Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
41. Rahasia Zein


__ADS_3

Intan terperanjat saat namanya disebut. Ia tidak menyangka wanita itu akan mengenalinya. 'Haduh, gimana ini?' batin Intan. Ia sangat panik karena belum mau jika dokter itu mengetahui hubungan pernikahannya dengan Zein.


Entah mengapa sampai saat ini Intan masih belum siap untuk mempublikasikan pernikahannya. Mungkin ia malu karena pria yang menikahinya adalah orang yang selalu memarahinya.


Sementara itu, meski terkejut, Zein yang sudah tertangkap basah pun pasrah.


"Sayang, sini!" panggil Zein sambil menarik tangan Intan. Seperti janjinya, ia akan bersikap romantis di hadapan orang lain.


Deg!


'Dih, malah manggil sayang. Rese banget, sih?' batin Intan. Namun akhirnya mau tidak mau Intan pun balik badan.


"Eh, dokter. Apa kabar?" sapa Intan. Ia terlihat sangat gugup.


Saat Intan balik badan, Zein langsung merangkul pinggangnya. Seolah ingin pamer bahwa wanita itu adalah miliknya.


Dokter wanita tadi pun sempat terkejut kala mendengar Zein memanggil Intan dengan sebutan sayang. Apalagi saat ini tangan Zein melingkar di pinggang istrinya. ‘Hah? Sejak kapan mereka berhubungan?’ batinnya.


"O'oh ... kalian pacaran?" tanya dokter itu, gugup. Ia tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya itu.


"Tidak," jawab Zein.


"Oya?" Dokter itu tidak percaya begitu saja.


"Kami sudah menikah," ucap Zein, yakin.


Intan langsung menoleh ke arah Zein dan menatapnya. Sementara dokter tadi terbelalak.


"M-menikah, Prof?" tanyanya, seolah tak percaya. Menurutnya sangat mustahil Zein menikahi Intan. Sebab ia tahu betul bahwa selama ini Zein sering memarahinya.


"Ya, Intan istri saya," ucap Zein, bangga.


Dokter wanita tadi menoleh ke arah Intan. Seolah tak percaya bahwa gadis yang pernah dibentak oleh Zein di ruangan operasi itu adalah istrinya.


Saat itu ia ada di sana karena ikut operasi. "Ooohh ... kok gak ngundang-ngundang, Prof?" tanya dokter itu. Ia berusaha bersikap sesantai mungkin.


"Resepsinya belum. Berhubung kami berdua sibuk, jadi kami sepakat untuk menundanya," jawab Zein.


Dokter itu tersenyum getir.


"Tapi saya harap tolong kamu jangan mengatakan hal ini pada siapa pun. Biar kami yang mengumumkannya sendiri!" pinta Zein.


"Oh baik, Prof. Saya tidak mungkin berani mengatakannya pada orang lain jika Prof tidak mengizinkan," jawab dokter itu.


"Oke, kalau begitu kami duluan," ucap Zein. Kemudian ia pun mengajak Intan pergi karena tahu istrinya itu tidak nyaman.


'Ya Tuhan, ini berita besar banget. Mimpi apa aku, mereka bisa nikah? Aku ingat betul bagaimana dulu Prof membentaknya di hadapan banyak orang. Kok bisa nikah, sih?" gumam dokter itu sambil memperhatiakn mereka.


Namun, Zein yang merasa masih dilihati itu masih mempertahankan kemesraannya. Ia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Intan dan berbisik.


"Tetaplah bersikap mesra. Dia masih memperhatikan kita," bisik Zein. Lalu ia mengecup pipi Intan. Zein memanfaatkan momen tersebut.


Intan langsung menoleh ke arah Zein. "Apa harus disun juga, Mas?" Intan protes.


"Untuk lebih meyakinkan," sahut Zein sambil melihat-lihat buah. Ia memang sangat licik. Tak heran bisa jadi profesor, otaknya sangat cerdas. Selalu bisa melihat peluang.


"Tapi kan ini tempat umum, Mas," keluh Intan. Ia selalu kesal jika Zein bersikap seperti itu di tempat umum.


"Masalahnya di mana? Kan cuma sun. Lagian kita sudah halal," jawab Zein, santai.


Sementara itu dokter tadi akhirnya percaya setelah melihat keromantisan mereka. Sebab, ia tidak mendengar apa yang mereka ucapkan.


