Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
49. Ungkapan Cinta


__ADS_3

Foto itu sudah diposting sejak dua jam yang lalu. Sehingga cukup banyak komentar yang membuat darah Zein mendidih.


"Duh, galfok sama Bu dokter dan Pak Tentara. Kok serasi banget, sih?" Komentar salah satu netizen.


"MasyaaAllah, cantik dan tampan. Kalau jadi nikah, anaknya pasti perfect banget."


"Kita doakan semoga dokter dan Pak Tentaranya berjodoh ya, guys!"


Kepala desa yang sudah berumur itu pun sedikit gaptek. Sehingga ia bisa memposting tanpa tahu bahwa ada banyak notifikasi masuk di ponselnya. Apalagi saat itu ia sedang menerima banyak tamu.


Tangan Zein gemetar saat membaca seluruh komentar itu. Rasanya ia ingin menghilang dan langsung muncul di hadapan Intan.


Zein langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia tak terima melihat istrinya didekati oleh pria yang paling ia benci itu.


Zein pun meninggalkan ruangannya dengan penuh rasa kesal. Kemudian ia menuju poli untuk membereskan tugasnya.


"Masih ada berapa pasien?" tanya Zein saat bertanya pada suster. Kala itu masih jam istirahat.


"Sekitar lima orang lagi, Prof," jawab suster.


"Oke, itu pasien terakhir hari ini. Saya akan pergi ke luar kota selama beberapa hari dan jangan terima pasien lagi untuk sementara waktu!" pinta Zein. Kemudian ia masuk ke ruangannya.


"Baik, Prof," sahut suster, gugup.


"Ya udah, deh. Mendingan ke luar kota dari pada di sini uring-uringan," ucap suster.


Ia lega karena Zein akan pergi. Setidaknya nanti Zein akan digantikan oleh dokter yang lebih ramah.


Zein pun bergegas menyelesaikan tugasnya. Ia sudah tidak dapat menunda lagi. Hari ini juga dirinya akan langsung terbang ke Timur untuk menyusul Intan. Bila perlu Zein akan langsung membawanya pulang meski belum mendapatkan penggantinya. Seperti itulah egonya berjalan.


Selesai praktek, Zein langsung meninggalkan ruangannya. Tolong kosongkan jadwal saya selama seminggu ke depan!" pinta Zein sambil meninggalkan ruangannya. Lalu ia langsung pergi tanpa menunggu konfirmasi dari suster.


Zein berlari kecil menuju parkiran. Ia merasa dikejar waktu karena dirinya harus mengambil pakaian ke rumahnya lebih dulu.


"Zein, kamu mau ke mana?" tanya Muh yang berpapasan dengannya di koridor.


"Mau jemput istri!" sahut Zein. Kemudian ia langsung berlalu karena pikirannya sedang kalut.


Muh hanya senyum sambil menggelengkan kepala. Ia tidak habis pikir ternyata anaknya yang work a holic itu bisa juga mengabaikan pekerjaannya.


"Dasar bucin akut!" cibir Muh. Ia mengetahui kalimat itu karena sering mendengar para staf mengatakan hal tersebut.


Saat sedang di jalan, Zein meminta asistennya untuk memesan tiket pesawat. Sebagai profesor, Zein memiliki asisten pribadi. Namun asisten tersebut stand by di kantor pusat ikatan dokter. Sebab Zein menjabat sebagai kepala ikatan dokter.


Sebagai profesor, Zein pun selalu menerbitkan buku, minimal satu buku dalam setahun. Biasanya ia memberikan naskah mentah pada asistennya tersebut, lalu asistennya itulah yang menyusun naskah yang dibuat oleh Zein.


Telepon terhubung.


"Halo, tolong pesankan tiket pesawat paling cepat untuk terbang ke Timur sore ini juga”! Pinta Zein.


"Baik, Prof. Tapi kalau tidak salah, penerbangan ke Timur itu terbatas. Bagaimana jika adanya malam?" tanya asisten Zein.


"Pokoknya yang tercepat! Saya tidak mau tahu," sahut Zein. Lalu ia langsung memutus sambungan teleponnya.


Setelah itu ia bergegas menuju rumah, kemudian packing.


Setelah packing, Zein pun pergi ke Bandara. Tak lupa ia mengganti pakaian dengan pakaian casual sebelum berangkat.


