
"Sabar ya, Dok. Dia emang begitu," ucap suster saat dokter kepala itu pergi.
"Gak apa-apa kok, Sus. Aku juga udah gak kaget, hehe," jawab Intan. Kemudian ia lanjut membahas pekerjaannya lagi.
"Gimana, tadi ada pasien darurat lagi, gak?" tanya Intan sambil melihat laporan.
"Gak ada kok, Dok. Yang tadi observasi juga sebagian ada yang udah pulang. Tinggal pasien rawat inap lagi nunggu kamar ready," jawab suster.
"Ooh, syukurlah kalau begitu. Berarti hari ini gak terlalu penuh, hehe," sahut Intan sambil mengusap perutnya.
"Aku kok baru sadar ya kalau penampilan dokter Intan ini berubah," ucap suster.
"Oya?" tanya Intan sambil tersenyum. Saat ini ia mengenakan hijab berwarna mustard dan rok rempel dengan warna senada.
"Iya. Dulu dokter gak pake hijab, kan?" tanya suster itu.
"Hehehe, iya."
"Wah, alhamdulillah ... jadi makin anggun dan cantik, Dok. Tapi maaf ya, Dok. Kayaknya sekarang dokter agak cubby. Tapi malah makin cantik, lho," ucap suster itu, hati-hati.
Intan pun tersenyum. "Maklumlah, namanya juga lagi hamil," jawab Intan, kelepasan. Kemudian ia langsung terkesiap.
"H-hamil?" tanya suster itu.
"Hehehe, iya. Aku udah nikah pas baru selesai koas dua bulan lalu," jawab Intan.
"MasyaaAllah ... kenapa gak ngundang-ngundang, Dok?" tanya Suster itu antusias.
"Sstt! Jangan rame dulu, ya. Gak enak kalau ada yang denger. Aku kan masih magang. Nanti pasti ngundang, kok. Emang resepsinya belum, insyaaAllah bulan depan," jawab Intan.
"Oalah ... selamat ya, Dok. Aku ikut seneng dengernya. Kira-kira cowok mana nih yang beruntung bisa dapetin dokter cantik dan baik ini?" tanya Suster itu lagi.
"Hehehe, orang deket, kok," jawab Intan sambil tersenyum.
"Hah, siapa?" Suster itu semakin penasaran.
"Ada, deh. Nanti kamu juga tau," sahut Intan.
"Iiih, dokter ini bikin aku penasaran aja, Deh! Siapa, sih? Jangan-jangan dokter di sini juga, ya?" tanya Suster.
Intan hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Wah, kayaknya bener, nih. Siapa, ya? Duh, siapa sih dokter cowok yang masih single di sini? Banyak banget. Ada dokter Dimas, dokter Andra, dokter ... duh aku gak bisa nebak," ucap suster itu.
"Ya udah ngapain ditebak. Nanti juga tau. Tunggu aja undangannya!" jawab Intan.
"Ya ampun. Ini dokter yang nikah tapi aku yang deg-degan, lho. Pasti ini cinlok, ya? Duh, senengnya bisa cinta lokasi. Gimana sensasinya, Dok?" tanya suster itu.
"Sensasi apaan, sih? Gak ada sensasi apa-apa."
"Lho, bukan itu. Maksudnya perasaannya gimana cinta lokasi sampe nikah gitu, Dok," timpal suster yang lain.
Kebetulan saat itu ada beberapa suster di sana.
"Ya gak gimana-gimana. Biasa aja," jawab Intan. Sebab dirinya memang bukan menikah karena cinta lokasi.
"Aah, dokter mah gak seru, deh. Bikin penasaran aja!" Mereka kecewa karena Intan tidak mau bercerita.
"Ngapain sih penasaran? Gak ada yang penting juga. Namanya orang nikah ya sama aja kayak yang lain," jawab Intan.
"Ya tapi kan ini nikahnya beda. Karena cinta lokasi. Pasti pas ketemu tuh ada sensadi berdebar atau gimana gitu."
"Kata siapa? Jangan sok tau, deh!"