"Mimpi apa aku bisa lihat Prof seromantis itu. Dari sikapnya sih kayak dia cinta banget sama dokter Intan," gumam dokter wanita itu. Akhirnya ia pun pergi.


Intan menoleh ke arah dokter tadi. "Udah gak ada, Mas," ucapnya. Ia pun segera melepaskan diri dari Zein.


"Kayaknya kamu gak betah banget deket-deket sama saya, ya? Padahal kalau lagi begitu, maunya nempel terus," gumam Zein.


Intan langsung mendelik. "Itu kan beda momen, Mas. Lagian ini tempat umum. Mas kenapa sih kalau lagi bahas sesuatu, ujungnya pasti ke sana?" tanya Intan, kesal.


"Karena kamu gak pernah mau ngaku," ledek Zein, santai.

__ADS_1


"Cih! Yang ada tuh sebaliknya," timpal Intan, kesal. Ia jadi ingat bahwa sampai saat ini suaminya masih belum mau mengakui perasaannya.


Zein menoleh ke arah Intan. "Sebaliknya gimana?" tanyanya. Ia merasa tidak perlu ada yang diakui lagi. Sebab ia sudah menunjukkan semuanya dengan sikap.


"Udah lupain aja!" ucap Intan, ketus. Ia kesal karena Zein tidak peka. Intan ingin Zein tahu tanpa harus ia beri tahu.


"Aneh," gumam Zein, sebal.


Beberapa saat kemudian, mereka pun membayar buah tersebut. Lalu membawanya ke mobil dan meninggalkan tempat itu.


Sesampainya di rumah Muh, Zein kembali bersikap mesra pada Intan.


Tint-tong!


Zein menekan bel rumah mamahnya. Lalu mereka menunggu di depan pintu.


Tak lama kemudian, pintu rumah tersebut sudah dibuka oleh Rani dari dalam. Ia memang sudah standby menunggu mereka datang.


"Halo ... akhirnya menantu kesayangan mamah datang juga," sambut Rani sambil memeluk Intan.


"Terima kasih, Mah," jawab Intan. Lalu mereka pun masuk ke rumah tersebut.


"Zein, lebih baik kamu temenin papahmu di taman, sana!" usir Rani. Saat ini ia hanya ingin berbincang berdua dengan Intan.


"Oke," sahut Zein. Ia membiarkan mereka berbincang berdua agar lebih akrab.


Setelah Zein pergi, Rani pun langsung mengintrogasi Intan.


"Sayang, gimana? Mamah lihat sepertinya hubungan kalian semakin hangat," tanya Rani.


Bukan tanpa alasan ia ingin berbincang dengan Intan. Minggu kemarin Muh menceritakan perihal pertemuannya dengan Intan di ruangan Zein. Bahkan Muh menceritakan kecurigaannya dan itu membuat Rani bahagia.


"Alhamdulillah, Mah," jawab Intan.


"Syukurlah kalau begitu. Mamah ikut seneng dengernya. Memang yang namanya perjodohan itu tidak selamanya buruk, Sayang. Buktinya kalian sekarang bisa saling menyayangi satu sama lain. Semoga hubungan kalian langgeng terus dan bisa segera kasih cucu buat kami, ya?" pinta Rani.


Intan pun tersenyumm getir. "Aamiin," sahutnya.


Intan terkesiap saat ditanya seperti itu. Ia tak menyangka mertuanya akan menanyakan hal tersebut. "Hehehe." Intan hanya tersenyum. Bingung hendak menjawab apa.


"Maaf ya, bukannya Mamah mau ikut campur, Mamah cuma mau pesen sama kamu. Kamu itu harus sabar-sabar menghadapi suami. Maklumin aja kalau dia sering minta atau terlalu agresif. Namanya juga udah kelamaan jomblo, hehe," jelas Rani.


Ia khawatir Intan kewalahan menghadapi sikap Zein. Menurutnya, sampai Zein melakukan hal itu di rumah sakit, artinya keinginan Zein dalam hal tersebut sangat besar.


"Iya, gak apa-apa kok, Mah," sahut Intan.


"Kamu tenang aja! Nanti juga semakin tua, semakin berkurang intensitasnya. Namanya juga pengantin baru, kan. Tapi Mamah mau tanya satu hal. Selama ini dia bersikap lembut kan sama kamu? Zein gak pernah main kasar kan, Sayang?" tanya Lena sambil tersenyum.


