Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
45. Kantong Doraemon


__ADS_3

Intan yang sedang menangis pun langsung menoleh. Ia sangat terkejut ternyata pria yang ada di sampingnya adalah Zein.


Bukannya senang, tangisan Intan malah semakin menjadi. "Huhuhu ...." Ia menangis sambil menutup wajahnya.


Zein pun bingung karena reaksi Intan tidak sesuai dengan ekspetasinya. "Lho, kamu kenapa?" tanyanya.


"Jahat! Tega banget bikin aku sedih, huhuhu," rengek Intan, manja.


Zein tersenyum. Kemudian ia langsung menarik Intan ke pelukannya. "Maaf, ya. Mas cuma mau kasih surprise buat kamu," ucap Zein sambil mengusap kepala Intan.


Intan pun membalas pelukan Zein. "Gak lucu! Aku udah sedih dari kemarin. Kirain Mas beneran gak mau nganterin aku," ucap Intan sambil menelusupkan wajahnya ke pelukan Zein.


"Ya gak mungkinlah. Malah kalau bisa, Mas juga ikut pindah ke sana. Tapi sayang, gak semudah itu," jawab Zein, penuh sesal.


Intan melepaskan pelukannya. "Iya aku tau, kok. Mas bisa nganterin aku aja udah seneng banget," ucapnya sambil tersenyum.


Zein mengusap air mata istrinya. "Kayaknya kamu gak bisa jauh dari Mas, ya?" goda Zein sambil tersenyum. Ia selalu narsis dan ingin Intan yang lebih menginginkannya.


"Mulai, deh!" ucap Intan, sebal.


"Ya udah sekarang kamu istirahat! Semalam kamu kurang tidur, kan?" tanya Zein.


Intan langsung mengerungkan wajahnya. "Mas tau aku kurang tidur?" tanyanya, heran.


Zein hanya tersenyum. Sebenarnya semalam ia tidak tega melihat Intan menangis. Namun Zein tetap pura-pura tidur demi kesuksesan kejutannya ini. Padahal saat Intan terlelap, Zein mulai packing.


Sebelumnya ia diam-diam mengecek tiket pesawat milik Intan. Kemudian Zein langsung memesan tiket dengan nomor pemesanan yang sama dan meminta kursinya bersebelahan dengan kursi Intan.


"Ya ampun, niat banget ya mau bikin aku sedih. Bener-bener jahat! Dasar profesor galak!" cibir Intan, sebal, sambil mencubit perut Zein.


"Aduh, sakit," keluh Zein, pura-pura kesakitan. Ia pun meraih tangan Intan yang mencubit perutnya, kemudian menggenggamnya.


"Emang Mas masih galak?" tanya Zein sambil mengusap-usap tangan Intan.


"Eum ...." Intan bingung. Ia pun mengingat-ingat bagaimana sikap suaminya belakangan ini.


"Padahal udah berusaha untuk gak galak lagi, sih. Tapi kalau ternyata masih begitu, Mas minta maaf," lanjut Zein.


"Iya, gak galak, kok. Cuma nyebelin!" ucap Intan sambil menekuk wajahnya.


Zein mengerutkan keningnya. "Nyebelin kenapa?" tanyanya, heran.


Intan menatap Zein. 'Nyebelin karena sampai sekarang masih belum bilang cinta di depan aku langsung,' batin Intan. Ia ingin suaminya berinisiatif sendiri. Sehingga Intan tak mau mengatakan hal itu pada Zein.


"Kok malah diam?" tanya Zein. Ia merasa selama hubungan mereka berjalan harmonis. Sudah tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi.


"Gak apa-apa," jawab Intan sambil menarik pelan tangannya. Kemudian ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Zein semakin heran melihat istrinya kesal tidak jelas. "Kamu kenapa, sih? Kalau ada apa-apa tuh bilang aja! Jangan kayak gitu," tegur Zein.


"Gak apa-apa, ini pesawatnya udah mau take off, pasang seat belt-nya!" jawab Intan.


Akhirnya Zein pun tidak memaksa. Namun ia bingung karena Intan sering seperti itu. Sedang bermesraan, tiba-tiba kesal tidak jelas.

