Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
37. Tanggung Jawab Intan


__ADS_3

Zein terkesiap saat Intan mengatakan minta dipijit. "Kamu kan lagi haid. Ngapain minta pijit segala?" tanya Zein, kesal. Permintaan itu membuat pikirannya ke mana-mana. Ia sudah berusaha untuk tidak tergoda. Namun Intan malah seolah sengaja ingin menggodanya.


"Ya udah gak apa-apa kalau Mas gak mau. Maaf merepotkan," jawab Intan. Kemudian ia hendak berbaring dan pura-pura meringis kesakitan. Ia yakin Zein tidak akan tega melihatnya seperti itu.


"Ssshh, aduh," lirih Intan sambil meringis.


Melihat Intan seperti itu, Zein pun tidak tega. "Ya sudah, mana yang mau dipijit?" tanya Zein, ketus.


"Sebentar," sahut Intan. Kemudian ia membalik tubuhnya perlahan, lalu tiarap di atas tempat tidur. Intan berusaha menahan senyuman karena merasa lucu saat melihat ekspresi Zein.


Zein ternganga melihat posisi Intan seperti itu. Apalagi ketika Intan menunjuk bokongnya yang ada di hadapan Zein tersebut. "Yang ini, Mas," ucap Intan.


Zein menelan saliva. "Kenapa kamu tidak pakai baju?" tanya Zein, lemas. Tubuhnya mulai menegang karena tidak tahan melihat tubuh seksi istrinya yang sangat menggoda itu.


"Bukankah tadi sudah aku jelaskan? Aku mau mandi tapi gak sengaja kepeleset," jawab Intan.


"I-ini gak ada yang memar," ucap Zein, gugup. Ia sangat gelisah.


"Tapi yang ini sakit, Mas," sahut Intan sambil menunjuk bokongnya lagi.


"Yang mana?" tanya Zein, dengan suara bergetar.


"Sini tangannya!" pinta Intan. Lalu ia meraih tangan Zein. Kemudian ia mengarahkan tangan itu hingga meremas bagian yang menurutnya sakit tersebut.


Zein semakin tercekat kala tangannya sudah menyentuh benda favoritnya itu.


"Nah, yang itu," ucap Intan, tanpa dosa.


"Ini?" tanya Zein dengan suara gemetar sambil meremas bagian tersebut.


Intan tersenyum mendengar suara Zein. "Iya, Mas. Tapi dipijit, bukan diremas begitu," sahutnya.


Zein pun terkesiap. Ia malu karena ketahuan gagal fokus. "S-saya kan bukan tukang pijit. Mana saya paham gimana caranya mijit," ucapnya, ketus. Semakin malu, Zein malah semakin ketus.


"Iya maaf. Kalau emang gak bisa, gak apa-apa. Nanti aku coba ke tukang urut aja," sahut Intan. Ucapan itu terdengar seperti ancaman bagi Zein.


Zein mengerutkan keningnya. "Tukang urutnya cewek apa cowok?" tanya Zein.


"Gak tau, tapi biasanya kalau urut begini sih sama cowok," sahut Intan.


Seharusnya Zein sadar ada kejanggalan. Tadi saja intan tidak mau diajak ke rumah sakit karena khawatir akan diperiksa oleh dokter pria. Namun kini ia malah mengatakan ingin pergi ke tukang urut. Sayangnya pikiran Zein sedang tidak jernih. Sehingga ia tidak menyadari hal itu.


"Biar saya coba dulu. Semoga berhasil," ucap Zein. Ia tidak rela jika Intan pergi ke tukang urut.


"Iya, terima kasih," sahut Intan, sambil menahan senyuman. Bahkan hidungnya sampai kembang kempis.


Akhirnya Zein pun mulai mengurut bagian yang ditunjuk oleh Intan tadi. Intan yang memang berniat menggoda Zein pun mulai jahil.


"Ahhh, iya itu, Mas," ucap Intan sambil sedikit merintih.


Seketika tubuh Zein meremang mendengar rintihan Intan.


Namun ia tetap berjuang, berusaha memijat Intan meski sebenarnya Zein tidak tahan. Daripada istrinya pergi ke tukang urut.


"Uuuhh, sakiitt, aawww," desah Intan.


"Kamu bisa diem, gak!" bentak Zein. Ia sangat kesal karena suara Intan begitu meresahkan.


"Emh ... gak bisa, Mas. Soalnya sakit," sahut Intan sambil menggeliat hingga bumpernya itu bergoyang-goyang.


