Dinikahi Profesor Galak

Dinikahi Profesor Galak
26. Pergi Bulan Madu


__ADS_3

"Sudah cukup, Mas," ucap photografer saat Zein lupa melepaskan kecupannya.


Seketika Zein pun langsung mundur. Ia malu karena sempat lupa diri.


"Sabar ya, Mas, masih siang. Hehehe," ledek photografer sambil tersenyum melihat tingkah Zein.


Intan mengulum senyuman. Ia senang karena Zein dipermalukan di depan umum. Ia lupa bahwa ada hal besar yang harus ia hadapi setelah ini. Namun ia pun canggung karena Zein baru saja mengecup bibirnya lagi.


"Oke, selesai. Sekarang waktunya jamuan makan," ucap MC. Kemudian ia melakukan penutupan acara.


Ehem!


Zein berdehem kala melepaskan tangan dari tubuh Intan. Sebab, setelah berfoto tadi ia belum melepaskan tangannya yang sedang memeluk Intan.


Sebab tadi tubuhnya sempat menegang kala tangannya menyentuh tubuh Intan. Apalagi ketika ia merasakan lekukan tubuh istrinya. Tenggorokan Zein jadi terasa begitu kering karena teringat kejadian tendangan Intan kala itu.


Saat ini Intan dan Zein dipersilakan untuk duduk bersebelahan. Mereka duduk lesehan bersama dengan orang tua mereka.


"Zein, kamu kan sudah cukup umur, jadi Papah harap kalian tidak menunda untuk memberikan kami momongan, ya!" pinta Muh.


Uhuk! Uhuk!


Intan tersedak saat mendengar bahwa dirinya harus memberikan momongan. Sebab dalam pikiran Intan jangankan memberi momongan, ia bahkan tidak sudi untuk tidur dengan Zein.


"Iya, Pah. Jangan khawatir, aku tidak mungkin mengecewakan kalian. Iya kan, Sayang?" tanya Zein sambil menoleh ke arah Intan.


'Dih, ni orang kena angin apa tiba-tiba sok mesra kayak gitu? Enek banget dengernya,' batin Intan.


Tidak mendapat respon dari Intan, Zein menggenggam tangan istrinya. "Apa kamu keberatan?" tanyanya, sambil menatap Intan. Sebenarnya itu adalah kesempatan Zein untuk meminta jatah. Ia anggap jika Intan setuju, artinya malam pertama mereka akan segera berlangsung.


Intan pun gelagapan ditanya seperti itu. Ia menoleh ke arah Muh, Fatma dan Rani. Wajah mereka semua penuh harap, sehingga Intan tidak mampu menolaknya.


"I-iya," sahutnya sambil mengangguk.


"Alhamdulillah," ucap mereka semua.


Tanpa sadar Zein menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. Ia senang karena Intan setuju untuk tidak menunda memiliki momongan. Sehingga ia pikir Intan mau melakukan hubungan suami istri dengannya.


"Oh iya, katanya kalian dapat hadiah bulan madu, ya?" tanya Muh lagi. Sebenarnya Zein sengaja cerita hal itu ke orang tuanya. Agar mereka mengingatkan Zein dan Intan setelah menikah nanti.


"Iya, Pah," sahut Zein.


"Kapan kalian mau pakai hadiahnya?" tanya Rani.


Zein senang karena umpannya berhasil. "InsyaaAllah sore ini kami akan berangkat," jawab Zein. Seolah mereka sudah sepakat. Padahal sebelumnya Zein belum pernah membahas hal itu dengan Intan.


Intan pun terkesiap. Ia tidak menyangka Zein akan mengajaknya bulan madu secepat itu.


‘Hah, sore ini? Yang bener aja. Baru juga nikah, masa langsung bulan madu?’ batin Intan. Jika menikah dengan pria yang ia cintai, mungkin Intan akan bahagia. Namun ini adalah Zein, orang yang paling ia benci.


“Wah, syukurlah kalau begitu. Papah ikut senang mendengarnya,” ucap Muh. Ia berharap bulan madu Zein dan Intan akan segera membuahkan hasil.


Beberapa jam kemudian, semua tamu sudah pulang, termasuk keluarga Zein. “Kalau begitu Papah pamit dulu, ya,” ucap Muh. Rani pun berpamitan dengan Lena.


Setelah mereka berpamitan, Zein dan Intan dipersilakan masuk ke kamar oleh Fatma, untuk berganti pakaian. “Lebih baik kalian ganti pakaian dulu! Biar bisa santai,” ujar Fatma.


Intan melirik sinis ke arah Zein. “Iya, Bu,” sahutnya dengan berat hati. Ia malas mengajak Zein ke kamarnya. Intan tidak tahu bahwa pria itu pernah masuk ke kamarnya.


Mereka pun pergi ke kamar Intan. “Maaf ya, Prof. Kamar saya jelek. Tidak nyaman,” ucap Intan saat masuk ke kamar.

