
Intan ternganga setelah mendengar ucapan suaminya itu. "Siap banget ya, Mas?" sindir Intan. Ia tak menyangka ternyata Zein telah mempersiapkan semuanya dengan matang. Padahal Intan tidak tahu kapan suaminay itu menyiapkan pakaian.
"Kamu lupa kalau suamimu ini memang selalu prepare?" tanya Zein, bangga.
"Iya, sih. Cuma aku gak yakin kalau hadiah spesialnya cuma buat aku," ucap Intan, lemas.
"Lalu? Memang kamu pikir hadiahnya apa?" tanya Zein. Ia penasaran apa yang ada di pikiran istrinya itu.
Intan curiga bahwa hadiahnya adalah permainan panas di ranjang. Namun ia tidak mungkin mengatakan hal tersebut pada suaminya itu.
"Gak tau," jawab Intan sambil menatap bucket bunga yang ada di tangannya. Lalu ia menghirup bunga tersebut. Intan tak ingin menebak. Ia tahu Zein pasti akan meledeknya.
"Hem ... kok aroma bunganya kayak parfum, Mas, ya?" tanya Intan. Ia bingung karena aroma mawar itu bahkan tidak tercium. Kalah dengan parfum milik suaminya.
"Oh, kamu hafal parfum Mas?" tanya Zein. Ia senang Intan mengenali aromanya.
"Iyalah, setiap hari nyium aromanya. Masa iya gak hafal," gumam Intan sambil merapihkan posisi bunga tersebut.
"Syukurlah kalau begitu. Jadi nanti kalau kamu magang, kamu gak akan lupa udah punya suami," ucap Zein.
Intan langsung menoleh ke arah Zein. "Apaan, sih? Ya kali lupa. Orang hampir tiap malem disuruh ngelayanin suaminya," ucap Intan, sebal.
"Tapi kamu juga suka, kan?" ledek Zein. Namun seperti biasa, tampangnya tetap kaku.
Intan tidak menjawabnya. Ia langsung memalingkan wajah karena malu. Memang ia kesal karena suaminya itu selalu meminta jatah. Namun jika sudah dimulai, ia pun malah menikmatinya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di hotel. Lalu Zein check in di resepsionis.
Lokasi hotel cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Berada di kawasan perbukitan dan kemungkinan bertemu dengan orang yang dikenal sangat kecil.
"Ayo!" ajak Zein setelah ia selesai check in. Lalu mereka pun menuju kamar yang berada di lantai 5.
Zein menarik koper karena ia memang hanya membawa satu koper untuk pakaian mereka. Sehingga Zein tidak membutuhkan bantuan bellboy hotel tersebut.
Seperti biasa, Zein berjalan sambil menggandeng tangan istrinya. Ia seolah tidak nyaman jika berjalan masing-masing tanpa bergandengan tangan.
"Apa kamu pernah ke sini sebelumnya?" tanya Zein.
Intan menggelengkan kepalanya. "Belum," sahutnya.
"Syukurlah. Jadi kamu tidak akan bosan selama ada di sini," ujar Zein.
Intan mengerutkan keningnya. Lalu ia menoleh ke arah Zein. "Selama? Emang mau berapa hari di sini?" tanya Intan, heran.
"Hem ... tadinya sih mau dua hari. Tapi berhubung lokasinya lumayan jauh, kayaknya sayang kalau cuma dua hari, jadi tiga hari dua malam aja," sahut Zein.
Ternyata saat check in tadi Zein langsung mengajukan extend.
"Lho, emangnya Mas gak ada kerjaan?" tanya Intan.
"Kerjaan Mas udah dihandle sama dokter lain. Kebetulan dia memang sedang butuh uang. Jadi aman," jawab Zein, santai.
"Emang Mas gak butuh uang?" tanya Intan sambil mendelik.
"Ya butuh. Tapi saat ini Mas lebih butuh kamu," jawab Zein. Kemudian ia membuka pintu kamar mereka.
"Bisa gak sih dia nih jangan bikin aku melting terus? Nanti kalau beneran dikirim ke tempat jauh, gimana?" gumam Intan, pelan.
"Ayo!" ajak Zein saat melihat Intan mematung di depan pintu.
Saat mereka masuk ke kamar yang sangat luas itu, Intan melihat sudah ada makanan yang tersaji di meja makan.
"Mau makan dulu atau ganti baju dulu?" tanya Zein sambil menaruh koper mereka di lemari.
"Makan dulu, ya? Lapar," ucap Intan, jujur.
"Oke," sahut Zein.
Ia pun mencuci tangan, kemudian membuka plastik wrap yang menutupi setiap piring hidangan tersebut.
