Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
32. Menodai Ruangan


__ADS_3

Malam hari, saat hendak tidur Intan canggung karena malam ini mereka tidur dalam kondisi sadar. Sebab mereka sudah bercinta sore tadi dan cukup lelah untuk mengulanginya lagi.


Zein pun salah tingkah. Ia sedang bingung bagaimana agar suasananya tidak terlalu canggung.


“Ehem!” Ia berdehem untuk menetralkan tenggorokkannya. Saat ini mereka sedang berbaring bersebelahan menghadap ke langit-langit.


“Kamu bisa geser ke sini, gak?” tanya Zein.


Intan menoleh ke arah Zein. “Untuk apa?” tanyanya.


“Saya biasa tidur meluk guling. Di sini gak ada guling, jadi saya mau meluk kamu,” ucap Zein. Sebenarnya itu hanya modus agar ia bisa tidur sambil memeluk istrinya.


“Kan ada bantal,” jawab Intan.


“Bantal kan pendek, gak kayak guling. Lagian kenapa sih dipeluk sama suami sendiri? Lebih dari itu juga udah pernah,” jawab Zein sambil merentangkan tangannya. Seraya meminta Intan datang ke pelukannya.


“Masa istri disamain sama guling?” keluh Intan.


“Terus maunya diapain, dong? Disayang-sayang?” goda Zein.


Hidung Intan kembang kempis digoda seperti itu oleh Zein.


“Ayo cepet, saya udah ngantuk!” ucap Zein lagi. Ia tidak sabar ingin memeluk suaminya.


“Ya udah, iya,” sahut Intan. Akhirnya ia pun mendekat ke arah Zein dan pria itu langsung memeluknya. Bahkan bukan hanya menggunakan tangan, tetapi juga kaki.


“Nah, begini kan nyaman,” ucap Zein sambil memeluk Intan seperti guling.


“Tapi sayannya sesak, Prof,” keluh Intan.


“Ya udah, kalau begitu sebelah kaki kamu di atas!” ucap Zein sambil memindahkan posisi kaki mereka. Sehingga mereka sudah seperti gunting yang bertautan.


Intan menelan saliva kala tubuh mereka begitu rapat.


“Gimana, nyaman, kan?” tanya Zein sambil menatap Intan.


“Risih,” jawab Intan, jujur.


“Ya udah, nanti juga terbiasa,” sahut Zein. Kemudian ia mengecup kening Intan. “Good night,” ucapnya, lalu memejamkan mata.


“Nite,” sahut Intan. Wajahnya merona karena sikap Zein malam ini sangat manis. Ia pikir dirinya akan tidur dengan kaku dan menjaga jarak. Namun ternyata malah rapat seperti itu.


Zein yang sudah memejamkan mata itu menyunggingkan senyuman. “Santai aja, gak usah deg-degan begitu,” gumam Zein.


Intan langsung mendelik. Ia tak menyangka Zein dapat merasakan debaran jantungnya. “Kalau gak berdebar berarti mati, Prof,” ucapnya, kesal.


“Tapi ini debarannya kayak orang lagi jatuh cinta,” sahut Zein lagi.


Intan yang kesal karena malu pun akhirnya berontak. “Ya udah gak usah meluk-meluk!” ucapnya, ketus.


Zein yang tenaganya lebih besar itu menahan Intan. “Udah gak usah berontak. Tidur udah malam!” sahutnya, santai.


Akhirnya mereka pun terlelap.


Beberapa hari kemudian.


“Udah beres semua barangnya? Ada yang ketinggalan, gak?” tanya Zein saat mereka hendak check out dari resort.


“Udah,” sahut Intan.


Mereka pun meninggalkan kamar itu. Saat berjalan menuju lobby utama, Zein mengambil koper yang ada di tangan Intan.


“Lho, kenapa?” tanya Intan.


Zein tidak menjawabnya dan menggantikan koper yang sedang Intan genggam dengan tangannya. “Kita pulang ke rumah Ibu kamu atau ke rumah saya langsung?” tanya Zein, mengalihkan pembicaraan.


“Kalau ke rumah Ibu, boleh, gak? Saya khawatir karena ninggalin Ibu sendirian,” tanya Intan.


“Oke,” sahut Zein.


Intan pikir Zein akan menolak atau protes. Ia tak menyangka Zein akan mengabulkan keinginannya itu dengan mudah. Intan pun menoleh ke arah suaminya yang menggunakan kaca mata hitam itu. Lalu ia tak sadar telah memandangi Zein dengan cukup lama.


