Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
68. Menyesal


__ADS_3

Uhuk! Uhuk!


Zein langsung tersedak saat mendengar ucapan Intan barusan. Mungkin jika di dalam tayangan kartun, telinga dan hidung Zein sudah mengeluarkan asap karena terlalu kesal.


"Kamu kok ngomongnya gitu, sih?" Zein protes pada istrinya. "Kamu tega sama aku?" lanjut Zein.


"Kamu sendiri, tega sama aku!" skak Intan. Ia masih bisa makan dengan santai saat suaminya sedang kebakaran jenggot seperti itu.


Zein tercekat, ia tidak menyangka istrinya bisa seperti itu jika sedang marah. "Aku kan udah minta maaf, Sayang," lirih Zein.


"Ya udah, aku juga tinggal minta maaf. Apa susahnya?" sahut Intan, ketus.


Seketika selera makan Zein hilang. Mendengar nama Bian, membuat Zein kesal dan tidak berselera.


"Gimana caranya supaya aku bisa nebus kesalahanku?" tanya Zein, memelas.


Intan memicingkan matanya ke arah Zein. "Pisah kamar sebulan!" sahut Intan, singkat.


Bola mata Zein hampir melompat. "Hah? Sebulan? Yang bener aja! Masa sebulan? Bisa gila aku sebulan pisah kamar sama kamu," keluh Zein.


"Ya udah kalau gak mau. Gak masalah," jawab Intan.


"Jadi malam ini aku bisa tidur sama kamu lagi, kan?" tanya Zein sambil tersenyum kikuk.


"Enggaklah. Kalau kamu gak mau sebulan, itu artinya kita gak akan pernah tidur sekamar lagi!" ancam Intan.


"Hah? Kamu jangan aneh-aneh deh, Sayang! Mana boleh kayak gitu, dosa tau!" Zein langsung protes. Pikirannya kusut membayangkan apa yang Intan katakan.


"Emang ngirim orang ke perbatasan, gak dosa? Kamu tau gak? Bukan cuma masalah lokasi yang jauh dari mana-mana. Bahkan untuk berkomunikasi dengan warga lokal saja rasanya sangat sulit," keluh Intan.


"Bahasa mereka kan bukan sekadar bahasa inggris. Tapi bahasa daerah yang sama sekali aku gak paham artinya!" ucap Intan, gemas.


"Kamu pernah di sana, kan? Pasti tau gimana susahnya jadi dokter di perbatasan seperti itu. Makanya sampai kamu ngirim aku ke sana, artinya kamu super raja tega. Aku yakin suami mana pun gak akan rela istrinya dikirim ke perbatasan. Tapi kamu? Malah kamu sendiri yang ngirim aku ke sana!"


Intan yang kesal itu pun langsung menaruh sendok dan angkat kaki dari meja makan. Emosinya kembali naik saat membayangkan betapa kejam suaminya ketika menginginkan dirinya dikirim ke perbatasan.


"Sayang!" Zein pun menyusul Intan.


"Kamu tau? Saat ini aku jadi bingung, mana ucapan kamu yang jujur dan mana yang gak jujur. Soalnya kamu pinter banget nyembunyiin fakta itu dari aku," ucap Intan dengan suara bergetar.


"Kamu bahkan bersikap sok pahlawan untuk menutupi dosamu. Coba bayangkan gimana kalau kamu jadi aku? Apa bisa kamu maafin aku dengan mudah?" tanya Intan sambil menatap Zein. Air matanya pun menetes kembali.


Ia tidak dapat menerima apa pun alasan Zein. Sehingga sulit bagi Intan untuk memaafkan suaminya itu. Namun bukan berarti Intan tidak mau memaafkan Zein. Ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada suaminya itu.


Melihat Zein mematung, Intan pun kembali pergi, masuk ke kamarnya. Akhirnya mereka perang dingin selama beberapa hari. Meski pergi ke rumah sakit bersama, tetapi Intan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Namun hari ini Intan melihat suaminya sedikit berbeda. 'Kok mukanya agak pucat, ya?' batin Intan.


Zein sulit tidur jika tidak bersama Intan. Permasalahan yang sedang ia hadapi pun membuat Zein kehilangan nafsu makan. Sehingga kondisi kesehatannya melemah. Apalagi akhir-akhir ini Zein sering melakukan operasi selama beberapa jam.


