Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
54. Istri Siaga


__ADS_3

"Serius kamu?" tanya Muh dan Rani. Mereka sangat terkejut saat mengetahu bahwa Zein yang mengalami morning sickness.


"Iya, Mah. Justru kami tahu aku hamil karena tadi pagi Mas Zein muntah-muntah. Kalau enggak sih, mungkin gak akan ngeuh," jawab Intan sambil tersenyum.


Ia sangat bagahia karena suaminya yang merasakan penderitaan seperti itu.


"Ya ampun, Zein. Kamu bucin akut, ya?" ledek Rani. Menurutnya jika Zein sampai mengalami hal seperti itu, artinya ia terlalu cinta pada Intan.


"Apaan sih, Mah. Itu kan gak ada hubungannya," sahut Zein, kesal.


"Lho, gak ada gimana? Itu kan karena kamu terlalu cinta. Jadi secara tidak sadar batin kalian ini saling melengkapi satu sama lain. Mungkin kamu terlalu mengkhawatirkan istrimu. Jadi kamu merasakan apa yang Intan rasakan," ucap Rani. Sebenarnya itu hanya analisa Rani saja.


"Bisa jadi ini karma karena kamu merasa bersalah pada Intan," ledek Muh.


"Pah!" Zein protes. Ia sebal karena Muh selalu membahas kesalahannya.


"Hehehe, tapi apa yang mamah kamu katakan ini ada benarnya Zein. Hal seperti itu dinamakan kehamilan simpatik. Jadi karena kamu terlalu mengkhawatirkan istrimu, makanya kamu mengalami apa yang seharusnya Intan alami," jelas Muh.


"Kalau tidak salah itu dinamakan sebagai sindrom couvade. Umumnya faktor pemicu sindrom tersebut adalah stress dan karena empati kamu yang terlalu besar terhadap Intan. Papah sendiri kurang tahu detailnya karena bukan spesialis kandungan. Tapi hebatnya kamu bisa mengalami hal itu saat kalian belum tahu Intan mengandung, ya?" lanjut Muh.


Ia tersenyum karena yakin bahwa cinta Zein begitu besar pada Intan sampai ia mengalami hal seperti itu.


"Entahlah, Pah. Aku pun bingung dan gak nyangka. Mungkin karena sebelumnya aku terlalu mengkhawatirkan Intan yang jauh di perbatasan sana. Tapi setelah aku mengalami hal itu, aku jadi sadar bahwa pengorbanan wanita itu luar biasa," jawab Zein.


"Ya memang seperti itu, Zein. Makanya kamu harus menghargai istrimu. Jangan pernah menyakiti dia. Sebab pengorbanan wanita itu sangat besar," ucap Muh.


"Iya, Pah. Aku akan selalu menghargai Intan. Aku juga berterima kasih pada Mamah yang telah berjuang untuk kami. Maaf karena aku belum bisa membahagiakan Mamah," ucap Zein. Ia jadi merasa berhutang budi pada mamah yang telah melahirkannya.


"Iya, Sayang. Gak apa-apa. Bagi Mamah, asalkan kalian bahagia, Mamah pun pasti bahagia," jawab Rani. Ia memang tidak mengharapkan apa pun dari anaknya itu. Selain kebahagiaan.


"Zein, jadi gimana ini resepsinya?" tanya Rani lagi. Sebab sejak tadi belum ada kejelasan.


"Mamah kan tahu aku lagi sibuk. Belum bisa mengurus ini itu. Sementara untuk resepsi pernikahan itu kan persiapannya akan menyita waktu," jawab Zein.


"Udah, kalian gak usah repot-repot! Nanti semuanya biar mamah yang urus!" sahut Rani. Ia tahu anak dan menantunya itu pasti sibuk. Sehingga Rani berinisiatif untuk menghandle semuanya.


"Wah, serius, Mah? Dengan senang hati sih kalau begitu, hehe," jawab Zein. Tentu saja ia senang. Sebab, itu artinya pernikahan mereka akan segera diumumkan.


"Sipp, jadi kamu maunya kapan?" tanya Rani.


"Kapan, Sayang?" Zein bertanya pada Intan.


"Gak tau, Mas. Aku bingung," sahut Intan.


"Gimana kalau bulan depan? Lebih cepat lebih baik, kan. Kalau kelamaan takut perut Intan keburu besar dan nanti Intan gak kuat kalau kelelahan," jawab Zein.


