Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
61. Perhatian Penuh


__ADS_3

Mereka semua langsung menoleh ke arah pintu. Kemudian melihat ada Zein melintas di sana.


"Waduh, gimana kalau dokter Intan ngadu?" gumam salah seorang dokter.


"Ya mau gimana lagi? Terima nasib, lah," timpal dokter yang lain.


Akhirnya mereka semua cemas dan khawatir Zein akan memarahi mereka.


Padahal Zein datang ke sana hanya untuk menjemput istrinya. Berhubung pernikahan mereka sudah tidak ada yang perlu ditutupi lagi, Zein pun tidak sungkan menjemput Intan untuk makan siang bersama.


"Sayang, hari ini kamu mau makan apa?" tanya Zein saat sudah berada di hadapan Intan.


Semua yang ada di dalam ruangan tadi pun menguping. Sebab mereka takut Intan akan menceritakan hal yang tadi.


"Hem ... aku lagi males makan, Mas," jawab Intan.


Zein menangkup sebelah pipi Intan. "Kok males, sih? Jangan males, dong. Kasihan janinnya nanti. Dia kan butuh asupan juga," ucap Zein, lembut.


"Tapi gimana kalau gak selera? Dipaksain juga malah mual nanti," ucap Intan, manja.


"Kalau disuapin, mau gak?" tanya Zein.


Intan tersenyum. "Tapi pake tangan langsung, ya? Jangan pake sendok," ucap Intan. Ia jadi ingat bagaimana nikmatnya ketika disuapi oleh suaminya itu.


"Siap, Nyonya! Yang penting kamu mau makan. Jangankan nyuapin pake tangan, pake bibir aja aku siap," sahut Zein. Ia berani bicara seperti itu karena Zein pikir di sana sepi. Ia tidak sadar ada beberapa orang di dalam ruangan administrasi.


"Ya udah, yuk!" sahut Intan. Akhirnya mereka pun meninggalkan ruangan itu menuju ke ruangan pribadi Zein.


Seperti biasa, Zein tidak betah jika berjalan masing-masing. Sehingga ia selalu menggandeng tangan Intan.


"Mas, ini kan di rumah sakit, bisa gak jalannya gak usah gandengan gini?" Seperti biasa pula Intan selalu protes.


"Hem ... bisa gak kamu gak usah protes?" sahut Zein.


"Hiih, kamu, nih! Nyebelin deh. Aku kan malu, tau," keluh Intan.


Zein langsung meghentikan langkahnya. Kemudian ia menoleh ke arah Intan. "Kamu malu nikah sama aku?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Eh, bukan gitu! Aku malu karena gandengan tangan. Ya gak enak aja karena ini kan lingkungan kerja," jawab Intan.


"Masalahnya di mana? Kan kita cuma gandengan tangan. Kecuali kalau kita kissing, baru kamu boleh malu," ucap Zein sambil mendekatkan wajahnya ke Intan.


"Maass!" ucap Intan sambil mendorong Zein.


"Makanya jangan banyak protes. Nanti aku sun di depan umum. Mau?" ancam Zein.


"Enak aja!" Intan langsung menjebik.


Mereka tidak sadar orang-orang yang ada di ruangan tadi sedang mengintip dari kejauhan.


"Kayaknya Prof cinta banget sama istrinya, ya?" gumam salah seorang suster.


"Iya, kalian denger sendiri kan tadi gimana obrolan mereka? Beruntung banget dia bisa nikah sama Prof. Galak ke orang lain tapi so sweet sama istrinya," timpal salah seorang dokter.


"Gak heran sih kalau dibelain mati-matian misalnya ada yang ganggu istrinya. Wong kelihatannya cinta mati begiu."


"Terus kita gimana, dong?"


"Ya berdoa aja semoga dokter Intan gak ngadu."


"Duh, aku gak mau ghibahin dokter Intan lagi, ah. Horor. Bahaya banget kalau sampe dia ngadu."