Intan masih berusaha bertahan dengan egonya. Ia langsung turun dari mobil saat tiba di rumah sakit. Tanpa menoleh ke arah suaminya lagi.


Zein pun turun dan masuk ke lobby.


Saat tiba di lobby, Intan bertemu dengan dokter lain dan berbincang di sana. Hingga akhirnya Zein masuk dan tak lama kemudian pria itu tak sadarkan diri.


"Prof!" pekik staf informasi yang berjaga di lobby.


Intan yang sedang memunggungi Zein pun menoleh ke arahnya.


Deg!


Ia sangat terkejut saat melihat suaminya pingsan. Tanpa sadar, Intan langsung menjatuhkan tasnya dan berlari ke arah Zein.


"Mas!" pekik Intan


"Hati-hati, Dok!" ucap dokter yang sedang bersama Intan. Ia khawatir Intan terpeleset karena sedang hamil.


"Mas! Bangun, Mas!" Intan berusaha menepuk-nepuk pipi Zein.


"TOLOONGG!" pekik Intan. Padahal di sekelilingnya sudah banyak orang. Saat ini ia sedang sangat panik. Apalagi dirinya tidak bisa mengangkat Zein seorang diri.


"Tolong ambilkan brankar!" pinta Intan. Ia tidak ingin Zein dibopong begitu saja. Khawatir kepalanya terbentur dan akan terguncang jika dibopong.


Air mata Intan pun meluap. Ia tak dapat menahan rasa penyesalannya karena sudah terlalu keras menghukum suaminya itu.


"Ya Allah, Mas! Tolong jangan bikin aku takut, huhuhu." Intan menangis di hadapan orang banyak.

__ADS_1


"Mana ini brangkarnya? Cepat!" pekik Intan. Ia sudah tidak peduli dengan imagenya. Baginya, yang terpenting saat ini adalah keselamatan Zein.


Beberapa saat kemudian, perawat pun datang sambil membawa brankar yang Intan minta. Kemudian mereka menggotong Zein dan menaruhnya di atas sana.


"Dok! Tolong Mas Zein!" pinta Intan pada Dimas yang baru saja muncul.


"Lho, Zein kenapa?" tanya Dimas. Ia pun bingung saat melihat sahabatnya itu tidak sadarkan diri.


"Aku gak tau tadi tiba-tiba aja Mas Zein pingsan, huhuhu." Intan seperti anak kecil yang sedang ketakutan.


"Ya udah kamu tenang dulu! Biar aku periksa kondisinya di ruang IGD, ya!" ucap Dimas.


Mereka pun berjalan ke arah ruang IGD.


Padahal Intan sendiri merupakan seorang dokter. Namun, dalam kondisi seperti itu ia tidak bisa berpikiran jernih. Sehingga tidak ingat bahwa sebenarnya ia bisa memeriksanya sendiri.


Akhirnya Dimas dan dokter lain memeriksa kondisi Zein.


"Kamu tunggu di sini, ya!" pinta Dimas. Melihat kondisi Intan, Dimas tidak mengizinkannya masuk. Ia khawatir Intan akan mempersulit pekerjaannya nanti.


"Tolong usahakan yang terbaik untuk suamiku, ya!" pinta Intan.


"Pasti!" sahut Dimas. Kemudian ia menutup pintu IGD.


Muh yang baru datang pun mendengar berita itu. Kemudian ia menyusul Intan ke IGD.


"Sayang, kenapa Zein bisa pingsan?" tanya Muh.


Intan menoleh ke arah Muh. "Pah!" lirih Intan. Kemudian ia langsung memeluk mertuanya dan menangis di pelukannya itu.


"Huhuhu, ini salah aku, Pah. Aku terlalu egois sampai tidak memikirkan kondisi suamiku sendiri," lirih Intan dalam pelukan Muh.


Tangisannya terdengar begitu menyayat hati. Membuat Muh tidak tega padanya.


"Kamu tenang dulu, ya! Mungkin Zein hanya kekelahan," ucap Muh sambil mengusap punggung Intan.


Intan menggelengkan kepala. "Enggak, Pah. Ini semua salah aku. Aku yang udah bikin Mas Zein sampai seperti itu. Aku menyesal, huhuhu." Tangisan Intan pun semakin menjadi.


