Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
39. Mulai Mencair


__ADS_3

Intan heran mendengar ucapan Zein barusan. "Maksudnya apa, sih? Apa secara gak langsung dia bilang kalau dia itu cinta sama aku?" gumam Intan. Ia merasa ucapan Zein barusan seperti pengakuan.


"Ah, mana bisa begitu. Kalau cinta ya harus bilang cinta. Masa diem-diem aja. Mana masih galak pula," keluh Intan. Ia masih tidak terima jika Zein belum mengungkapkannya dengan benar.


Beberapa saat kemudian, Zein pun keluar dari kamar mandi. "Ayo pulang!" ajaknya.


Intan tidak menjawab. Ia langsung berdiri dan membuntuti Zein.


"Mas duluan aja! Nanti aku lewat jalan lain," ucap Intan saat keluar dari ruangan Zein.


Zein menoleh ke arah Intan. "Kenapa? Kamu malu jalan sama saya?" tanya Zein.


Intan menghela napas. "Bukan begitu. Apa kata orang nanti kalau mereka lihat kita sering bersama? Kan kita harus merahasiakannya dari orang lain," ucap Intan.


"Kita atau kamu yang pingin pernikahan ini dirahasiakan?" skak Zein.


Intan menghentikan langkah dan menatap suaminya. "Emangnya Mas pingin banget pernikahan kita diumumkan, ya? Kenapa?" tanya Intan.


"Kamu kok nanya gitu, sih?" Zein sebal ditanya seperti itu oleh Intan.


"Ya kan Mas bilang cuma aku yang pingin pernikahan kita dirahasiakan. Berarti Mas maunya diumumkan, dong?" Intan membalikan ucapan Zein.


"Kamu nih, makin pinter aja balikin omongan! Ya udah sana kalau kamu gak mau jalan bareng saya! Tapi awas kalau saya lihat kamu ketemuan sama pria itu. Akan saya hukum, paham!" ancam Zein.


"Ya ampun, aku jadi berasa kayak anak kecil, pake dihukum segala," keluh Intan.


"Kamu kan memang masih kecil. Kuliah aja belum selesai," sahut Zein, gemas.


"Oh iya, ya. Aku jadi gak sabar pingin cepet-cepet ujian. Biar bisa magang. Siapa tau dapet yang jauh, hehe. Ya udah aku duluan ya, Mas," ledek Intan. Kemudian ia pun meninggalkan Zein.


Zein semakin kesal. "Kenapa dia malah senang kalau dapat yang jauh?" gumamnya. Ia tidak terima melihat Intan senang seperti itu. Padahal dirinya tidak rela jika Intan jauh apalagi harus ke perbatasan.


"Seandainya aku bisa membatalkan itu, pasti sudah aku buat dia magang di sini jadi asistenku lagi," ucap Zein, kesal.


Ia pun bergegas menuju parkiran. Zein tidak ingin memberi Intan waktu untuk bertemu dengan Bian sedikit pun.


"Sore, Prof!"


Sapa para suster yang berpapasan dengannya.


Salah satu dari mereka ada yang melihat Zein sering bersama Intan.


"Eh, Prof ada hubungan sama dokter Intan, ya?" tanya suster itu. Ia berbeda divisi dengan Zein dan Intan. Sehingga tidak tahu mengenai hubungan mereka.


"Enggak, ah. Kata siapa?" sahut suster.


"Aku sering lihat mereka naik mobil bareng. Tadi juga datang bareng. Tapi dokter Intannya ke mana, ya?" ucap suster itu.


"Mungkin lagi ada kerjaan aja kali. Makanya sama-sama. Kamu gak tau aja, mereka tuh kayak tom and jerry. Kasihan dokter Intan sering dimarahin Prof," jelas suster yang bekerja di ruang VIP.


"Oya?"


"Iya. Hampir setiap hari dimarahin. Malah minggu lalu pas lagi operasi, dokter Intan dibentak di depan umum." Ucapan suster itu membuat mereka percaya bahwa tidak ada hubungan spesial diantara Intan dan Zein.


"Wah, kirain punya hubungan. Tapi kasihan dokter Intan, ya. Masa dimarahin di depan umum?"


"Itu dia. Makanya aku tuh gak tega. Untung sih sekarang dokter Intan udah selesai koas. Jadi gak perlu ketemu beliau setiap hari."


"Iya, penderitaannya udah bebas, hehe."


Mereka tidak tahu bahwa penderitaan Intan masih berlangsung. Namun kali ini penderitaannya lebih manis.