"Oke, deal. Bulan depan, ya," sahut Rani. Ia pun bersemangat.


Setelah berbincang-bincang, Zein dan Intan pun pamit. Sebab hari ini Intan ingin mengunjungi ibunya untuk memberi kabar bahwa dirinya tengah mengandung.


"Mah, kami pamit dulu, ya," ucap Zein.


"Lho, mau ke mana? Kok buru-buru, sih? Padahal Mamah masih kangen sama Intan," jawab Rani.


"Kami mau ke rumah ibunya Intan. Terus mau ada yang dicari juga, Mah," jawab Zein.


"Ooh, ya udah kalau begitu. Salam sama Ibu kamu ya, Tan," jawab Rani.


"Iya, Mah. Aku pamit ya," sahut Intan. Kemudian ia salimpada kedua mertuanya itu.


"Zein, jaga istri kamu baik-baik!" ucap Muh.


"Siap, Pah," jawab Zein. Lalu mereka pun meninggalkan ruangan itu.


"Kita keluar bareng aja, ya!" ajak Zein.


"Kok gitu, Mas?" tanya Intan.


"Ya anggap aja kamu ada kerjaan sama Mas. Orang juga gak akan langsung mikir kita ada hubungan, kok. Percaya, deh!" usul Zein.


"Iya juga, sih. Tadi aja mereka pada gak yakin aku mau sama Mas," ucap Intan sambil tersenyum.


Zein langsung menoleh ke arah istrinya itu. "Kok begitu?" tanyanya sambil mengerutkan kening.


"Soalnya mereka tahu kalau Mas itu galak banget sama aku, hihihi," jawab Intan sambil terkekeh.


Seketika wajah Zein langsung berubah. "Awas kamu, ya!" ancam Zein. Ia sebal jika diingatkan hal itu.


"Lho, kan mereka yang ngomong. Kenapa aku yang diancam?" tanya Intan.


"Karena kamu senang mendengar ucapan mereka yang menghina aku," sahut Zein, sebal.


"Lho, itu bukan menghina, Mas. Mereka itu cuma ngomongin fakta," sahut Intan.


"Terserah. Yang pasti aku gak suka," jawab Zein.


Intan hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala jika sudah melihat suaminya kesal seperti itu.


Akhirnya Intan memberanikan diri untuk jalan bersama Zein di rumah sakit. 'Duh, semoga gak ada yang curiga. Kalau enggak, bisa-bisa misi aku gagal,' batin Intan.


"Siang, Prof!" sapa beberapa perawat yang berpapasan dengan mereka.


"Siang!" sahut Zein, ramah. Ia sedang bahagia. Sehingga terlihat begitu ramah.


"Widih ... Prof Zein dan dokter Intan. Tumben nih barengan?" goda Dimas yang sudah mengetahui hubungan mereka.


"Kamu jangan jadi ember bocor ya, Dim!" ancam Zein sambi berbisik.


"Lho, emangnya aku ngapain? Kan cuma nyapa. Iya gak, Dok?" tanya Dimas pada Intan.


"Iya tapi ucapan kamu itu bisa bikin orang salah paham," sahut Zein, kesal. Ia khawatir Intan tak mau dekat dengannya lagi jika sampai ada orang yang curiga.


"Bukan salah paham. Tapi mengetahui kebenaran," sahut Dimas.


"Dim!" Zein semakin kesal pada dokternya itu.


"Eh, ada dokter Intan," sapa dokter yang waktu itu bertemu dengan mereka di toko buah.


"Siang, Dok," sapa Intan.


"Siang ... jadi sekarang udah go public, nih?" tanya dokter wanita itu.


Zein dan Intan langsung memelototinya.


"Ups, sorry. Kirain udah," ucapnya, gugup. Ia langsung menoleh ke kanan kiri karena khawatir ada orang lain yang mendengar dan dirinya yang disalahkan.


'Duh, susah banget sih jaga mulutnya?' batin Zein. Ia sebal karena mereka telah mengancam kenyamanan Intan.


"Eum ... dokter Intan tumben ke sini? Ada kerjaan, ya?" tanya dokter wanita itu pada Intan sambil sedikit meninggikan suaranya agar orang lain mendengar.


"Iya, Dok," jawab Intan.


"Mulai besok Intan magang di sini lagi," timpal Zein.


"Oooh, magang di sini? Wah, hebatnya. Syukurlah kalau begitu. Jadi gak usah jauh-jauh," timpal dokter itu lagi.