"Gak seru, ah!" Akhirnya suster pun pasrah.
Intan tidak sadar sejak tadi ada satu orang yang menguping tanpa berkomentar. Ia terlihat kurang suka pada Intan. Sehingga orang itu menyebarkan gossip bahwa Intan telah menikah dengan dokter di rumah sakit tersebut.
Gossip itu disebar di grup chat khusus para suster. Sehingga tidak ada dokter di sana.
__ADS_1
Akhirnya hebohlah satu rumah sakit mengetahui Intan sudah menikah. Namun mereka penasaran setengah mati, siapa suami Intan.
"Eh, beneran ini dokter Intan udah nikah?" tanya salah satu suster yang berjaga di poli.
"Iya, ini katanya brusan dokter Intan sendiri yang bilang. Kayaknya dia keceplosan. Terus sekarang malah udah hamil."
"Waahh, kenapa harus ditutupin, ya?"
"Itu dia. Katanya sih suaminya dokter di sini juga."
"Oya? Siapa?"
"Ini yang jadi pertanyaan. Kita semua penasaran siapa suaminya."
"Ada apa ini?" tanya Zein yang baru saja tiba di ruang tunggu poli.
"Hehehe ini, Prof ada gossip heboh," jawab salah satu suster.
"Itu lho, Prof. Katanya dokter Intan udah nikah," timpal yang lain. Mereka berani bicara dengan Zein karena hari ini mood Zein terlihat sedang sangat baik.
Sontak Zein langsung tersenyum. "Oya?" tanyanya. Pura-pura tidak tahu.
"Iya. Tapi kita semua penasaran. Siapa ya kira-kira yang beruntung jadi suaminya?"
Zein pun bangga disebut seperti itu.
"Gak mungkin dokter Dimas, kan?"
Sontak wajah Zein langsung kaku. Ia tidak suka karena istrinya digossipkan menikah dengan pria lain.
"Hus! Gak usah nebak-nebak! Tunggu aja info dari yang bersangkutan langsung!" ucap Zein. Kemudian ia berlalu masuk ke ruangannya.
"Eh, tumben Prof ikut ghibah?" tanya suster saat Zein sudah masuk ke ruangannya.
"Iya, lho. Biasanya juga lewat aja. Tadi pake senyum segala lagi."
"Wajar aja, sih. Dokter Intan kan lama juga kerja sama Prof."
Sementara itu Zein sedang kegirangan di dalam ruangannya. "Intan nih gimana, sih? Katanya mau dirahasiakan, tapi kok malah dia bocorkan sendiri?" gumam Zein. Kemudian ia mengirim pesan pada Intan.
Zein: Cie yang udah nikah.
Pesan terkirim.
Ting!
Intan yang sedang mengerjakan laporan itu mendengar ada notifikasi di ponselnya. Kemudian ia mengecek ponselnya itu.
Intan pun langsung tersenyum saat membaca pesan dari suaminya. Lalu ia membalas pesan tersebut.
Intan: Keceplosan, Mas.
Zein: Kalau mau keceplosan jangan nanggung-nanggung!
Zein: Sekalian kasih tau siapa suaminya.
Zein: Biar orang gak nebak-nebak. (emoticon memakai kacamata hitam)
Intan: Yeee, janganlah. Nanti misi aku gagal. (Emoticon menjulurkan lidah)
Zein: Tapi sayang, sepertinya mereka gak akan ada yang bisa nebak.
Intan: Ya iyalah. Siapa juga yang bakalan nyangka kalau suami aku itu Profesor galak.
Zein: Awas kamu, ya!
"Ehem! Cie ... lagi chattan sama siapa, tuh? Sampe senyum-senyum sendiri," ledek suster yang berdiri di depan meja Intan.
Intan pun langsung gelagapan. "Eh, enggak," sahut Intan malu. Kemudian ia menyimpan ponselnya.
__ADS_1
"Pasti lagi chattan sama suami ya, Dok?" goda suster itu lagi.
"Hus! Udah gak usah gossip," sahut Intan. Ia malu karena ketahuan.