__ADS_1


“Tidak masalah,” sahut Zein. Ia pun masuk lalu melepaskan kancing basecap-nya satu per satu.


Melihat Zein seperti itu, Intan pun khawatir. “Prof mau apa?” tanyanya.


Zein menoleh ke arah Intan. “Kamu lupa tadi ibumu bilang apa? Saya mau ganti pakaian,” sahut Zein.


“Oh, kalau begitu biar saya keluar dulu,” ucap Intan.


Zein tidak ingin Intan meninggalkan kamarnya. “Kamu mau ibumu mencurigai pernikahan kita? Kalau kamu keluar, sama saja kamu ingin menunjukkan bahwa kamu tidak sungguh-sungguh dalam pernikahan ini,” ucap Zein.


Intan yang sudah memegang handle pintu pun terdiam.


“Lagi pula, apa salahnya kamu melihat saya ganti pakaian? Atau, kamu takut tergoda saat melihat tubuh saya?” tanya Zein.


Intan ternganga ditanya seperti itu. Ia tak habis pikir mengapa Zein sangat percaya diri. “Enggak, kok. Saya cuma takut Prof gak nyaman aja,” jawab Intan. Ia tidak mau kalah oleh Zein.


“Tenang saja! Saya ini laki-laki, cuma ganti pakaian di depan istri, bukan hal yang perlu dipermasalahkan,” ucap Zein. Kemudian ia melepaskan basecap-nya.


Intan menelan saliva saat mendengar Zein menyebut dirinya sebagai istri. Hatinya pun berdebar, salah tingkah. Masih tak menyangka bahwa saat ini ia sudah menjadi istri Zein.


Intan yang tak tahu Zein sudah melepaskan pakaiannya itu pun balik badan. Matanya terbelalak kala melihat Zein hanya mengenakan boxer. Sehingga tubuhnya terlihat begitu seksi. Apalagi ada sesuatu yang menonjol di bagian tengah. Membuat pikiran Intan berkelana.


“Astaghfirullah,” gumam Intan sambil memalingkan wajah.


Zein yang sedang memilih pakaian di kopernya pun menoleh ke arah Intan. “Kamu kenapa? Seperti melihat setan saja,” tanya Zein.


“Gak apa-apa, Prof,” sahut Intan tanpa menoleh.


“Saya ada di sini, bukan di sana! Apa kamu tidak bisa menghargai suami? Bicara sambil memalingkan wajah seperti itu?” tanya Zein. Padahal ia hanya ingin Intan melihat tubuh seksinya itu.


Intan menelan saliva. Kemudian ia menoleh sambil menahan napas. “Maaf,” ucapnya. Wajah Intan sudah merah merona karena malu melihat keseksian tubuh suaminya itu.


Sementara itu, Zein melenggang dengan PD-nya. Mendekat ke arah Intan sambil membawa bajunya.


Saat mereka sudah berhadapan, Zein pun bertanya, “Menurut kamu, lebih cocok pakai yang mana?” tanya Zein sambil mencocokan dua pakaian yang ada di tangannya, ke tubuhnya.


Intan lega karena ternyata Zein hanya ingin mempertanyakan hal itu.


“Saya cuma mau tau selera kamu untuk fashion seperti apa,” ucap Zein. Padahal ia memang sengaja ingin menggoda Intan.


“Yang itu,” jawab Intan, cepat. Ia sudah tidak sanggup melihat tubuh suaminya lagi.


Melihat Intan gugup seperti itu, Zein malah semakin ingin menggodanya. Ia mendekat ke arah Intan dan mengukungnya. “Kamu kenapa tegang banget?” tanya Zein dengan suara sedikit berbisik.


“E-enggak apa-apa, Prof,” sahut Intan. Ia pun memalingkan wajahnya karena merasa sesak melihat tubuh suaminya itu.


“Apa kamu tidak sanggup melihat saya sampai selalu memalingkan wajah seperti itu?” tanya Zein lagi.


“Prof, saya belum terbiasa seperti ini. Mohon beri waktu saya untuk beradaptasi!” pinta Intan.


Zein malah mendekatkan bibirnya ke telinga Intan. “Oke, nanti malam kita mulai adaptasi,” bisik Zein.


Bola mata intan membeliak. Ia tidak paham adaptasi seperti apa yang Zein maksud. “Maksudnya apa?” tanya Intan sambil menoleh. Namun ia terkejut karena wajah Zein ada tepat di depan wajahnya.


“Menurutmu, setelah melakukan pernikahan, adaptasi seperti apa yang biasa dilakukan oleh suami istri?” tanya Zein sambil menatap Intan. Ia sengaja bicara di dapan bibir Intan agar wanita itu semakin gugup.


“Saya gak tau,” ucap Intan sambil menggelengkan kepala.


“Apa kamu mau saya beri tahu sekarang?” tanya Zein sambil mengelus pipi Intan.

__ADS_1


“Gak usah, nanti malam aja,” sahut Intan sambil menahan napas.


