Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
50. Hutang Budi


__ADS_3

Bian kesal karena dibentak oleh seorang wanita. Namun ia yang sedang patah hati itu tidak ada energi untuk berdebat. Sehingga Bian memilih melanjutkan perjalannnya menuju markas.


Sementara itu, Intan dan Zein sudah menyelesaikan pergulatannya. Saat ini mereka sedang bermesraan di tempat tidur.


"Mas, gimana ini aku bolos? Kasihan kalau nanti banyak pasien yang datang," keluh Intan.


Ia baru sadar bahwa dirinya terlambat setelah selesai bercinta.


"Gak apa-apa bolos sekali. Lagi pula suster di sini cukup kompeten. Mereka sudah biasa menghadapi pasien saat dokter tidak ada. Jadi kamu jangan khawatir ya, Sayang!" jawab Zein.


Saat ini Intan sedang berada di pelukan suaminya itu. Mereka bahkan belum sempat mengenakan pakaian. Sehingga hanya menutupi tubuhnya menggunakan selimut.


"Ya udah, iya. Mumpung ada suami di sini. Kapan lagi kan bisa dipeluk sama Mas? Apalagi kalau Mas udah pulang ke Jakarta," ucap Intan, memelas.


Zein menatap istrinya sambil tersenyum. Kemudian ia mengusap-usap kening hingga kepala Intan.


"Oh iya, Mas kok tiba-tiba datang ke sini, sih?" tanya Intan, sambil menatap suaminya itu.


"Kenapa? Kamu gak suka?" Zein balik bertanya.


"Bukan begitu, Mas. Aku kan cuma nanya. Lagian aku tau kesibukan Mas kayak apa. Kan baru beberapa hari lalu Mas pulang dari sini," jelas Intan.


"Karena cinta," jawab Zein.


"Heuh?" Intan masih belum paham.


"Aku cinta kamu. Jadi aku gak mau istriku didekati pria lain. Mas cemburu," ucap Zein, jujur.


Intan langsung tersenyum. Ia tersipu malu kala mendengar Zein mengaku bahwa dirinya cemburu.


"Cemburu kenapa, Mas?" tanya Intan.


"Kamu nakal! Kenapa kemarin kamu bisa sama dia? Mas gak suka," ucap Zein sambil mencubit hidung istrinya.


Intan ternganga. "Kemarin?" tanyanya. Ia tidak merasa sedang bersama Bian.


"Di rumah Pak Kepala Desa." Zein memberi clue.


"Ya ampun. Itu kan aku cuma sekilas aja ketemu dia, Mas. Jadi Mas datang ke sini cuma karena itu?" tanya Intan. Ia tak percaya alasan suaminya datang ke sana hanya karena hal sepele yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan.


"Ya! Apalagi ponsel kamu tidak bisa dihubungi. Mas cuma takut istriku diambil orang," ucap Zein. Kemudian ia mengecup bibir istrinya.


"Astaga ... aku gak nyangka ternyata suamiku yang galak ini so sweet banget, ya? Bisa-bisanya terbang jauh ke sini cuma karena salah paham. Entah dari mana Mas bisa tau aku ada dia di sana. Tapi aku cuma kepikiran, gimana dengan kerjaan Mas? Bukannya kemarin katanya bakalan sibuk, ya?" tanya Intan.


"Pekerjaan masih bisa dilakukan lain waktu. Tapi keselamatan istri gak mungkin bisa ditunda," jawab Zein.


Intan mengerutkan keningnya. "Keselamatan?" tanyanya, heran.


"Ya, karena kamu sedang menjadi mangsa hewan buas. Jadi Mas datang ke sini demi menyelamatkanmu. Sebab, jika kamu sudah berhasil dimangsa olehnya, Mas akan menyesal," jelas Zein, jujur.


Kejadian foto kemarin membuat pikiran Zein terbuka. Ia tidak sungkan untuk mengutarakan perasaannya lagi. Sebab dukungan para netijen yang mengatakan bahwa Intan dan Bian sangat cocok, membuat Zein sadar bahwa istrinya itu sangat berharga.