"Ini banyak banget makanannya, Mas?" tanya Intan. Ia pun membantu Zein membuka wrapingnya.
"Nanti juga habis," sahut Zein, santai. Sepertinya ia sudah merencanakan sesuatu sampai memesan makanan sebanyak itu.
"Ini buka yang mau di makan aja dulu! Sisanya nanti bisa kita hangatkan di microwave kalau lapar," ucap Zein.
"Oke," sahut Intan.
Setelah itu mereka pun makan bersama.
"Gimana, makanannya enak, gak?" tanya Zein. Ia sangat peduli dengan selera istrinya.
Intan mengangguk. "Enak, Mas," sahutnya sambil menikmati makanannya tersebut.
"Pengumuman magangnya kapan?" tanya Zein lagi.
"Belum tau, Mas. Nunggu hasil ujian dulu. Setelah itu baru penempatan," jawab Intan.
Zein terdiam sejenak. 'Apa aku jujur saja? Tapi bagaimana jika dia marah padaku?' batin Zein. Ia sedang bimbang ingin jujur atau merahasiakan perihal kesalahannya yang mengirim Intan ke perbatasan itu.
"Ya sudah, di mana pun kamu magang nantinya, Mas harap kamu baik-baik saja," ucap Zein.
"Aamiin ...." Sebenarnya Intan bingung mengapa Zein seolah yakin bahwa dirinya akan ditempatkan di tempat yang jauh. Namun ia malas memperdebatkan masalah itu.
Selesai makan, Zein mengambil sesuatu dari sakunya. "Ini hadiah buat kamu," ucap Zein sambil menyerahkan sebuah kotak kecil beludru berwarna biru.
"Lho, apa ini? Kan hasilnya belum keluar, kok udah dikasih hadiah?" tanya Intan. Ia pun menerima kotak tersebut.
"Itu hadiah atas usaha kamu. Apa pun hasilnya tidak jadi masalah. Yang terpenting kamu mau berusaha," jawab Zein.
Intan tersenyum. "Makasih ya, Mas," ucapnya. "Ini boleh dibuka sekarang?" tanya Intan.
"Tentu, silakan!" sahut Zein.
Intan pun membukanya dengan sangat antusias. Namun seketika wajahnya kaku saat melihat sebuah kalung bertuliskan nama "Zein".
"Ini nama Mas?" tanya Intan. Maksudnya ia bingung mengapa ada nama Zein di kalung itu.
"Iya, kenapa? Apa kamu gak suka?" tanya Zein.
'Bukan gak suka, sih. Tapi apa iya dia mau nyuruh aku make kalung kayak gini? Norak banget gak, sih? Aku berasa jadi kayak hewan peliharaan atau anak balita,' batin Intan.
Melihat reaksi Intan, Zein pun langsung mengambil kotaknya kembali. "Ya udah kalau gak suka, jangan dipake! Buang aja!" ucap Zein. Ia kesal karena Intan tidak menyukainya.
"Lho, siapa yang bilang gak suka? Aku suka, kok. Makasih, ya," ucap Intan sambil merebut kembali kotaknya.
Ia tidak mungkin membiarkan suaminya itu kecewa.
__ADS_1
Zein sengaja memberikan kalung seperti itu agar ketika di perbatasan ada yang mendekatinya nanti bisa melihat namanya di kalung tersebut. Secara tidak langsung Zein ingin menandai Intan sebagai miliknya.
"Sini, biar saya pakaikan!" ucap Zein. Kemudian ia berdiri dan memasangkan kalung itu pada Intan.
Entah mengapa Intan tidak antusias menerimanya meski kalung itu terlihat begitu cantik.
Setelah memasangkan kalung tersebut, Zein mengngkung Intan dari belakang. "Mas minta, kalung ini jangan pernah kamu lepas dalam kondisi apa pun, oke?" ucap Zein. Kemudian ia mengecup pipi Intan.
Intan mengangguk. "Iya, Mas," ucapnya dengan berat hati.
Sebenarnya Intan ingin protes. Namun ia sadar bahwa dirinya harus menerima apa pun pemberian suaminya itu. Justru Intan harus berterima kasih karena suaminya telah memberikan hadiah padanya.
Setelah itu Zein mengusap kepala Intan, kemudian ia duduk kembali.
Zein mengambil dessert yang ada di meja, kemudian mencicipinya. "Emm, pudingnya enak," ucap Zein.
"Oya?" tanya Intan.
"Nih, cobain!" Zein menyodorkan satu sendok puding pada Intan. Namun, ketika Intan hendak melahapnya, Zein malah menyingkirkan sendok itu dan menggantikan dengan bibirnya.