“Iya, saya emang ganteng. Tapi kalau jalan lihatnya ke depan, biar gak nabrak,” ucap Zein tanpa menoleh.


Sontak saja Intan langsung mengalihkan pandangannya.


“Aduh!” keluhnya kala hampir menabrak tiang. Beruntung tangan Zein dengan cepat menghalangi tiang itu. Sehingga kening Intan terbentur tangan suaminya.


“Saya bilang juga apa. Lihatnya ke depan, jangan lihatin muka ganteng terus!” nasihat Zein sambil mengelus kening Intan.


“Maaf,” sahut Intan, malu. Sikap lembut suaminya itu membuat hati Intan bertalun-talun.


Tiba di lobby, Zein meminta Intan menunggunya. “Tunggu di sini sebentar!” ucapnya. Lalu ia melakukan check out di resepsionis.


“Ayo!” ajaknya setelah selesai check out. Mereka keluar dan menunggu mobil yang sedang diambil oleh staf valet.


“Kamu lapar, gak?” tanya Zein.


“Enggak, kan tadi pagi udah sarapan,” sahut Intan.


“Ya udah nanti kita beli makan buat makan di rumah aja, ya. Biar bisa makan sama-sama dengan Ibu,” ucap Zein.


Intan pun mengangguk.


‘Semoga seterusnya sikap dia bisa lembut seperti ini. Tapi bahaya juga, kalau begini terus, aku bisa kalah (cinta),’ batin Intan.


Ia menganggap dirinya kalah jika jatuh cinta pada Zein lebih dulu.


“Intan, ayo!” ucap Zein yang ternyata sudah membukakan pintu untuk Intan.


Intan yang sedang melamun pun terkesiap. “Oh iya,” sahutnya. Ia langsung masuk ke mobil suaminya itu.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan resort tersebut.


“Kamu itu lagi mikirin apa, sih?” tanya Zein.


“Eum … lagi mikirin ujian,” sahut Intan. Ia tidak mungkin jujur pada suaminya itu karena malu.


“Emang udah dapet jadwal buat ujian?” tanya Zein lagi.


“Alhamdulillah udah. InsyaaAllah dua minggu lagi ujian. Setelah lulus, pasti saya harus magang. Kalau magangnya jauh, gak apa-apa kan, Prof?” tanya Intan sambil menoleh ke arah Zein.


Zein menelan saliva. Ia merasa berdosa karena dirinya sudah terlanjur meminta agar Intan dikirim ke tempat yang jauh. Apalagi saat ini sebenarnya ia pun tidak ingin jauh dari Intan.


Beberapa hari kemudian ….


Mereka sudah beraktifitas seperti biasa.


Saat ini Intan tinggal di rumah Zein, sementara ibunya tinggal di rumahnya dengan ditemani oleh seorang perawat.


Awalnya Zein ingin mengajak Fatma untuk ikut pindah ke rumah mereka. Namun Fatma menolaknya. Bagaimana pun ia lebih nyaman tinggal di rumah sendiri.


Intan pun merasa berat meninggalkan ibunya yang sedang sakit itu sendirian. Namun Fatma meminta Intan agar patuh dan selalu ikut ke mana pun suaminya pergi. Sebab, Fatma yakin Zein tidak akan nyaman jika tinggal di rumahnya.


Rumah yang tidak begitu besar itu memiliki kamar yang bersebelahan. Kamar Intan sendiri tidak kedap suara dan kamar mandinya di luar. Sehingga Zein tidak nyaman tinggal di sana. Khawatir dirinya tidak bisa bebas bereksplorasi ketika sedang bercinta dengan istrinya.


Fatma sendiri memaklumi dan ia pun tidak enak hati jika Zein yang biasa hidup berkecukupan itu harus tinggal di rumahnya. Akhirnya mereka sepakat Intan pindah dan Zein membayar dua orang perawat untuk menemani fatma dan merawatnya di rumah itu.


Fatma pun sempat menolak. Namun Zein mengancam, jika Fatma tidak mau ditemani oleh perawat, maka ia yang akan tinggal di rumah itu. Akhirnya Fatma setuju.


"Hari ini kegiatan kamu apa saja?" tanya Zein saat duduk di meja makan untuk sarapan.