"Mas gak percaya sama aku, ya?" tanya Intan.


"Mas sangat percaya sama kamu. Tapi Mas gak percaya sama dia," jawab Zein sambil menatap Intan.


"Terus gimana, dong? Kan mau gak mau aku harus tetap di sini. Mas juga gak mungkin ada di sini terus, kan?" tanya Intan.


"Kamu harus ikut Mas pulang! Mas gak mungkin bisa tenang ninggalin kamu di sini sama si berengsek itu," ucap Zein, tegas.


Intan ternganga. "Hah? Mana bisa begitu, Mas? Kan Mas tau aku tuh di sini lagi magang," ucap Intan.


"Bisa! Nanti Mas akan usahakan. Kalaupun gak bisa, Mas akan minta bantuan Papa," jawab Zein, tegas. Ia tidak ingin tawar menawar lagi.


Intan senang karena suaminya itu mau memperjuangkannya. Namun ia masih belum tahu bahwa suaminya pula yang telah membuatnya dikirim ke tempat itu. Entah bagaimana reaksinya jika Intan tahu bahwa Zein yang mengirimnya ke sana.


"Jadi aku beneran bisa ikut Mas pulang?" tanya Intan.


"Ya!" sahut Zein.


"Terus magangku gimana, dong?" tanya Intan lagi.


"Nanti Mas akan urus supaya kamu bisa magang di rumah sakit kita," ujar Zein.


"Rumah sakit keluarga Mas," tegas Intan.


Zein menggelengkan kepala. "Sekarang kan kamu juga udah jadi keluarga Mas, jadi itu rumah sakit kamu juga," ujar Zein.


Intan tersenyum. Ia merasa sangat dihargai oleh suaminya itu. "Terima kasih ya, Mas," sahutnya. Ia memeluk Zein dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan suaminya tersebut.


Zein pun membalas pelukan Intan. "Aku cinta kamu, Intan," ucapnya. Ia seolah tidak bosan mengatakan hal itu terus.


Sebab, Zein sedang bangga pada dirinya sendiri karena bisa mengungkapkan perasaan yang selama ini tak mampu ia ungkapkan.


"Love you too, Sayang," sahut Intan sambil menatap Zein. Mereka dapat merasakan debaran jantung yang saling bersahutan itu.


Di klinik ....


"Permisi," ucap dokter yang tadi bertanya pada Bian.


"Dokter Ira, ya?" tanya suster. Ia sudah tahu mengenai kedatangan dokter tersebut.


"Iya, maaf ya aku terlambat. Ini baru landing, buru-buru langsung ke sini. Soalnya tadi pesawatnya delay karena ada orang yang ngambil helikopter pesananku," jelas dokter itu.


Ternyata awalnya ia sudah memesan helikopter. Namun Zein yang datang lebih dulu ke bandara itu mengambil helikopter pesanan dokter tersebut dengan membayar lebih.


"Iya gak apa-apa, Dok. Dokter udah ke rumah dinas?" tanya suster itu lagi.

__ADS_1


"Belum. Ini dia kopernya masih aku bawa-bawa. Aku belum tau rumah dinasnya di mana. Belum lapor juga, kan. Biar di sini aja dulu, deh," jelas Ira.


"Ya udah, dokter mau istirahat dulu apa langsung praktek?" tanya suster.


"Langsung aja. Kan aku dari tadi juga cuma duduk di pesawat, hehe."


Ternyata Muh sudah merencanakan semuanya. Saat mengetahui bahwa Zein akan menjemput Intan, ia langsung mengirim anak bungsunya itu.


Ira merupakan adik dari Zein yang selama ini tinggal di Singapura. Saat ini ia sedang melakukan penelitian. Sehingga ketika papanya meminta Ira untuk pergi ke tempat itu, ia sangat senang.


Setelah Ira menyetujuinya, Muh pun langsung mengurus seluruh izin untuk anaknya itu. Bahkan sebelumnya Muh meminta Ira untuk pindah tugas ke rumah sakit keluarga mereka.