Mereka akhirnya tidak berani untuk mengusik Intan lagi. Namun Intan sudah terlanjur tidak respect terhadap mereka. Sehingga, seandainya mereka baik pada Intan pun, wanita itu tidak akan mau dekat dengan mereka. Seperlunya saja.


"Siang, Prof!" sapa para dokter dan perawat yang berpapasan dengan mereka.


"Gini nih gak enaknya jalan sama kamu. Banyak banget yang nyapa. Aku jadi gak nyaman," ucap Intan.


"Ya itu kan emang udah dari dulu, Sayang. Lagian, sekarang ini kalau kamu jalan sendirian, emang gak ada yang nyapa?" ledek Zein.


Intan langsung mengerucutkan bibinya. "Iya, sekarang aku jadi merasa gak punya waktu buat menyendiri, deh. Padahal dulu enak banget semua orang cuek sama aku. Ya paling beberapa orang yang kenal aja yang nyapa," keluh Intan.


"Itu udah risiko kamu jadi istri aku. Terus kamu nyesel?" tanya Zein.


Intan tersenyum. "Ya enggaklah. Masa nyesel sih punya suami galak tapi perhatian kayak kamu?" ledek Intan. Saat ini mereka sedang ada di lift berdua.


"Apa kamu bilang? Galak?" Zein sebal karena Intan selalu menyematkan label itu. Akhirnya ia pun menggelitik Intan.


"Hihihi, ampun, Mas! Iya enggak galak kok. Mas kan baik banget sama aku," ucap Intan sambil menghindari kelitikan Zein.


Mereka malah asik bercanda di lift tanpa sadar pintu liftnya terbuka. Sehingga mereka menjadi tontonan semua orang yang ada di depan lift. Bahkan orang-orang itu tidak berani untuk masuk.


Apalagi ketika Zein mendekatkan wajahnya ke wajah Intan. Seseorang langsung menekan tombol agar pintu lift tersebut menutup kembali.


"Huuh! Gitu ya kalau pengantin baru?" gumam salah seorang dokter yang ada di luar lift.


"Ya ampun, so sweet banget, sih? Aku jadi pingin nikah, deh."


"Gak nyangka Prof bisa manis kayak gitu, ya?"


"Iya, kirain bakalan kaku. Padahal kan kalau sama kita, doi galak banget."


"Yee, emang kamu siapa pingin dibaikin sama Prof?"


"Hehehe, iya juga, ya. Ya udah terima nasib aja, deh."

__ADS_1


***


Beberapa hari kemudian ....


Belakangan ini Intan sedang tidak berselera makan. Sehingga tubuhnya lemas. Sebab ia kekurangan asupan gizi. Bahkan disuapi oleh suaminya pun Intan tetap tidak bisa menelan makanan itu.


"Dokter Intan kok pucet banget, sih?" tanya salah seorang suster saat mereka sedang mengerjakan laporan.


"Oya?" sahut Intan. Ia seolah tidak merasa bahwa dirinya sedang pucat.


"Iya. Kayaknya dokter harus istirahat, deh," ucap suster itu.


"Tapi ini nanggung sedikit lagi. Kalau ini udah selesai, aku istirahat, deh," sahut Intan. Ia bisa berbincang dengan suster itu karena Intan tahu dia salah satu suster yang baik. Sehingga Intan tidak menjaga jarak dengannya.


"Kalau udah lemas, jangan dipaksa ya, Dok! Takutnya dokter kenapa-kenapa. Nanti Prof bisa marah, hehe," ucap suster itu. Ia tahu betul bahwa Zein cinta mati pada Intan.


"Iya, tenang aja! Aku gak apa-apa, kok," sahut Intan. Padahal saat ini kepalanya sudah mulai pusing.


"Syukurlah kalau begitu. Semoga dokter sehat selalu, ya. Gimana kandungannya, ada keluhan gak?" tanya suster itu.


"Alhamdulillah gak ada. Malah sampe sekarang aku belum ngidam. Mood juga masih oke," sahut Intan.


