
Seperti biasa, mereka berdamai ketika sudah selesai bercinta.
"Mas kenapa sih selalu begitu?" tanya Intan, manja. Ia sebal karena Zein selalu menyalahkannya setiap kali ada pria yang mendekatinya.
"Maaf ya, Sayang. Mas terlalu cinta sama kamu jadinya cemburu buta. Mas janji akan berusaha untuk lebih mengontrol emosi," jawab Zein.
Sebenarnya ia pun tidak ingin seperti itu. Namun entah mengapa jika sedang cemburu dirinya selalu kehilangan kendali. Sehingga pikirannya negatif terus.
"Tapi tolong jangan diulangi lagi ya, Mas! Kalau gak, nanti aku kabur beneran," ancam Intan.
"Iya, maaf. Jangan pernah tinggalin aku, ya? Aku gak sanggup," bisik Zein sambil mendekap istrinya.
Mereka lupa memiliki janji dengan Rani. Bahkan sejak tadi ada panggilan masuk di ponsel Zein, pria itu terus menolak dan menonaktifkan ponselnya.
Intan mengerutkan keningnya. "Mas, kayaknya ada yang kurang, deh. Apa, ya?" tanya Intan.
Ia merasa ada sesuatu yang perlu dilakukan.
"Apa?" sahut Zein tanpa dosa.
"Oh iya, tadi banyak telepon masuk. Dari siapa, Mas? Coba dicek! Siapa tau penting," pinta Intan.
Zein menuruti permintaan istrinya. Ia mengambil ponsel dan mengecek panggilan yang tadi sempat ia tolak.
"Mamah. Mau ngapain, ya? Tumben telepon sampe berulang kali gini," gumam Zein. Ia masih belum sadar.
"Mamah?" tanya Intan, santai. Namun kemudian ia ingat akan janjinya pada Lena.
"MAMAH?" pekiknya. Ia bahkan langsung melompat duduk. "Aww!"
"Hati-hati, Sayang!" tegur Zein. Ia khawatir kandungan Intan kenapa-kenapa jika istrinya itu asal bergerak.
"Mas! Kita kan punya janji sama Mamah," ucap Intan, panik.
"Astaghfirullah, iya. Aku lupa," sahut Zein. Mereka pun heboh. Bergegas mandi dan shalat dzuhur.
Beruntung tadi asisten rumah tangga sudah masak. Sehingga Intan membawa bekal untuk mereka makan di jalan.
"Kamu sih kebiasaan banget! Tiap berantem pasti ujungnya ke situ," keluh Intan sambil menyiapkan bekal.
"Udah gak usah protes! Kamu juga nikmatin, kan. Ini aku mau telepon mamah dulu. Semoga Mamah masih di sana," jawab Zein. Ia mengambil minum sambil berusaha menghubungi mamahnya.
Telepon terhubung.
"Astaghfirullah, Zeiiinnnn! Kamu itu nyasar ke mana, sih? Dari tadi ditelepon gak diangkat-angkat. Yang ada malah direject. Kamu sengaja mau bikin Mamah jamuran di sini?" pekik Rani.
Ia sudah sangat gemas pada anaknya itu. Sebab sejak tadi mereka berdua sulit dihubungi.
Bahkan Zein sampai menjauhkan telepon dari telinganya karena suara Rani sangat kencang.
"Iya maaf, Mah. Tadi Intan kelaparan makanya kami makan dulu. Ini baru selesai mau meluncur ke sana. Tunggu sebentar ya, Ma!" sahut Zein.
Mendengar nama menantunya disebut, Rani pun tidak protes. "Awas kalau lama, ya!" ancam Rani.
"Iya."
Telepon terputus.
"Udah, Sayang?" tanya Zein.
"Udah, ayo jalan!" sahut Intan.
Mereka pun bergegas meninggalkan rumah.
Sambil di jalan, Intan menyuapi suaminya. Ia pun makan karena merasa sangat lapar.
"Duh, aku jadi gak enak banget sama mamah, nih," ucap Intan.
"Udah gak apa-apa. Kamu kan menantu kesayangan. Jadi Mamah gak akan marah," sahut Zein.
"Ya justru karena Mamah gak marah. Aku jadi gak enak. Kalau Mamah protes kan aku bisa jelasin sambil minta maaf," sahut Intan.
"Tenang aja! Tadi udah aku jelasin, kok. Aku bilang kamu lapar jadi makan dulu," sahut Zein sambil tersenyum penuh dosa.
"Hem ... bagus, namaku dijual. Padahal kamu yang lapar, langsung makan istrinya begitu aja!" ucap Intan sambil menjebik. Ia kesal karena Zein menjual namanya.