Tiba di bandara, Zein melakukan check in. Ia pun sudah meminta asistennya untuk memesan pesawat extention menuju ke desa tempat Intan praktek. Namun sampai saat ini belum juga ada kabar.


Zein berharap setibanya di bandara tujuan, ia sudah mendapat kabar mengenai pesawat tersebut.


"Huuh! Semoga apa yang aku lihat tidak seperti yang aku pikirkan," gumam Zein. Hatinya berdebar, membayangkan akan segera bertemu dengan pujaannya.


Tak lama kemudian Zein pun sudah melakukan boarding. Lalu ia memilih untuk tidur agar penerbangan tidak terasa lama.


Di waktu yang berbeda, Intan sudah berada di rumah dinasnya. Hari sudah petang, sehingga Intan pun sudah mandi dan menunggu telepon dari suaminya.


Sejak tiba di rumah tadi, Intan mengaktifkan ponsel yang diberikan oleh suaminya itu. Namun, sampai ia selesai mandi dan makan, Zein masih belum juga menghubunginya. Bahkan saat Intan berusaha menghubungi Zein, ponsel suaminya itu tidak aktif.


"Apa dia marah?" gumam Intan. Ia gelisah karena tidak tahu bahwa suaminya sedang berada di perjalanan menuju ke tempatnya.


"Iya aku emang keterlaluan sih, tiba-tiba marah kayak gitu. Tapi dianya juga nyebelin. Masa aku yang disuruh ngatur hidup orang?" gumam Intan, kesal.


Meski begitu, Intan merasa gelisah karena tidak ada kabar dari suaminya. Ia takut suaminya benar-benar marah dan tidak mau menghubunginya lagi.


"Duh, gimana kalau dia beneran marah terus gak mau hubungin aku lagi?" Intan yang awalnya santai pun jadi over thinking.


"Ternyata gak enak banget ya LDM-an. Kalau ada masalah gini gak bisa dibicarain baik-baik. Apalagi kalau dia tiba-tiba ngilang begitu. Aku juga sih yang salah, tadi pake matiin hape segala. Duh, bodoh banget kamu, Tan." Intan kesal pada dirinya sendiri.


Bagaimana pun ia sudah sangat mencintai Zein. Ia pun seolah ketergantungan pada pria itu. Sehingga masalah yang sedang ia hadapi saat ini membuat Intan tidak bisa tidur.


Intan sangat gelisah. Ia bahkan sudah membolak balikkan tubuhnya. Namun matanya seolah enggan terpejam.


"Gimana kalau misalnya dia kesel sama aku, terus dia pergi ke club dan ketemu sama cewek lain, terus ... aahhh, aku gak sanggup bayanginnya," keluh Intan. Ia pun menutup wajahnya dengan bantal dan berusaha untuk tidur agar tidak memikirkan hal yang bukan-bukan.


Beberapa jam kemudian, Zein sudah mendarat di bandara. Hari sudah malam dan penerbangan menuju ke tempat Intan pun ditutup. Sehingga Zein harus bersabar menunggu pagi agar bisa terbang ke tempat istrinya itu.


"Aku lupa kalau penerbangan ke sini cukup lama," gumam Zein. Akhirnya ia memilih untuk beristirahat di hotel terdekat dan akan pergi ke tempat Intan dengan penerbangan paling awal.


Setibanya di hotel, Zein langsung beristirahat. Sebelumnya ia membersihkan tubuh lebih dulu. Sebab, sebagai dokter, kebersihan adalah yang paling utama bagi pria itu.


Saat merebahkan tubuhnya, Zein membuka ponselnya. Ia tersenyum karena ada beberapa panggilan tak terjawab dari istrinya itu. "Oke, kita lihat bagaimana jika aku tidak ada kabar. Kamu harus tahu rasanya, supaya kamu mengerti perasaanku," gumam Zein.

__ADS_1


Melihat usaha Intan untuk menghubunginya, Zein sedikit lebih tenang. Dengan begitu artinya Intan masih membutuhkannya. Ia pun bisa tidur dengan nyenyak.


Keesokan harinya, sesuai dengan rencana, Zein terbang lebih awal. Ia bahkan memesan helikopter lagi agar tidak perlu menunggu lama. Sebab, terbang menggunakan pesawat komersil pasti akan lebih lama.


Debaran jantung Zein semakin cepat seiring dengan tibanya helikopter yang ia tumpangi di lapangan penerbangan wilayah yang ia tuju. Saat itu Zein terlihat sudah segar. Sebab ia mandi lebih dulu sebelum berangkat.