"Kalau begitu kami duluan. Masih ada urusan lain," ucap Zein. Ia tidak ingin orang lain semakin mencurigainya. Sehingga Zein memilih pamit.


Mereka pun berpamitan dan meninggalkan tempat itu.


"Dokter Dimas udah tau?" tanya dokter wanita itu.

__ADS_1


"Tau apa, Dok?" tanya salah seorang dokter yang sejak tadi memperhatikan mereka.


Dimas dan dokter wanita itu langsung menoleh. "Eh, itu. Tau kalau Prof mau jadi direktur," sahut dokter wanita tadi.


"Ooh, itu mah udah bukan rahasia lagi. Semua juga kan udah tau," ucap dokter yang nimbrung itu.


Beruntung ia tidak curiga. Sebab hal itu memang sedang jadi hot news di rumah sakit.


"Ya udah saya mau praktek dulu. Duluan ya, Dok," ucap Dimas. Ia pun meninggalkan mereka.


Dimas tidak ingin salah bicara. Sehingga ia memilih untuk menghindar.


Sementara itu Zein dan Intan sedang pergi menuju ke rumah ibu Intan. Sudah lama Intan tak mengunjungi ibunya karena kesibukkannya. Terakhir kali Intan datang ke rumah ibunya setelah Intan selesai ujian, sepulang dari hotel bintang lima tempo hari.


Namun mereka sempat bertemu saat ibu Intan mengantarnya ke bandara.


"Sayang, mau beli apa buat Ibu?" tanya Zein. Ia belum hafal kesukaan ibu mertuanya.


"Ibu tuh gak suka nyemil. Kita beliin buah aja yang sehat. Kan camilan juga kurang bagus buat Ibu," jawab Intan.


"Oke," sahut Zein. Mereka pun membelikan beberapa macam buah untuk ibunya Intan.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah Fatma.


"Assalamu alaikum," ucap Intan saat sudah tiba di depan rumah ibunya.


"Waalaikum salam," sahut Fatma. Ia pun membukakan pintu untuk anaknya itu.


Ceklek!


"Ibu, apa kabar?" tanya Intan. Kemudian ia memeluk ibunya.


"Lho, kamu kok ada di sini, Nak?" tanya Fatma. Ia bingung karena seharusnya Intan sedang magang di perbatasan.


"Ceritanya panjang, Bu. Hehehe," jawab Intan, malu.


"Ya sudah masuk, yuk!" ajak Fatma, setelah Zein bersalaman dengannya. Mereka pun masuk dan duduk di ruang tamu.


"Ini gimana ceritanya kamu bisa ada di sini, Tan?" tanya Fatma, heran.


"Alhamdulillah aku udah pindah magang, Bu. Jadi mulai besok aku magang di rumah sakit Papah lagi," jawab Intan.


"Oya? Alhamdulillah ... Ibu senang mendengarnya. Syukurlah kalau begitu. Ibu jadi tenang," jawab Fatma. Ia sangat bahagia mendengar anaknya sudah pindah ke Jakarta kembali.


"Sebenarnya aku punya satu kabar bahagia lagi, Bu," ucap Intan.


"Apa itu?" tanya Fatma. Ia sangat pensaran.


"Sebentar lagi Ibu akan jadi nenek," ucap Intan sambil tersenyum.


Fatma mengerutkan keningnya. "Maksudnya? K-kamu hamil?" tanyanya, gugup.


Intan pun mengangguk sambil tersenyum.


"MasyaaAllah, beneran Intan hamil?" tanya Fatma pada Zein.


"Iya, Bu. Alhamdulillah, sebentar lagi kami akan punya anak," jawab Zein.


Fatma pun langsung memeluk Intan. "Ya Allah, Ibu bahagia sekali, Sayang. Semoga semuanya lancar sampai kamu melahirkan nanti, ya," ucap Fatma.


Ia tak menyangka Intan akan mendapat momongan secepat itu. Ia ingat betul bagaimana Intan keberatan dan menolak ketika hendak dijodohkan dengan Zein. Hal itu pun sempat membuat Fatma khawatir Intan tidak bisa menerima Zein sebagai suaminya.


"Nak Zein, selamat, ya. Wanita hamil itu biasanya lebih sensitif. Jadi Nak Zein harus banyak sabar menghadapi Intan. Apalagi kalau sampai ada morning sickness, itu pasti akan menguras emosi," ujar Fatma.