“Oke, deal. Nanti malam!” secara tidak langsung Zein membuat Intan berjanji bahwa nanti malam mereka akan melakukan ‘adaptasi’.


Zein pun mundur dan menggunakan pakaian yang tidak Intan tunjuk.


‘Hah? Perasaan tadi aku nunjuk yang itu, kenapa dia malah pakai yang itu?’ batin Intan, kesal.


Setelah selesai mengenakan pakaian, Zein menatap Intan. Hal itu pun membuat Intan salah tingkah lagi.


“Apa kamu tidak ingin ganti pakaian?” tanya Zein.


“Eumh, iya mau,” jawab Intan. Ia pun berjalan ke arah lemari dengan kaki yang terasa lemas setelah mendapat tekanan dari Zein, barusan. Setelah itu ia mengambil pakaian dan hendak berganti pakaian di kamar mandi yang ada di dapur.


“Kamu mau ke mana?” tanya Zein saat Intan hendak keluar kamar.


“Mau ganti pakaian, Prof,” sahut Intan.


“Kenapa tidak di sini saja?” tanya Zein.


Intan pun kesal karena Zein semakin menjadi. “Prof mau lihat saya ganti baju?” tuduh Intan.


“Iya,” jawab Zein, jujur.


Intan ternganga. Ia tidak menyangka ternyata Zein sangat mesum. “Maaf, saya belum bisa,” sahut Intan, kesal. Kemudian ia langsung meninggalkan kamar itu.


Zein terkekeh melihat ekspresi Intan. “Hahaha, lucu juga godain dia,” gumam Zein. Setelah itu ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Intan karena merasa lelah.


Sore hari saat rumah Intan sudah sepi, mereka pun bersiap untuk pergi bulan madu. Saat ini Intan tidak mungkin menentang Zein karena bagaimana pun profesor itu telah menjadi suaminya.


"Kalian hati-hati ya di jalan," ucap Fatma saat Intan dan Zein hendak berangkat.


"Iya, Bu. Ibu juga hati-hati di rumah, ya. Aku gak akan lama-lama, kok," sahut Intan.


"Udah kamu gak usah mikirin ibu! Ibu baik-baik aja. Mulai sekarang kamu harus fokus sama suamimu. Dia adalah prioritas kamu. Bukan ibu," jawab Fatma.


"Tapi, Bu ...."


"Udah jangan tapi-tapian!" sela Fatma.


"Ya udah, iya." Akhirnya Intan tidak protes lagi dan mereka pun benar-benar meninggalkan rumah Fatma.


Saat sedang di jalan, mereka sama-sama merasa tidak nyaman karena kondisinya sangat hening. Akhirnya Intan pun buka suara.


"Kenapa kita harus pergi bulan madu, Prof?" tanya Intan, memberanikan diri.


Zein mengerutkan keningnya. "Pertanyaan macam apa itu?" Zein balik bertanya. Ia kesal dengan pertanyaan Intan karena gadis itu seolah tidak ingin pergi bulan madu bersamanya. Padahal memang seperti itu adanya.


"Heuh? Maksud saya, pernikahan ini kan ha-" Intan tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Zein langsung menyelanya.


"Hanya apa? Hanya perjodohan? Kamu pikir pernikahan itu main-main yang bisa kamu anggap sepele? Kamu lupa tadi saya sudah berikrar di hadapan Tuhan? Jadi, apa pun alasannya, kita tetap harus menjalankan pernikahan ini layaknya suami istri pada umumnya."


"Dan kamu jangan lupa bahwa orang tua kita menginginkan cucu, jadi kita harus mengabulkan keinginan mereka jika memang ingin melihat orang tua kita bahagia," ucap Zein panjang kali lebar.


Intan ternganga. "Tapi saya belum siap, Prof. Prof kan tahu kalau pendidikan saya masih belum selesai dan sebentar lagi saya akan magang. Bagaimana jika saya magang dalam kondisi hamil? Tentu tidak akan mudah," keluh Intan.


Sebenarnya bukan hanya itu alasan Intan. Namun ia lebih ke belum bisa menyerahkan tubuhnya pada Zein. Intan masih berharap mereka bisa berpisah cepat atau lambat. Sebab saat ini saja meski Zein berkata bahwa mereka harus bersikap layaknya suami istri, tetapi Zein tidak menunjukkan sikap seperti suami sama sekali.


"Itu bukan urusan saya. Lagi pula memangnya kamu pikir sekali berhubungan akan langsung hamil? Setidaknya kita harus sering melakukannya agar kamu bisa hamil," ucap Zein. Secara tidak langsung ia ingin mengatakan bahwa dirinya ingin mereka sering melakukan hal itu.

__ADS_1


Ia mengatakan hal itu dengan sangat mudah. Seolah tidak mau tahu apa yang sedang Intan rasakan saat ini. Padahal sekarang Intan sedang gelisah menghadapi malam pertama mereka.


Intan ternganga. 'Bagaimana mungkin aku melakukan hubungan suami istri dengan orang seperti dia?' batin Intan.


__ADS_2