Ia pun langsung turun dan membawa kopernya. Kemudian menyewa mobil untuk mengantarnya ke rumah dinas Intan.


"Semoga dia belum berangkat dinas," gumam Zein. Ia terus melihat jam tangannya karena khawatir istrinya itu sudah berangkat. Padahal saat itu hari masih pagi.


Beberapa saat kemudian, Zein sudah tiba tepat di depan rumah Intan. Senyumannya pun mengembang. Baru melihat rumah itu saja, ia seolah sudah melihat istrinya. Ia pun berjalan sambil menyeret koper.


Tuk, tuk, tuk!


Zein mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban dari Intan. Kebetulan ia memegang satu kunci serep rumah tersebut. Sehingga Zein bisa langsung membuka pintunya sendiri.


"Assalamu alaikum," ucap Zein saat masuk ke rumah tersebut. Ia mendengar ada suara gemericik air, yang artinya Intan sedang mandi.


Kemudian ia pun membawa kopernya masuk dan menutup pintu dari dalam. Tak lupa Zein mengunci pintu tersebut.


Cetek!


Zein mengembuskan napas. Ia sangat lega krena sudah tiba di sana dengan selamat.


Saat ia balik badan, ternyata ada Intan di ambang pintu dapur. Wanita itu hanya mengenakan handuk sebatas dada dan lutut.


"Mas!" ucapnya, lirih. Ia hampir tidak percaya bahwa Zein ada di depan matanya. Padahal semalaman Intan hampir tidak tidur karena memikirkan suaminya itu.


"Sayang!" sahut Zein. Hatinya berdebar-debar melihat Intan di hadapan matanya.


Mereka sama-sama melangkah maju sambil bertatapan dan langsung berpelukan di tengah-tengah.


"I love you, Intan. Mas cinta kamu," bisik Zein sambil memeluk istrinya itu.


Deg!


Intan tercekat saat mendengar ucapan Zein barusan. Ia pun melepaskan pelukannya dan menatap suaminya itu.


"M-mas bilang apa barusan?" tanya Intan dengan mata berkaca-kaca. Hatinya bertalun-talun, ia merasa seperti mimpi.


Zein menatap Intan dan menangkup kedua pipinya. Saat ini debaran jantung mereka saling bersahutan.


"Aku ... cinta ... kamu," ucap Zein secara perlahan. Ucapannya barusan terdengar begitu tulus.


Sontak saja bulir bening menetes dari mata Intan. Wajahnya pun merah padam. Ia tak menyangka ternyata penantiannya selama ini membuahkan hasil. Hari yang sejak lama ia nantikan telah tiba.


"Coba bilang sekali lagi, Mas!" pinta Intan dengan suara gemetar. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengar barusan adalah nyata.


"Aku, Muhammad Zein Muammar, mencintai Intan Nuriza Azari, dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga. Maka dengan ini, maukah engkau mendampingiku hingga maut memisahkan?" tanya Zein, serius.


Air mata Intan pun mengalir semakin deras. Kemudian ia mengangguk. "Tentu, Mas. Aku juga cinta kamu, huhuhu," jawab Intan sambil terisak.


Zein bahagia mendengar jawaban Intan. Ia pun langsung mencumbu istrinya itu dengan begitu lembut. Mereka melampiaskan semua rasa, membiarkan air mata mengalir dalam pagutan tersebut. Bahkan Zein pun turut menitikan air mata.


Ia terlalu bahagia karena akhirnya bisa mengungkapkan cinta pada Intan. Setelah sekian banyak drama yang mereka lalui.


Intan pasrah. Tangannya refleks melingkar di leher Zein. Kemudian Zein pun langsung menggendongnya, hingga kaki Intan melingkar di pinggangnya.


Zein menahan tubuh Intan dengan menggenggam kedua bumper belakangnya. Lalu ia berjalan ke kamar untuk melengkapi ungkapan cintanya.


Semakin lama, pagutan itu semakin menuntut. ******* yang awalnya lembut, kini berubah menjadi ******* yang liar. Akhirnya mereka pun mengungkapkan cinta dengan tindakan saling memuaskan.


Pagi itu mereka mandi keringat di dalam kamar. Tak peduli meski matahari semakin tinggi, mereka tenggelam dalam cinta yang panas.


Intan bahkan lupa bahwa dirinya harus dinas. Ia terlalu bahagia telah medapatkan pengakuan dari suaminya itu.


