Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
52. Kebahagiaan


__ADS_3

Intan bingung melihat suaminya seperti itu.


"Mas pake baju dulu, ya? Kalau begitu nanti malah semakin dingin," ucap Intan.


"Sebentar, Sayang. Mas masih lemas. Ini juga dingin banget. AC-nya udah dimatiin belum?" tanya Zein sambil selimutan.


Intan menoleh ke arah AC. "Udah, kok. Emangnya masih dingin?" tanya Intan, heran.


"Dingin banget, Sayang," jawab Zein, sambil menggigil.


"Ke rumah sakit aja, yuk! Aku khawatir Mas drop karena kelelahan," ajak Intan. Ia tidak tega melihat suaminya yang biasa strong itu tiba-tiba lemah.


Zein menggelengkan kepala. "Mas cuma butuh istirahat. Gak kuat kalau pergi ke rumah sakit. Pusing," jawab Zein.


"Ya udah, tapi makan dulu, ya! Kalau perutnya kosong, nanti malah makin dingin," ucap Intan.


Zein mengangguk. Ia pun merasa lapar karena sudah muntah beberapa kali.


"Ya udah, tunggu sebentar!" ucap Intan. Kemudian ia pun meninggalkan Zein dan menuju ke dapur untuk mengambil makanan.


"Kira-kira dia sakit apa, ya? Apa iya kecapekan, atau karena stress? Tapi stress kenapa?" gumam Intan.


Ia masih tidak habis pikir mengapa Zein bisa sampai seperti itu. Intan pun mengambilkan makanan untuk suaminya dan membawanya ke kamar.


"Mas, makan dulu, yuk! Habis itu minum obat mualnya lagi," ucap Intan.


Intan menaruh piringnya di meja, kemudian membantu Zein untuk duduk dan membenarkan posisinya.


Intan pun mengecek suhu tubuh Zein dengan menyentuh wajahnya.


"Gak demam, sih. Terus kenapa bisa begini, ya?" gumam Intan. Ia merasa tidak becus menjadi dokter karena tidak dapat mendiagnosa penyakit suaminya sendiri.


Intan pun menyuapi Zein dengan telaten. Beruntung Zein masih mau makan. Sayur bening hangat itu membuat perutnya lebih nyaman.


"Terima kasih ya, Sayang," ucap Zein.


"Iya, Mas. Aku minta maaf karena gak bisa ngobatin Mas. Aku bahkan gak tau Mas sakit apa. Rasanya aku gagal jadi dokter," lirih Intan.


"Sstt! Jangan bicara seperti itu. Ini emang sakitnya aja yang agak aneh. Mas juga baru kayak gini. Lagi pula dokter juga kan gak bisa asal mendiagnosa. Semua harus melalui test yang jelas. Entah itu test lab, atau screening dan lainnya," ujar Zein.


Ia tak ingin istrinya merasa bersalah seperti itu.


"Terus Mas sakit apa? Aku jadi takut," lirih Intan. Ia menaruh lagi piringnya, kemudian langsung memeluk Zein. Ia khawatir ada penyakit serius yang diidap oleh suaminya.


"Kamu jangan khawatir! Mungkin ini karena Mas kelelahan dan stress mikirin kamu. Jadi asam lambung naik," ucap Zein sambil mengusap punggung Intan.


Intan menatap suaminya. "Mas punya penyakit gerd?" tanyanya.


"Enggak, tapi kan kondisi seperti itu biasanya memicu asam lambung, Sayang," jelas Zein.


"Mas jangan tinggalin aku, ya? Kemarin LDM-an aja aku kesepian. Aku gak mau Mas kenapa-kenapa," rengek Intan, manja.


Zein tersenyum melihat Intan seperti itu. "Bukannya dulu kamu paling benci kalau ketemu aku?" ledek Zein.


"Mas! Aku lho lagi serius, Mas malah bercanda," keluh Intan. Ia sebal karena diledek suaminya.