"Ya aku terpaksa, Sayang. Soalnya aku tau Mamah gak mungkin protes kalau udah menyangkut kamu. Santai aja! Oke?"
"Ya terserah, deh. Yang penting sekarang cepetan nyampe sana," jawab Intan.
"Siap, Nyonya!" sahut Zein. Ia pun mempercepat laju kendaraannya. Sehingga mereka sudah tiba di lokasi hanya dalam beberapa menit.
Setibanya di sana, mereka langsung masuk dan mencari Rani.
"Hem ... pantesan," gumam Rani saat melihat Zein. Siang itu Zein terlihat begitu segar karena rambutnya masih basah.
Dalam kondisi normal, sangat jarang orang mandi keramas di siang hari seperti itu jika tanpa alasan.
"Assalamu alaikum, Mah," ucap Zein dan Intan.
"Waalaikum salam. Kirain kalian lupa jalan ke sini," sindir Rani. Ia sangat sebal karena ternyata Zein telah berbohong padanya.
__ADS_1
"Maaf, Mah. Tadi Intan lapar, jadi kami makan dulu," sahut Zein.
"Ooohh, LAPAARRR?" Rani tidak percaya begitu saja karena kini ia sudah melihat buktinya dengan mata kepala sendiri.
"Maaf ya, Mah. Mamah jadi nunggu lama," ucap Intan sambil bersalaman dengan mertuanya.
Rani yang tadi sedang kesal pun langsung tersenyum. "Oh iya, gak apa-apa, Sayang. Kamu masih lemas, gak? Apa mau istirahat dulu?" tanya Rani.
Zein paham sindiran Rani. Ia pun malu dibuatnya.
"Enggak kok, Mah," jawab Intan, kikuk.
"Ya udah, langsung fitting aja!" timpal Zein. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oke, Intan ikut Mbak yang itu untuk fitting gaun!" ucap Rani.
"Iya, Mah," sahut Intan.
Zein pun membuntuti Intan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rani.
"Mau fitting juga, Mah," sahut Zein.
"Gak! Sini dulu, kamu!" panggil Rani, ketus.
Zein mengerutkan keningnya. Ia bingung mengapa Rani seperti itu. Namun ia menuruti perintah mamahnya tersebut.
Zein duduk di samping Rani. "Ada apa?" tanya Zein.
Rani langsung menjewer telinga anaknya. "Bagus kamu, ya! Mamah nungguin dari tadi kamu malah asik sama istri kamu," ucap Rani, gemas.
"Aduh! Kan aku udah jelasin, Mah," keluh Zein, sambil memegang telinganya.
"Kamu pikir Mamah ini anak kecil bisa kamu bohongin gitu aja? Mamah tuh lebih pengalaman dari kamu, Zein! Istri lagi hamil, juga. Bukannya dijaga baik-baik malah diforsir kayak gitu," tegur Rani.
"Ya maaf, Mah," ucap Zein sambil mengusap telinganya yang panas karena dijewer oleh Rani itu.
Beberapa saat kemudian Intan sudah selesai memakai gaun. Kemudian staf butik pun memberi tahu Rani dan Zein.
"Ibu mau lihat hasilnya?" tanya staf pada Rani.
"Mau, dong. Mana?" tanya Rani.
Kemudian staf pun membuka tirai dan mereka dapat melihat Intan begitu cantik dengan gaun berwarna putih yang simple nan elegan itu.
"MasyaaAllah, menantu Mamah cantik sekali," ucap Rani. Ia senang karena gaun pesanan mereka sangat cocok untuk Intan.
"MasyaaAllah, istriku memang cantik. Aku jadi gak sabar pingin cepat-cepat resepsi biar gak ada yang godain kamu lagi," ucap Zein.
"Tapi ini perutnya udah mulai kelihatan ya, Mah?" tanya Intan.
"Gak apa-apa, Sayang. Baby bump itu menggemaskan. Anggap saja resepsi kalian sekaligus pengumuman kehamilan kamu," jawab Rani.
Intan pun tersenyum.
Setelah mereka sudah selesai fitting pakaian, Intan dan Zein pun pamit pada Rani karena mereka sudah harus kembali ke rumah sakit.
Saat sedang berada di jalan, Zein tiba-tiba mengatakan sesuatu pada Intan.
"Sayang!" panggul Zein.
"Iya, Mas?" tanya Intan.
"Tolong pasien tadi kamu suruh pulang aja, ya!" pinta Zein sambil menoleh ke arah istrinya.