Ia khawatir menantu kesayangannya itu dieksploitasi oleh Zein.


Intan terkesiap saat ditanya seperti itu oleh Rani. "Euh, enggak kok, Mah. Masa kasar sama istri sendiri?" sahut Intan, kikuk.


Ia tidak mungkin mengadu pada Rani. Khawatir jika Zein tahu maka dirinya pula yang akan disalahkan.


"Syukurlah kalau begitu. Soalnya selama ini kan kamu tahu sendiri Zein itu agak sulit ramah sama orang baru. Mamah kira dia bakalan jutek atau galakin kamu. Bagus deh kalau enggak," jawab Rani. Ia senang karena Zein ramah pada Intan.


Intan tersenyum getir karena sebenarnya tebakkan Rani memang benar. Selama ini Zein selalu jutek padanya. Meski sebenarnya akhir-akhir ini Zein sudah cukup ramah dibandingkan sebelumnya.


"Tan, Mamah cuma mau ngasih tau. Mungkin Zein ini bukan tipe orang yang pandai mengungkapkan perasaan. Dari dulu dia selalu begitu. Tapi dia bisa menunjukkannya dengan tindakan. Jadi, mamah harap kalau misalnya Zein belum bisa ngasih kalimat manis atau kata-kata cinta ke kamu, mohon dimaklumi," pinta Rani.


"Bukan berarti dia gak cinta, dia cuma sulit untuk mengatakannya. Banyak kok pria yang seperti itu. Lebih menunjukkan dengan sikap dari pada ucapan. Menurut kamu, sikap Zein selama ini bagaimana? Apa dia perhatian sama kamu?" tanya Rani lagi.


Bukan bermaksud kepo, ia hanya merasa perlu bertanggung jawab atas pernikahan anaknya. Sebab merekalah yang telah menjodohkan Intan dan Zein.


Intan tersenyum. "Jujur ya, Mah. Awalnya emang aku berharap suamiku itu bisa jujur dan mengatakan perasaannya. Tapi makin ke sini aku makin sadar. Mungkin aku tidak bisa terlalu menuntut karena dia sudah menunjukkannya dengan sikap," jawabnya.


Rani senang karena Intan bisa memahaminya. "Syukurlah kalau begitu. Mamah ikut senang mendengarnya. Tapi sebenarnya ada rahasia yang mamah pingin kasih tau sama kamu," ucap Rani.


Wajah Intan berubah jadi kaku. Ia khawatir rahasia ini ada hubungan dengan mantan kekasih Zein. "Apa, Mah?" tanya Intan, penasaran.


Rani tersenyum. "Kamu kenapa jadi tegang begitu, sih? Santai aja, Tan! Lagian ini rahasianya so sweet, kok," sahut Rani.

__ADS_1


"Hehehe, maaf. Aku cuma penasaran, Mah," jawab Intan malu-malu.


"Jadi gini ... kamu inget gak waktu Mamah minta pernikahan kalian dimajuin?" tanya Rani.


"Iya inget. Kenapa, Mah?" Intan balik bertanya. Jelas saja ia mengingatnya. Momen itu merupakan kejutan yang tak akan pernah Intan lupakan seumur hidupnya.


"Jadi sebenarnya kami sengaja ingin kalian menikah secepatnya karena Zein memaksa kami untuk melamar kamu dalam waktu dekat," ujar Rani.


Intan ternganga mendengarnya. "Oya? Bukannya waktu itu Om dan Tante yang minta buru-buru?" tanyanya. Sepengetahuan Intan, Zein ingin menikahinya karena desakkan orang tuanya.


Rani menggelengkan kepala. "Meski kami yang menjodohkan kalian, kami berencana ingin melamar kamu setelah kamu ujian nanti. Tapi ternyata Zein minta dimajukan dalam waktu yang sangat dekat. Awalnya kami sempat menolak. Namun Zein tetap memaksa. Ia mengeluarkan seribu alasan agar kami mau menyetujuinya."


"Setelah kami pikir-pikir dan melihat bagaimana sikap Zein ke kamu, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menikahkan kalian saat itu juga. Sebab kami tidak ingin Zein khilaf. Maklumlah, namanya juga bujangan hampir expierd," jelas Rani panjang kali lebar.


Ia pun tersenyum saat mencibir anaknya itu.


Seketika wajah Intan merona. Ia tak menyangka ternyata Zein sudah mencintainya sejak saat itu.