"Hehehe, lagian kamu nih ada-ada aja! Orang Mas gak kenapa-kenapa, kok. Ini cuma kelelahan, Sayang. Lelah hatinya," ucap Zein sambil mengusap air mata Intan. Ternyata tadi ia menangis karena mengkhawatirkan suaminya itu.


"Emang hatinya lelah kenapa?" tanya Intan sambil menekuk bibirnya.


"Hatinya cemburu, rindu, cinta, semua perasaan campur aduk gara-gara kamu," jawab Zein sambil mencubit hidung Intan.


Intan pun langsung tersenyum sambil menatap suaminya. "Aku seneng deh, akhirnya Mas mau bilang cinta ke aku," ucap Intan, jujur.


Ia mengambil piring dan menyuapi suaminya lagi.


"Emang selama ini kamu mengharapkan itu?" tanya Zein.


"Ya iyalah. Masa enggak? Istri mana yang gak pingin suaminya bilang cinta? Apalagi sejak awal kan Mas bilang gak cinta sama aku. Jadi aku merasa di sini cuma sebagai pelengkap aja," jawab Intan sambil cemberut.


"Ya ampun ... gak nyangka ternyata istrinya selama ini mengharapkan cinta dari suaminya," ledek Zein sambil menangkup kedua pipi Intan.


"No! Bukan mengharapkan cinta. Tapi mengharapkan ungkapan cinta," tegas Intan.


Zein mengerutkan keningnya. "Maksudnya gimana? Emang beda?" tanya Zein.


"Ya bedalah. Kalau mengharapkan cinta itu artinya aku gak tau kalau Mas cinta sama aku. Sementara aku mah udah tau, tinggal nunggu pengakuan aja," jawab Intan, bangga.


"Sejak kapan kamu tau?" tanya Zein. Ia tak menyangka ternyata selama ini Intan mengetahuinya. 'Oh, mungkin karena selama ini sikapku baik sama dia, ya? Kalau emang udah tau, kenapa harus berharap ungkapan cinta, ya?' batin Zein.


Intan tersenyum sambil mengerlingkan matanya. Ia seolah sedang meledek suaminya itu. Hal tersebut membuat Zein semakin penasaran.


"Malah senyum. Udah cepetan jawab! Sejak kapan kamu tau kalau aku cinta kamu?" tanya Zein, penasaran.


Sebelum menjawab, Intan menyuapi Zein lebih dulu. "Nih, A dulu!" ucapnya. Sebab saat itu mulut suaminya sudah kosong.


"Sejak Mas bilang I love you waktu aku lagi pura-pura tidur, hihihi," jawab Intan sambil terkekeh.


Uhuk! Uhuk!


Zein langsung tersedak, wajahnya pun merah padam karena malu.


"Pelan-pelan makannya, Mas!" ucap Intan. Ia masih terkekeh karena membayangkan betapa malunya Zein.


Intan pun mengambilkan minum untuk suaminya dan membantu suaminya itu minum.


"Pelan-pelan apanya? Kamu tuh bikin Mas kaget. Emang kapan Mas bilang kayak gitu?" tanya Zein, kesal.


"Mas inget waktu aku PMS?" tanya Intan.


Zein mengerutkan keningnya. "Iya, itu sekitar dua bulan yang lalu, kan?" Zein balik bertanya.


Intan mengangguk. "Iya, aku inget banget waktu itu Mas masih jutek sama aku. Tapi pas aku lagi pura-pura tidur, Mas malah berubah jadi so sweet. Hihihi," ledek Intan lagi.


"Jadi selama ini kamu pura-pura gak tau? Dan kamu denger semua omongan Mas?" tanya Zein dengan mata terbelalak.


Intan pun mengangguk. "Iya, dan aku tuh sebenernya gemes banget. Punya suami gengsinya sebesar gunung," ucap Intan. Senyumannya semakin mengembang.

