Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
34. Terpancing


__ADS_3

Intan terkesiap setelah mendengar ucapan Zein barusan. Ia tidak habis pikir mengapa Zein bisa bicara seperti itu. Padahal ia tidak pernah meminta Zein untuk melakukan hal tersebut.


Hatinya yang sedang berbunga pun seketika hancur. Ia yang sudah diajak terbang tinggi oleh Zein, seolah langsung diempaskan begitu saja.


Intan langsung menoleh dan merebut handuk yang ada di tangan Zein. "Ternyata benar ya apa kata orang. Punya suami tuh cuma mau enaknya aja. Udah dapet enaknya, tapi jaga perasaan istri aja gak bisa!" skak Intan. Ia membalikkan ucapan Zein.


Zein ternganga. Ia tak menyangka Intan akan marah seperti itu. Padahal maksudnya hanya bercanda. Namun candaan orang kaku seperti dia tidaklah lucu.


"Satu lagi. Saya tidak pernah meminta Prof untuk mengeringkan rambut saya. Saya pikir Anda ikhlas melakukannya. Namun ternyata malah bicara seolah saya yang menyuruh Anda. Maaf, mulai saat ini saya pastikan tidak akan sekali pun saya merepotkan Anda. Permisi!" ucap Intan, kesal.


Ia pun langsung meninggalkan ruangan tersebut.


Brug!


Entah mengapa hari ini Intan tidak dapat menahan emosinya. Ia sendiri tidak menyangka dirinya bisa marah pada Zein seberani itu. Seolah mendapatkan kekuatan super hingga berani protes seperti itu.


Intan bahkan membanting pintu ruangan Zein sampai pria itu terperanjat. Mungkin ia terlalu kesal pada Zein karena sudah mendapatkan kepuasan, tetapi masih mengeluh seperti itu.


"Kapan sih tuh orang punya perasaan? Aku gak perlu deh dia baik, tapi seenggaknya dia jangan ngomong sesuatu yang nyakitin. Dasar manusia egois," keluh Intan sambil berjalan.


"Tapi kenapa tadi aku berani banget, ya? Gimana kalau ternyata nanti di rumah dia malah balas aku? Duh, Intan impulsif banget, sih?" Intan menyesal karena telah memarahi Zein. Ia baru menyadari tindakannya barusan.


Saat sedang berjalan, Intan tak sengaja bertemu dengan beberapa dokter dan perawat yang sedang berbincang. Mereka baru saja ganti shift sehingga bisa santai seperti itu.


"Siang, Dok!" sapa Intan saat melewati mereka. Ia pun menghentikan langkahnya.


"Siang! Eh, dokter Intan. Dari mana?" tanya perawat dan yang lainnya.


"Oh, ini tadi abis ada perlu. Lagi pada ngapain, nih?" Intan balik bertanya. Ia senang bisa bertemu mereka kembali.


"Biasa abis aplus nyantai dulu sebentar. Kamu mau pulang apa ke mana, nih?" tanya dokter. Ia ingin mengajak Intan minum kopi sambil berbincang.


"Mau pulang, Dok. Kebetulan udah gak ada keperluan lain lagi," sahut Intan.


"Oooh … gimana persiapan ujiannya? Udah siap?" Mereka pikir Intan sedang sibuk mempersiapkan ujian setelah selesai koas di rumah sakit. Mereka tidak tahu seminggu terakhir Intan disibukkan dengan pernikahan dan suaminya.


"Masih banyak yang harus dipelajari, Dok. Tapi udah persiapan daftar juga, sih, hehe," sahut Intan.


"Semangat ya, Tan. Saya yakin kamu pasti lulus dan dapet STR."


Mereka semua cukup baik pada Intan karena selama ini Intan pun baik pada mereka.


"Terima kasih, Dok. Aamiin," sahut Intan. Intan senang karena mendapat rekan seperti mereka.


Saat mereka sedang asik berbincang, tiba-tiba Zein muncul dari belakang mereka.


"Siang, Prof!" sapa salah seorang perawat yang melihat Zein lebih dulu.


Intan terperanjat mendengarnya. Ia hendak menyingkir. Namun, Zein langsung memasangkan jas putih miliknya yang cukup besar itu di bahu Intan dan menahan jas tersebut dengan kedua tangannya.