Intan tidak menyangka suaminya sampai seperti itu. "Mas, aku kan dokter magang. Mana berani memulangkan pasien begitu saja tanpa konsultasi pada senior lebih dulu," jawab Intan.
"Kamu lupa bahwa suamimu ini senior? Anggap saja kamu sudah konsultasi denganku dan aku yang mengizinkannya pulang," sahut Zein.
Intan terkekeh. "Ya ampun. Sejak kapan suamiku jadi gak profesional begini, sih?" ledeknya.
"Sejak kamu jadi istriku. Salah sendiri kamu bikin aku cinta dan takut kehilangan," ucap Zein, kesal.
"Ya tapi kan gak gitu juga, Mas. Jangan sampai kecemburuan kamu itu membuatmu mengabaikan kesehatan orang lain!" ucap Intan sambil tersenyum.
"Sayang, Mas ini bukan baru jadi dokter. Hanya dengan melihatnya saja, Mas yakin dia sudah sehat. Buktinya tadi dia bisa jalan-jalan sendiri dan wajahnya begitu segar. Pasti dia bertahan di sana hanya karena ingin menggoda kamu!" tuduh Zein.
"Astaghfirullah ... jangan suudzon, ah!" ucap Intan. Bukan berarti ia ingin membela lelaki itu. Namun Intan tak mau suaminya berprasangka buruk terhadap orang lain.
"Sayang, jangan sampai kejadian tadi siang terulang, ya!" ancam Zein sambil memicingkan mata ke arah Intan.
"Ups! Oke nanti aku akan konsultasi ke senior. Semoga beliau setuju untuk memulangkan pasien itu," sahut Intan.
"Nah, gitu kek dari tadi! Kenapa harus pakai debat dulu, sih?" keluh Zein. Ia senang karena kali ini Intan mau menuruti keinginannya.
Intan tak menjawab Zein. Ia khawatir perdebatan mereka akan panjang jika dirinya menjawab suaminya itu.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit.
"Aku duluan ya, Mas," ucap Intan.
__ADS_1
"Kok buru-buru?" tanya Zein sambil mengerutkan keningnya.
"Apa? Cemburu lagi? Mau nuduh aku lagi?" tanya Intan, sebal.
"Ya bukan begitu. Kenapa gak bareng aku aja?" tanya Zein.
"Katanya aku disuruh diskusi sama senior biar pasien itu bisa cepet pulang," sahut Intan, malas.
"Oh iya. Ya udah. Tapi next time kalau ada pasien genit kayak gitu lagi, kamu bilang ke aku, ya!" pinta Zein.
Intan menyipitkan matanya. "Gimana kalau aku diam di rumah aja biar kamu gak ribet mikirin aku?" sindir Intan.
Zein langsung tersenyum. "Ide bagus, tuh. Kamu mau?" tanyanya. Ia tidak sadar bahwa ucapan Intan adalah sarkasme.
"Mas! Aku tuh lagi magang. Kalau aku diem di rumah, gimana pendidikan aku bisa clear," keluhnya.
"Oh, iya juga, ya. Ya udah, deh. Aku akan berusaha sabar," jawab Zein.
"Ya udah aku duluan," ucap Intan. Kemudian ia turun dari mobil dan masuk ke lobby rumah sakit.
"Sore, Dok!" sapa security yang berjaga di depan lobby.
"Sore, Pak," sahut Intan.
Kemudian sepanjang jalan begitu banyak staf yang menyapanya. Sehingga Intan merasa pegal karena harus tersenyum dan selalu menjawab sapaan mereka.
"Adakah jalanan yang sepi supaya aku bisa jalan dengan santai tanpa harus merasa terganggu?" gumam Intan, pelan. Ia sebal karena saat ini tidak memiliki kebebasan.
Harus selalu tersenyum pada orang lain tidaklah mudah. Apalagi ketika suasana hatinya sedang tidak baik. Tentu itu akan menguras energi.
"Sore, Dok!" sapa suster yang berjaga bersama Intan tadi.
"Sore! Sus, aku mau minta satu hal, bisa gak?" tanya Intan.
"Apa itu, Dok?" tanya suster itu.
"Lain kali kalau ketemu aku di jalan, Suster gak perlu nyapa. Anggap aja gak kenal sama aku!" pinta Intan.
Suster itu ternganga. Ia merasa permintaan Intan sangat aneh. Padahal Intan hanya berusaha meminimalisir hal itu.
'Lumayan meski cuma berkurang satu orang,' batin Intan.
