil tadi Intan sudah melepas jas suaminya itu. Sehingga noda darah yang ada di jas tersebut tidak terlalu banyak.


"Untung gak aku dudukin," gumam Intan. Ia langsung menaruh jas itu karena sedang buru-buru ingin membersihkan mobil Zein.


"Duh, kenapa langsung banyak gini, sih? Biasanya juga kalau hari pertama sedikit dulu. Apa karena itu, ya?" gumam Intan sambil membersihkan tubuhnya.


Ia berpikir bahwa haidnya langsung keluar banyak karena tadi dirinya baru saja melakukan pergulatan panas dengan suaminya itu. Intan sendiri memang tipe wanita yang selalu mengeluarkan darah yang sangat banyak ketika sedang haid. Bahkan tak jarang darah yang keluar berupa gumpalan.


"Ah bodo amat, deh. Yang penting sekarang aku bersihin mobil Prof dulu," ucap Intan. Ia pun bergegas hendak memakai baju.


Saat Intan baru saja keluar dari kamar mandi, ia terkejut karena Zein pun masuk ke kamar. Sebab dirinya hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, sehingga bagian atas tubuh Intan yang hanya mengenakan bra pun terekspose.


Ceklek!


Deg!


Zein menelan saliva kala melihat Intan begitu seksi. Apalagi saat ini ia menggunakan bra berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya.


Intan terperanjat dan langsung menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.


"Ada apa, Prof?" tanya Intan, gugup. Padahal mereka sudah cukup sering bercinta. Namun dalam kondisi normal seperti itu, Intan malu jika Zein melihat tubuhnya naked.


"Ini kenapa tidak dibawa?" tanya Zein sambil memberikan kantong berisi pembalut pada Intan.


"Oh iya, maaf," sahut Intan. Ia pun terpaksa berjalan ke arah Zein dan mengambil kantong itu. "Terima kasih, Prof," ucapnya.


"Hem!" sahut Zein. Sebenarnya tenggorokan Zein sedang tercekat, sehingga ia tidak bisa bicara.


Apalagi ketika Intan berbalik. Tiba-tiba handuknya merosot dan bumper seksi favorit Zein pun terkespose sempurna.


Seketika Zein langsung berdesir dan ia sangat ingin meremas bumper itu. Bahkan saat ini Zein seperti orang kehausan.


"Aww!" Intan terkejut dan langsung mengambil handuk tersebut.


Posisi Intan yang refleks menungging pun membuat Zein gelap mata dan menghampirinya. Lalu ia merangkul pinggang Intan yang baru saja berdiri sambil memasang handuk itu kembali.


"Prof?" Intan bingung mengapa Zein menghampirinya.


"Kamu sengaja ingin menggoda saya?" tanya Zein sambil menatap Intan.


Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka selesai bercinta. Namun saat ini Zein seperti suami yang belum mendapatkan jatah dari istrinya.

__ADS_1


"Enggak, Prof. Saya gak sengaja. Kan Prof yang masuk ke kamar," sahut Intan, gugup.


Zein mendekap erat istrinya dengan sebelah tangan. Kemudian ia langsung mencumbui Intan dan sebelah tangan lagi sibuk meremas bumper yang sejak tadi menggodanya itu.


"Heump!" Intan khawatir Zein khilaf. Sehingga ia berusaha berontak. Apalagi perbuatan Zein barusan membuat haidnya semakin lancar.


"Prof!" keluh Intan saat Zein melepaskan tautannya.


"Lain kali kalau kamu sedang haid, pakai pakaian tertutup meski di dalam kamar! Paham?" pinta Zein dengan napas yang terengah-engah.


Intan mengangguk dengan cepat. "Paham," sahutnya.


"Saya ini lelaki normal. Jadi mudah tergoda. Apalagi kamu sudah halal untuk saya sentuh. Tapi ingat, jika sedang tidak berhalangan, saya minta kamu cukup pakai mini dress saat sedang ada di rumah," ucap Zein, lalu ia mengusap kepala Intan dan meninggalkan kamar itu.


Intan pun mematung kebingungan. "Apa semua lelaki seperti itu?" gumam Intan.


Ia tidak habis pikir mengapa Zein yang tidak mencintainya itu bisa sangat bernafsu padanya. Apalagi barusan ia dapat merasakan bagaimana suaminya itu sangat berhasrat.


Intan pun memegang bumper yang tadi diremas oleh Zein. Bahkan bumper itu masih meremang karena Zein meremasnya dengan cukup kuat.


"Apa ini termasuk pelecehan? Tapi kan dia suamiku. Apa yang dia bilang emang bener. Aku halal disentuh sama dia," ucap Intan nelangsa.


Akhirnya ia kembali membersihkan tubuhnya karena perbuatan Zein barusan membuat darahnya mengalir semakin deras. Setelah itu Intan pun mengambil pembalut yang ada di kantong tadi.