Akhirnya mereka pun melanjutkan pekerjaan kembali.
"Dok, ada kecelakaan. Korbannya cukup banyak," ucap salah seorang perawat laki-laki yang baru saja masuk ke ruang IGD.
Mereka semua pun bersiap untuk menangani pasien-pasien tersebut.
Benar saja. Pasien yang masuk cukup banyak hingga ruangan IGD yang besar itu sangat penuh. Bahkan Intan bingung harus memeriksa yang mana dulu karena semuanya ingin didahulukan.
"Dok, yang ini dulu! Pasiennya kritis," ucap salah seorang perawat.
Intan pun hendak menuju ke pasien tersebut.
"Tapi kan saya duluan, Dok! Selesaikan satu-satu, baru yang lain!" Salah satu pasien marah.
"Iya, sebentar ya, Pak!" jawab Intan, sabar.
"Kamu tolong panggil dokter lain!" pinta Intan. Ia sangat gugup menghadapi pasien sebanyak itu. Apalagi ruangan tersebut begitu ramai. Ada yang menangis, berteriak, bahkan marah-marah.
Intan menggelengkan kepalanya karena merasa pusing. Meski tidak mengalami gejala kehamilan, tetapi ia yang sedang hamil muda itu cukup terpengaruh oleh kondisi tersebut.
"Astaghfirullah," gumam Intan. Ia berusaha menjaga kesadarannya dan tetap memeriksa pasiennya satu per satu.
Bahkan, jas putih dan pakaian yang Intan kenakan pun terkena darah. Ia sudah tidak peduli dengan kondisinya. Baginya yang terpenting saat ini adalah tetap bertahan agar bisa menangani semua pasiennya.
"Kamu ini becus gak, sih? Kenapa semua pasien di sini malah jadi terbengkalai begini?" bentak dokter kepala yang baru saja datang.
"Ini pasiennya sangat banyak, Dok. Tangan saya cuma ada dua," jawab Intan.
"Halah! Emang gak becus, gak usah banyak alasan!" dokter kepala itu tidak mau tahu.
Dalam kondisi seperti itu, Intan semakin pusing karena malah dimarahi. Hingga akhirnya kesadaran Intan pun hilang.
"Dok!" ucap salah seorang suster yang berdiri di samping Intan.
"Astaga, malah pingsan. Merepotkan saja!" ucap dokter tadi. Ia kesal karena Intan malah pingsan. Ia tak memiliki empati sedikit pun.
"Beliau sedang mengandung, Dok," ucap suster.
"Hah? Kok bisa?" tanya dokter itu. "Bagaimana bisa dokter yang sedang mengandung diterima magang di sini?" Dokter itu tidak pernah mau menerima dokter magang yang sedang mengandung.
Sebab menurutnya itu akan merepotkan. Sementara beban kerja dokter magang itu cukup berat.
"Ya sudah, kamu panggil dokter kandungan! Atau bawa ke polinya, sana!" ucap dokter itu, ketus.
"Baik, Dok."
Akhirnya Intan pun dibawa ke poli untuk ditangani oleh dokter kandungan.
"Kenapa, Sus?" tanya suster yang berpapasan dengan suster yang sedang mendorong Intan di brankar.
"Pingsan, Sus. Lagi hamil," jawab suster itu.
"Ooh."
Akhirnya kabar Intan pingsan pun kembali membuat heboh rumah sakit. Hingga berita itu terdengar ke telinga Zein.
"Prof, katanya dokter Intan pingsan," ucap suster yang sedang berdiri di samping meja Zein. Entah mengapa ia merasa Zein perlu mengetahui hal itu.
Deg!
Zein langsung menoleh sambil melotot. "Sekarang dia di mana?" tanyanya.
"Ada di poli OBGyn, P-rof," sahut suster itu. Ia cukup kaget melihat reaksi Zein.
Tanpa berkata-kata, Zein langsung berdiri dan berlari menuju poli tersebut.
__ADS_1
"Lho, Prof kenapa?" gumam suster itu, heran.