Beberapa saat kemudian, Zein sudah tiba lebih dulu di parkiran. "Dia ke mana, sih? Lama sekali?" gumam Zein.


Ia yang tidak sabar itu mengetuk-ngetuk stir mobilnya. Zein kesal karena Intan tak kunjung terlihat batang hidungnya.


"Apa dia beneran ketemu sama pria itu?" gumam Zein. Ia yang mulai emosi pun keluar dari mobilnya, ingin mencari Intan.


Namun, saat Zein baru membuka pintu dan melangkahkan kaki, Intan pun muncul sambil berlari menuju mobil Zein.


"Itu dia," gumam Zein. Ia pun kembali menutup pintu mobilnya dari dalam.


"Maaf, Mas. Tadi aku ketemu dokter Dimas, terus beliau ngajak ngobrol. Aku gak enak buat ninggalinnya," ucap Intan dengan napas terengah-engah.


Ia pun terburu-buru masuk ke mobil Zein.


Zein menoleh ke arah Intan. "Kamu lebih tidak enak pada Dimas dari pada saya?" tanya Zein.


"Bukan begitu, Prof. Tapi kan dokter Dimas juga senior. Aku jadi bingung kalau begini," sahut Intan, memelas.


Melihat Intan seperti itu, Zein jadi tidak tega. Saat ia hendak menginjak gas, Zein melihat Bian berjalan dari arah yang sama dengan Intan tadi. Kemudian ia menoleh ke arah Zein.


"Kamu beneran habis ketemu Dimas. Bukan pria itu?" tuduh Zein.


Intan menatap Zein dengan tatapan datar. "Maaf ya, aku lagi PMS, bad mood. Jadi males berdebat. Terserah Mas mau percaya apa enggak, yang penting aku udah jelasin," ucap Intan, kesal. Kemudian ia memalingkan wajahnya.


Mendengar jawaban Intan, Zein pun percaya. Kemudian ia melajukan mobilnya. "Kita makan malam di luar, ya," ucap Zein.

__ADS_1


Kali ini ia bersikap lebih lembut pada Intan.


"Iya," sahut Intan, singkat.


"Kamu mau makan apa?" tanya Zein.


"Apa aja," sahut Intan.


"Kenapa sih kamu selalu begitu? Sekali-kali kamu itu harus bilang apa yang kamu mau. Jadi saya gak asal pilih makanan. Kalau ternyata makanan yang saya pilih kamu gak suka, kan repot," keluh Zein.


Ia sebal karena Intan selalu menjawab seperti itu jika ditanya.


"Tapi aku emang lagi gak tau mau makan apa, Mas. Lagi gak pingin makan juga," sahut Intan.


"Ya udah kalau kamu gak pigin makan. Kita pulang aja!" ucap Zein, kesal. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumah.


"Ya kalau Mas pingin makan, makan aja. Biar aku temenin," ucap Intan.


"Gak usah, saya udah gak mood," sahut Zein. Lalu ia pun diam.


Akhirnya mereka kembali hening. "Dih, aku yang PMS kok dia yang sensi," gumam Intan, pelan.


"Apa kamu bilang?" tanya Zein.


"Gak apa-apa," sahut Intan tanpa menoleh ke arah Zein. Ia masih memalingkan wajahnya.


'Kenapa dia semakin berani melawan aku. Padahal dulu dia tidak seperti itu, apa aku terlalu baik padanya?' batin Zein.


Beberapa saat kemudian mereka pun tiba di rumah.


“Mas mau makan apa?” tanya Intan saat tiba di rumah. Ia tahu suaminya itu lapar.


“Makan soup yang tadi aja,” jawab Zein sambil berlalu menuju dapur.


“Dih, dia masih ngambek?” gumam Intan. Ia pun membuntuti Zein. “Sini biar aku angetin dulu soupnya!” ucap Intan sambil mengambil panci soup yang ada di meja makan.


“Gak usah! Saya udah lapar. Kelamaan kalau nunggu dipanasin,” jawab Zein.


Sebenarnya ia kesal pada Intan karena tidak mau diajak makan dan malah menjawabnya dengan ketus.


“Oh, ya udah kalau gak mau. Selamat makan!” Intan pun kesal melihat sikap Zein seperti itu.


***


Seminggu kemudian ....


"Assalamu alaikum," ucapnya sambil masuk ke rumah. Saat ini hubungan mereka sudah kembali membaik.


Ia bingung mengapa Intan tidak menjawab salamnya. Zein pun mencari istrinya itu.


"Oh, lagi shalat," gumamnya saat melihat Intan sedang shalat di kamarnya. Zein pun kembali menutup pintu dan hendak pergi ke dapur karena haus.