"Siang!" sahut Zein pada perawat itu. Lalu ia menyapa dokter sekilas dan mengajak Intan pergi ke ruangan prakteknya.


"Ikut saya!" ucap Zein sambil menepuk bahu Intan dan menggandeng tangannya.


Semua yang ada di sana pun bingung melihat sikap Zein.


"Aku gak salah lihat, kan? Sejak kapan mereka jadi akrab begitu?" gumam salah seorang perawat.


"Baru kali ini aku lihat Prof mau nyentuh wanita. Aku aja seumur-umur kerja di sini belum pernah digandeng kayak gitu sama Prof," timpal dokter, sambil memerhatikan Zein dan Intan yang sudah menjauh.


"Terus itu kenapa jasnya harus dipakein ke dokter Intan, ya? Apa di sini dingin?" sahut yang lain.


Mereka semua sangat penasaran dengan hubungan Zein dan Intan.


'Ni orang mau apa lagi, sih? Apa dia mau protes karena tadi aku marah?' gumam Intan dalam hati sambil menatap Zein dengan wajah mengerung. Ia khawatir Zein akan memarahinya karena protes tadi.


"Masuk!" ucap Zein setelah tiba di depan ruang prakteknya. Ruangan itu berbeda dengan ruang pribadinya tadi.


Beruntung siang itu ia belum mulai praktek. Sehingga Zein masih bisa mengajak Intan masuk ke ruangan tersebut.


"Ada apa, Prof?" tanya Intan saat sudah berada di ruangan Zein.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu haid?" tanya Zein, to the point.


Deg!


Intan sangat terkejut mendengar pertanyaan Zein barusan. Kemudian ia mengecek bagian belakangnya. "Astaga!" Intan tak menyangka ternyata dirinya memang haid.


Sebenarnya saat sedang berjalan tadi Zein tidak sengaja melihat Intan. Awalnya ia ingin berlalu karena Intan sedang marah padanya. Namun Zein mengurungkan niatnya karena melihat ada bercak merah di bokong Intan. Akhirnya ia berjalan ke arah Intan sambil melepas jas putih yang sedang ia kenakan dan memasangkannya di bahu Intan.


Beruntung tubuh Zein lebih tinggi dan besar dari pada Intan. Sehingga jas itu mampu menutupi bagian belakang Intan yang terdapat noda darah itu.


Intan pun bergegas melepaskan jas tersebut. Khawatir jas itu terkena nodanya. "Yah, kena," ucap Intan, penuh sesal. Saat mendapati jas Zein sudah terkena noda darahnya. Ia tidak enak hati karena telah menodai jas itu.


"Kamu itu ceroboh sekali, sih? Untung saya yang melihat. Bagaimana jika orang lain?" tanya Zein. Ia tidak rela jika sampai orang lain melihat aib istrinya itu. Bagaimanapun harga diri Intan adalah harga dirinya.


"Maaf, Prof. Tapi kan tadi waktu kita ...." Intan tidak melanjutkan ucapannya karena malu. Ia ingin mengatakan saat bercinta tadi dirinya belum haid.


Melihat Intan malu, Zein malah sengaja memperjelasnya. "Kita apa? Bercinta?" tanya Zein.


Serr!


Hati Intan berdesir kala mendengar kata 'bercinta' keluar dari mulut Zein. Ia pun bingung hendak mengatakan apa.


"Tadi kamu belum haid, kan?" tanya Zein, memastikan. Ia sendiri lupa tadi ada noda darah atau tidak karena terlalu fokus akan gairahnya.


Intan menggelengkan kepala. "Belum, Prof," lirihnya.


"Syukurlah. Mungkin karena tadi kamu terlalu menikmatinya, jadi terpancing seperti itu. Makanya haidnya keluar," ucap Zein, asal. Namun ia bangga jika memang Intan benar menikmatinya.


Intan mengerungkan wajahnya. 'Penjelasan macam apa, itu?' batinnya.


Intinya Zein hanya ingin Intan terlihat sangat menyukai apa yang ia lakukan tadi.


"Ya sudah, ayo pulang!" ajak Zein.