__ADS_1


"Kamu!!!" Zein sangat malu dibuatnya. Ia tidak menyangka ternyata selama ini aktingnya diketahui oleh Intan.


"Lagian apa sih susahnya bilang cinta? Malah pake sok jutek segala. Kamu tau gak? Setelah Mas bilang I love you itu, setiap kali Mas galak tuh aku bukannya takut, tapi malah geli. Aku yakin galaknya Mas waktu itu cuma buat nutupin biar gak ketahuan kalau Mas udah cinta aku, kan?" tuduh Intan.


"Udah cukup! Jangan dilanjut! Yang penting kan sekarang Mas udah jujur sama kamu," ucap Zein, kesal. Ia tidak sanggup jika Intan melanjutkan ucapannya lagi.


Rasanya ia ingin memutar waktu agar bisa mengubah keadaan. Bila perlu ia ingin menghapus ingatan Intan mengenai hal itu.


"Cie ... malu, ya?" ledek Intan.


"Intan ...," ucap Zein sambil menekankan suaranya.


"Iya deh iya ... hehehe. Ya udah ini abisin makannya dulu!" jawab Intan.


"Sayang, tunggu deh!" ucap Zein. Wajahnya terlihat serius.


"Apa, Mas?" tanya Intan.


"Mas rasa ada yang janggal."


"Apa?" Intan jadi penasaran.


"Kejadian itu kan pas kamu lagi dismenore dan itu udah hampir dua bulan yang lalu," ucap Zein sambil menggenggam tangan Intan.


"Terus?" Intan masih belum sadar.


"Sejak itu apa kamu sudah datang bulan lagi?" tanya Zein dengan tubuh yang meremang.


Seketika tubuh Intan meremang. "Belum, Mas," ucapnya, gugup. Ia sadar apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


Wajah Zein langsung berseri. Senyumannya mengembang sempurna. Ia sangat yakin bahwa istrinya tengah mengandung.


"Sepertinya kamu harus segera cek, Sayang," ucap Zein, antusias.


"T-tapi gimana kalau ternyata negatif, Mas?" tanya Intan. Ia sangat bahagia jika memang dirinya hamil. Namun melihat ekspresi kebahagiaan di wajah Zein itu membuat Intan jadi khawatir Zein akan kecewa jika ternyata dirinya tidak hamil.


"Sayang, apa pun hasilnya, Mas gak masalah. Tapi kamu kan emang udah telat. Gak ada salahnya kan ditest dulu? Apa perlu kita langsung ke rumah sakit?" tanya Zein.


Intan menggelengkan kepalanya. "Jangan, Mas! Nanti Mas akan lebih kecewa kalau ternyata tidak sesuai harapan. Apalagi aku tidak memiliki gejala kehamilan sama sekali. Biasanya kan orang hamil itu mu ...." Intan tidak melanjutkan ucapannya karena menyadari sesuatu.


Ia menatap suaminya lagi dan ternyata Zein sedang tersenyum sambil menatapnya. "Aku yang mual," ucap Zein.


Intan tersenyum sambil ternganga. "Ya ampun. Aku baru sadar. Jadi dari tadi Mas mual ... terus gak suka nyium aroma sabun juga karena ...?" Jantung Intan berdebar dengan cepat. Kali ini ia lebih yakin bahwa dirinya memang mengandung.


"Iya, Sayang. Kalau bukan karena itu, lalu apa lagi alasan yang paling masuk akal?" tanya Zein.


"Tapi kenapa Mas yang mual? Emangnya bisa seperti itu?" Intan balik bertanya.


Saat ini pikirannya sedang tidak stabil. Meskipun ia merupakan seorang dokter, tetapi Intan bukan spesialis kandungan. Sehingga ia yang belum pengalaman itu kurang begitu paham mengenai kehamilan.


"Mungkin saja. Ya udah kalau begitu sekarang Mas beli test pack-nya dulu, ya?" ucap Zein. Lalu ia turun dari tempat tidur.