Hal ini sudah direncanakan oleh Muh cukup lama. Bahkan sebelum Intan berangkat. Namun ia sengaja ingin tahu seberapa besar perjuangan Zein untuk istrinya itu. Sehingga Muh membiarkan Intan bertugas di tempat itu untuk beberapa saat.


Bukan tanpa alasan Muh mengirim Ira ke tempat itu. Ia memiliki tujuan lain sehingga tega mengirim anaknya ke sana.


Sore hari, Ira pulang dari klinik. Kemudian ia kembali menarik kopernya menuju rumah dinas yang saat ini ditempati oleh kakaknya itu.


Saat sedang di jalan, Ira tidak sengaja berpapasan dengan Bian lagi.


'Cih! Tentara sok kegantengan. Males banget ketemu dia lagi di sini,' batin Ira. Ia masih sangat kesal karena Bian jutek padanya.


Pun dengan Bian. Ia tidak kalah kesal dari Ira. Sebab tadi Ira berani membentaknya. Akhirnya saat berpapasan, mereka sama-sama pura-pura tidak melihat dan berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Melewati satu sama lain begitu saja. Seolah tidak ada manusia di sana.


'Hiih! Hawanya aja horor gitu,' batin Ira setelah Bian berlalu.


"Kenapa ada dokter baru di sini? Apa dia yang akan menggantikan Intan? Tapi kenapa harus orang seperti itu yang menggantikannya? Sangat tidak sopan,' batin Bian. Ia merasa Ira tidak sopan karena telah berani membentaknya.


Tuk, tuk, tuk!


Pintu rumah Intan diketuk. Intan dan Zein yang baru saja hendak makan pun menoleh.


"Siapa ya, Mas?" tanya Intan.


"Biar Mas yang buka!" sahut Zein. Ia khawatir Bian yang datang lagi ke rumah itu.


Zein pun beranjak dan membuka pintunya.


Ceklek!


"Hem … bagus, ya! Gara-gara Abang. Aku jauh-jauh dari Singapura jadi dikirim ke sini!" ucap Ira sambil berkacak pinggang.


Zein langsung tersenyum. "Tunggu! Maksudnya gimana, ya?" tanyanya. Sebenarnya ia sudah dapat menebaknya. Namun Zein masih ingin memastikan hal itu lagi.


"Halah! Gak usah pura-pura gak ngerti, deh! Aku dikirim ke sini buat gantiin Mbak Intan. Puas!" ucap Ira, gemas.


"Alhamdulillah ... jadi istriku sudah bisa pulang?" tanya Zein. Ia sangat bersyukur karena sudah ada yang menggantikan istrinya. Zein tak peduli meski itu adalah adiknya.


"Ya ampun, Mbak! Lihat itu suaminya. Masa tega mau ninggalin adiknya di sini sendirian?" keluh Ira.


Intan tersenyum. "Tapi makasih ya, Ra. Aku juga seneng kalau bisa pulang ke Jakarta," jawabnya.


"Eits! Kamu kan abis perjalanan jauh, lebih baik masuk dulu!" ucap Zein sambil mengambil ponsel adiknya itu.


"Nah, gitu, kek! Masa ada tamu datang dari tadi gak disuruh masuk?" keluh Ira.


"Iya maaf. Abang terlalu happy lihat kamu ada di sini," sahut Zein sambil menarik koper Ira.


"Happy aku ada di sini apa happy karena aku mau gantiin Mbak Intan?" tanya Ira, kesal.


"Dua-duanya, hehe," sahut Zein.


"Cih, dasar kanebo!" ucap Ira, sebal.


Ia sudah tahu bahwa kakaknya itu dijuluki sebagai kanebo. Sebab, kadang-kadang lembut, kadang-kadang kaku.


"Kamu udah makan belum? Kalau belum, ambil nasinya sana! Kita makan sama-sama," ajak Zein.


"Ya belumlah, makan di mana, coba? Di sini gak ada resto," sahut Ira.