Lagi-lagi Intan dibuat tersenyum bangga. "Alhamdulillah aku gak ngalamin itu, Bu," ucapnya.


"Oya? Syukurlah kalau begitu." Fatma lega mendengarnya.


"Hah? Maksudnya gimana?" Fatma terkejut mendengarnya.


"Iya Mas Zein yang mual muntah. Untung aja cuma pagi," ujar Intan.


"MasyaaAllah ... luar biasa sekali." Fatma sampai bingung hendak berkata apa. Zein sendiri hanya bisa tersenyum malu.


"Bu, apa Ibu gak mau ikut pindah ke rumah kami?" tanya Intan. Ia berani bertanya seperti itu karena sebelumnya sudah bertanya pada Zein dan Zein pun tidak keberatan.


"Enggak, Sayang. Ibu lebih nyaman tinggal di sini. Udah kamu gak usah mikirin Ibu, ya! Ibu baik-baik aja. Lagi pula kan sekarang pengobatannya sudah rutin. Jadi kondisi kesehatan Ibu jauh lebih membaik," jawab Fatma.


Intan langsung murung. Sebenarnya ia tidak tenang membiarkan ibunya tinggal di rumah itu sendirian. Sebab ia sadar akan kesibukannya. Sehingga Intan tidak mungkin sering mengunjungi ibunya. Namun ia pun tidak mungkin memaksa.


"Kenapa sih, Bu?" tanya Intan.


"Gak apa-apa, Sayang. Ibu sudah lama tinggal di rumah ini. Rasanya berat jika harus pindah. Sudahlah, di sini juga kan ada suster. Jadi insyaaAllah Ibu akan aman," jelas Fatma.


"Ya udah, deh. Tapi kapan pun Ibu berubah pikiran, jangan sungkan untuk bilang ke aku, ya?" pinta Intan.


"Iya, Sayang. Kamu tenang aja, ya!"


Setelah berbincang-bincang, Intan dan Zein pun pamit. Sebab mereka masih harus mencari busana muslim untuk Intan.


"Sayang, kamu suka pakaian seperti apa?" tanya Zein.


"Ya aku gak tau, kan ini baru pertama kali aku mau pakai hijab. Jadi nanti cari yang kira-kira cocok aja sama aku, ya?" sahut Intan.


"Ya udah, nanti kita lihat, ya," sahut Zein, sambil menggenggam tangan istrinya.


Intan pun mengangguk.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di sebuah mall. Saat memasuki mall tersebut, kondisinya cukup ramai. Sehingga Zein merasa mual dan pusing.


"Mas kenapa?" tanya Intan saat melihat Zein memijat kepalanya.


"Pusing dan mual lagi, Sayang," sahut Zein.


"Waduh!" Intan ternganga. Ia tak menyangka ternyata tidak hanya pagi. Di tempat yang ramai pun Zein bisa mual.


"Terus gimana? Mas sanggup buat lanjut atau kita mau pulang aja?" tanya Intan. Ia khawatir melihat wajah suaminya berubah pucat.


"Gak apa-apa, lanjut aja! Besok kan kamu udah mulai magang. Pasti butuh banyak pakaian untuk ganti setiap hari," sahut Zein sambil menahan mual.


"Ya udah, kita cari toko yang agak sepi!" ajak Intan. Sebenarnya ia tidak tega melihat suaminya seperti itu. Namun Intan pun tidak mungkin berdebat dengannya.


Intan pun menuntun Zein. Kemudian mereka mencari toko pakaian muslim yang agak sepi.


"Nah itu sepi!" ucap Intan. Kemudian mereka pun masuk ke toko tersebut.


Zein memejamkan matanya karena merasa pusing.


"Mas duduk di situ aja, ya?" pinta Intan. Kemudian ia mengajak Zein ke sebuah kursi yang ada di toko itu.


"Mbak, boleh numpang duduk, gak?" tanya Intan.


"Oh iya, silakan!" sahut penjaga toko. Ia pikir Intan yang akan duduk. Namun ternyata justru suaminya yang duduk.


Mereka pun heran karena baru kali ini ada istri yang memberikan tempat duduk pada suami.


"Duh, aku jadi gak tenang. Pulang aja yuk, Mas!" ajak Intan.


"Udah gak apa-apa. Aku tunggu di sini. Kamu cari pakaian sedapatnya, ya! Yang penting dapat, minimal satu atau dua stel," jawab Zein.