Zein menggigit bibir bawahnya karena ia sangat ingin menepuk bumper itu. Tubuhnya mulai terbakar dan ingin segera menergap Intan. Ia menggeleng-gelengkan kepala agar kesadarannya tetap terjaga.


'Ingat, Zein! Dia sedang berhalangan,' batin Zein. Ia pun mengatur napas agar tidak sesak. Sebab debaran jantungnya begitu cepat.


Saat Zein sedang asik memijat, Intan tiba-tiba berbalik.


"Kenapa?" tanya Zein. Wajahnya terlihat merah padam.


"Ternyata ininya juga sakit," ucap Intan sambil menunjuk pangkal pahanya.


"Lho, kok bisa? Tadi kan cuma yang belakang yang sakit," tanya Zein, heran.

__ADS_1


"Ini baru berasa, Mas," sahut Intan, memelas.


"Ya sudah!" ucap Zein, ketus. Akhirnya ia pun kembali memijat Intan.


Intan langsung mengangkat sebelah kaki dan melebarkannya. Bahkan tangan yang tadi menutup dadanya pun ia lepas, lalu mencengkeram bantal yang ia tiduri.


Kemudian kepalanya mendongak dengan mata sedikit terpejam. Lagi-lagi Intan pun merintih hingga membuat sekujur tubuh Zein meremang.


Kondisi seperti itu membuat Zein sangat tersiksa. Ia ingat betul ekspresi Intan seperti itu sangat mirip ketika sedang ia gagahi. Sehingga membuat otak Zein berkelana dan tubuhnya semakin menegang.


Melihat ekspresi Zein, Intan pun tertawa dalam hati. 'Hahaha, ya ampun. Ternyata begitu, ya? Demi gengsi, dia sampai rela jadi orang bodoh begitu. Percaya aja aku bohongin. Aku yakin banget sekarang dia lagi tegang sampe ke ubun-ubun. Mukanya aja udah merah begitu,' batin Intan. Ia berusaha menahan senyumannya.


"Udah?" tanya Zein. Ia sangat resah dan ingin segera pergi dari tempat itu.


"Sedikit lagi, Mas," jawab Intan dengan suara tertahan. Seperti hendak melakukan pelepasan. Hari ini ia sangat berani karena yakin Zein memang mencintainya.


Saat ini Zein bahkan tidak berani menatap Intan. Ia memijatnya sambil memalingkan wajah.


"Mas!" panggil Intan dengan suara berbisik.


Zein pun menoleh. "Astaghfirullah!" ucapnya, sangat terkejut. Tadi ia sempat melamun sambil memalingkan wajah. Sehingga tidak sadar Intan sudah duduk di hadapannya.


Saat ia menoleh, wajah Intan tepat ada di hadapannya. Sehingga Zein sangat terkejut dibuatnya.


"Lho, kenapa, Mas?" tanya Intan. Pura-pura bingung. Padahal ia memang sengaja ingin mengejutkan Zein.


"Kamu kenapa tiba-tiba duduk, sih? Saya kan jadi kaget," ucap Zein sambil mengatur napas karena rasa terkejutnya.


"Lho, emangnya kenapa? Mas lagi ngelamun? Sampe gak sadar aku udah duduk," tanya Intan.


"Bukan begitu. Saya lagi gerah pingin mandi," sahut Zein sambil beranjak dan berlalu. Ia tak ingin Intan melihat dirinya salah tingkah.


Intan pun terkekeh saat melihat Zein masuk ke kamar mandi. "Hihihi, emang enak aku kerjain! Rasain tuh cenat-cenut karena gengsi," ucap Intan, gemas. Kemudian ia pun turun dari tempat tidur dan mengambil pakaian.


"Dia kenapa, sih? Kok aku merasa hari ini Intan sangat agresif? Apa pengaruh hormon karena dia sedang datang bulan?" gumam Zein, heran. Saat ini ia sedang mendinginkan tubuhnya di bawah guyuran air shower.


Jika tidak gengsi, mungkin tadi Zein sudah bermesraan dengan Intan. Namun sayang, gengsinya terlalu besar. Sehingga ia tidak mungkin bermesraan di saat Intan tak bisa 'dijamah' seperti itu. Sebab ia tidak ada alasan untuk menjamahnya.


"Gak lucu kan kalau aku tiba-tiba mesra ke dia karena gemas," gumam Zein, kesal. Tanpa sadar Zein memejamkan mata dan menggerakkan tangannya. Seolah sedang meremas sesuatu.