Sementara itu, Bian yang tadi datang ke klinik merasa khawatir karena Intan tidak ada di sana. "Ke mana dia?" gumam Bian. "Apa dia sakit?" tanyanya.


Akhirnya bian yang memang sedang bebas tugas itu pun mendatangi rumah dinas Intan. Sebab, sejak pagi tadi ia tidak melihat wanita pujaannya itu.


"Semoga dia baik-baik saja," gumam Bian. Ia sangat bersemangat ingin menemui Intan di rumahnya. Seandainya Intan sakit pun Bian akan merawatnya dengan senang hati.


Bian tersenyum saat melihat rumah dinas Intan. Ia pun menghampiri rumah itu dan mendekat ke pintunya.


Namun, saat Bian hendak mengetuk pintu rumah Intan, ia mendengar suara yang meresahkan.


"Ampun, Mas. Cukup!" ucap Intan dengan suara mendesah.


"Ini belum cukup. Aku gak akan kasih kamu ampun. Ini hukuman buat kamu," sahut seorang pria.


Bahkan Bian pun mendengar Intan merintih sehingga ia berpikiran macam-macam.


"Siapa yang berani menyakiti Intan?" gumam Bian, panik. Ia pun langsung menggedor pintu rumah tersebut.


Brug! Brug! Brug!


"Intan, apa kamu di dalam?" teriak Bian.


"Intan, buka pintunya!" ucapnya lagi.


Ia pikir Intan sedang disakiti oleh orang lain.


Intan dan Zein yang sedang bercinta pun terkesiap. "Siapa itu?" tanya Zein.

__ADS_1


"Tan, kalau pintunya gak dibuka, aku akan dobrak pintu ini!" ancam Bian.


Awalnya Zein kesal karena ada yang mengganggu kesenangannya. Namun kemudian ia menyeringai saat mengenali suara siapa itu.


"Tunggu sebentar ya, Sayang," ucap Zein sambil mengusap kepala Intan. Kemudian ia melepaskan tautan tubuh mereka dan mengambil handuk yang tadi Intan pakai.


Zein melilitkan handuk itu di pinggangnya, lalu dengan bangga berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.


Ceklek!


Bian yang hendak menggedor pintu itu lagi pun terperanjat saat melihat ada Zein dalam kondisi kurang pantas dilihat.


"Eh, Mas Bian. Ada apa cari istri saya?" tanya Zein tanpa dosa.


Bian terkejut bukan main. Ia tak menyangka ternyata Zein lah suami Intan. 'Jadi dia beneran udah nikah?' batin Bian.


Hatinya pun semakin perih kala melihat ada beberapa tanda merah di dada dan leher Zein. Apalagi ketika pandangannya turun. Masih sangat terlihat jelas bahwa ada sesuatu yang menonjol di bawah sana.


Zein memang sengaja tidak menyembunyikannya. Sebab ia ingin menunjukkan pada Bian bahwa Intan adalah miliknya.


Bian memejamkan mata. Mencerna apa yang sedang ia dengar tadi dan menyambungkannya dengan apa yang sedang ia lihat saat ini. Apalagi tubuh dan wajah Zein terlihat berkeringat.


"Eum ... itu, dokter Intan ...." Bian tercekat. Lidahnya terasa kelu.


"Istri saya baik-baik saja. Maaf jika ada suara-suara yang kurang nyaman. Maklumlah, namanya juga pasangan muda yang LDM-an. Jadi kalau ketemu agak menggebu-gebu," jelas Zein, santai.


Ia tidak mungkin langsung marah pada Bian. Sebab bagaimana pun Bian adalah anak dari pasien VVIP-nya. Apalagi hubungan keluarga mereka cukup baik.


Gluk!


Bian menelan saliva. Namun tenggorokkannya masih terasa seperti tercekik.


"J-jadi Prof ...?" tanya Bian sambil menoleh ke arah kamar.


"Iya, kami sudah menikah. Dan namanya pengantin baru, gak kuat pisah terlalu lama. Jadi saya bela-belain terbang jauh ke sini cuma untuk melepas rindu. Padahal baru pisah beberapa hari. Hehe," jelas Zein, tanpa dosa.


"O-oh, begitu," ucap Bian dengan suara bergetar. Ia terlihat seperti orang ling lung. Hatinya terkoyak kala menerima kenyataan pahit seperti yang ia hadapi saat ini.


