Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
58. Dokter Magang itu Istri Saya


__ADS_3

Napas Zein terlihat menggebu. Di tangannya ada beberapa file dan tab yang ia bawa dari mejanya itu.


Ceklek!


Zein membuka pintu ruangan dokter tanpa permisi. Hingga semua dokter yang ada di ruangan itu menoleh dan mereka langsung berdiri saat menyadari bahwa Zein lah yang datang ke ruangan mereka.


"Selamat sore, Prof," ucap mereka, begitu sopan.


Zein tidak menjawab. Wajahnya seperti orang hendak perang. Matanya memindai seluruh ruangan itu dan langsung tertuju ke orang yang tadi ada di video.


Deg!


Orang itu gugup saat Zein menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Ia mengatur napas karena yakin Zein sedang emosi.


Semua yang ada di ruangan itu saling melempar pandangan. Mereka bertanya-tanya apa yang membuat Zein sampai datang ke sana. Sebab, selama ini pria itu hampir tidak pernah datang ke tempat tersebut.


Awalnya Zein ingin mengamuk. Bahkan menghajar dokter kepala itu. Namun ia masih berusaha menjaga wibawanya. Sehingga Zein marah dengan cara yang cukup elegant.


Tap!


Zein melemparkan sebuah file ke meja dokter itu. "Silakan dibaca!" pinta Zein. Dadanya terlihat naik turun, karena menahan emosi.


File tersebut berisi peraturan SDM rumah sakit yang melarang senioritas atau peloncoan terhadap junior. Sehingga seluruh staf baik itu dokter maupun perawat dan staf lainnya yang ada di rumah sakit itu, harus diperlakukan sama. Tanpa memandang jabatan atau apa pun.


Dokter itu pun mengambil surat tersebut. Di surat itu sudah sangat jelas bagaimana peraturan SDM rumah sakit tersebut.


"Bukankah setiap pagi kalian semua membaca isi dari surat ini?" tanya Zein sambil mengeretakkan giginya.


"I-iya, Prof," sahut dokter itu.


"Lalu ini apa?" tanya Zein lagi. Kemudian ia memberikan tab berisi potongan rekaman CCTV yang membuatnya geram, tadi. Rahang Zein terlihat mengeras.


Dokter itu melihat rekaman tersebut dengan salah tingkah. Memang di sana ia terlihat sangat arogan. Namun ia berusaha memberikan pembenaran.


"Oh, ini. Saya hanya berusaha agar dokter magang ini tidak seenaknya, Prof. Dia makan siang di jam kerja. Lagi pula mereka ini harus dididik supaya disiplin," jawab dokter itu.


"Oh, disiplin? Bukankah sebelumnya sudah dijelaskan bahwa dia baru sempat makan karena banyak pasien saat jam istirahat?" tanya Zein.


"Saya yakin dulu Anda pun pernah bertugas di ruang IGD. Seharusnya Anda lebih tahu bagaimana sistem kerja di sana. Bukankah kalian harus lebih fleksible mengenai waktu?" lanjut Zein.


"Iya, tapi dia anaknya agak sombong, Prof. Setiap saya nasihati selalu menjawab. Saya jadi merasa tidak dihargai sebagai atasannya," jawab dokter itu, memelas.


Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. "Oh, jadi Anda bersikap arogan pada bawahan karena ingin dihargai? Bagaimana mereka bisa menghargai Anda kalau Anda sendiri tidak menghargai mereka?" skak Zein.


Zein masih berusaha menahan emosi agar tidak meledak. Sebab, jika sudah meledak, entah apa yang akan dia lakukan terhadap dokter itu.

__ADS_1


Suami mana pun pasti tidak akan rela istrinya diperlakukan semena-mena. Apalagi Zein yang memiliki power. Wajar jika dia memarahi orang itu, terlepas ia tahu atau tidak bahwa Intan adalah istrinya.