Hap!
Intan malah melahap bibir suaminya. Ia pun langsung terbelalak.
"Mas!" keluh Intan. Ia malu karena hampir menyedot bibir suaminya itu.
"Makanya kalau mau makan tuhlihat-liihat!" ledek Zein. Kemudian ia menyuapkan kembali pudingnya. "Nih!" ucapnya.
"Gak mau, ah!" sahut Intan. Ia kesal karena Zein telah mempermainkannya.
"Beneran ...," ucap Zein.
Intan melirik ke arah Zein, tatapannya seolah sedang menelisik.
"Duh, bisa kram nih tangan kalau begini terus," gumam Zein karena Intan tak kunjung melahap puding yang sedang ia sodorkan.
"Ya udah iya," sahut Intan. Kemudian ia pun melahap puding itu.
"Enak?" tanya Zein sambil memperhatikan wajah Intan.
Intan mengangguk. "Iya, enak. Hehe," sahutnya.
"Kamu mau lagi?" tanya Zein.
"Boleh," sahut Intan.
Akhirnya Zein pun menyuapi Intan.
Siang itu Intan merasa sedang dimanja oleh Zein. Sehingga ia lupa bahwa dirinya sedang memakai kalung seperti balita.
Selesai makan, Zein mengajak Intan shalat berjamaah. Kemudian mereka bersantai di sofa sambil menonton TV,
"Kamu suka film apa?" tanya Zein sambil memilih chanel yang ada di televisi tersebut.
"Aku sukanya romance," jawab Intan.
"Hem ... pantes," gumam Zein.
Intan langsung menoleh ke arah Zein. "Pantes apa?" tanyanya.
Zein menganggap Intan yang menyukai film romance itu membuatnya butuh akan kata cinta yang romantis. Padahal menurut Zein, perubahan sikapnya saja sudah cukup.
"Iih, aneh!" ucap Intan. Ia sebal karena Zein sudah membuatnya pensaran.
Akhirnya Intan pun memilih channel TV tanpa menghiraukan Zein. Ia tidak sadar Zein sedang memperhatikannya.
"Intan!" panggil Zein.
Intan pun langsung menunduk. "Ya?" tanyanya.
Cekrek!
Zein memotret Intan saat sedang menunduk. "Kamu lucu juga kalau begini. Ada double chin-nya (dagunya double), hehe," ucap Zein sambil melihat foto Intan yang ada di ponselnya.
Wajah Intan langsung mengerung. Ia dapat membayangkan bagaimana bentuk wajahnya ketika sedang menunduk.
"Mas, hapus gak!" pinta Intan. Ia kesal karena Zein malah sengaja meldeknya.
"Ngapain dihapus? Orang bagus, kok. Udah kamu lanjut nonton TV aja!" sahut Zein. Ia malah menyembunyikan ponselnya di saku celana.
"Gak mau, pokonya hapus!" pinta Intan lagi. Ia berusaha mengambil ponsel suaminya itu.
Zein pun menghindar. "Kamu kok maksa? Itu kan ponsel saya," ucap Zein.
"Tapi yang Mas ambil itu foto aku. Aku gak ikhlas, pasti jelek banget deh fotonya," keluh Intan. Ia malu berpose seperti itu.
Zein malah bangkit dan berlari menghindari Intan. Sehingga mereka pun kejar-kejaran di kamar itu.
"Udahlah, ini tuh buat kenang-kenangan kalau kamu lagi magang," ucap Zein sambil berusaha menghindar.
"Ya kan bisa ambil foto yang bagus. Ngapain foto jelek kayak gitu disimpan?" Intan semkin kesal.
Zein pun mengambil ponselnya. Lalu menunjukkan pada Intan. "Ya udah, kalau kamu mau, silakan ambil sendiri!" tantang Zein.
Intan memelototi suaminya itu. Kemudian ia mendekat dan dugaannya tepat, Zein langsung mengangkat tangannya setinggi mungkin. Namun Intan pantang menyerah. Ia tahu kelemahan suaminya.
"Mas!" panggil Intan.
Zein langsung menoleh ke arahnya. "Apa?"
Intan menangkup kedua pipi Zein lalu langsung mencumbunya.
Sontak saja Zein terdiam. Ia langsung gagal fokus dan tangannya melemas. Zein sangat senang jika Intan seperti itu. Perlahan ia pun memeluk istrinya, sambil membalas cumbuannya itu.
Bahkan Zein tidak sadar bahwa Intan diam-diam mengambil ponselnya. Setelah berhasil, ia hendak melepaskan tautannya itu.
