
Seketika wajah Intan merona. Ia sangat malu ketika diingatkan akan hal yang ia sendiri sulit untuk melupakannya itu.
"Iih, Mas ngapain nginget yang kayak gitu, sih? Gak penting banget, deh," keluh Intan. Ia langsung memalingkan wajah karena malu.
Melihat reaksi Intan, Zein pun senang. Ia berdiri dan mendekat ke arah suaminya. "Gak penting gimana? Justru itu sangat penting dan membuat aku jadi ingin segera menghalalkan kamu," bisik Zein.
Tubuh Intan langsung meremang. Sontak ia menoleh ke arah Intan. "Maksudnya?" tanya Intan.
"Karena kamu sudah membangunkan naga yang sedang tidur. Jadi aku ingin minta pertanggung jawaban dari kamu. Tapi kan gak mungkin aku melakukannya sebelum halal," jelas Zein.
Kening Intan mengerut. "Oh, jadi Mas nikahin aku cuma karena itu?" tanyanya, kesal.
"Itu cuma salah satu dari sekian banyak alasan. Cuma sekarang aku penasaran, kenapa kamu berani membangunkan naga yang sedang terlelap? Padahal kamu tahu sendiri semburannya bisa berakibat fatal," ucap Zein sambil merangkul pinggang Intan dengan kedua tangannya.
"Ya aku gak sengaja, lah. Itu kan refleks karena kamu kesakitan, makanya aku elus sambil ditiupin biar sakitnya hilang," sahut Intan, gugup.
"Tapi kamu tau gak efeknya? Memang sakitnya hilang. Cuma malah jadi menimbulkan dampak yang lain," ucap Zein.
"Mulai, deh. Mulai ...!" Intan sebal karena Zein selalu seperti itu.
"Hehehe, lagian kamu duluan yang mulai. Aku kan cuma ngelanjutin."
"Cih! Tapi kalau ingat gimana reaksi kamu waktu itu. Aku langsung dibentak, bahkan wajah kamu sampai merah padam saking marahnya," ucap Intan sambil menjebik.
"Itu bukan marah. Aku kesal karena kamu telah memancing gairahku!" skak Zein.
Intan menggigit bibir bawahnya. "Kok bisa?" tanyanya.
"Ya aku kan normal. Coba sakarang kamu pancing! Pasti naganya langsung bangun lagi dan siap menyembur," ucap Zein, nakal.
"Udah, ah! Aku sampe lupa, kan. Aku tuh ke sini karena mau bilang siang ini Mamah minta kita buat fitting gaun pengantin," ucap Intan, gemas.
"Oh, aku kan gak pake gaun, Sayang," sahut Zein.
"Oh, ya udah nanti aku pergi sendiri aja!" ucap Intan, sebal.
"Duh, gitu aja ngambek. Aku kan cuma bercanda. Ya udah nanti kita ke sana. Aku juga kan harus fitting tuxedo," lanjut Zein.
"Ya udah, nanti kita ketemuan di mana?" tanya Intan.
"Nanti aku jemput ke ruangan kamu," jawab Zein.
"Oke, selamat bekerja, Sayang." Intan pun pamit. Sambil mengecup pipi suaminya.
"Gak semangat kerjanya kalau cuma itu," sahut Zein, manja.
"Terus?"
"Ini!" Zein menyodorkan bibirnya.
"Hiih, ngelunjak, deh!" Meski begitu, Intan tetap mau mengecup bibir suaminya itu.
Cup!
Zein langsung menahan tengkuk Intan dan mencumbunya.
"Kalau begini baru semangat," ucap Zein sambil mengusap bibir Intan dan melemparkan senyuman padanya.
"Dasar!" Akhirnya Intan pun pergi dari ruangan itu sambil menunduk. Ia malu, khwatir lipstick yang ia pakai berantakan.
Zein langsung berjalan ke arah wastafel yang ada di ruangannya. Kemudian ia bercermin sambil mengusap bibirnya yang ternoda oleh lipstick itu.
"Permisi!" ucap suster yang masuk ke ruangan Zein.
Zein hanya melirik sekilas. Ia tetap lanjut membersihkan bibirnya itu. Hal tersebut membuat suster yang tadi masuk pun malu.
"Maaf!" ucapnya. Ia hampir keluar lagi. Namun Zein menahannya.
"Tidak apa-apa. Lanjut saja!" ucap Zein. Saat ini mood-nya sedang baik. Sehingga ia tidak marah pada suster itu.
"Oh, iya, Prof," ucap suster. Kemudian ia pun menaruh beberapa buku status pasien di meja Zein. Lalu menyiapkan agar poli bisa segera dibuka.