"Astaga! Dia ngeborong apa ngerampok? Banyak banget beli pembalutnya, kayak orang mau jualan," gumam Intan saat melihat begitu banyak pembalut yang Zein beli.


Akhirnya ia pun memilih salah satu dari pembalut itu lalu menggunakannya.


"Oh iya, mobil!" ucap Intan. Ia baru ingat bahwa dirinya harus membersihkan mobil Zein.


Intan pun bergegas memakai baju dan berlari menuju halaman rumah mereka.


Saat tiba di luar, Intan melihat Zein sedang menyemprot karpet mobil yang terbuat dari karet itu dengan air kran menggunakan selang.


Ia pun mengecek jok dan hendak membersihkannya. Namu ternyata jok yang terbuat dari kulit itu sudah bersih. Intan langsung menoleh ke arah Zein dan menatap suaminya itu.


'Aku tau dia dokter, udah biasa operasi. Tapi kan ini darah haid. Kotor. Apa iya dia gak jijik?' batin Intan.


Tiba-tiba hati Intan berdebar. Entah mengapa Zein seolah memancarkan pesona yang menarik hatinya. Perhatian profesor galak itu ternyata telah menyentuh hati Intan.


Ia pun menutup pintu mobil dan hendak menghampiri Zein. Namun saat ia beru melangkah, Intan sudah merasakan sesuatu.


Mendengar suara Intan, Zein langsung menoleh ke arahnya. Ia pun segera melempar selang dan menghampiri istrinya itu. "Kamu kenapa?" tanya Zein sambil berjongkok di hadapan Intan yang juga sedang berjongkok juga.


"Perut saya sakit banget, Prof," lirih Intan. Ia bahkan mengeluarkan keringat karena rasa nyeri yang tak tertahankan.


"Kamu ini susah banget dikasih taunya. Makanya gak usah sok mau bantuin. Kalau lagi begini tuh istirahat aja!" Zein memarahi Intan. Namun kemudian ia menggendong istrinya itu ala bridal style. Sebenarnya ia marah karena khwatir pada Intan.


Intan yang sedang kesakitan pun tidak merespon ucapan Zein. Ia langsung merangkulkan kedua tangannya di leher Zein karena takut jatuh. Setelah itu Intan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya tersebut.


"Obatnya udah diminum, belum?" tanya Zein sambil berjalan ke arah kamar.


"Belum," lirih Intan. Tadi ia terburu-buru hendak membantu Zein, sampai lupa meminum obat.


"Huuh! Kamu ini susah dinasihati!" ucap Zein. Kemudian ia masuk ke kamar dan menurunkan Intan di atas tempat tidur.


"Lebih baik kamu minum obat, lalu istirahat!" ucap Zein. Kemudian ia meninggalkan kamar.


"Gimana mau minum obat kalau gak ada airnya?" gumam Intan, kesal. Kemudian ia melihat plastik yang berisi obat tadi.


"Wah, banyak juga beli obatnya," ucap Intan. Lalu ia memilih obat yang bisa diminum. Setelah itu Intan turun dari tempat tidur, hendak mengambil minum.


Ceklek!


"Mau ke mana? Apa sudah hobi kamu ya menentang ucapan saya?" tanya Zein yang baru saja kembali sambil membawa segelas air minum dan pouch berisi air hangat.


"Ini, Prof. Saya mau ambil minum," sahut Intan.


"Ini saya sudah bawakan airnya. Cepat minum obatnya!" pinta Zein, sambil mengajak Intan kembali ke tempat tidur.


Lagi-lagi Intan dibuat terkesima oleh perhatian Zein. Sampai ia tidak fokus dengan sikap ketus suaminya itu. "Terima kasih," ucap Intan sambil mengambil gelas itu. Lalu meneguk airnya.


Zein mengambil kembali gelasnya. Kemudian menaruh gelas itu di atas meja yang ada di sebelah tempat tidur.


"Coba baring!" pinta Zein. Lalu ia duduk di samping Intan.

__ADS_1


"Mau apa, Prof?" tanya Intan, sambil mengerutkan keningnya.


"Mau bercinta," sahut Zein, santai.


Intan pun terkesiap. "Saya kan sedang haid, Prof," ucapnya, cepat.


Pletak!


Zein menjitak Intan.


"Aduh!" keluh Intan sambil mengusap keningnya yang diitak oleh Zein.


"Kamu pikir saya gak punya otak? Udah gak usah mikir macem-macem!" ucapnya, lalu ia menaruh pouch berisi air hangat itu di perut Intan.


'Oh, ternyata dia mau kompres perut aku,' batin Intan. Ia malu karena sudah salah sangka.