"Lho, bukannya Prof mau ada praktek?" tanya Intan, heran.


"Kamu mau saya praktek dengan jas kotor seperti itu?" skak Zein. Padahal ia hanya ingin mengantar Intan pulang.


“Oh, maaf,” sahut Intan. Ia percaya begitu saja atas ucapan Zein barusan.


Zein dan Intan pun meninggalkan ruangannya. “Saya mau pergi dulu. Nanti saya kembali sebelum jam praktek,” ucap Zein pada suster yang berjaga di poli.


“Baik, Prof,” sahut suster tersebut. Sebenarnya ia bingung mengapa Zein pergi bersama Intan. Namun ia tidak berani mempertanyakan hal itu. Salah-salah yang ada malah disemprot oleh Zein.


“Ayo!” ajak Zein. Lalu mereka pun meninggalkan rumah sakit itu dalam kondisi Intan masih menggunakan jas milik Zein.


Tiba di parkiran VIP yang ada di depan lobby, Zein membukakan pintu untuk Intan. Hal itu ia lakukan karena Intan sedang memegangi jas yang hanya tersangkut di bahunya itu.


“Terima kasih, Prof,” ucap Intan. Lalu ia pun masuk meski sebenarnya risih mendapat perlakuan baik dari Zein seperti itu.


Apalagi Intan sadar beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Ia khawatir hal itu akan menjadi buah bibir di kalangan staf rumah sakit.


“Oke,” sahut Zein. Setelah itu ia pun menutup pintu dan masuk ke mobil.


‘Apa ini cuma perasaan aku aja, ya? Hari ini kok kayaknya dia baik banget, ya?’ batin Intan sambil melirik ke arah Zein.


‘Eh, baik apaan. Tadi aja dia bikin aku kesel,’ gumamnya lagi.


“Kamu ada stock pembalut gak di rumah?” tanya Zein saat mereka sudah berada di jalan. Ia tahu Intan membutuhkan benda itu jika sedang haid.


Intan ternganga. Ia baru ingat bahwa dirinya lupa membeli stock pembalut. “Oh iya, saya lupa stocknya habis,” ucap Intan. Ia bingung bagaimana cara membelinya. Sebab Intan dapat merasakan bahwa darahnya mengalir semakin deras.


Intan memang selalu seperti itu jika sedang haid. Namun biasanya darahnya baru banyak setelah hari kedua atau ketiga. Namun hari ini darahnya langsung keluar banyak di hari pertama. Hal itu pun membuat Intan bingung.


“Ceroboh!” cibir Zein. Setelah itu ia membelokkan mobilnya ke arah minimarket.


Intan pun senang dan yakin Zein berbelok karena ingin membiarkannya membeli pembalut lebih dulu.


“Sebentar ya, Prof,” ucap Intan. Sebenarnya ia ragu untuk turun. Namun Intan tidak mungkin meminta Zein yang membelinya. Ia sadar bahwa dirinya bukan wanita yang dicintai oleh Zein.


“Mau ke mana?” tanya Zein.

__ADS_1


“Euh, mau beli pembalut?” sahut Intan. ‘Aku gak salah sangka, kan?’ batinnya. Menurut Intan tidak ada alasan lain bagi Zein menepikan mobilnya selain untuk mengizinkan Intan membeli pembalut.


“Kamu mau beli pembalut dengan kondisi seperti itu?” tanya Zein sambil melihat ke arah kaki Intan yang ternyata sudah terdapat sedikit aliran darah di sana. Intan tak sadar saat berjalan menuju mobil tadi darahnya mengalir.


“Ya Tuhan, maaf, Prof. Saya gak sengaja. Aduh, ini gimana bersihinnya?” gumam Intan. Ia malah panik karena telah mengotori mobil Zein. Ia yakin di jok mobil itu pun sudah banyak darahnya. Sementara dirinya tidak membawa tisu basah.


“Tunggu!” ucap Zein. Kemudian ia turun tanpa berkata-kata lagi.


Brug!


Zein meninggalkan mobilnya, lalu masuk ke minimarket.


“Selamat datang di minimart!” sapa kasir.


“Pembalut di mana, ya?” tanya Zein terus terang. Sebanrnya ia malu membeli benda itu. Namun Zein tidak ada pilihan lain dari pada istrinya semakin kerepotan karena darahnya cukup banyak keluar.