“Dapet!” ucap Intan bangga sambil menunjukkan ponsel Zein yang ada di tangannya.
Namun sayang, Zein sudah terlanjur bergairah dan tidak ingin menyudahinya.
"Kamu harus tanggung jawab!" ucap Zein. Kemudian ia menggendong Intan dan membawanya ke kamar.
"Kok tanggung jawab, sih?" tanya Intan, heran.
"Karena kamu sudah membangunkan naga yang sedang tidur. Siap-siap dapat semburan dari naga itu," jawab Zein. Kemudian ia menurunkan Intan di atas tempat tidur.
"Tapi kan ini masih siang, Mas. Lagian abis makan juga," ucap Intan.
__ADS_1
"Makan kan udah setengah jam yang lalu," sahut Zein. "Lagi pula siang, pagi, atau kapan pun, tidak masalah, kan," lanjutnya.
Srett! Sreett!
Zein menutup tirai jendela itu. Kemudian ia melepaskan kaos yang ia kenakan dan langsung melemparnya.
Setelah itu Zein melompat ke kasur dan mendarat di samping Intan.
"Makanya jangan suka mancing! Kalau kena umpannya, maka kamu harus membeli ikan itu!" ucap Zein. Setelah itu ia pun langsung mencumbu istrinya kembali.
Akhirnya siang itu mereka lewati dengan cukup panas. Seperti biasa, Intan yang awalnya menolak, justru lebih bersemangat dari Zein. Mungkin karena usianya masih muda, sehingga ia masih sangat produktif.
"Lagian Mas juga jangan suka ngeledekin aku! Kan aku malu kalau foto kayak tadi disimpan," keluh Intan, saat mereka sudah selesai bercinta.
Akhirnya Zein mengambil ponselnya dan membuka foto tadi.
"Ini lho, cantik begini kok malu?" ucap Zein sambil menunjukkan foto itu pada Intan.
Ternyata tadi Zein berbohong saat mengatakan bahwa dagu Intan ada dua. Intan yang langsing itu masih terlihat cantik meski dalam pose seperti itu.
"Ooh, kirain ...," ucap Intan, malu.
"Makanya jangan nethink dulu jadi orang! Belum lihat aja udah nethink," ucap Zein sambil mencubit hidung istrinya.
"Ya Mas sendiri ngapain tadi pake ngeledek segala?" tanya Intan, kesal.
"Udah ah, mendingan mandi! Sebentar lagi ashar," ajak Zein.
Mereka pun mandi bersama.
***
Beberapa hari kemudian.
"Gimana hasilnya?" tanya Zein.
Saat ini mereka sedang ada di rumah, hendak makan malam. Sebenarnya Zein tahu bahwa Intan akan dikirim ke perbatasan. Namun ia berharap ada perubahan keputusan.
Intan terlihat bersedih. "Aku dapetnya di perbatasan timur, Mas. Dan besok udah harus berangkat," ucap Intan, lemas.
"Duh, gimana ya? Besok Mas ada kegiatan penting yang gak bisa ditinggal. Kamu bisa pergi sendiri?" tanya Zein.
Intan menatap Zein dengan tatapan nanar. "Masa sendiri? Mas tega banget aku mau pergi jauh malah disuruh sendiri. Padahal di sana setidaknya aku stay selama setahun. Bahkan bisa lebih," ucap Intan, lemas.
"Ya mau gimana lagi. Namanya juga ada kerjaan," sahut Zein, santai. Ia tak merasa berdosa sama sekali.
"Ya udah," ucap Intan, kesal. Ia sudah terbiasa dekat dengan suaminya. Apalagi belakangan ini Zein benar-benar memanjakannya. Sehingga Intan merasa bersedih saat Zein tidak bisa mengantarnya.
Akhirnya Intan menekuk wajahnya. Selesai makan, ia pun langsung membereskan meja makan tanpa mengatakan apa pun. Sementara itu Zein malah santai di ruang TV.
“Tega banget dia nyuruh aku pergi ke perbatasan sendiri. Aku kan baru pertama kali ke sana. Masa dia gak khawatir sama istrinya, sih?” gumam Intan sambil mencuci piring.
“Susah emang punya suami yang nikahnya karena terpaksa. Harusnya aku gak perlu berharap banyak dari dia,” ucap Intan lagi.
Akhirnya Intan menitikan air mata sambil mencuci piring. Hatinya terasa sesak karena Zein terlihat begitu santai saat ia akan dikirim ke perbatasan.
Selesai mencuci piring, Intan yang sedang kesal pada Zein itu langsung masuk ke kamar. Ia enggan duduk bersama Zein. Hatinya masih sakit mengingat Zein seolah tak peduli padanya.