"Tenang aja! Nanti Abang pesenin catering. Jadi kamu gak usah khawatir masalah makanan!" ujar Zein.


"Asiikk, gitu dong! Sekalian bayarin, ya!" pinta Ira.


"Tenang! Selama kamu di sini, urusan akomodasi biar aku yang bayar!" sahut Zein. Ia memberikan itu sebagai reward karena adiknya telah membantunya.


"Cih! Giliran ada maunya aja baik banget," cibir Ira sambil menjebik. Kemudian ia pun mengambil nasi dan makan bersama mereka.


"Kalian ini hemat piring atau emang sok romantis, ya?" sindir Ira saat melihat Intan dan Zein makan sepiring berdua.


"Kamu gak akan tau bagaimana nikmatnya makan sepiring berdua. Apalagi kalau sambil disuapi kayak gini," ucap Zein. Kemudian ia menyuapi Intan.


"Dasar gak ada akhlak! Udah tau aku sendirian, pake pamer segala," keluh Ira. Ia sebal melihat tingkah kakaknya itu.


Zein dan Intan tersenyum melihat kelakuan Ira.


Intan sendiri sudah mengenal Ira sejak pernikahannya dengan Zein.


"Oh iya, tadi tuh aku ada cerita yang bikin aku gondok, deh," ucap Ira sambil menikmati makanannya.


"Apa?" tanya Zein.


"Kan tadi pagi waktu baru sampe sini, aku belum tau di mana kliniknya. Nah, ketemulah sama tentara. Aku nanya, dong. Soalnya cuma ada dia doang di situ. Eehh ... jawabnya jutek banget. Ya ampun. Dia tuh ngerusak suasana pagi aku aja," keluh Ira.


"Oya? Perasaan tentara di sini ramah-ramah, deh," sahut Intan.


Set!

__ADS_1


Mata Zein langsung memicing ke arahnya. "Ramah karena ada maunya!" ucap Zein, kesal.


"Ups!" Intan pun tersenyum getir.


"Siapa namanya?" tanya Zein.


"Mana aku tau. Aku kan cuma nanya jalan, bukan nanya nama," ucap Ira, kesal.


"Ya sudah, pokoknya kamu hati-hati saja! Gak perlu terlalu dekat sama tentara atau pria mana pun! Apalagi di sini kamu jauh dari keluarga," nasihat Zein.


"Iya, Bang! Udah tenang aja. Aku ke sini buat penelitian. Jadi gak ada waktu untuk urusan hal itu," sahut Ira.


"Syukurlah kalau begitu." Zein tenang karena adiknya berjanji tidak akan macam-macam.


"Oh iya, kalau begitu barang yang aku bawa biar ditinggal di sini aja, ya! Biar bisa dipakai sama Ira," ucap Zein.


"Barang apaan, Bang?" tanya Ira.


Zein pun menjelaskan semuanya. Akhirnya ponsel yang digunakan Intan pun diberikan pada adiknya itu agar bisa lancar berkomunikasi. Sebab rumah dinas itu tidak seperti rumah kepala desa yang memiliki pemancar satelit.


Rumah kepala desa sendiri bersebelahan dengan kantor desa. Sehingga di sana ada pemancar satelit.


Namun sayang, signalnya tidak sampai ke rumah dinas Intan. Apalagi jika sudah malam, jangankan signal, listrik saja tidak ada.


"Waduh, aku berasa tinggal di hutan, dong?" keluh Ira.


Zein hanya tersenyum. Sebab ia tidak mungkin membantahnya.


"Hem! Nih ya, kalian harus ingat ini perjuangan aku untuk gantiin Mbak Intan! Jadi kalian itu berhutang budi sama aku. Catat!" ucap Ira, kesal.


"Siap, Bos!" jawab Intan dan Zein, kompak. Saat ini mereka sedang bahagia karena Intan bisa pulang ke Jakarta. Sehingga akan menuruti apa pun permintaan Ira.


"Cih! Menjijikan," cibir Ira, kesal.