Namun, saat Zein melangkah, ia teringat akan sesuatu. "Udah shalat lagi?" tanyanya dengan wajah berbinar.


Senyuman Zein mengembang sempurna. Ia sangat bahagia karena istrinya sudah shalat.


"Berarti malam ini aku bisa buka puasa. Yess!" gumam Zein. Rasanya ia ingin melompat-lompat saat menyadari hal itu. Sebab sudah cukup lama dirinya tersiksa. Bagi Zein, seminggu seperti setahun.


Jika sedang sendiri, Zein berani melompat-lompat. Namun di hadapan Intan, ia tetap menjaga wibawanya agar tidak direndahkan oleh istrinya itu.


Ehem!


Zein berdehem sebelum masuk kamar. Ia sampai lupa akan tujuan awalnya yang hendak mengambil minum di dapur itu. Melihat Intan sudah shalat, seketika tenggorokkannya pun sudah tidak haus lagi.


Saat ia masuk ke kamar, Zein melihat Intan masih shalat. Ia pun berganti pakaian dengan pakaian santai. Bahkan Zein hanya mengenakan celana kolor tanpa memakai pakaian dalam. Lalu ia mengambil kaos lengan pendek.


Beruntung mereka sudah makan malam ba'da maghrib tadi. Sehingga saat ini Zein bisa langsung bersiap untuk mengambil jatahnya.


Selesai mengganti pakaian, Zein pergi ke kamar mandi. Ia menyikat gigi, berkumur dengan cairan pembersih mulut, lalu membersihkan senjatanya. Setelah itu Zein mengenakan parfum agar istrinya itu bersemangat.


"Perfect! Kamu memang tampan, Zein. Pantas saja dia tergila-gila padamu," ucap Zein. Memuji dirinya di depan cermin. Ia yakin Intan sudah jatuh cinta padanya. Padahal jika Intan melihat hal itu, pasti dia akan illfeel. Sebab, bagi Intan itu sangat menjijikan.


Setelah itu, Zein pun keluar dari kamar mandi.


Ceklek!


Zein mengerutkan keningnya, pandangannya mengedar, mencari istrinya itu. "Ke mana, dia?" gumam Zein. Ia bingung karena Intan tidak ada di sana.


Zein pun pergi ke luar kamar untuk mencari istrinya. Ia mendengar ada suara di dapur. Zein pun menuju dapur dan benar saja, Intan ada di sana.


'Ternyata di sini rupanya,' batin Zein. Ia mendekat ke arah Intan yang sedang mencuci piring itu.


Tadi Intan belum sempat mencuci piring. Sebab, setelah makan Intan langsung melakukan pekerjaan lain. Kemudian shalat isya.


"Lagi apa?" tanya Zein sambil memeluk Intan dari belakang.


"Astaga!" ucap Intan. Ia terperanjat karena Zein tiba-tiba memeluknya.

__ADS_1


"Mas kenapa sih seneng banget bikin aku sport jantung?" keluh Intan, kesal.


"Kan bagus. Biar jantungnya sehat," jawab Zein sambil mengendusi leher Intan.


Akhir-akhir ini hubungan mereka sudah mulai membaik meski Zein masih belum bisa mengungkapkan cintanya.


"Bukannya sehat, yang ada aku bisa mati karena serangan jantung!" jawab Intan ketus. Ia lanjut mencuci piring tanpa menghiraukan Zein yang sedang sibuk mengedusi lehernya. Namun sebenarnya ia merasa geli.


"Kamu harum banget, sih?" tanya Zein. Kemudian ia menghirup aroma rambut Intan yang baru keramas itu.


"Ya kan baru keramas," jawab Intan apa adanya.


"Oya? Kamu udah shalat?" tanya Zein, pura-pura.


"Udah, barusan," sahut Intan.


"Bukan itu maksudnya. Haidnya udah selesai?" tanya Zein lagi.


Intan langsung menghentikan gerakannya. Kemudian ia menoleh ke arah Zein. "Hem ... pantesan dari tadi mepet-mepet terus ... ternyata ada udang di balik bakwan," ucap Intan, gemas. Saat ini Zein seperti anak kecil yang sedang minta nen pada ibunya.


"Yah ... namanya juga udah seminggu gak dapet jatah. Wajar, dong. Setidaknya saya masih setia menunggu istri yang sedang berhalangan," jawab Zein.


"Cih! Iyalah setia, biar halangan juga minta ditreatment manual terus," ucap Intan, sebal.