Meskipun dokter itu tidak tahu bahwa Intan adalah istri Zein. Tidak seharusnya dia bersikap sembarangan. Jadi apa pun alasannya, perbuatan dokter itu tidak bisa dibenarkan. Sehingga ia sangat pantas dimarahi. Setidaknya akan ada efek jera dan bisa lebih menghargai orang lain lagi tanpa pandang bulu.


Zein menggulir layar tablet yang ada di tangan dokter itu. Lalu muncul potongan rekaman CCTV yang menunjukkan detik-detik sebelum Intan pingsan.


"Apa Anda tidak malu? Seharusnya Anda mengayomi junior. Bukan malah menyudutkannya seperti itu. Jam terbang Anda jauh lebih tinggi dari dia. Tidak pantas jika meremehkan dokter yang baru lulus. Jika jam terbang kalian sama, belum tentu Anda bisa lebih andal dari dokter magang ini," cibir Zein.


"Anda tahu dia pingsan. Lalu mana rasa tanggung jawab Anda sebagai orang yang telah menyebabkannya pingsan? Bagaimana jika ternyata ada sesuatu yang fatal terjadi padanya. Apa Anda bisa bertanggung jawab?"


Segalak-galaknya Zein pada Intan, ia masih memiliki rasa empati terhadap bawahannya. Ia sendiri pernah membuat Intan pingsan. Namun Zein bertanggung jawab dengan mengantarkannya ke rumah.


"Atasan macam apa yang malah asik duduk di ruangannya setelah membuat bawahannya pingsan?" cibir Zein lagi panjang kali lebar.


"Maaf, Prof. Saya baru saja selesai menangani pasien di IGD. Tadi ada kecelakaan, sehingga pasien di sana sangat banyak," jawab dokter itu.


"Bagaimana rasanya? Lelah bukan? Anda saja yang sudah senior kewalahan menghadapinya. Apalagi dokter magang?" sindir Zein.


"Iya, tapi saat saya datang ke ruang IGD tadi dia seperti orang kebingungan. Sepertinya dia memang tidak becus bekerja, Prof." Dokter itu mulai kesal karena Zein terus membela Intan.


Brak!


Zein menggebrak meja. "Kalau tidak becus itu diajari. Bukan malah dimarahi seperti itu!" bentak Zein. Ia sudah sangat murka.


"Oh, jadi Anda tidak mau menerimanya?" tanya Zein sambil tersenyum licik.


"Apa selama ini ada peraturan tertulis bahwa rumah sakit ini tidak menerima dokter magang yang sedang mengandung?" tanya Zein.


"Memang tidak ada, Prof. Namun, sebagai kepala dokter, saya hanya tidak ingin pekerjaan di rumah sakit ini terbengkalai. Jika ada dokter magang yang hamil, kami semua akan kerepotan. Sebab, beban kerja dokter magang lebih besar dari pada seniornya." Dokter itu kelepasan.


"Apa saya tidak salah dengar? Seingat saya dokter yang magang itu tidak digaji full. Kenapa bisa beban kerjanya lebih besar?" skak Zein lagi.


Dokter itu pun gelagapan.


"Sepertinya Anda tidak pantas menjadi kepala IGD. Sebab Anda tidak memahami betul bagaimana kode etik di rumah sakit ini," ucap Zein.


Dokter itu pun panik. Selama ini ia cukup bangga karena menjadi kepala. "Maaf, Prof. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi dan akan memperbaiki semuanya," jawab dokter itu.


"Untuk apa minta maaf pada saya? Jika Anda mau minta maaf. Silakan minta maaf pada istri saya!" skak Zein.


Deg!


Dokter itu terkesiap. Ia belum paham apa maksud Zein. "M-maksudnya?" tanya dokter itu, gugup.


"Dokter magang yang Anda marahi itu adalah istri saya," ucap Zein. Kemudian ia meninggalkan ruangan itu dengan elegant.

__ADS_1


Seketika tubuh dokter itu panas dingin. Memang Zein tidak mengamuk. Namun sikap Zein yang seperti itu justru lebih menakutkan baginya.