"Lho, Mas kan lagi gak enak badan?" tanya Intan.


"Sekarang udah seger, kok," sahut Zein. Ia mengenakan pakaian yang tadi sudah disiapkan oleh Intan.


"Lanjut nanti aja! Yang penting sekarang Mas beli test pack dulu," sahut Zein. Lalu ia pun hendak meninggalkan kamar itu.


"Mas, tunggu!" ucap Intan.


"Apa lagi, Sayang?" tanya Zein sambil menghentikan langkahnya.


"Aku baru inget kalau aku punya beberapa stock test pack," ucap Intan.


"Oya? Bagus, dong? Ya udah kamu coba sekarang, ya?" pinta Zein. Ia sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya.


Sebelum pergi ke perbatasan, Intan memang sengaja membeli beberapa test pack. Ia menyediakan benda itu karena khawatir di sana tidak ada. Supaya ketika Intan menemukan pasien yang memiliki gejala kehamilan, ia bisa langsung mengeceknya menggunakan benda itu.


Sejak terakhir kali haid, Intan sangat sibuk mempersiapkan ujiannya. Setelah itu ia pun masih sibuk bersiap pergi ke perbatasan. Sehingga Intan tidak sadar ketika dirinya telat datang bulan.


Intan pun mengambil test pack miliknya di tas perlengkapan medisnya. Ia mengambil satu pack, lalu membawanya ke kamar mandi.


Zein sangat tidak sabar menantinya. Ia bahkan menunggu di depan pintu.


Dalam waktu hitungan detik, Intan sudah keluar dari kamar mandi.


"Sayang, gimana hasilnya?" tanya Zein, antusias.


"Belum, Mas. Aku baru ingat kalau ngetest pakai ini tuh harus bangun tidur. Jadi pakai urine pertama. Sekarang kan aku udah bangun dari tadi," jawab Intan.


Zein pun dibuat gemas olehnya. "Ya ampun kirain udah. Itu kamu kan punya stock banyak. Ya udah kalau sekarang hasilnya kurang maksimal, besok kamu test lagi. Yang terpenting itu sekarang kamu test dulu. Oke? Udah sana, cepat!" ucap Zein sambil mendorong Intan masuk ke kamar mandi secara perlahan.


"Kalau kamu masih cerewet, biar aku yang ngetest sekalian, nih!" ancam Zein, saat Intan menoleh ke arahnya.


"Iya, iya ... sabar, dong!" sahut Intan. Ia pun kembali menutup pintunya.


Dengan gugup Intan membuka kemasan alat itu. Kemudian ia pun melakukannya sesuai instruksi yang ada.


"Ya Allah, semoga sesuai harapan. Aku tidak ingin suamiku kecewa," gumam Intan. Kemudian ia pun menggunakan alat itu dan menunggu hasilnya.


Dengan hati berdebar, Intan menunggunya tanpa melihat indikator benda tersebut. Ia masih khawatir hasilnya tidak sesuai harapan.


"Udah belum, ya?" gumam Intan.


"Sayang, udah belum?" tanya Zein dari luar.


"Iya, sebentar!" sahut Intan.


"Apa aku lihat bareng-bareng aja, ya? Tapi kalau hasilnya gak sesuai, gimana?" gumam Intan. Ia sangat bimbang karena terlalu mengkhawatirkan hasilnya.


"Huuh! Oke, aku gak sanggup kalau lihat hasilnya sendirian. Aku juga gak sanggup bilang ke dia kalau misalnya gak sesuai. Jadi lebih baik kita lihat sama-sama aja," gumam Intan. Akhirnya ia membersihkan tubuh dan tangannya. Kemudian keluar dari kamar mandi tanpa melihat hasil dari benda itu.


Ceklek!


"Gimana, Sayang?" tanya Zein yang berdiri di depan pintu. Melihat wajah Intan pucat, Zein khawatir hasilnya tidak sesuai.


"Aku belum lihat," lirih Intan.