"Wah, jangan-jangan anaknya nanti strong kayak ayahnya, nih," ucap suster itu sambil mengusap perut Intan.


Intan pun tersenyum. "Hehehe, aamiin," sahutnya. Setelah selesai mengerjakan laporan, Intan pun pamit karena sudah mulai merasa tidak enak badan.


"Sus, kayaknya aku harus istirahat. Suster gak apa-apa kan kalau aku tinggal?" tanya Intan.


"Gak apa-apa, Dok. Istirahat aja dulu! Jangan mikirin kerjaan. Kan masih ada dokter yang lain," jawab suster itu.


"Terima kasih, ya," ucap Intan. Kemudian ia beranjak meninggalkan ruangan tersebut.


"Kok pusing, ya?" gumam Intan sambil memijat kepalanya.


Ia pun mulai tidak konsen karena merasa pusing. Intan berjalan sambil berpegangan pada dinding.


Dari kejauhan, ia melihat ada suaminya sedang berbincang dengan dokter lain. Ia pun senang dan ingin menghampiri Zein.


Akan tetapi, saat melihat ada banyak orang, Intan semakin pusing dan tiba-tiba kesadarannya pun hilang.


"Eh, dokter Intan!" ucap suster yang melihat Intan pingsan.


Sontak Zein pun langsung menoleh ke arahnya. Kemudian ia berlari ke arah Intan tanpa menghiraukan dokter yang sedang berbincang dengannya.


Saat ada seorang pria yang ingin menolong Intan, Zein langsung berteriak. "Jangan sentuh istri saya!"


Sontak saja pria yang hendak menolong Intan pun langsung mundur. Beruntung tadi Intan sempat ditangkap oleh perawat wanita agar tidak terjatuh. Namun perawat itu tidak kuat jika harus menggendongnya.


Zein berlari kecil ke arah istrinya. Kemudian ia berjongkok di samping Intan dan memeriksa denyut nadinya. Setelah memastikan bahwa nadi Intan masih berdenyut, ia langsung menggendongnya.


Salah satu suster berlari memanggil dokter kandungan. Suster yang lain mengantar Zein dan membukakan pintu ruangan yang dituju oleh Zein.


Tiba di ruangan, Zein langsung merebahkan Intan di atas tempat tidur. Kemudian ia segera memeriksa kondisi istrinya itu menggunakan stetoskop yang ada di lehernya. Beruntung ia baru saja selesai praktek di poli. Sehingga ia masih membawa alat medis.


"Syukurlah, seluruh organ vitalnya aman. Tapi kenapa kamu pucat sekali, Sayang," gumam Zein sambil mengusap kepala Intan. Ia menunggu dokter kandungan datang.


"Mungkin dia pingsan karena susah makan. Akhir-akhir ini kamu sulit sekali jika disuruh makan. Ya Tuhan, aku merasa berdosa sekali jika sampai istriku kekurangan nutrisi," gumam Zein. Kemudian ia mengecup kening istrinya itu.


Tak lama kemudian, dokter kandungan datang bersama dengan bidan yang mendorong satu set alat USG.


"Permisi, Prof," ucap dokter itu. Saat mendengar bahwa istri Prof pingsan, dokter itu pun langsung bergegas menuju ruangan tersebut. Sebab ia tidak ingin Zein marah jika menunggunya terlalu lama.


"Dok, akhir-akhir ini istri saya agak sulit makan. Seandainya makan pun hanya beberapa suap saja. Apakah mungkin hal itu yang menyebabkan dia pingsan?" tanya Zein sambil berdiri.


"Bisa jadi, Prof. Memang ada beberapa wanita hamil yang mengalami kondisi seperti itu dan terpaksa harus dirawat agar bisa mendapatkan nutrisi dari infusan," jelas dokter kandungan.


Ia pun langsung memeriksa kondisi Intan dan melakukan USG terhadapnya.


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Zein.


"Alhamdulillah janinnya sehat, Prof. Mari kita dengarkan detak jantungnya!" ucap dokter kandungan.