"Gimana, apa lebih nyaman?" tanya Zein, sambil memindah-mindahkan pouch itu agar hangatnya merata.


Intan mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Ia sangat grogi ddiperlakukan semanis itu oleh suaminya.


Zein beranjak mengambil stetoskop dan alat pengukur tensi darah. Sebenarnya hal itu tidak perlu, tetapi Zein khawatir ada keluhan lain pada Intan sampai ia berdarah sebanyak itu.


Setelah itu, ia kembali duduk di samping Intan dan memeriksa detak jantung serta denyut nadinya.


Zein mengerutkan keningnya kala mendengar detak jantung Intan sangat cepat. Bahkan denyut nadinya pun tidak biasa.


'Duh, ketauan gak, ya?' batin Intan. Sebenarnya suara itu berasal dari debaran jantung Intan yang terpacu karena ia terpesona oleh Zein. Sehingga ia malu jika sampai Zein menyadari hal itu.


"Selama ini jantung kamu sehat, kan?" tanya Zein. Ia tahu Fatma mengalami kelainan jantung. Sehingga Zein khawatir Intan pun mengalami hal yang sama.


"Sehat kok, Prof. Ini cuma karena lagi sakit perut aja," jawab Intan, cepat. Ia khawatir Zein terlanjur berpikir yang macam-macam.


"Coba ditensi dulu!" ucap Zein. Lalu ia memasang alat tensimeter di lengan Intan. Ia kembali heran karena tekanan darah Intan cukup tinggi.


"Sepertinya kamu harus ke rumah sakit," ucap Zein.


"Lho, kenapa, Prof?" tanya Intan, panik.


"Tekanan darah kamu cukup tinggi. Detak jantung pun tidak normal. Jadi saya harus memeriksanya lebih lanjut. Nanti kita coba test EKG dan lainnya. Supaya jelas penyakit apa yang kamu idap," jelas Zein. Ia khawatir terhadap istrinya itu.


"Enggak, Prof. Saya udah biasa begini kalau lagi haid. Ini karena perutnya terlalu sakit, jadi tekanan darah saya naik. Nanti juga normal lagi, kok. Ini cuma butuh istirahat aja," ucap Intan, panik.


Mana mungkin ia mau diperiksa. Sebab ia sudah tahu apa yang sedang dialami. 'Gimana mau ketauan penyakitnya? Orang aku gak sakit. Lagian kan dia yang bikin jantung aku begini,' batin Intan.


Ia pun kesal pada dirinya sendiri yang terlalu lemah. Hingga hatinya luluh pada profesor galak itu.


'Intan, kamu bodoh banget. Bisa-bisanya terpesona sama profesor galak kayak dia?' batin Intan, kesal.


"Apa kamu yakin?" tanya Zein. Ia ragu membiarkan Intan begitu saja.


"Yakin," sahut Intan.


"Ya sudah kalau begitu. Lebih baik kamu istirahat!" ucap Zein. Kemudian ia mengusap kepala Intan dan meninggalkan kamar itu.


"Sebeeelll! Kenapa sih harus so sweet gitu sikapnya? Tapi mulutnya udah kayak cabe paling pedes sedunia," keluh Intan saat Zein sudah meninggalkan kamarnya.


Ia bahkan berguling-guling kegirangan karena perhatian dari sang suami yang menyebalkan itu.


Sementara itu, Zein berlari ke arah luar karena ia ingat belum menutup kran. Lalu Zein mengeringkan karpetnya yang sudah bersih itu.


"Apa benar dia gak sakit? Kenapa aku jadi khawatir, ya? Tadi detak jantungnya cepet banget," gumam Zein sambil melamun. Ia tidak terpikirkan bahwa debaran jantung Intan terjadi akibat ulahnya.


Brug!


Zein menutup pintu mobil setelah semuanya beres.


Mendengar hal itu, Intan pikir Zein sudah pergi ke rumah sakit kembali.


"Duh! Ngarepin apa sih aku, nih? Ya iyalah dia bakalan pergi ke rumah sakit lagi. Emangnya siapa aku sampe dia mau nungguin aku dan ninggalin kerjaannya?" gumam Intan.


Sebenarnya ia kecewa karena Zein meninggalkannya ke rumah sakit. Ia yang tadi sedang kegirangan pun langsung menekuk wajahnya sambil melamun. Entah mengapa saat ini ia hanya ingin berada di dekat suaminya yang galak itu.


"Bodohnya aku, udah kayak gini masih ngarepin dia stay di rumah. Mustahil banget itu terjadi. Kecuali dia emang cinta sama aku," gumam Intan.


Namun kemudian ia dikejutkan oleh suara pintu kamar yang terbuka.

__ADS_1


Ceklek!


"Kenapa belum tidur?" tanya Zein yang ternyata masih ada di rumah.


__ADS_2