Muh melepaskan pelukannya. Kemudian ia bertanya pada Intan. "Memangnya apa yang sudah terjadi di antara kalian, hem?" tanya Muh dengan lembut.


Intan pun menceritakan permasalahan yang sedang mereka hadapi sambil sesegukan.


"Sini! Lebih baik kamu duduk dulu!" ucap Muh. Ia mengajak Intan duduk.


"Dalam rumah tangga, pasti ada pasang surutnya. Pertengkaran itu biasa. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Wajar jika kamu marah atas apa yang telah suami kamu lakukan. Dia memang pantas untuk mendapat hukuman," ucap Muh.


Dalam masalah ini, ia tidak bisa membenarkan perbuatan Zein.


"Tapi ... meski sedang marah, kamu sebagai pasangan jangan sampai mengabaikan pasanganmu. Marah boleh. Tapi tetap harus ada batasannya. Apalagi kalau dia sudah minta maaf dan menyesal seperti itu."


"Allah saja maha pemaaf. Masa makhluknya tidak mau memaafkan?" tanya Muh. Ia sangat hati-hati dalam menyampaikan pendapatnya pada Intan.


"Iya, Pah. Makanya aku nyesel banget. Seandainya aku gak terlalu keras hati, mungkin kejadiannya gak akan kayak gini," ucap Intan.


"Kamu tau, gak? Mamah juga sering marah sama Papah. Tapi, meskipun sedang marah, Mamah tidak pernah mengabaikan kewajibannya. Dia tetap melayani Papah, bahkan kami tetap tidur sekamar."


"Oya?" tanya Intan.


"Iya. Sebab Mamah sadar, bahwa setan akan bahagia jika suami istri bertengkar. Apalagi kalau sampai pisah ranjang, bukannya cepat damai, yang ada kalian malah akan makin dihasut oleh bisikan setan untuk saling membenci."


"Naudzubillah," lirih Intan.


"Sekarang kita sama-sama berdoa aja! Semoga yang terbaik untuk Zein. Papah yakin, Zein pria yang kuat. Jadi dia pasti bisa cepat pulih kembali," ucap Muh.


"Aamiin," sahut Intan, lemas.


Meski begitu, hatinya tetap tidak tenang sebelum mendengar kabar bagaimana kondisi suaminya.


Tak lama kemudian, Rani pun datang. "Pah, gimana kondisi Zein?" tanyanya, panik.


Muh dan Intan pun menoleh. "Zein masih ditangani oleh dokter, Mah. Mamah kok ada di sini?" tanya Rani.


"Iya tadi Mamah baca di grup rumah sakit, katanya Zein pingsan. Kebetulan Mamah tadi abis ketemuan sama orang catering di deket sini, jadi langsung ke sini, deh," jelas Rani.


"Ya udah, kita tunggu aja!" ucap Muh.


"Tapi Mamah gak tenang, Pah. Gimana kalau Zein kenapa-kenapa? Mana Intan lagi hamil. Kamu yang sabar ya, Intan!" ucap Rani. Ia memang selalu heboh.

__ADS_1


"Mah! Jangan ngomong aneh-aneh gitu, ah! Papah yakin Zein akan baik-baik aja," ucap Muh.


"Iya, Pah. Tapi kan ...."


"Udah, gak ada tapi-tapian! Tunggu sambil doa!" ucap Muh, tegas.


"Iyaa!" sahut Rani dengan ekspresi murung.


Tak lama kemudian Dimas keluar dari ruangan IGD.


"Gimana kondisi Zein, Dim?" tanya Muh sambil berdiri dan mendekat ke arah Dimas.


"Sepertinya Zein kelelahan dan kurang tidur, Pak. Jadi sementara biarkan dia istirahat dulu! Alhamdulillah, tidak ada masalah serius yang perlu dikhawatirkan. Ini murni karena kelelahan," jelas Dimas.


"Alhamdulillah," ucap Intan sambil mengembuskan napasnya. Ia memejamkan mata karena air matanya tak mau berhenti.


"Syukurlah kalau begitu, Mamah lega," ujar Rani. Ia pun memeluk Intan.


"Sekarang Zein sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Jadi Bapak dan Ibu bisa langsung menyusulnya ke sana," ujar Dimas.


Sebagai pemilik rumah sakit, Zein tidak perlu mengurus administrasi lagi. Sehingga ia bisa langsung dipindahkan ke ruang perawatan saat itu juga.