__ADS_1


Tak lama kemudian, pesawat mereka pun mulai terbang. Intan yang sudah lelah karena kurang tidur dan gelisah itu terlelap.


"Hem ... dasar tukang ngambek!" ucap Zein saat melihat Intan sudah terlelap. Kemudian ia menarik kepala Intan ke bahunya.


Sepanjang perjalanan, Zein menjaga Intan agar tidak jatuh. Sehingga ia tidak tidur. Ia hanya membaca buku agar tidak jenuh.


Intan yang sudah biasa tidur dipelukan Zein pun tanpa sadar memeluk lengan suaminya. Ia bahkan membenarkan posisinya, mencari yang paling nyaman.


Zein menoleh ke arah Intan. Ia pikir istrinya itu terbangun. Namun ternyata matanya masih terpejam. Ia pun tersenyum melihat Intan sangat pulas. Kemudian Zein mengecup kepalanya.


"Be strong, Honey," bisik Zein.


Sebenarnya ia tidak tega membiarkan Intan bekerja di perbatasan. Ia pun khawatir akan adanya tindakan kejahatan di sana. Apalagi Zein pernah mendengar terkadang di perbatasan ada oknum bersenjata yang menembak warga sipil maupun penjaga perbatasan.


Oknum tersebut merupakan kelompok dari gerakan separatis yang ingin memisahkan wilayahnya dari negara.


"Semoga kamu baik-baik saja dan Allah selalu melindungimu, aamiin," gumam Zein. Ia menarik tangan Intan dan mengecupnya. Rasanya sangat berat melepaskan Intan begitu saja.


Tanpa terasa air mata Zein menetes. Ia merasa sangat tidak berguna sebagai suami. Sebanrnya Zein sudah mengusahakan pembatalan agar Intan tidak dikirim ke perbatasan. Ia rela merendahkan harga dirinya sendiri.


Namun ternyata hal itu tidak mudah. Sebab, Intan baru bisa kembali jika ada penggantinya. Tentu saja sangat jarang ada yang mau dikirim ke tempat yang jauh seperti itu. Bahkan penerbangan pun memakan waktu lebih dari 4 jam. Belum lagi mereka masih harus naik pesawat kecil untuk menuju ke lokasi.


Sehingga hari ini Zein membiarkan Intan melaksanakan tugasnya dulu. Namun diam-diam ia sedang berusaha mencari pengganti Intan.


"Semoga aku bisa menemukan penggantimu dalam waktu dekat," ucap Zein.


Beberapa jam kemudian, pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat. Mereka harus terbang lagi menggunakan pesawat yang lebih kecil. Sebab, jika dilalui menggunakan jalur darat, maka akan memakan banyak waktu karena jalanan yang rusak.


"Intan, bangun!" ucap Zein, pelan. Ia berusaha membangunkan istrinya dengan lembut.


"Sudah sampai, ayo pindah pesawat!" ajak Zein.


"Oh, iya," sahut Intan. Ia pun mengumpulkan nyawanya lebih dulu. Kemudian beranjak, hendak mengambil tas.


"Biar Mas yang ambil!" ucap Zein. Ia tahu Intan kesulitan meraih tasnya.


Sebenarnya tangan dan bahu Zein terasa pegal karena ditiduri oleh Intan selama beberapa jam. Namun ia berusaha menahannya, ia tidak ingin Intan merasa bersalah.


"Terima kasih, Mas," ucap Intan saat Zein sudah mengambil tasnya.


"Ayo!" ajak Zein sambil merangkul Intan. Lalu mereka berjalan menuju pintu dan menuruni tangga pesawat.


"Kita langsung naik pesawat lagi, Mas?" tanya Intan. Sebenarnya ia kurang begitu paham. Hal itu pula yang membuat Intan sedih saat Zein mengatakan tak bisa mengantarnya.


"Iya. Itu dia pesawatnya!" jawab Zein. Ia sendiri sudah hafal karena sebelumnya pernah beberapa kali ke sana untuk konservasi.


Mereka langsung naik ke pesawat yang akan mengantar mereka ke perbatasan. Namun pesawatnya tidak langsung jalan karena masih menunggu koper mereka.


Awalnya tidak ada yang aneh. Intan masih biasa saja karena saat itu wilayahnya pun tidak terlalu jauh berbeda dengan di kota.