"Astaga! Aku tidak tahu bahwa dia istri Prof Zein. Mati aku," gumam dokter itu sambil terkulai lemas.


Karier yang sudah lama ia bangun pun terancam. Sejak dulu ia mengincar jabatan itu. Sehingga sangat berat baginya jika harus diturunkan dari jabatan tersebut.


Semua dokter yang ada di ruangan itu pun terkejut mendengarnya. "Istri Prof?" tanya mereka. Mereka pun mulai bergossip. Namun mereka masih belum berani membahasnya di grup chat.


"Pantesan bisa magang di sini. Mana lagi hamil pula," ucap salah satu dokter.


"Ya wajar aja, istri yang punya rumah sakit, kok," sahut yang lain.


"Sombong sekali. Mentang-mentang istrinya, sampai memarahiku seperti itu," ucap dokter kepala.


"Sombong? Tentu saja tidak. Jika sikap seorang suami yang membela istrinya dikatakan sombong. Lalu apa suami harus diam saja saat melihat istrinya dipelonco seperti itu?" timpal dokter yang lain.


"Betul itu. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika istriku dihina seperti itu. Cuma suami pengecut yang diam saja saat mengetahui istrinya diperlakukan tidak baik. Bahkan sampai pingsan," timpal dokter laki-laki yang ada di ruangan itu.


"Apalagi lagi hamil. Waduh ... itu calon pewaris rumah sakit ini. Kalau sampai kenapa-kenapa, bisa bahaya."


"Ya kalaupun sombong juga wajar. Namanya yang punya rumah sakit. Bebas lah mau ngelakuin apa aja," ucap dokter lain.


"Tapi salah sendiri dia menyamarkan identitasnya. Seandainya saya tahu pun pasti akan lebih menghargainya." Dokter kepala itu masih melakukan pembelaan.


"Justru itu, Dok. Dari kejadian ini kita bisa belajar bahwa kita tidak boleh pandang bulu. Tetap harus ramah pada siapa pun. Terlepas itu adalah istri pemilik rumah sakit atau bukan," ujar dokter senior lainnya.


"Kenapa kalian jadi menyudutkan saya? Apa karena tahu dia istri Prof. Makanya kalian membela dia?" Kepala dokter itu kesal karena tidak ada yang membelanya.


"Lho, kami hanya bersikap objektif. Jujur saja, selama ini kami semua sudah berusaha menghapus senioritas. Namun ternyata Anda masih memperlakukan junior seperti itu. Tidak heran jika sekarang kena batunya," timpal dokter lain.


"Oh, jadi selama ini sebenarnya kalian benci pada saya? Ternyata di dunia ini memang banyak musuh dalam selimut, ya. Pasti kalian senang jika saya turun jabatan. Sebab kemungkinan besar kalian yang akan menggantikan posisi saya," ucap dokter itu, kesal.


"Astaghfirullah, Dok. Kurang-kurangin, deh!"


Semua dokter yang ada di sana heran mengapa dokter itu tidak introspeksi diri.


Dokter itu pun langsung meninggalkan ruangan tersebut. Ia sudah sangat geram. Sekaligus tidak memiliki wajah untuk tetap berada di sana.


"Sial! Kenapa sih harus aku yang kena. Seandainya aku tau lebih awal. Sudah pasti aku tidak akan seperti itu padanya." Dokter itu menggerutu sambil jalan menuju lobby. Sebab saat ini sudah jadwalnya ia pulang kerja.


Saat sedang di jalan. Ia tak sengaja berpapasan dengan Intan dan Zein yang juga sedang menuju ke lobby.


Kala itu Zein berjalan sambil menggandeng Intan. Kepala dokter itu pun tercekat melihatnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya. Mereka berjalan dari arah yang berbeda. Sehingga posisinya berhadapan dan dokter itu tidak mungkin menghindar lagi.

__ADS_1


__ADS_2