"Apa sudah bisa mulai sekarang, Prof?" tanya suster.
"Oke, mulai saja!" jawab Zein sambil mengambil tisu. Lalu ia berjalan ke arah meja kerjanya.
Meski sudah dihapus menggunakan air. Namun masih ada sedikit noda pink di bibir pria tampan itu.
Tentu saja hal tersebut membuat pikiran suster berkelana. 'Mereka abis ngapain di sini sampe bibir Prof merah begitu,' batin suster.
Setelah itu Zein pun mulai praktek di poli tersebut.
Saat ini Intan sudah tiba di ruangan VVIP tempat ia berjaga.
"Sus, punya cermin, gak?" tanya Intan sambil menutupi bibirnya menggunakan tangan.
__ADS_1
"Ada, Dok," jawab suster. Ia pun mengambil cermin dari tasnya. Kemudian memberikannya pada Intan.
"Terima kasih," ucap Intan. Ia menggunakan cermin itu dan mengecek bibirnya.
'Ehh, kok berantakan?' batin suster. Namun ia tidak terlalu heran karena Intan sudah bersuami.
'Duh, jadi pingin punya suami satu kerjaan kalau begitu caranya,' gumam suster itu dalam hati. Ia pun memalingkan wajahnya karena malu melihat Intan.
Siang hari sebelum istirahat, Intan mengecek salah satu pasien yang tadi sempat mengalami keluhan.
Pasien itu adalah pria tampan yang usianya sekitar 30 tahunan. Selain itu, ia masih single dan tertarik pada Intan. Sehingga ia betah dirawat di sana.
"Selamat siang, Pak!" sapa Intan.
"Siang, Dok. Jangan panggil Pak, dong! Saya kan masih muda," ucap pasien itu.
Sebagai dokter, Intan bersikap ramah pada pasien tersebut. "Terus saya panggil apa, dong?" tanya Intan sambil memasang stetoskop di telinganya.
"Panggil Mas aja!" ucapnya sambil tersenyum.
"Oh, oke. Gimana kondisi Mas saat ini?" tanya Intan. Ia tidak merasa ada yang aneh dengan panggilan itu. Sebab 'Mas' merupakan kata yang cukup umum digunakan.
"Alhamdulillah baik. Apalagi kalau dirawat sama dokter. Bisa-bisa saya cepat sembuh," ujar pasien itu.
Intan tersenyum. "Ya bagus dong, Mas! Kan lebih cepat sembuh lebih baik," ucap Intan. Ia bukan tipe orang yang ge'er. Sehingga Intan tidak sadar bahwa pria itu sedang menggombalinya.
"Tapi saya lebih senang jika berlama-lama di sini," jawab pasien itu.
Intan terkekeh. "Mas ini ada-ada aja. Di mana-mana orang gak betah kalau kelamaan di rumah sakit. Ini kok malah pingin lama-lama?" tanya Intan, heran.
"Ya, siapa tau bisa dapat jodoh," ucap pria itu sambil mengulum senyuman. Ia belum tahu bahwa Intan sudah menikah.
"Ooh, mau nyari jodoh. Sus, masih jomlo, gak?" goda Intan pada suster yang sedang mendampinginya.
Suster pun tersenyum. 'Duh! Dokter gak peka apa gimana, sih? Udah jelas dia yang lagi digodain. Ini kalau sampai prof tau, bisa gawat,' batin suster itu.
Setelah selesai memeriksa pasien, Intan pun berpamitan.
"Sus, saya mau pergi dulu, ya. Belum tau nanti bisa balik lagi jam berapa. Dokter yang jaga siang udah datang apa belum, ya?" tanya Intan.
"Sudah, Dok! Tadi dokternya lagi ke toilet," jawab suster.
"Ooh, syukurlah kalau begitu. Saya ada urusan penting soalnya, hehe," ujar Intan.
Saat ia hendak masuk ke ruangan administrasi, Zein muncul untuk menjemputnya.
Suster dan Intan pun menoleh. "Eh, Mas. Sebentar, ya. Aku mau ambil tas dulu!" ucap Intan.
"Oke, Mas tunggu di sini," sahut Zein.
Ia pun menunggu Intan dengan sabar.
Saat Zein sedang menunggu, ia melihat ada pasien yang tinggi dan tampan. Kemudian pasien itu berjalan sambil mendorong tiang infusan ke arah ruangan administrasi.
Saat Intan keluar dari ruangannya, pasien itu pun menyapa Intan. "Dok, mau istirahat, ya?" tanyanya.
Intan yang merasa ditanya pun menoleh ke arahnya. Sementara Zein mengerutkan keningnya, memantau sikap pria itu.
"Oh, iya," jawab Intan.
"Boleh saya temani?" tanya pria itu.