__ADS_1


Zein pun tersenyum. Ia seolah mendapat harapan kembali karena ternyata Intan belum melihat hasilnya.


"Ya udah, sini kita lihat sama-sama!" ucap Zein. Ia pun mengambil benda itu dari tangan Intan. Kemudian ia merangkul istrinya itu.


"Tunggu!" ucap Intan, sedikit menyentak.


Zein yang hendak melihat hasilnya pun langsung menoleh. "Kenapa, Sayang?" tanyanya.


"Mas jangan kecewa ya kalau hasilnya gak sesuai harapan?" rengek Intan.


"Ya ampun, kamu nih bikin kaget aja! Ya enggaklah. Kalau belum dikasih kan tinggal usahal lagi," ucap Zein sambil tersenyum nakal.


"Iiihh, dasar! Giliran kayak gitu aja cepet!" ucap Intan, manja.


Zein mengusap kepala Intan menggunakan tangannya yang ada di belakang tubuh Intan.


"Ya udah, ayo kita lihat hasilnya. Bismillah ...," ucap Zein. Hatinya pun berdebar-debar seperti Intan. Sebab, ia memang sangat berharap. Jika sampai Intan hamil, dirinya akan merasa lebih tenang karena kemungkinan Intan untuk meninggalkannya sangatlah kecil.


Intan memejamkan mata, ia tak sanggup untuk melihatnya.


"Sayang!" lirih Zein dengan suara gemetar.


"Iyah?" sahut Intan sambil membuka matanya. Ia disuguhkan oleh pemandangan garis dua yang membuat hatinya bertalun-talun.


"Mas, ini beneran?" tanya Intan sambil menoleh ke arah Zein. Matanya berkaca-kaca. Ternyata Zein sudah menitikan air mata lebih dulu.


"Iya, Sayang. Kamu hamil. Sebentar lagi kita akan punya anak," ucap Zein sambil tersenyum penuh haru. Kemudian ia langsung memeluk Intan dan tubuhnya langsung bergetar. Zein sangat bahagia karena harapannya sudah terkabul.


Intan tak kalah terharu dari Zein. Ia sangat lega karena akhirnya ia bisa memberikan keturunan untuk Zein.


"Huhuhu, Alhamdulillah Ya Allah, akhirnya keinginan kami terkabul. Aku sangat bahagia, Mas," lirih Intan.


"Apalagi Mas. Mas pun sangat bahagia. Sebentar lagi akan jadi ayah dari anak yang kamu kandung," ucap Zein sambil menangkup kedua pipi Intan. Ia mengusap air mata Intan dengan ibu jarinya. Kemudian Zein mencumbunya dengan begitu mesra.


Cumbuan itu sebagai tanda cinta dan rasa terima kasih karena Intan telah mengandung calon buah hati mereka.


Jika biasanya Zein mencium Intan dengan penuh napsu. Kali ini ia mencumbunya dengan penuh kasih sayang. Bahkan air mata mereka masih terus mengalir. Seolah kebahagiaan itu meluap tanpa terkendali.


Zein pun melepaskan tautannya. Kemudian menempelkan keningnya di kening Intan.


"Terima kasih ya, Sayang. Kamu adalah pelangi dalam hidupku. Selama ini hidupku hanya ada hitam putih, tapi kamu telah memberikan warna. Sampai akhirnya aku bisa merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan seumur hidup," ucap Zein sambil memejamkan matanya.


Entah sejak kapan Zein jadi pandai mengungkapkan perasaan. Mungkin karena rasa takut kehilangan saat ia melihat Intan bersama Bian. Sehingga membuatnya jadi lebih berani mengungkapkan perasaan agar istrinya itu tahu bahwa cintanya begitu besar.


"Iya, Mas. Aku pun sangat bahagia bisa dicintai oleh pria yang aku cintai dan selalu memberikan perhatian untukku," jawab Intan.