Di kamar, Intan pun sibuk menyiapkan barang-barangnya. Padahal ia pikir setidaknya Zein akan ikut mengantarnya dan bermalam di sana semalam. Namun ternyata ia bahkan tidak ikut sama sekali.
Sambil membereskan barang, air mata Intan pun terus mengalir. “Duh, kenapa gak mau berenti, sih? Emangnya apa yang aku harapin dari dia? Sejak awal aja dia gak pernah bilang cinta sama aku,” keluh Intan.
Ia kesal karena air matanya itu tidak bisa dikondisikan.
Ceklek!
Zein masuk ke kamar. Intan pun langsung memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya.
“Mau dibantu?” tawar Zein.
“Gak usah!” sahut Intan, ketus. Suaranya terdengar sengau.
“Oke, kalau begitu Mas istirahat duluan. Soalnya besok mau ada kerjaan penting,” ucap Zein. Ia sama sekali tidak memaksa untuk membantu Intan. Padahal Intan berharap Zein akan memaksanya.
Hati Intan pun semakin sesak kala Zein benar-benar naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Ia merasa sama sekali tidak dibutuhkan oleh pria itu.
‘Oh, jadi selama ini dia baik sama aku cuma karena aku bisa muasin dia aja,’ batin Intan. Rasanya ia tidak ingin kembali ke rumah itu.
‘Kalau begitu biar aku stay di perbatasan aja selamanya!’ gumam Intan dalam hati.
Intan bahkan agak membanting barang-barangnya karena kesal pada Zein. Setelah itu ia mencuci wajah dan bergegas tidur.
Keesokan harinya, saat Intan hendak pergi ke bandara, Zein bahkan tidak bisa mengantarnya.
“Kamu jalan jam berapa?” tanya Zein saat mereka sedang sarapan.
“Ini sebentar lagi mau jalan, Mas,” sahut Intan. Lagi-lagi ia berharap, setidaknya Zein mau mengantarnya ke bandara.
“Ooh, ya udah, hati-hati di jalan! Nanti kalau udah sampe sana kabarin aja, ya!” ucap Zein. Lalu ia menyuap makanannya.
Intan langsung menoleh ke arah Zein. “Mas gak nganter aku ke bandara?” tanya Intan.
“Gak keburu. Soalnya Mas juga udah ditunggu. Nanti Mamah dan yang lain mau jemput kamu ke sini, kan. Jadi aman,” ucap Zein.
“Oh, iya,” sahut Intan, singkat. ‘Jangan harap aku akan kasih kabar!’ batin Intan. Seketika ia pun tidak berselera makan.
Ia semakin kecewa dan bersedih. Akhirnya sepanjang jalan Intan menangis.
Ketika berpamitan dengan orang tua dan mertuanya di bandara. Intan masih mengharapkan kehadiran Zein. Ia bahkan tidak mendengar wejangan dari mertuanya. Ia terus menoleh ke sekeliling. Namun pria itu tak kunjung datang.
"Huuh! Aku pergi ya, Mah, Bu, Pah," ucap Intan dengan wajah sedih. Ia sudah tidak ingin mengharapkan Zein lagi.
"Hati-hati ya, Sayang!" sahut mereka.
Akhirnya Intan pun terpaksa pergi tanpa melihat suaminya. Hatinya terasa begitu sakit. Ia kecewa karena Zein mengabaikannya seperti itu.
Intan hanya bisa tersenyum getir. Ia tidak dapat menutupi kekecewaannya. Bahkan selama menunggu boarding, pikirannya kosong. Rasanya ia seperti ditipu oleh pria itu. Seolah Zein sudah memberinya harapan palsu.
‘Mungkin waktu itu aku yang salah denger. Emang sih dia gak pernah ngasih harapan apa pun. Aku yang salah karena terlalu berharap,’ batinnya.
Tak lama kemudian ia mendengar pengumuman bahwa pesawat yang akan ditumpangi sudah siap boarding. Intan pun bergegas masuk ke pesawat.
Saat boarding, Intan menaruh tas tangannya di atas kabin. Ia terlihat kesusahan. Namun Intan yang sedang kesal itu mampu melakukannya, ia membanting tas itu dengan kasar.
Setelah berhasil menaruh tasnya, Intan pun duduk dengan kesal. "Dasar gak punya perasaan! Udah tau mau pisah selama setahun, malah dicuekin gitu aja," ucap Intan dengan mata berkaca-kaca. Wajahnya terasa panas. Hingga air matanya pun mengalir.
"Siapa yang gak punya perasaan?" tanya seorang pria yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1