"Pasti kamu gak tau kan kalau dulu Zein udah naksir kamu?" goda Rani.


"Hehehe, enggak, Mah," jawab Intan.


"Hem ... seandainya kamu tau, dia itu cinta banget sama kamu, Tan. Jadi dia tuh gak mau kamu ditikung sama cowok lain. Makanya pingin buru-buru nikahin kamu," ucap Rani, bangga.


Hati Intan berdesir mendengarnya. Ia merasa spesial karena Zein sampai takut dirinya diambil pria lain.


"Masa sih, Mah?" tanya Intan. Ia masih tidak percaya suaminya seperti itu.


"Iya, Sayang. Apalagi sebentar lagi kamu mau magang, kan. Dia takut kamu dapet tempat yang jauh terus kepincut sama cowok lain, hihihi." Rani begitu bersemangat membongkar rahasia anaknya itu. Ia ingin Intan senang jika mendengar info tersebut. Sebab Rani khawatir Intan masih meragukan perasaan Zein.


Sementara itu, di tempat lain Zein dan Muh sedang bersantai di sebuah gazebo dengan menyelupkan kakinya ke kolam.


"Gimana hubungan kalian?" tanya Muh.


"Gimana apanya, Pah?" Zein balik bertanya.


"Halah, kamu nih suka pura-pura. Emangnya kamu pikir papamu ini gak tau kalau sampai sekarang kamu belum bisa mengungkapkan cinta pada Intan?" skak Muh.


Zein terkesiap. Ia tak menyangka Muh bisa mengetahui hal itu.


"Lho, Papah tau dari mana?" tanya Zein. Ia malah mengaku secara tidak langsung.


Muh tersenyum. Padahal ia hanya memancing Zein dan ternyata tebakannya benar. "Papah ini kan sudah berpengalaman, Zein. Hanya melihat hal seperti itu, tentu saja Papah tahu," sahut Muh, bangga. Padahal ia baru tahu barusan.


"Iya ... aku tahu Papah memang pengalaman. Tapi gimana, Pah. Setiap mau ngomong itu rasanya lidahku kelu. Bahkan ini lebih menakutkan dari pada sidang promosi untuk jadi doktor," sahut Zein. Ia kesal pada dirinya sendiri.


"Payah kamu, nih! Gaya aja galak sama bawahan, tapi berhadapan sama istri sendiri takut," ledek Muh.


"Bukannya takut, Pah. Aku cuma belum siap. Entahlah, aku juga bingung kenapa sangat sulit mengatakannya," curhat Zein. Ia kesal karena diledek oleh papahnya.


"Belum siap apa, Zein? Belum siap nikah? Kan kamu yang waktu itu minta buru-buru nikah," ucap Muh. Mengingatkan bahwa pernikahan mereka terjadi memang atas keinginan Zein.


Ia tidak dapat menerima alsan Zein yang mengatakan belum siap.


"Ya iya sih, Pah. Tapi ya udahlah, nanti juga kalau waktunya tepat, aku bisa ngomong," sahut Zein, kesal.


"Kapan? Nunggu Intan dilirik sama orang?" tanya Muh.


Zein langsung menoleh ke arah papahnya. "Pah!" keluh Zein.


"Lho, memangnya kamu pikir dengan kalian menikah itu kamu bisa mengikat Intan secara penuh? Enggak, Zein! Kalau sikap kamu gak bisa bikin dia nyaman, dia bisa pergi kapan aja. Kamu harus tahu, wanita itu butuh kepastian. Mereka butuh yang namanya pengakuan untuk menyakinkan hati mereka agar tahu bahwa pria itu memang mencintainya," jelas Muh.


"Tapi kan aku sudah membuktikan dengan tindakan, Pah. Bahkan kami sering bercinta dan aku selalu memperlakukannya dengan lembut." Zein mencari pembenaran.


"Ya terserah, Papah hanya berusaha menjelaskan apa yang Papah tahu tentang wanita berdasarkan pengalaman membangun rumah tangga bersama Mamah. Kalau kamu nyaman dengan kondisi sekarang, silakan saja! Tapi jangan menyesal jika di perbatasan nanti Intan bisa tergoda oleh pria lain," ancam Muh.


Deg!


Zein sangat terkejut saat Papahnya tahu bahwa Intan akan dikirim ke perbatasan.


"P-Papah tau dari mana mengenai hal itu?" tanya Zein, gugup.

__ADS_1


__ADS_2