Zein terperanjat saat mendengar suara Intan. Ia sangat kaget sebab saat ini posisinya sedang tidak layak untuk dilihat oleh Intan.


"Aaa!" teriak Zein sambil mundur.


Bug!


Zein pun terpeleset karena lantainya licin. Ternyata ia sedang main sabun. 'Sial! Malunya double kill,' batin Zein.


Bukannya pergi, Intan justru mendekat ke arah Zein. "Mas kenapa?" tanyanya sambil tersenyum. Ia sangat geli melihat kelakuan suaminya itu. Apalagi jika mengingat tampang omes Zein tadi. Intan pun berusaha membantu suaminya untuk berdiri.


"Pake tanya kenapa. Kamu ngapain masuk ke sini? Udah tau saya lagi mandi," sahut Zein, ketus. Ia pun langsung berdiri. Beruntung tadi ia sempat berpegangan. Sehingga impact jatuhnya tidak terlalu kuat.


"Maaf, aku gak tau kalau Mas lagi mandi, kan ini masih siang. Kirain lagi ngapain, soalnya dari tadi gak keluar-keluar. Udah gitu pintunya gak dikunci," jelas Intan.


"Ya udah, lebih baik kamu keluar sekarang!" ucap Zein, kesal.


Bukannya keluar, Intan malah menatap suaminya. "Gak mau dibantu, Mas?" tanya Intan sambil tersenyum.


Wajah Zein merah padam. "Bantu apa?" tanyanya, gelagapan.


"Itu, kayaknya butuh pelepasan," ucap Intan, genit. Ia bahkan menatap benda yang sedang tegak itu sambil menggigit bibir bawahnya.


"Jangan sok tau kamu!" ucap Zein. Ia terlalu malu untuk mengakuinya.


"Oh, tadinya kalau Mas butuh bantuan, sebagai istri yang baik aku siap bantu. Tapi ternyata aku salah, ya? Maaf deh. Ya udah, silakan dilanjut MANDINYA!" sindir Intan. Kemudian ia pun langsung balik badan.


"Intan!" panggil Zein.


Intan pun menoleh ke arah Zein. Namun Zein yang sudah tidak tahan itu malah menarik Intan. "Kenapa hari ini kamu menggoda saya terus?" tanyanya. Setelah itu ia mencumbu istrinya tersebut di bawah guyuran air shower.


Intan yang memang ingin bertanggung jawab atas perbuatannya pun pasrah atas perlakuan Zein. Selama suaminya itu tidak melewati batas, ia rela memuaskan Zein dengan cara apa pun.

__ADS_1


Ia tak tega melihat Zein belingsatan seperti tadi. Namun Intan menyesal karena baru saja ganti pakaian. Seandainya tahu akan ditarik ke shower oleh Zien, Intan mungkin masuk ke kamar mandi itu tanpa busana.


Zein mendekap erat istrinya. Ia sangat tidak tahan, ingin menyalurkan hasratnya itu.


"Kamu keterlaluan, Intan," bisik Zein setelah melepaskan tautannya.


Intan pun menatap Zein. Kemudian tangannya menyentuh senjata milik suaminya itu.


Bola mata Zein hampir melompat. Baru kali ini ia melihat Intan berani melakukan itu tanpa disuruh. Sontak saja Zein kembali menarik Intan dan ******* bibirnya lagi.


Semakin lama, napas Zein menggebu. Saat Zein semakin menggila, akhirnya Intan pun berjongkok di hadapan suaminya itu. Lalu ia berusaha memuaskan suaminya dengan cara alternatif.


Zein sangat senang karena Intan berinisiatif. Hatinya berdebar-debar melihat Intan basah kuyup sambil memberi treatment dan menatapnya.


Meski sudah sering diperlakukan seperti itu oleh Intan (atas permintaannya). Namun sensasi kali ini sangat berbeda karena sikap Intan seperti wanita nakal.


Intan memang sengaja ingin memberikan kesan terbaik agar suaminya itu semakin cinta padanya. Hal itu merupakan salah satu usaha Intan supaya Zein menurunkan egonya dan mau mengakui perasaannya secara langsung.


Bahkan, saat sadar Zein sudah hampir melakukan pelepasan, Intan sengaja membuka mulut dan menjulurkan lidahnya. Ia yakin suaminya akan senang jika diperlakukan seperti itu. Sebab, sebelumnya ia sudah membaca tips menyenangkan suami.