Namun, setelah pesawatnya terbang dan melewati pegunungan serta hutan-hutan, Intan mulai merasa gelisah.


Ia bahkan menggenggam erat tangan suaminya itu. Ia jadi takut, membayangkan bagaimana dirinya akan tinggal di tempat seperti itu.

__ADS_1


Mengetahui istrinya gelisah, Zein merangkul Intan untuk memberikan kenyamanan.


‘Suami macam apa aku ini? Malah mengirim istri ke tempat yang jauh seperti ini,’ gumam Zein dalam hati. Ia sangat menyesal dan lemas karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di lokasi. Mereka pun pergi menuju rumah dinas Intan menggunakan mobil yang bisa mereka sewa di dekat lapangan penerbangan.


Wajah Intan terlihat pucat. Ia pikir tempatnya tidak akan seperti itu. Setidaknya masih seperti kampung yang ada di Jawa. Namun ternyata bayangannya salah.


Apalagi saat mereka tiba di rumah dinas Intan. Rumah yang cukup kecil dan sederhana dengan penrangan yang minim.


"Berarti setiap malam aku gelap-gelapan, ya?" tanya Intan.


Zein tidak menjawab Intan. Ia hanya mengecup kepala istrinya.


"Ayo kita masuk!" ajak Zein. Ia membuka kunci pintu rumah tersebut, kemudian masuk ke dalam.


Rumah itu hanya terdiri dari ruang tamu, satu kamar, dapur dan kamar mandi.


Zein membawa koper mereka masuk ke kamar. Kemudian ia mengganti sprei tempat tidur tersebut. Ia ingin Intan merasa nyaman meski berada di tempat seperti itu.


"Lho, Mas bawa sprei?" tanya Intan.


Ternyata tidak hanya sprei, ia pun membawa selimut untuk Intan. Bahkan isi koper Zein sebagian besar adalah barang untuk istrinya.


"Biar kamu nyaman," jawab Zein. Setelah itu ia pun mengeluarkan beberapa lampu emergency. Sehingga Intan tidak perlu gelap-gelapan di malam hari.


"Lampu-lampu ini bisa bertahan kurang lebih 3-4 jam. Jadi malam hari kamu bisa tidur lebih awal agar ketika kondisinya gelap, kamu sudah terlelap," ucap Zein. Lalu ia memasang lampu-lampu tersebut di setiap ruangan.


Intan terharu melihat perhatian suaminya itu.


Selesai memasang lampu, Zein pun mengeluarkan alat makan untuk istrinya. "Kamu pakai yang Mas bawa aja, ya! Jangan pakai yang ada di sini. Kita gak tau yang ada di sini bekas siapa," ucap Zein. Sebagai dokter ia sangat mengutamakan kebersihan.


"Iyah," jawab Intan sambil tersenyum.


"Kamu kok malah senyum?" tanya Zein, heran.


Intan mendekat ke arah Zein yang sedang berdiri di dekat kopernya. "Terima kasih ya, Mas," ucap Intan sambil memeluk suaminya itu.


Zein membalas pelukan Intan. "Mas janji akan sering datang ke sini dan segera membawamu kembali," jawab Zein sambil mendekap istrinya.


Intan menoleh ke arah Zein. "Ternyata suamiku punya kantong Doraemon, hehe," ledek Intan.


"Iya, dong. Mas punya kantong ajaib. Makanya ini koper ditinggal di sini aja! Jadi nanti kalau kamu butuh sesuatu, tinggal cari di koper ini!" sahut Zein.


"Hehehe, Mas bisa aja," ucap Intan, malu-malu.


Awalnya Intan sempat heran mengapa koper Zein justru lebih besar dari miliknya. Namun ternyata isi koper itu begitu banyak barang yang berguna untuknya.


"Mas gak bisa lama di sini. Mungkin lusa Mas sudah harus pulang. Kamu gak apa-apa, kan?" tanya Zein sambil mengajak Intan duduk di tempat tidur.


"Iya, gak apa-apa, Mas," sahut Intan.


"Kalau begitu, mulai sekarang kita harus menyiapkan bekal," ucap Zein lagi.

__ADS_1


"Bekal apa?" tanya Intan, bingung.


__ADS_2