"Mungkin saya akan ke kampus," jawab Intan sambil menyendokkan makanan untuk Zein.


Meski ia selalu kesal pada Zein, tetapi Intan tetap menjalani perannya sebagai istri dengan baik.


"Terima kasih," ucap Zein saat Intan sudah selesai menyendok makanan untuknya. "Jam berapa ke kampusnya?" tanya Zein lagi.


"Belum tau, Prof. Mungkin agak siang," sahut Intan.


Sebenarnya Zein tidak nyaman dengan panggilan itu. Ia merasa itu terlalu formal. Namun Zein bingung bagaimana cara meminta Intan untuk mengganti panggilannya. Sehingga saat ini Zein belum berani protes.


"Oke, nanti jangan lupa kabari saya jika mau berangkat dan sudah tiba di kampus," pinta Zein. Kemudian ia menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Untuk apa, Prof?" tanya Intan sambil mengerutkan keningnya.


Zein melirik ke arah Intan. "Saya ini kan suami kamu. Jadi saya harus tahu kegiatan kamu. Gimana kalau ada apa-apa dan saya gak tahu kamu di mana? Bagaimana pun saya adalah pria yang bertanggung jawab. Paham?"


Padahal awalnya suasana pagi itu sudah nyaman. Namun sikap Zein barusan membuat Intan tidak nyaman lagi. "Paham, Prof," sahutnya. Kemudian ia diam karena kesal.


Beberapa saat kemudian, Zein sudah selesai sarapan dan ia pun pamit pergi ke rumah sakit.


"Saya pergi dulu," ucap Zein sambil beranjak.


"Kamu hati-hati ya di rumah. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya!" pinta Zein.


"Iya, Prof," sahut Intan. Kemudian ia memberikan jas dan tas pada Zein, lalu mengecup punggung tangan suaminya itu.


Namun, hal tak terduga pun terjadi.


Cup!


Zein tiba-tiba mengecup kening Intan. Hingga kening itu terasa panas dan meremang.


Meski mereka sudah cukup sering bercinta, tetapi perlakuan manis Zein barusan membuat Intan sedikit salah tingkah.


"Assalamualaikum," ucap Zein sambil mengusap kepala Intan.


"Waalaikumsalam," sahut Intan sambil tercenung.


'Apa dia punya kepribadian ganda, ya? Kadang bisa so sweet banget sampe bikin jantung aku berdebar-debar. Tapi kadang berubah jadi super nyebelin,' batin Intan dengan wajah merona.


Zein sendiri senang karena Intan bersikap selayaknya istri. Ia begitu bersemangat setelah mengecup kening istrinya. 'Tau gini mah aku pasti udah nikahin dia dari dulu,' gumam Zein dalam hati. Senyumannya tak terkendali.


Siang hari, saat mendapat kabar bahwa Intan hendak pulang dari kampus, Zein memintanya untuk datang ke rumah sakit. Ia mengatakan bahwa ada sesuatu yang penting.


Intan pun tidak berani membantah. Akhirnya ia pergi ke rumah sakit dan menuju ke ruangan pribadi Zein.


Tuk, tuk, tuk!


Masuk!


Sahut Zein dari dalam.


Intan merasa seperti dejavu. Ia ingat tempo hari dirinya pernah melakukan hal itu untuk protes atas perjodohan mereka.


Ceklek!


"Permisi, Prof," ucapnya.


"Sini!" pinta Zein.


Intan pun masuk dengan menutup pintu ruangan itu. Kemudian mendekat ke arah Zein.


"Ada apa, Prof?" tanya Intan lagi sambil berdiri di samping meja Zein.


Zein menarik tangan Intan hingga jatuh ke pangkuannya. "Saya sedang ingin," bisik Zein. Kemudian ia langsung menyerang istrinya itu.


Intan terkesiap saat Zein menariknya ke pangkuan. Ia tak menyangka ternyata Zein memanggilnya hanya untuk hal itu.


"Prof!" Intan protes sambil mendorong tubuh Zein saat pria itu melahap bibirnya.


"Kenapa, sih?" Zein kesal karena Intan protes. Ia tak ingin kesenangannya diganggu.

__ADS_1


"Ini kan rumah sakit, nanti kalau ada yang masuk, gimana?" tanya Intan. Ia khawatir akan ada orang yang masuk ke ruangan itu. Baginya pun sangat tidak lazim melakukan hal seperti itu di rumah sakit.