“Di sebelah sana, Mas,” sahut kasir, sambil menunjuk ke arah rak pembalut.


Zein pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh kasir. Kemudian ia mengambil keranjang dan berjalan ke arah rak pembalut.


“Duh, yang mana?” gumam Zein. Ia bingung harus memilih yang mana. Apalagi saat menyadari bahwa ada beberapa wanita yang melirik ke arahnya sambil tersenyum.


“Ya ampun, idaman banget punya pacar atau suami kayak gitu, ya?” bisik salah seorang wanita.


“Iya, lho, udah ganteng, tinggi, keren, tapi mau beli pembalut. Perfect banget, deh,” timpal yang lain.


“Semoga aku bisa dapet pasangan yang kayak dia.”


“Aku juga mau, dong. Hihihi.”


Begi mereka sangat jarang pria yang mau membeli benda itu. Sehingga Zein terlihat keren di mata mereka.


“Ah, ambil semua aja!” gumam Zein. Akhirnya ia pun memborong semua pembalut yang ada di rak tersebut karena tidak tahu Intan biasa menggunakan yang mana. Setelah itu, ia berjalan ke arah kasir.


Kasir sempat tercengang saat melihat Zein memborong semua pembalut. Namun ia berusaha tetap tenang dan tidak menunjukkan senyuman. Khawatir Zein tersinggung.


Saat kasir sedang menghitung belanjaannya, Zein teringat akan sesuatu. “Ada obat pereda nyeri haid?” tanya Zein pada kasir. Sebagai dokter, sedikit banyak ia mengetahui hal itu.


“Ada, Mas. Mau yang tablet apa cair?” Kasir balik bertanya.


“Kalau ada, tolong yang aman untuk kesehatan!” pinta Zein. Ia adalah dokter, sehingga tidak sembarangan memberikan obat pada istrinya.


“Mau coba yang ini?” tanya kasir.


Zein mengambil sample yang diberikan oleh kasir lalu membaca komposisinya dengan teliti. “Oke, ini aja!” sahut Zein.


“Mau berapa banyak?” tanya kasir lagi.


“Lima,” jawab Zein.


“Biasanya kalau wanita haid itu suka makan apa?” tanya Zein lagi. Ia malah mengintrogasi kasir wanita tersebut.


Kasir itu berusaha menahan senyuman karena ia merasa Zein cukup lucu dan menggemaskan.


“Kebanyakan sih suka yang manis seperti cokelat atau yang pedas-pedas, Mas,” jawab kasir.


Kebetulan di depan meja kasir berjejer cokelat. Zein pun mengambil beberapa batang dan ia percaya karena coklat dapat menenangkan. Zein bahkan memilih cokelat dengan pure cocoa yang harganya lebih mahal karena ia tahu bahwa cokelat itu dapat membuat perasaan bahagia.


Setelah selesai bertransaksi, Zein pun meninggalkan minimarket tersebut.


Sementara itu, Intan sedang sibuk melihat noda yang ia tinggalkan di jok mobil Zein.


“Duh, gimana dong ini? Dia ngamuk gak, ya? Ya iyalah, masa gak ngamuk mobilnya aku kotorin begini?” gumam Intan. Ia sampai bingung harus duduk di mana. Sebab Intan tidak menemukan tisu di mobil Zein.


Saat menoleh ke arah pintu mini market, Intan melihat Zein keluar dari sana. “Hah, dia beli apaan sebanyak itu?” tanya Intan saat melihat Zein keluar dari mini market dengan dua kantong besar belanjaan.


Zein pun membuka pintu belakang dan menaruh pembalut. Kemudian ia masuk ke tempat duduknya sambil membawa satu kantong berukuran sedang.


“Ini!” ucap Zein saat sudah berada di dalam mobil.


“Apa?” tanya Intan.

__ADS_1


“Cokelat dan obat pereda nyeri,” sahut Zein.


‘Hah? Kok dia tau sih kalau aku lagi haid itu sukanya makan cokelat?’ batin Intan sambil tercenung. Hatinya berdebar-debar kala mendapat perhatian tersebut.


__ADS_2