"Ya udah, tunggu sebentar!" sahut Intan. Lalu ia pun meninggalkan Zein dengan berat hati. Kemudian mencari pakaian yang kira-kira cocok untuknya.

__ADS_1


Saat Intan sedang sibuk memilih. Ia mendengar suara suaminya.


Huweekk! Huwekk!


Zein semakin mual dan hampir muntah. Ia menutup mulutnya dengan tangan, sudah seperti wanita hamil.


Semua orang menoleh ke arah Zein. Mereka bingung mengapa Zein seperti itu.


Intan pun mendekat ke arah suaminya. "Mas, makanya aku bilang pulang aja, yuk!" ajak Intan.


"Suaminya kenapa, Bu? Lagi sakit, ya? Ini coba pakai minyak gosok!" ucap penjaga toko. Ia pun memberikan minyak gosok pada Intan.


"Iya, terima kasih," sahut Intan. Ia mengambil minyak gosok itu dan memakaikannya di perut, dada, leher, serta di kening Zein.


"Coba dihirup, Mas!" pinta Intan.


Sambil memejamkan mata, Zein pun menghirup aroma minyak angin tersebut.


"Gimana? Masih mual?" tanya Intan.


"Udah lebih baik," sahut Zein.


"Emang suaminya sakit apa, Mbak? Kayak ibu hamil yang lagi ngidam," tanya salah seorang pengunjung.


Intan pun tersenyum kikuk. "Iya, emang lagi ngidam, hehe," jawab Intan, malu. Ia tidak ingin suaminya dianggap penyakitan. Sehingga Intan berkata jujur.


Mereka semua pun terkejut. "Hah? Ngidam?" Mereka tidak menyangka ternyata suami ngidam itu memang benar-benar ada.


"Ya ampun, kok bisa gitu, ya? Lucu banget," ucap salah seorang wanita. Baginya sangat menyenangkan jika memang suami yang merasakan ngidam.


"Iya, hehe," jawab Intan. Ia bingung hendak menjelaskan apa.


"Biasanya kalau lagi ngidam itu pinginnya makan yang asem-asem biar seger. Coba makan rujak mangga muda, aja! Atau jeruk yang agak asem!" usul salah seorang pengunjung.


"Mas mau rujak?" tanya Intan. Ia sudah seperti suami yang sedang menjaga istrinya.


Mereka tersenyum melihat Intan dan Zein. Seperti dunia terbalik.


"Ini aku ada jeruk. Kebetulan lagi ngidam juga. Kalau mau dicoba aja! Siapa tau mualnya berkurang," ucap salah seorang ibu-ibu.


Intan ragu. Namun ia menerimanya demi membuktikan ucapan wanita itu. "Terima kasih ya, Bu," sahut Intan. Setelah itu ia pun membuka jeruknya untuk Zein.


"Ini dicoba, Mas!" pinta Intan sambil menyodorkan jeruk itu ke mulut Zein.


Zein pun tidak menolak. Ia memakannya dan dari ekspresinya Zein terlihat cukup menikmati jeruk itu.


"Enak?" tanya Intan.


Zein mengangguk.


Intan penasaran seberapa asam jeruk itu. Ia pun mencoba satu.


"Uuwww!" Intan langsung meringis karena jeruk itu cukup asam. Orang yang melihatnya pun turut menelan saliva.


"Asem banget, Mas. Kamu gak keaseman?" tanya Intan. Ia heran karena ekspresi Zein biasa saja.


"Enggak, Sayang. Ya udah sini jeruknya. Enak, kok," sahut Zein. Lalu ia pun mengambil jeruk yang ada di tangan Intan dan memakannya.


Intan ternganga. Ia tak menyangka suaminya sampai seperti itu. "Ya udah, nanti kita cari buah yang asem-asem!" ajak Intan.


"MasyaaAllah, luar biasa sekali," gumam salah seorang pengunjung. Ia takjub melihat kejadian itu.


Sebenarnya Zein malu menjadi tontonan seperti itu. Namun ia tidak memiliki pilihan lain, ia rela seperti itu demi istrinya bisa memiliki pakaian muslim.


Intan pun bergegas memilih dan segera membayarnya. Ia tak ingin berlama-lama karena khawatir Zein mual lagi.


"Mbak so sweet banget, sih?" ucap kasir. Ia senang melihat Intan dan Zein.