"Tidak akan ada yang berani masuk ke sini tanpa seizin saya," ucap Zein, yakin. Memang sangat jarang orang yang datang ke ruangan tersebut.


"Tapi tetap saja, bagaimana jika nanti ada yang mengetuk pintu?" tanya Intan lagi. Ia masih berusaha menolak Zein secara halus.


Akhirnya Zein mendorong Intan agar turun dari pangkuannya. Kemudian ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Lalu menggantung tag "Don't Distrub!" yang artinya ia tidak ingin diganggu.


Brug!


Zein menutup pintu itu.


Tek!


Ia pun langsung menguncinya. "Beres, kan?" ucapnya sambil berjalan mendekat ke arah Intan. Ia pun membuka jas putih yang dikenakan, lalu melemparnya ke kursi yang tadi ia duduki.


Sementara itu Intan mematung kaku karena bingung hendak melakukan apa. Apalagi ketika Zein semakin mendekat ke arahnya. Ia refleks mundur hingga terjebak oleh meja yang ada di belakangnya.


"Oh, jadi kamu mau main di sini?" tanya Zein sambil tersenyum, nakal.


Intan menggelengkan kepalanya. "Enggak, bukan begitu, Prof," ucapnya, gugup.


Meski mereka sudah beberapa kali melakukan hubungan suami istri, tetapi Intan merasa hal itu sangat tidak lazim jika dilakukan di kantor. Bagaimana jika nanti ada orang yang mengetahuinya. Intan sangat hawatir akan hal itu.


Namun Zein seolah tidak peduli. Ia malah mengangkat Intan dan mendudukannya di atas meja. "Ide kamu oke juga," ucap Zein sambil menaruh kedua tangannya di samping paha Intan. Sehingga saat ini ia mengukung istrinya yang sedang duduk di atas meja itu.


"Prof, jika Anda memang menginginkannya, kita bisa melakukannya di rumah. Bukan di rumah sakit seperti ini," ucap Intan. Ia berusaha tawar menawar dengan Zein.


Zein menggelengkan kepala. "Kamu tau kan kalau saya ini sibuk? Saya hanya memiliki waktu dua jam dan akan saya manfaatkan untuk ini. Lagi pula, nanti kamu akan tahu sendiri bagaimana sensasinya bermain di tempat kerja," ucap Zein sambil mengusap pipi Intan. Setelah itu tangannya menjalar ke tengkuk dan langsung ******* bibir istrinya kembali.


Siang itu Zein pun melakukan pergulatan panas dengan istrinya di ruangan kerjanya. Kebetulan koridor yang ada di depan ruangannya cukup sepi, sehingga Zein yakin tidak akan ada orang yang lewat sana kecuali papahnya.


"Good job. Kamu semakin pintar," ucap Zein sambil mengusap kepala Intan saat mereka sudah selesai melakukan pergulatan tersebut.


Intan yang masih merasa lemas itu tidak menjawabnya. Ia hanya terduduk pasrah sambil mengatur napas. Intan pun mengambil bantal sofa untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspose.


Zein beranjak dari duduknya, kemudian ia berjalan ke meja rapat yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk. Setelah itu ia memunguti pakaian mereka satu per satu. Lalu kembali ke arah Intan dan memberikan pakaian istrinya itu.


"Untung saya ada kemeja cadangan. Jika tidak, saya harus memakai kemeja yang sudah kamu basahi sampai nanti sore," gumam Zein sambil memberikan pakaian Intan.


Sebenarnya ia hanya ingin memberi tahu bahwa dirinya telah memuaskan Intan sampai Intan mengotori kemeja Zein seperti itu.


"Maaf," lirih Intan sambil menerima pakaiannya. Ia pun menunduk karena malu.


Zein tersenyum. "Kamu tuh lucu. Gak mau, gak mau, tapi giliran udah keenakan malah lincah banget," ucap Zein sambil berlalu ke kamar mandi yang ada di ruangannya itu.


Intan terkesiap. Saat Zein menutup pintu, ia pun melemparkan bantal ke arah suaminya itu.


"Hiih! Ngeseeliiinn!" ucap Intan sambil mengeram. “Lincah-lincah. Emang siapa yang bikin aku jadi lincah?” Intan menggerutu. Namun ia pun malu karena selalu terhanyut oleh permainan Zein.