Ia pun memfokuskan ke bagian jantung dan meningkatkan volume dari speaker alat tersebut.


Deg-deg! Deg-deg! Deg-deg!


Seketika tubuh Zein meremang. Ia terharu kala mendengar detak jantung anaknya. Matanya pun berkaca-kaca. "MasyaaAllah," lirih Zein.


"Lalu bagaimana dengan kondisi ibunya, Dok?" tanya Zein dengan suara bergetar.


"Benar apa yang Prof katakan tadi. Dokter Intan pingsan karena kekurangan nutrisi. Jadi harus mendapatkan perawatan khusus agar bisa pulih kembali. Karena kurang makan, maka ibunya akan lemas karena janin tetap menyerap cadangan nutrisi yang ada di dalam tubuh ibunya."


"Beruntung belum sampai dehidrasi. Mungkin hal ini pun terjadi karena kelelahan atau stress. Sehingga dokter Intan lebih mudah pingsan. Jika sudah sampai dehidrasi, itu akan berbahaya bagi janin," jelas dokter panjang kali lebar.


"Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya ya, Dok!" pinta Zein.


"Pasti, Prof. Anda tidak perlu khawatir karena kondisinya tidak membahayakan. Dokter Intan hanya perlu istirahat dan mendapat asupan nutrisi yang cukup," jawab dokter tersebut.


"Baikalh kalau begitu. Sus, tolong siapkan suite room untuk istri saya!" pinta Zein. Pada suster yang tadi memanggil dokter kandungan itu.


Zein selalu menginginkan yang terbaik untuk istrinya. Sehingga ia meminta ruangan yang kelasnya paling tinggi di rumah sakit itu. Apalagi itu adalah rumah sakit miliknya.


"Baik, Prof," jawab suster itu. Ia pun meninggalkan ruangan tersebut agar bisa menyiapkan ruangan untuk Intan.


Sementara itu, Bidan menyiapkan alat infus dan beberapa cairan nutrisi untuk Intan. Setelah itu ia memasang infusan tersebut di tangan Intan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, suster yang tadi menyiapkan ruangan untuk Intan pun kembali. "Permisi ... ruangannya sudah siap, Prof," ucap suster tersebut.


"Oke," sahut Zein. Lalu mereka pun memindahkan Intan ke ruangan itu.


"Baiklah, mari kita pindahkan dokter Intan sekarang!" ajak dokter kandungan.


Mereka pun mendorong tempat tidur Intan dan membawanya ke suite room yang diminta oleh Zein tadi. Sebelum keluar ruangan, Zein menutupi tubuh Intan dengan selimut agar tidak ada auratnya yang terlihat. Padahal saat ini istrinya itu mengenakan pakaian yang tertutup.


Zein terus mendampingi istrinya. Ia berjalan di samping Intan sambil menggenggam tangan istrinya tersebut.


Saat sedang mengantar Intan ke ruangannya, tiba-tiba Rani muncul. Kebetulan tadi ia sedang di ruangan Muh. Sehingga Rani langsung berlari saat mengetahui menantunya itu pingsan.


"Zein, bagaimana kondisi Intan?" tanya Rani, cemas.


"Alhamdulillah kondisinya baik, Mah. Intan hanya perlu istirahat ...." Zein pun menjelaskan kondisi istrinya tersebut.


"Ya Tuhan, kasihan sekali menantu Mamah harus mengalami hal seperti ini," lirih Rani sambil menatap Intan.


"Mamah jangan khawatir! Intan baik-baik saja. Kedepannya aku akan mengusahakan agar Intan mau makan," jawab Zein.


"Iya, Zein. Memang kadang ada wanita hamil yang kehilangan selera makan. Padahal biasanya Intan tidak begitu, ya? Sekarang kamu masih mabok gak, sih?" tanya Rani.


Suster yang ada di sana pun langsung menoleh. Mereka pikir salah dengar saat Rani menanyakan hal itu pada Zein.


"Masih, Mah. Tapi tidak terlalu parah. Hanya mual-mual di pagi hari. Kadang masih pusing kalau di tempat ramai," jelas Zein.