"Hehehe, aku malah bingung," sahut Intan. Ia merasa sudah seperti suami siaga.


Setelah itu mereka langsung pulang ke rumah. "Jeruknya biar aku pesan online aja ya, Mas. Sama mangga muda," ucap Intan saat sudah di jalan.


"Iya, Sayang," sahut Zein. Saat ini kondisinya sudah lebih baik meski masih agak pusing.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah. Zein pun langsung beristirahat. Sementara Intan pergi mencuci pakaian yang harus ia pakai besok.


Beruntung di rumah Zein ada pengering pakaian yang bisa langsung kering tanpa dijemur lagi. Sehingga Intan tetap bisa memakai pakaian bersih meski baru dibeli.


Tiba di kamar, Zein langsung ganti pakaian, kemudian merebahkan tubuhnya.


"Ya Allah, berat sekali," gumam Zein. Ia merebahkan tubuhnya, kemudian memejamkan mata.


Selesai mencuci, Intan masuk ke kamar. Ia menghampiri suaminya, kemudian duduk di samping Zein.


"MasyaaAllah, pengorbananmu luar biasa, Sayang. Terima kasih," ucap Intan sambil mengusap kepala Zein. Lalu ia pun mengecup keningnya.


Keesokan harinya, Intan bangun sambil mendengar suaminya sedang muntah-muntah di kamar mandi seperti kemarin.


Kali ini ia tidak terlalu kaget karena sudah paham. Intan pun menghampiri suaminya dan memberi treatment seperi kemarin.


"Kalau gak kuat, Mas gak usah mandi! Diwaslap aja badannya," ucap Intan.


"Ya gak seger dong, Sayang. Mas cuma gak bisa nyium aroma sabunnya aja. Nanti tetep mandi, mungkin sementara gak pakai sabun dulu," sahut Zein.


"Ooh, kalau begitu nanti kita cari sabun yang non fragrance, ya," jawab Intan.


Zein pun mengangguk sambil mengusap perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk.


Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit.


"Mas yakin kuat?" tanya Intan.


"Iya, insyaaAllah kuat. Kebetulan kemarin aku minta kosongkan jadwal selama seminggu, jadi kemungkinan beberapa hari ke depan gak akan ada operasi," jawab Zein.


"Syukurlah kalau begitu. Ya udah, aku turun duluan, ya? Mas bisa jalan sendiri, kan?" tanya Intan.


Zein tersenyum. "Kamu nih! Yang ada aku yang harus khawatir sama kamu. Kan kamu yang lagi hamil, Sayang," ucap Zein.


"Iya, tapi Mas yang lebih mengkhawatirkan, hehe," ledek Intan.


"Dasar!"


Intan pun turun dari mobil Zein. Lalu ia masuk dan menuju ke ruangan dokter.


Tiba di ruangan dokter, Intan laporan pada atasannya. Lalu ia diberi tugas di ruang IGD yang terkenal crowded itu.


"Kamu dokter magang yang baru, ya?" tanya kepala dokter.


"Iya, Dok," sahut Intan.


"Kamu ditempatkan di IGD, ya!" ucap kepala dokter itu. Ia terlihat kurang ramah pada Intan.


Intan pun menelan saliva. Ia tahu betul bagaimana sibuknya di ruangan IGD.


"Kenapa? Kamu mau protes?" tanya kepala dokter itu.


Intan menggelengkan kepala. "Enggak, Bu," sahutnya.


"Bagus! Harusnya kamu sadar diri. Kamu itu cuma magang di sini, jadi gak perlu banyak protes. Asal kamu tahu, dokter lain itu magangnya langsung terjun ke lapangan. Di puskesmas yang ada di desa-desa. Itu sudah jadi program pemerintah. Entah kenapa kamu bisa magang di sini."


"Jujur awalnya saya keberatan. Tapi ya sudahlah, kalau pemilik rumah sakit ini sudah meminta, saya bisa apa. Cuma kamu harus tahu, siapa pun orang tuamu, jangan pernah sombong! Di sini kamu sama saja seperti yang lain. Saya tidak akan membedakannya. Paham!" ucap kepala dokter itu.

__ADS_1


Ia tidak sadar bahwa justru Intan adalah menantu dari pemilik rumah sakit yang ia segani. Entah bagaimana reaksi Zein jika mengetahui istrinya yang sedang mengandung itu ditempatkan di ruang IGD.


__ADS_2