Zein terkesiap saat mendengar pernyataan pasien itu. Jika tidak ingat bahwa itu adalah pasien rumah sakitnya, mungkin Zein akan langsung menghajarnya.
"Terima kasih atas tawarannya. Tapi kebetulan siang ini kami ada keperluan," ucap Zein sambil menggandeng tangan Intan.
Pria itu melihat tangan mereka yang saling bergandengan. Kemudian ia menoleh ke arah Zein. "Ya, Intan istri saya. InsyaaAllah dalam waktu dekat kami akan mengadakan resepsi pernikahan. Jadi hari ini kami harus pergi untuk fitting gaun pengantin," jelas Zein.
Ia tidak pernah mau basa basi jika ada orang yang berusaha mendekati Intan. Beruntung kali ini ia hanya bicara seperti itu. Tidak seperti Bian yang harus menerima nasib dipamerkan sesuatu yang vulgar oleh Zein.
"Oh, dokter Intan sudah menikah. Maaf kalau begitu," ucap pasien itu, gugup. Ia kecewa karena ternyata Intan sudah menikah.
"Mari!" ucap Zein. Ia tak peduli meski pasien itu masih tercenung karena shock.
Intan membuntuti suaminya. Sesekali ia melirik ke arah Zein. Sebenarnya sejak tadi ia khawatir Zein akan mengamuk.
'Kayaknya dia emang kesel, deh,' batin Intan. Ia melihat rahang Zein mengeras. Bahkan genggaman tangannya begitu erat. Seolah takut Intan kabur darinya.
Tiba di mobil, Zein membukakan pintu untuk Intan seperti biasa. Setelah itu ia pun masuk ke mobil.
"Mas kenapa?" tanya Intan saat sudah berada di jalan.
"Masih tanya kenapa?" Zein balik bertanya.
"Lho, aku kan bukan dukun yang bisa nebak apa isi kepala kamu. Makanya aku tanya baik-baik," ucap Intan, kesal.
__ADS_1
Ia tidak suka dengan jawaban Zein yang ketus seperti itu. Padahal apa susahnya menjelaskan apa yang sedang ia rasakan. Namun mungkin ini pengaruh mood mereka yang sama-sama sedang tidak stabil karena kehamilan Intan.
Zein mengembuskan napas, kasar. "Kenapa kamu gak pernah cerita ada pasien yang berusaha mendekati kamu?" tanya Zein.
"Hah? Mana aku tau dia deketin aku, Mas. Ini juga baru pertama dia berani nyamperin aku begitu," sahut Intan. Ia tidak menyangka suaminya akan berpikiran seperti itu.
"Aku lihat pasien itu sudah sehat. Apa iya dia baru deketin kamu tadi?" tanya Zein sambil melirik sekilas ke arah Intan.
Intan mengerutkan keningnya. "Maksudnya apa? Kamu gak percaya sama aku?" tanya Intan.
"Bukan gak percaya. Aku hanya ingin memastikan," sahut Zein.
Intan memalingkan wajahnya. "Sama aja. Kalau emang gak percaya. Buat apa aku jelasin. Percuma mau jelasin kayak apa pun kamu gak akan percaya," gumam Intan, kesal.
"Kalau emang kamu gak salah. Harusnya kamu gak usah marah. Apa salahnya jelasin secara baik-baik?" tuduh Zein. Ia kesal karena Intan malah seperti itu.
Intan ternganga. "Oh, jadi sekarang kamu nuduh aku terang-terangan? Aneh kamu, ya. Orang lain yang ganggu aku tapi aku yang disalahin. Selalu seperti itu. Kapan sih kamu dewasanya?" tanya Intan.
Ia sangat kesal karena Zein mengulangi kesalahan yang lalu. Ia masih ingat betul bagaiman Zein meminta Intan untuk memastikan agar Bian tidak mendekatinya lagi.
"Di sini aku yang lagi cemburu. Tapi kenapa justru kamu yang marah? Apa bagusnya pria itu sampai kamu membelanya?" tanya Zein.
"MAS! Siapa yang bela siapa? Kamu jangan keterlaluan, ya! Dari tadi omongan kamu itu ngelantur. Cemburu boleh, tapi jangan cemburu buta sampai semua orang kamu salahkan. Capek aku ngadepin sikap kamu yang kekanakan kayak gitu," ucap Intan dengan sedikit menyentak.
Zein langsung menoleh. "Apa maksud kamu bilang capek?" tanya Zein.
"Ya capek. Aku males ngadepin suami egois kayak kamu. Orang yang salah tapi istrinya yang disalahkan. Lebih baik kamu pinggirin mobilnya. Aku mau turun!" bentak Intan.