Saat ia sedang kesal seperti itu, tiba-tiba pintu ruangan Zein diketuk.


Tuk, tuk, tuk!


Intan langsung terbelalak. Meski ruangan itu telah dikunci oleh suaminya, tetapi ia panik karena saat ini dirinya masih belum mengenakan pakaian.


Akhirnya Intan terpaksa mengenakan pakaian tanpa membersihkan tubuhnya lebih dulu. Beruntung Zein selalu membersihkan sisa permainannya yang ada di tubuh Intan menggunakan tisu ketika mereka selesai bertempur.


'Katanya gak akan ada yang ganggu. Tapi kenapa sekarang ada yang ngetuk pintu, sih?' gumam Intan dalam hati. Ia yang masih lemas itu sampai gemetar ketika mengenakan pakaian.


"Zein, buka pintunya!" Ternyata orang yang berani mengetuk pintu Zein adalah Muh. Pantas saja ia tak peduli meski Zein telah menggantung tag "Don't Distrub".


"Hah, Papah?" gumam Intan. Ia pun semakin panik. Intan malu jika mertuanya itu mengetahui bahwa mereka baru saja 'menodai' kantor itu.


Intan berjalan ke arah kamar mandi dan mengetuk pintunya.


Tuk, tuk, tuk!


Mendengar ketukan Intan, Zein menghentikan aliran shower lebih dulu. "Apa? Kamu mau mandi bareng?" tanya Zein dari dalam kamar mandi.


"Bukan, Prof. Ada Papah di luar," sahut Intan, panik.


"Oh, buka aja pintunya! Kamu bisa kan buka pintu sendiri? Masa saya yang sedang mandi harus membuka pintunya?" sahut Zein. Ia mulai menyebalkan lagi. Zein pun kembali menyalakan shower dan melanjutkan mandinya.


Padahal maksud Intan bukan seperti itu. Ia hanya hawatir jika dirinya membuka pintu tanpa izin, Zein akan marah.


"Baik, Prof!" jawab Intan sambil menggeretakkan giginya. Ia pun bergaya seolah ingin menghajar pintu kamar mandi tersebut.


"Kalau udah lewat enaknya, mulai kumat lagi deh iblisnya," gumam Intan, kesal. Kemudian ia mengambil bantal dan berjalan ke arah pintu yang diketuk oleh Muh tadi.


Bantal itu Intan taruh kembali di sofa. Kemudian ia berjalan ke arah pintu dan membuka pintunya.


"Eh, Papah," ucap Intan, gugup. Ia pura-pura terkejut melihat ada mertuanya di sana.


Muh sedikit terkesiap saat melihat Intan yang membuka pintu. Apalagi saat ini rambut Intan berantakan karena ia lupa merapihkannya.


"Oooh, ternyata ada kamu. Pantesan ...," ucap Muh sambil tersenyum. Sebenarnya tadi ia bingung dan khawatir mengapa Zein memasang tag itu. Namun kini Muh dapat menebaknya. Apalagi ia melihat wajah Intan masih sedikit kusut dan napasnya agak tak beraturan.


Intan semakin salah tingkah. Ia malu karena sadar bahwa Muh mengetahui apa yang telah mereka lakukan di ruangan itu.


"Euh, maaf, Pah. Tapi tadi ...." Intan tidak sempat menjelaskan ucapannya karena dipotong oleh Muh.


"Udah gak apa-apa. Papah ngerti, kok. Namanya juga pengantin baru," sahut Muh sambil tersenyum. Ia tak ingin menantunya malu. Namun ucapannya barusan justru telah membuat Intan malu.


Intan menelan saliva. Wajahnya merona kala Muh mengatakan hal itu.


Sebenarnya Muh lega. Sebab ia sempat khawatir Intan tidak mau menerima Zein menjadi suaminya. Namun dengan pemandangan saat ini, ia yakin sudah mulai tumbuh cinta di antara mereka.


"Ada apa, Pah?" tanya Zein santai. Ia bahkan keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan bath robe dan sambil menggosok rambutnya yang masih basah itu dengan handuk kecil. Ia sengaja ingin pamer ke papahnya bahwa dirinya sudah berhasil menaklukan Intan yang sempat menolak dijodohkan itu.


Intan pun terbelalak. 'Dia nih punya malu gak, sih? Bisa-bisanya nemuin Papah cuma pake kayak gitu?' batin Intan, kesal.

__ADS_1


__ADS_2