"Kamu gak ikhlas?" tanya Zein sambil mencubit pipi Intan.


"Bukan gak ikhlas. Tapi omongan Mas yang gak sesuai kenyataan. Udah ah aku lagi cuci piring. Berat tau digelayutin kayak gitu!" keluh Intan, kesal.


Zein meraih tangan Intan dan mencucinya. "Biar nanti saya yang cuci piring. Kamu selesaikan kewajiban utama duli!" ucap Zein.


Setelah tangan Intan bersih. Ia mengambil lap dan mengeringkannya. Kemudian ia menggendong Intan.


Intan tersenyum melihat sikap suaminya. "Dasar!" ucapnya, sebal.


"Dasar kenapa?" tanya Zein tanpa menoleh.


"Gak apa-apa. Ada orang yang gengsinya segunung. Entah sampai kapan gunung gengsi itu mencair," sindir Intan.


"Maksud kamu, saya?" tanya Zein.


"Pikir aja sendiri," sahut Intan. Ia malas memberi tahunya.


Sebelumnya Intan sudah curhat pada ibunya. Dan ibunya mengatakan bahwa tidak semua lelaki bisa menyatakan cinta dengan mudah. Bukan hanya masalah gengsi. Namun terkadang ada karakter yang seperti itu.


Lelaki berbeda dengan wanita yang bisa mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata. Namun, lelaki lebih ke tindakan.


Hal itulah yang membuat Intan mulai menerima dan tidak menuntut Zein untuk mengatakan cinta. Baginya, selama Zein bisa bersikap manis, ia anggap bahwa itu adalah bentuk dari cinta suaminya tersebut.


Ya ... meski tak dapat dipungkiri bahwa Intan masih mengharapkan pengakuan Zein, cepat atau lambat. Ia akan menunggunya dan berusaha untuk tetap sabar.


Saat sudah masuk ke kamar, Zein menutup pintunya dengan kaki.


Brug!


"Malam ini kamu harus siap untuk rapelan, ya," ucap Zein.


"Kok gitu?" tanya Intan.


"Iyalah, kan saya puasa seminggu. Jadi setidaknya harus 7 ronde," ledek Zein.


"Enak aja! Nanti aku gak bisa jalan." Intan prote, sambil menjebik.


"Kalau gak bisa jalan, kan ada saya yang bisa gendong," sahut Zein. Ia menurunkan Intan di atas tempat tidur. Setelah itu ia kembali berdiri dan melepaskan kaosnya.


Intan tersenyum sambil menatap Zein. 'Untung kamu udah bilang cinta walaupun kondisi aku lagi tidur. Seenggaknya aku udah tau perasaanmu. Tinggal nunggu ego kamu turun aja dan ngaku ke aku dalam keadaan sadar,' batin Intan sambil menatap suaminya.


Ia senang karena akhir-akhir ini Zein sudah tidak pernah marah padanya. Bahkan Zein selalu berbicara dengan lembut.


Akhirnya malam itu mereka kembali memadu kasih. Bahkan kali ini lebih panas dari biasanya. Sebab Zein sudah seminggu berpuasa.


"Terima kasih," ucap Zein sambil mengecup kening Intan. Ia merebahkan tubuhnya dan langsung terlelap. Zein lupa bahwa dirinya janji akan mencuci piring.


"Dasar, galak! Kalau udah enak, langsung pules, deh," gumam Intan pelan. Ia memandangi wajah suaminya yang sedang tertidur pulas itu.


Setelah yakin bahwa Zein terlelap, Intan memberanikan diri mengelus wajah suaminya.


"Kenapa sih kamu tuh egois banget? Ngakunya bisa ngelakuin itu tampa cinta, tapi ternyata diam-diam kamu cinta sama aku," gumam Intan, pelan.


"Coba sejak awal kamu mau ngaku. Pasti hubungan kita gak akan rumit kayak kemarin-kemarin."


"Untung belakangan ini kamu udah gak terlalu galak lagi. Kalau enggak, aku pasti akan hukum kamu. Aku akan sembunyi sampai kamu mau ngungkapin perasaanmu," ucap Intan sambil menjentikan jarinya di hidung Zein.


"Terima kasih, ya. Sekarang kamu udah bersikap baik sama aku. Semoga seterusnya bisa seperti itu," ucap Intan sambil menangkup pipi Zein. Setelah itu ia mengecup bibir suaminya.


"Sleep tight," bisik Intan. Lalu ia hendak turun untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi.


Akan tetapi, saat Intan balik badan, Zein langsung menarik pinggang Intan dan memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2