Zein pun menjambak Intan sambil memekik kala sudah tidak dapat menahannya lagi. Ia sangat puas, sebab Intan begitu pintar memanjakannya.


"Terima kasih," ucap Zein. 'Sayang,' lanjutnya dalam hati.


Intan pun langsung membuang sesuatu yang memenuhi mulutnya tadi. Kemudian berdiri dan melepaskan pakaiannya di hadapan Zein.


"Lebih baik Mas duluan karena aku pun harus mandi," ucap Intan. Ia tidak mungkin mandi bersama Zein dalam kondisi sedang haid.


Zein pun menuruti permintaan istrinya itu. Ia mandi sambil pikirannya berkelana.


'Sebenarnya dia ini kenapa, sih? Apa itu pengaruh hormon karena dia sedang datang bulan?' batin Zein.


Ia masih heran dengan perubahan sikap Intan yang cukup signifikan. Biasanya Intan selalu sungkan padanya. Bahkan ia pun pemalu. Namun siang ini Intan sangat berbeda. Ia begitu agresif dan seolah tidak memiliki rasa malu lagi.


Akan tetapi Zein justru menyukai Intan yang seperti itu. Seandainya tidak ingat ucapan Intan siang tadi, Zein pasti sudah menyatakan cintanya saat itu juga.


"Jangan lama-lama, nanti masuk angin!" ucap Zein saat ia sudah selesai mandi. Sebab Intan sudah cukup lama terkena air.


"Iya, Mas," sahut Intan. Ia pun senang karena hari ini berhasil mengalahkan Zein.


Zein bahkan lupa bahwa tadi Intan mengeluh kesakitan. Namun saat di kamar mandi, Intan seolah tidak merasakan apa-apa.


Kejahilan Intan itu memang sudah membuat otak Zein tidak bisa berpikir dengan baik.


Saat Intan selesai mandi, Zein pun sudah mengenakan pakaian dan sedang duduk di sofa kamar. Intan kembali tersenyum karena memiliki ide jahil lagi.


Ia mengambil pakaian dan menggunakan ****** ***** di kamar mandi. Setelah itu ia kembali ke kamar untuk mengenakan pakaian di hadapan suaminya.


"Mas, mau makan apa?" tanya Intan agar suaminya itu menoleh.


Zein pun menoleh ke arahnya. Namun ia tercekat kala melihat Intan sedang mengelap tubuhnya dengan handuk. Ia malah sengaja bergaya seksi. Bahkan sengaja mengelap bagian dada sambil memijat-mijatnya.


"Mas!" panggil Intan saat Zein melamun.


"Makan kamu," sahut Zein, cepat.


"Hah? Makan aku?" tanya Intan. 'Hihihi, padahal udah dipuasin juga, masih aja tergoda,' batin Intan.


"Makan soup," jawab Zein, ketus.


"Oh, berarti aku salah dengar," ucap Intan. Kemudian ia melempar handuknya dan mengambil pakaian yang akan ia pakai.


"Makanya itu telinga dibersihin! Biar gak salah denger," ucap Zein sambil beranjak. Kemudian ia meninggalkan kamar itu karena tidak tahan dengan godaan Intan.


"Hahaha, dasar Profesor mesum. Cuma lihat istri pake baju aja gak tahan. Gaya aja sok galak! Tapi imannya lemah," gumam Intan saat Zein sudah pergi.


Beberapa saat kemudian, Intan pun keluar kamar dengan memakai daster se lutut.


"Lho, Mas udah masak?" tanya Intan. Ia tak menyangka suaminya sudah memasak untuknya. Padahal ia berniat untuk memasak soup sesuai dengan jawaban Zein tadi.


"Saya kan udah bilang, hari ini makan soup. Tadi kan kamu lagi sakit, makanya saya yang masak," sahut Zein sambil memindahkan panci soup ke meja makan. Tadi ia sudah menghangatkan kembali soup yang telah di-plating untuk Intan.

__ADS_1


"Wah, makasih ya, Mas. Gak nyangka, selain tampan, pinter ngobatin orang, ternyata pinter masak juga," puji Intan. Ia tahu suaminya itu senang dipuji.


Hati Zein berdebar-debar kala dipuji seperti itu oleh istrinya sendiri. Namun ia teringat akan sesuatu. "Oh iya, bukannya tadi kamu lagi sakit, ya? Kok bisa jalan?" tanya Zein.


__ADS_2