Berbeda dengan pasien umum yang masih harus menunggu di ruang IGD saat proses administrasi belum selesai. Bahkan terkadang sudah membayar pun belum tentuh bisa langsung pindah karena staf rumah sakit harus menyiapkan ruangannya lebih dulu.


Meski begitu, team medis yang menangani Zein akan tetap dibayar sesuai dengan prosedurnya.


"Ya udah kita ke sana sekarang, yuk!" ajak Rani.


"Dokter Dimas, terima kasih, ya," ucap Intan.


"Iya, sama-sama," sahut Dimas.


Muh dan Rani pun mengucapkan terima kasih pada Dimas. Kemudian mereka pergi ke lantai suite room.


"Emangnya Zein abis ngapain ya? Kok bisa sampai kelelahan begitu?" tanya Rani tanpa dosa.


Muh langsung menyenggol Rani dengan sikutnya. Sebab ia tidak enak hati pada Intan. Muh khawatir menantunya itu semakin merasa bersalah.


Rani pun mengerucutkan bibirnya. Ia paham apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Sementara Intan sudah terlanjur merasa bersalah.


"Maafin aku ya, Mah. Mas Zein pingsan gara-gara aku," ucap Intan.


"Udah, gak usah dipikirin! Yang penting sekarang suami kamu udah selamat. Kita tinggal tunggu dia siuman aja," ucap Rani sambil merangkul Intan.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di ruangan Zein.


Intan yang sejak tadi mengkhawatirkan suaminya itu pun langsung mendekat dan memeluk Zein. Ia tak malu meski ada mertuanya di sana.


"Maafin aku ya, Mas. Aku janji gak akan marah lagi. Sebenarnya aku juga udah maafin kamu dari beberapa hari lalu. Cuma masih kesel aja kalau inget kejadian itu," lirih Intan sambil memeluk suaminya.


Rani mengusap punggung Intan. "Sudah, Tan! Biarkan Zein istirahat dulu! Mamah yakin Zein gak akan mau melihat kamu menyesal seperti ini," ucap Rani.


"Tapi gimana aku gak nyesel, Mah? Suamiku pingsan gara-gara aku. Hampir seminggu aku nyuekin Mas Zein. Aku berdosa banget," ucap Intan.


Ketika sedang marah, Intan lupa akan dosa. Namun saat sudah sadar, ia baru ingat bahwa dirinya tidak boleh terlalu lama marah seperti itu.


Rani ternganga. "Seminggu?" tanyanya. Ia tak menyangka Intan bisa bertahan sampai se-lama itu.


"Iya, Mah. Bahkan kami tidur di kamar yang terpisah," lirih Intan.


"Waduh! Zein kan gak bisa tidur kalau gak ada kamu, Tan," ucap Rani. Ia tidak heran jika anaknya itu sampai pingsan.


"Iya, makanya aku nyesel bangat. Gimana caranya aku nebus dosaku ke Mas Zein?" tanya Intan. Ia kembali menangis karena merasa sangat berdosa.


Rani menghela napas. "Zein itu cinta banget sama kamu. Mamah yakin, tanpa kamu minta maaf pun, dia pasti udah maafin kamu," ucap Rani sambil mengusap punggung Intan.


Intan pun memeluk mertuanya itu. "Terima kasih ya, Mah. Maafin aku karena aku bukan menantu yang baik," ucap Intan.


"Siapa bilang? Kamu itu menantu terbaik, kok. Mamah sayang banget sama kamu," sahut Rani. Ia tidak ingin Intan semakin tertekan. Sebab Rani khawatir akan kandungan menantunya itu.


"Ini, lebih baik kamu minum dulu! Dari tadi kamu nangis terus, pasti lelah," ucap Muh sambil memberikan segelas air pada menantunya.


Intan menoleh ke arah Muh. "Terima kasih, Pah," jawabnya. Kemudian ia mengambil gelas itu, lalu mencari kursi untuk duduk.


Setelah itu Intan duduk di kursi sambil meneguk airnya.


"Huuh!"

__ADS_1


Ia mengembuskan napas karena dadanya terasa sesak setelah menangis sejak beberapa menit yang lalu.


"Sayang!" ucap Zein saat membuka matanya.


__ADS_2