"Kalau begitu kita pulang sekarang aja, Sayang! Abis ini kamu langsung packing, terus kita pamit sama Pak Kades, gimana?" usul Zein.


Ira langsung menoleh ke arah Zein. "Ya ampun sadis banget. Aku lho baru nyampe sini. Masa kalian udah mau ninggalin aku aja?" keluh Ira.


"Bukan begitu, Ra. Rumah ini kamarnya cuma ada satu. Gak mungkin kita tidur bertiga. Lagi pula kamu tau sendiri pesawat dari sini tuh terbatas. Jadi mau gak mau kami harus siap-siap pulang sekarang," jelas Zein.


"Bukan mau gak mau. Tapi mau banget!" skak Ira.


Zien tersenyum. "Terserah kamulah," sahutnya. Ia tidak ingin berdebat dengan Ira. Sebab ia sedang bersemangat ingin segera pulang.


Selesai makan, sesuai dengan usulannya tadi, Zein langsung mengajak Intan packing.


"Aku kok gak tega ninggalin Ira sendirian di sini ya, Mas? Ini kan hari pertama dia," ucap Intan.


"Kamu jangan khawatir! Dia udah biasa ke mana-mana, kok. Dia itu sering penelitian kayak gini. Soalnya bikin buku juga kayak aku. Itu tadi dia cuma bercanda aja," jawab Zein.


"Oya? Mas sendiri kok gak penelitian?" tanya Intan.


"Siapa bilang? Kamu lupa Mas pernah tinggal di sini? Bukan cuma di sini. Banyak kok tempat yang lebih pelosok dari ini," sahut Zein.


"Ooh, begitu?"


"Iya. Lagi pula kalau bukunya sukses, itu akan berpengaruh pada kariernya. Buktinya dia bisa dengan mudah pindah ke sini," sahut Zein.


"Iya juga, ya."


"Ya udah kita fokus packing aja! Jangan sampai ketinggalan pesawat," ucap Zein.


"Iya, Mas."


Selesai packing, Zein pun mengajak Intan pergi ke rumah kepala desa untuk berpamitan.


"Ra, Mas tinggal sebentar, ya!" ucap Zein.


"Mau ke mana?" tanya Ira.


"Ke rumah kepala desa. Apa kamu mau ikut?" Zein balik bertanya.


"Gak usah, deh. Aku di rumah aja," sahut Ira. Ia merasa lelah dan ingin beristirahat.


"Oke."


Zein dan Intan pun meninggalkan rumah itu.


Sepanjang jalan, Zein terus menggandeng Intan. "Sayang, di sini tuh ada bukit, pemandangannya indah banget. Tadinya aku mau ngajak kamu ke sana. Tapi ternyata belum rejekinya, hehe," ucap Zein.


"Kenapa gak sekarang aja, Mas?" tanya Intan.


"Ya gak bisa, dong. Kejauhan. Nanti kita ketinggalan pesawat," sahut Zein.


"Iya juga, ya. Ya udah semoga kapan-kapan kita bisa ke sini lagi atau ke tempat lain yang punya bukit indah juga," sahut Intan.


"Gimana perasaan kamu waktu kemarin tinggal di sini sendirian?" tanya Zein.


Mereka berbincang sambil bercanda. Sehingga terlihat begitu mesra. Apalagi terkadang tangan Zein begitu nakal menyentuh bagian tubuh istrinya itu saat ia merasa kondisi cukup sepi.


"Mas, jangan usil, dong!" keluh Intan.


"Kamu gemesin, sih," sahut Zein.


"Iya tapi gak enak kalau ada orang yang lihat," ucap Intan lagi.


"Siapa yang lihat? Di sini kan sepi. Aku mau cium kamu juga gak akan ada yang lihat," sahut Zein. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke bibir Intan.

__ADS_1


"Ehem!"


Tiba-tiba terdengar suara orang berdehem. Ternyata sejak tadi ada Bian yang sedang duduk di balik pohon sambil menikmati angin sore itu.


__ADS_2