"Ya gak bisa gitu dong, Dok. Nanti aku yang ditegur kalau gak sopan sama dokter," sahut suster.
"Ini permintaan aku. Jadi kamu jangan khawatir, ya! Aku cuma butuh waktu buat sendiri aja," sahut Intan.
Mendadak mendapatkan perlakuan khusus memang tidaklah mudah. Dulu Intan bisa bebas berjalan ke mana pun tanpa disapa oleh semua orang. Namun ini untuk bernapas saja ia merasa tidak leluasa.
Rumah sakit besar yang selalu ramai itu memang membuat seluruh staf sibuk dan memiliki mobilitas tinggi. Sehingga di setiap sudut mana pun pasti ada staf yang entah hanya melintas atau memang sedang stay di sana.
"Maaf ya, Dok. Kok permintaannya agak aneh, sih? Bukannya enak ya kalau banyak yang nyapa? Apalagi kalau nyapanya sambil menunjukan rasa hormat gitu. Kan bangga," tanya suster.
Ia merupakan salah satu suster yang baik pada Intan.
"Gak semua orang suka hal seperti itu, Sus. Aku pribadi lebih suka menyendiri. Jadi agak kurang nyaman ketika banyak yang menyapa saat sedang berjalan," jelas Intan.
"Lha, bisa begitu, ya? Aku sih kalau jadi dokter bakalan bangga. Secara istri dari pemilik rumah sakit, gitu. Jadi pasti semua orang sungkan," ucap suster itu, jujur.
"Hem ... susah juga dijelasinnya, sih. Cuma kamu pernah gak ngerasa illfeel ketika kamu tau ada orang yang benci kamu tapi pura-pura baik di depan kamu?" tanya Intan.
"Ya pernah, sih," jawab suster itu.
"Nah, itu yang aku rasakan. Mungkin mereka baik di depanku. Tapi aku tau di belakangku sebagian dari mereka sibuk menggunjing. Rasanya fake banget. Kalau memang benci, ya udah gak usah nyapa!" ucap Intan, kesal.
Ia jadi terbawa emosi ketika membayangkan orang-orang bermuka dua itu menyapanya.
"Ooh, tapi gimana kalau orangnya emang tulus?" tanya suster.
"Ya gak masalah sih. Cuma tetep aja aku lebih nyaman jalna sendirian tanpa ada yang nyapa, hehehe."
"Dokter anti sosial atau introvert, ya?" tanya suster itu, heran.
Intan pun jadi berpikir. "Mungkin lebih ke introvert, ya. Soalnya aku masih bisa berosialisasi dengan orang-orang yang memang membuatku nyaman. Seperti kamu contohnya. Di kampus pun aku punya banyak teman. Dan mereka memperlakukanku sewajarnya. Gak berlebihan seperti di sini."
"Justru dengan berlebihan tuh aku jadi minder. Kadang kayak misalnya abis makan. Aku takut di wajahku ada nasi misalnya. Atau muka aku berantakan. Atau ada kotoran matanya. Jadi gak pede aja gitu kalau papasan sama orang terus disapa," jelas Intan.
Suster itu terkekeh. "Dokter bisa aja, deh. Udah cantik perfect kayak gini aja masih minder. Gimana aku? Misalnya ada nasi di wajah dokter pun itu gak akan ngurangin kecantikan dokter," ucap suster itu.
"Iiih, kamu nih gak ngerti apa yang aku rasain. Udah, intinya aku cuma pingin sendiri!" jawab Intan.
"Jadi aku gak boleh nyapa nih kalau ketemu?" tanya suster itu lagi.
"Boleh, deh. Kan kita udah kenal. Ngapain juga aku risih, hihihi." Intan sangat galau.
Suster tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dok ... Dok ... ngomong panjang kali lebar ujungnya malah gak jadi. Gemes banget, sih? Pantesan aja Prof sampe takut kehilangan," ucapnya.
Sebenarnya hal itu terjadi karena Intan sedang mengandung. Apalagi anak yang ia kandung adalah anak dari seorang profesor yang galak. Sehingga perubahan hormon Intan membuatnya lebih mudah kesal seperti suaminya itu.
"Sus! Dokter senior udah datang, belum?" tanya Intan.
"Udah. Ada apa, Dok?" suster balik bertanya.
__ADS_1
"Itu, pasien tadi kayaknya udah sembuh, deh. Jadi aku mau usul biar dia diizinkan pulang aja," jawab Intan.
"Oooh, yang ganteng itu, ya? Dia mah udah pulang, Dok. Tadi gak lama dokter sama Prof pergi, pasien itu langsung minta pulang," jawab suster.