Mereka sama-sama merasakan kehangatan cinta. Rasanya mereka tidak sanggup jika harus berjauhan lagi. Apalagi saat ini sudah ada malaikat kecil yang harus mereka lindungi.


Zein memundurkan wajahnya. Kemudian ia berjongkok di hadapan Intan. "Hai malaikat kecil. Kamu adalah berkah bagi keluarga kecil kita. Semoga kehadiranmu akan semakin mempererat hubungan rumah tangga kami. Aku yakin kamu adalah anak yang hebat karena lahir dari rahim wanita yang tangguh," bisik Zein pada perut Intan. Kemudian ia mengecup perut istrinya itu.


Intan terharu melihat momen seperti itu. Rasanya seperti mimpi bisa mengandung anak Zein yang dulu sangat ia segani.


"Sayang. Kamu udah makan belum?" tanya Zein sambil berdiri.


"Udah, Mas. Tadi abis masak aku lapar, jadi langsung makan," jawab Intan.


"Good! Pokoknya mulai sekarang kamu harus menjaga pola makan! Jangan makan sembarangan dan Mas akan memantau kesehatan kamu, oke?" ucap Zein.


Intan mengangguk sambil tersenyum.


Kring! Kring!


Ponsel Zein berdering. Mereka berdua pun menoleh ke arah ponsel itu.


"Tunggu sebentar ya, Sayang!" ucap Zein. Lalu ia menggandeng Intan berjalan ke arah ponselnya.


"Katanya suruh nunggu?" gumam Intan sambil melihat tangannya yang sedang digandeng.


Ia pun tersenyum melihat kelakuan suaminya itu.


"Iya, Pah," ucap Zein.


"Kamu udah pulang?" tanya Muh di seberang telepon.


"Iya, ini lagi di rumah. Ada apa?" Zein balik bertanya.


"Kamu bisa ke rumah sakit sama Intan, gak? Sekarang," tanya Muh lagi.


"Hem ... insyaaAllah bisa, Pah," jawab Zein. Ia melihat istrinya cukup segar. Sehingga menyanggupi permintaan papahnya.


"Ya sudah kalau begitu. Papah tunggu di ruangan Papah, ya!" ucap Muh.


"Oke, Pah."


Telepon terputus.


"Sayang, Papah minta kita datang ke rumah sakit. Kamu bisa, kan?" tanya Zein.


"Ya bisa. Emang gak bisa kenapa?" sahut Intan.


"Kamu kan lagi hamil. Aku cuma khawatir kamu pusing atau apa," jawab Zein.


Intan tersenyum. "Mas lupa? Memang aku yang hamil. Tapi kan Mas yang kena morning sickness," ledek Intan.


Zein langsung memicingkan matanya. "Seneng banget kamu, ya!" ucapnya, sebal.


Intan terkekeh. "Iyalah. Itu namanya kerja sama yang baik. Jadi bukan cuma istrinya yang sengsara," ledek Intan.


"Ya udah iya gak apa-apa. Aku ikhlas, kok. Aku jadi tau gimana beratnya jadi ibu hamil. Segitu aku cuma mual dan pusing. Gimana kalau harus bawa perut besar juga? Pasti lebih berat lagi," ucap Zein.


"Syukurlah kalau Mas sadar. Jadi kalau mau macem-macem mikir seribu kali," ucap Intan sambil mengambil pakaian di lemarinya. Ia mengambil gaun selutut dengan lengan pendek.


Mereka pun berganti pakaian.


Selesai berganti pakaian, Zein melihat istrinya begitu cantik. Ia memindai Intan dari atas kepala hingga ujung kaki. Rambutnya indah, kulitnya putih. Lehernya jenjang, betis menawan. Namun ia merasa tidak rela berbagi keindahan rambut dan tubuh istrinya pada orang lain.


"Sayang. Kalau Mas mau minta satu hal, boleh gak?" tanya Zein.

__ADS_1


"Apa, Mas?" tanya Intan.


__ADS_2