"Jadi ada perlu apa Mas Bian datang ke sini?" tanya Zein sambil mengangkat kedua alisnya. Demi mempertahankan wanitanya, ia bahkan rela mempertaruhkan harga diri dengan bersikap memalukan seperti itu.


Namun Zein puas karena bisa menunjukkan pada Bian bahwa ialah yang telah memenangkan hati dan tubuh Intan.


"Eee-enggak, kok. Tadi kebetulan lewat. Saya pikir dokter Intan sakit karena tidak ada di klinik. Jadi saya datang ke sini untuk menjenguknya," jawab Bian.


"Oh, terima kasih. Tapi sebaiknya lain kali tidak perlu seperti itu. Tidak baik kan seorang bujangan mendatangi istri orang? Lagi pula saya yakin pasti masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan oleh Mas bian," sindir Zein.


"Iya, maaf. Saya tidak bermaksud seperti itu," jawab Bian, kikuk.


"Oke, kalau tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya masuk dulu. Maklum, lagi nanggung," sahut Zein. Lalu ia langsung menutup pintu dan menguncinya.


Lutut Bian terasa begitu lemas. Pikirannya kosong dan ia bingung hendak melakukan apa. Bian pun mematung untuk beberapa saat di depan pintu itu.


"Siapa, Mas?" tanya Intan.


"Orang gak penting. Ayo kita lanjut, Sayang!" sahut Zein. Kemudian ia pun melepas handuk dan melanjutkan permainannya kembali.


Zein sadar Bian masih ada di depan. Sehingga ia sengaja membuat Intan mendesah tak karuan. Ia ingin Bian benar-benar sadar bahwa dia sudah tidak bisa mengharapkan Intan lagi.


"Sayang, apa kamu cinta aku?" tanya Zein tanpa menghentikan permainannya.


"Tentu, Mas. Aku cinta kamu, cuma kamu yang ada di hatiku. Emhh, " sahut Intan sambil mendesah.


"Aku juga cinta kamu, Sayang. Jangan pernah nakal, hem!" pinta Zein.


"Gak akan, Mas. Tubuh dan hatiku hanya milik kamu," sahut Intan. Ia tidak sadar bahwa ada hati yang terluka di luar sana.


Seketika air mata Bian pun menetes. Ia merasa sangat hancur mendengar semua percakapan Intan dan Zein yang sebenarnya tidak pantas didengar itu.


Rumah tersebut hanyalah rumah sederhana. Sehingga tidak ada sistem pengedap saura. Tak heran jika Bian dapat mendengarnya dengan jelas. Sebab, lubang angin di atas jendela kamar itu pun terbuka.


Dengan kaki yang lemas, Bian pun meninggalkan rumah itu. Hatinya terasa hampa. Harapannya pun sirna. Wanita pujaannya kini telah dimiliki orang.


Sebagai pria yang berwibawa, Bian tidak mungkin mendekati Intan lagi setelah tahu bahwa ia memang sudah menikah.


"Bodoh sekali aku, kenapa aku tidak percaya saat dia mengatakan bahwa dirinya sudah menikah?" gumam Bian.


Ia meruntukki dirinya sendiri karena tidak mempercayai Intan.


Saat Bian sedang berjalan menuju ke barak, ia tak sengaja bertemu dengan seorang dokter yang baru saja datang ke tempat itu.


"Permisi," ucap dokter tersebut.


Bian yang sedang patah hati itu kesal karena diganggu. "Ya?" tanyanya, ketus.


Dokter itu mengerutkan keningnya saat menyadari sikap Bian sangat ketus."Mau tanya, klinik di desa ini ada di mana, ya?" tanya dokter itu.


"Di sebelah sana!" ucap Bian, ketus. Secara tidak langsung ia ingin menunjukkan pada dokter itu bahwa dirinya tidak ingin ditanya.


Dokter wanita tersebut pun kesal karena Bian seolah tidak menghargainya.


"Maaf kalau saya mengganggu Anda. Saya cuma nanya baik-baik karena di sini cuma ada Anda. Tapi gak nyangka, ternyata seorang aparat tidak ramah pada warga sipil," ucap dokter itu, kesal. Kemudian ia pergi.


Bian terkesiap. Ia sadar sikapnya kurang baik. Namun Bian tidak menyangka dirinya akan disemprot oleh wanita muda itu.

__ADS_1


"Siapa dia? Berani sekali membentakku seperti itu?" gumam Bian, heran.


__ADS_2