
'Hah? Merepotkan dia bilang? Apa aku gak salah denger? Perasaan tadi aku udah nolak dan dia yang maksa. Tapi kenapa dia bisa bilang aku merepotkan?' batin Intan.
Zein pun duduk dan melanjutkan makannya tanpa dosa. Hal itu membuat Intan semakin kesal. Sudah bibirnya sakit, ditambah harus mendengar ucapan Zein yang sangat pedas itu. Rasanya ia ingin melemparkan saus ke wajah Zein.
Hidungnya bahkan sampai kembang kempis saking kesalnya. Jika tidak ingat bahwa Zein adalah konsulennya, mungkin Intan sudah meninggalkan resto tersebut saat itu juga.
Beberapa saat kemudian Zein sudah selesai makan. Ia berdiam sejenak, kemudian mengajak Intan pulang.
"Saya sudah selesai, mari pulang!" ajak Zein. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu.
Intan mengangguk. Kebetulan ia pun sudah selesai makan.
Setelah itu, mereka pun meninggalkan restoran tersebut. Sebelumnya Zein telah membayar makanan mereka tentunya.
"Terima kasih, Prof," ucap Intan.
Zein mengerutkan keningnya. "Untuk?" tanyanya.
"Terima kasih karena hari ini saya sudah ditraktir makan," ucap Intan lagi.
Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. "Tidak perlu berterima kasih! Anggap saja latihan jadi istri," jawab Zein, kemudian ia berjalan menuju pintu mobil bagian sopir.
Seketika lutut Intan terasa lemas. 'Kenapa sih dia tuh kalau ngomong kayak kompor meledug? Bisa banget bikin aku jantungan,' batin Intan. Lalu ia pun bergegas menyusul Zein masuk ke mobil.
Saat tiba di dalam mobil, Intan yang sedang tidak fokus karena ucapan Zein barusan pun lupa memasang seat beltnya lagi. Ia hanya duduk sambil menatap ke depan.
Namun, tiba-tiba Intan melihat kepala Zein ada di hadapannya. Ia pun sontak memundurkan wajahnya karena sangat terkejut. Apalagi ketika Zein menoleh.
"Apa kamu tidak biasa naik mobil, sampai memasang seatbelt saja harus diingatkan?" tanya Zein.
Intan terbelalak sambil menahan napas. "M-maaf, Prof," sahutnya tanpa membuka mulut. Kemudian Zein menarik seatbelt itu dan memasangnya.
Klek!
Sebenarnya ia sengaja melakukan hal tersebut karena Zein senang melihat wajah Intan yang panik seperti itu.
Setelah memasang seatbelt, Zein pun melajukan kendaraannya.
Sepanjang perjalanan, Intan gelisah. Ia bingung sebenarnya apa yang ada di pikiran dan hati Zein. Selama ini pria itu selalu membuatnya kesal. Namun, tak jarang Zein pun sering membuat hati Intan berdesir. Sehingga Intan mulai terusik.
Sesekali ia melirik ke arah Zein. Hatinya bertanya-tanya. 'Dia tuh ganteng. Tapi kenapa galak banget, sih? Tiap ngomong selalu nyelekit. Cuma kenapa juga dia suka ngucapin kalimat yang bikin hati aku deg-degan. Bahkan terkadang tindakkannya pun terkesan perhatian … Ah, udahlah, ngapain amat aku mikirin dia.'
Zein yang sedang serius menatap ke depan pun berbicara tanpa menoleh. "Kenapa? Apa wajah saya setampan itu sampai kamu terkesima melihatnya?" tanya Zein.
Intan pun terkesiap. "Enggak, Prof. Saya lagi lihat jalanan," kilah Intan. Ia tidak mau disebut sedang menatap Zein.
Zein menyeringai. "Oh ... jalanannya tampan?" goda Zein.
__ADS_1
"Iya," sahut Intan. Namun seketika ia sadar. "Enggak, Prof!" Ia langsung meralat ucapannya. Namun Zein sudah terlanjur senang dengan jawaban pertama Intan. Ia hanya tersenyum dalam hati.
'Intaaannn ... kenapa kamu jadi bodoh banget, sih? Come on! Fokus, Tan, Fokus!' batin Intan, meruntuki dirinya sendiri.
Saat Intan sedang menyesali perbuatannya, Zein malah bersikap cool dan hal itu membuat Intan semakin menyesal.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di depan rumah Intan. Ia pun turun dan pamit pada Zein.
"Terima kasih banyak, Prof. Besok biar saya naik ojek saja," ucap Intan.
"Oke," sahut Zein. Ia tidak ingin banyak berdebat dengan Intan.
Intan pun meninggalkan mobil Zein dan hendak masuk ke rumahnya. Zein menutup kaca jendela pintu mobil itu.