"Hem ... kirain maboknya pindah ke Intan," gumam Rani.


Sontak saja hal itu jadi perbincangan para suster yang tadi mereka lewati.


"Kalian paham gak, sih?" tanya salah seorang suster.


"Kalau aku gak salah, artinya Prof Zein juga ngidam, ya?"


"Kayaknya sih gitu. Hebat banget ya, sampe suaminya ikutan ngidam begitu?"


"Iya, jarang-jarang lho kehamilan simpatik kayak gitu."


"Artinya, Prof Zein sangat mencintai istrinya. Makanya dia ikut merasakan apa yang istrinya rasakan."


"Wah ... beruntung banget jadi dokter Intan. Dicintai oleh seseorang seperti Prof Zein. Aku jadi iri."


Mereka semua pun iri pada Intan.


Setibanya di ruangan, dokter kandungan dan Bidan pamit. Sebab mereka masih harus melanjutkan prakteknya.


"Prof, saya permisi dulu. Jika ada sesuatu, Prof bisa langsung hubungi saya!" ucap dokter kandungan itu.


"Baik, Dok. Terima kasih atas bantuannya," sahut Zein.


Kini hanya tersisa Zein dan Rani yang menemani Intan di ruangan tersebut.


"Kamu kenapa gak bilang sama Mamah sih kalau Intan ini lagi susah makan?" tegur Rani.


"Ya aku pikir gak akan separah ini, Mah. Lagian baru beberapa hari, kok," sahut Zein.


"Kamu nih kan dokter, Zein. Masa gak becus ngurus istri sendiri?" Rani kesal karena Intan sampai pingsan seperti itu.


"Sudahlah, Mah. Yang penting kan sekarang Intan sudah mendapat penanganan yang baik," ucap Zein. Ia kesal karena disalahkan oleh Rani. Apalagi sebenarnya ia pun sedang merasa bersalah.


Saat mereka sedang berdebat, Intan pun siuman.


"Mas," lirih Intan sambil mengerungkan matanya.


Zein langsung menoleh. "Sayang!" ucapnya. Ia senang karena Intan sudah siuman.


"Sayang, apa yang kamu rasakan, hem?" tanya Rani dengan lembut.


"Gak apa-apa, Mah. Cuma pusing sedikit," jawab Intan.


"Kamu ini selalu bilang gak apa-apa. Tolong jangan begitu, Sayang. Jangan sepelekan kesehatan kamu!" pinta Zein.


"Ya emang aku gak apa-apa. Tadi cuma lemas aja, Mas."


"Ya udah, tapi kedepannya kamu harus makan ya, Intan. Jangan sampai nanti drop lagi. Kan gak mungkin kalau harus diinfus terus," ucap Rani.


"Iya, Mah. Mudah-mudahan bisa," jawab Intan.


Sebab ia bukan tidak ingin makan. Namun Intan tidak berselera. Sehingga ia sulit menelan makanan yang masuk ke mulutnya.


"Kalau kamu mau praktek, tinggal aja, Zein! Biar Mamah yang nungguin Intan," ucap Rani.


"Aku gak bisa ninggalin istriku, Mah. Nanti aku gak tenang," jawab Zein.


"Mas, kamu kan udah keseringan bolos. Aku baik-baik aja, kok. Lagian ada Mamah di sini. Jangan karena aku, pekerjaanmu jadi terbengkalai," lirih Intan.


Zein kesal karena Intan malah mengusirnya. Namun ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Ya sudah kalau begitu. Kalau ada apa-apa tolong segera hubungi aku, ya!" pinta Zein.


Intan mengangguk.


Zein mengecup kening istrinya itu. Kemudian ia meninggalka ruangan tersebut.


Saat keluar dari ruangan Intan, Zein menghampiri para suster yang berada di meja administrasi.


"Tolong stand by dan pantau kondisi istri saya! Kalau ada apa-apa, tolong segera kabari saya!" pinta Zein.

__ADS_1


__ADS_2