"Gak! Aku gak akan izinin kamu turun. Ini bahaya," sahut Zein.
"Oh, kamu masih inget bahaya? Emangnya kamu pikir ucapan kamu itu gak bahaya? Asal kamu tau, ucapan kamu justru lebih bahaya karena udah nyakitin hati aku!" Intan sangat menggebu-gebu.
Saat ini kondisi mereka sama-sama lapar karena belum makan siang. Sehingga emosi mereka pun meledak.
"Kamu tuh kenapa sih seneng banget bantah aku?" tanya Zein.
"Harusnya kamu ngaca dan introspeksi kenapa aku bisa sampai seperti itu? Bukan malah nanya aku kenapa. Kamu yang kenapa!" skak Intan.
"Suami lagi cemburu bukan ditenangin malah dimarahin kayak gitu. Kamu tuh maunya apa, sih?" tanya Zein.
"Aku mau turun! Pinggirin mobilnya sekarang juga!" sahut Intan, ketus.
"Jangan mimpi!" ucap Zein.
"AKU MAU TURUN!" pekik Intan. Ia sudah sangat emosi pada suaminya itu.
"Kamu lagi hamil. Jangan marah-marah kayak gitu. Gak baik buat kandungan kamu, Sayang." Zein mulai menurunkan emosinya. Ia tidak ingin istrinya kenapa-kenapa.
"Gak baik kamu bilang? Emangnya dari tadi siapa yang macing emosi aku, hah? Tau istrinya lagi hamil. Bukan dijaga moodnya malah dibikin kesel kayak gini. Sekarang aku udah gak mood buat fitting gaun. Bila perlu batalin aja resepsinya!" Intan benar-benar di luar kendali.
"Oke, lebih baik kita pulang!" sahut Zein, tegas. Ia pun sudah tidak mood untuk melanjutkan tujuan utama mereka.
Akhirnya Zein membelokkan mobilnya ke arah rumah mereka. Ia berharap mereka bisa bicara dari hati-ke hati ketika sudah sampai di rumah nanti.
Sepanjang jalan hanya ada keheningan. Zein tidak berani mengajak Intan bicara. Sementara Intan masih sangat kesal pada suaminya itu.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di rumah. Intan langsung turun dari mobil dan membanting pintu. Kemudian ia masuk ke rumah.
Siang itu ART mereka sudah pulang. Sehingga rumahnya sepi. Intan yang memegang kunci serep pun membuka pintunya dengan kesal.
Brug!
Ia membanting pintu setelah berhasil masuk ke rumah.
"Astaghfirullah," gumam Zein. Kemudian ia menyusul Intan.
Zein tidak bisa membiarkan masalah berlarut-larut seperti itu. Sehingga ia merasa perlu untuk segera meluruskannya.
Ia menyusul Intan yang sudah masuk ke kamar. Kemudian mengunci pintu kamarnya karena khawatir Intan akan nekat kabur.
"Oke aku salah dan minta maaf. Tapi tolong jangan perpanjang masalah ini!" pinta Zein.
Intan yang sedang melepaskan hijabnya itu langsung menoleh ke arah Zein. "Enak ya jadi kamu. Udah bikin aku kesel terus minta maaf gitu aja. Emang dengan minta maaf, kamu bisa balikin mood aku yang udah terlanjur hancur?" tanya Intan.
Ia melepaskan hijab dan melemparnya ke keranjang pakaian kotor.
"Terus aku harus gimana? Kamu tau sendiri aku kalau udah cemburu pasti lose control kayak gitu. Harusnya kamu ngertiin aku, dong!" pinta Zein.
Intan ternganga. "Siapa yang harusnya dimengerti? Aku yang lagi hamil. Emosiku yang lagi gak stabil. Tapi kamu yang minta dimengerti? Situ waras?" skak Intan.
Huuh!
Zein mengusap kasar wajahnya. Ia bingung bagaimana cara bicara pada Intan. Sebab dirinya memang tidak pandai merangkai kata-kata.
"Iya aku salah. Aku minta maaf dan janji akan berusaha untuk lebih mengontrol emosi lagi dan tidak akan menyalahkan kamu jika ada hal seperti itu lagi," ucap Zein sambil mendekat ke arah Intan.
__ADS_1
Intan menatap suaminya. "Kalau aku gak mau maafin kamu, kamu mau apa?" tantang Intan. Entah mengapa ia masih belum puas dengan permintaan maaf suaminya itu. Padahal Zein sudah mengalah.
Zein membalas tatapan Intan. "Kalau kamu gak mau maafin aku. Aku bisa pakai cara lain," ucapnya. Kemudian ia langsung menarik Intan dan membungkam mulutnya dengan bibir.