Namun, Intan pikir ia akan pergi, tetapi Intan malah mendengar suara pintu mobil ditutup. Intan pun bingung saat melihat Zein turun dari mobil.
"Lho, Prof, kok turun? Mau apa?" tanya Intan.
Zein tidak menjawabnya. Ia langsung mengetuk pintu rumah Intan.
Tuk, tuk, tuk!
Intan sendiri tidak berani mengulangi pertanyaannya. Akhirnya ia berdiri di samping Zein.
Tak lama kemudian pintu rumah Intan terbuka dari dalam.
"Assalamu alaikum, Bu," ucap Zein.
"Tidak, Bu. Saya ada pekerjaan lain. Saya hanya ingin mengantar Intan dan menginformasikan bahwa minggu depan saya dan keluarga akan datang untuk melamar Intan," jawab Zein.
Fatma ternganga. "Hah, minggu depan?" tanyanya. Ia tidak menyangka akan secepat itu.
"Iya. Kalau begitu saya pamit dulu. Besok pagi saya akan datang lagi untuk menjemput Intan. Assalamu alaikum," ucap Zein, pamit pada Fatma.
"Waalaikum salam," sahut Fatma.
Zein pun langsung meninggalkan rumah itu tanpa menoleh ke arah Intan.
"Hah? Kan tadi dia udah oke waktu aku bilang mau naik ojek?" gumam Intan, pelan. Ia heran Zein selalu bersikap sesuka hati.
"Kamu kok gak bilang kalau mau lamaran minggu depan?" tanya Fatma.
"Aku aja baru tau tadi, Bu. Ya udah, masuk, yuk!" ajak Intan.
Mereka pun masuk ke rumah.
“Ibu gak nyangka ternyata pendekatan kalian secepat ini. Padahal awalnya kamu sempat menolak ya, Tan? Tapi Ibu senang karena kamu mau menikah dengan Nak Zein,” ucap Fatma sambil tersenyum.
__ADS_1
Melihat kebahagiaan di wajah Fatma, Intan pun tidak tega untuk menentangnya. Sehingga ia sudah pasrah atas apa yang akan terjadi dengan masa depannya. Meski harus menikah dengan Zein.
Keesokan harinya.
"Duh, semoga dia gak beneran dateng, deh," gumam Intan saat hendak sarapan. Ia risih jika sampai dijemput oleh Zein. Apalagi mobil Zein yang mewah itu menjadi pusat perhatian tetangga Intan karena dirinya tinggal di kampung.
"Kamu kenapa, Tan?" tanya Fatma.
"Gak apa-apa, Bu," sahut Intan. Saat ia hendak menyendok makanan, terdengar suara Zein mengucapkan salam di depan pintu.
"Assalamu alaikum," ucapnya.
'Yaelah, baru juga mau makan. Kenapa udah dateng aja, sih? Jadi ilang kan selera makan aku,' batin Intan.
"Siapa itu?" tanya Fatma.
"Palingan Prof, Bu. Kan kemarin dia bilang mau jemput aku," jawab Intan.
"Oh iya." Fatma hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan, Bu! Biar aku aja," ucap Intan. Ia tidak ingin ibunya banyak bergerak. Intan pun berdiri dari tempat duduknya. Kemudian ia berjalan ke arah pintu.
Huuh!
Intan mengatur napas sebelum membuka pintu.
"Waalaikum salam," ucap Intan sambil membuka pintu. "Eh, Prof." Intan pura-pura baru tahu bahwa yang datang adalah Zein.
"Sudah siap?" tanya Zein.
"Tan, ajak Nak Zein sarapan! Kamu juga kan belum sarapan," ucap Fatma dari dalam.
Intan menoleh ke arah dalam rumahnya, kemudian ia menoleh ke arah Zein. "Maaf ya, Prof. Sebentar, saya ambil tas dulu," ucap Intan. Ia tidak ingin Zein menunggu.
Namun, ketika Intan masuk ke kamarnya, Zein malah menghampiri Fatma.
"Assalamu alaikum, Bu," ucap Zein.
"Waalaikum salam. Mari kita sarapan! Nak Zein sudah sarapan belum?" tanyanya.
"Kebetulan belum," sahut Zein, jujur. Ia sengaja berangkat lebih pagi karena ingin menjemput Intan.
"Nah, kebetulan kalau begitu. Ayo duduk! Biar Ibu ambilkan makanan." Fatma pun antusias mengambilkan makanan untuk Zein dan menaruh makanan itu di hadapan calon menantunya tersebut.
"Silakan, jangan sungkan-sungkan! Anggap saja rumah sendiri," ucap Fatma.
"Terima kasih banyak, Bu," sahut Zein. Ia pun mulai makan bersama Fatma.
__ADS_1
Intan yang baru keluar dari kamarnya itu pamit pada Fatma.
"Bu, aku pergi du-" Ucapannya terjeda ketika melihat Zein sedang makan bersama ibunya.